Rabu, 16 Mei 2012

Kertas-Kertas Kecil


Sepeda Rindy

Rindy keluar dari tempat bimbelnya dengan buku pegangan tebal yang dipeluknya. Senyum manisnya menebar saat teman sekelasnya menyapa. Dan Rindy tetap berjalan menuju sepeda kesayangannya–berwarna abu-abu, memiliki keranjang kecil di depan, dan memiliki goncengan di belakang meski jarang terpakai. Rindy meletakkan bukunya di keranjang sepedanya kemudian memutar sepedanya ke arah jalan raya.
Saat itu juga Saka datang dan memarkir motornya. Tanpa sengaja matanya melihat Rindy yang masih sibuk mengeluarkan sepedanya dari parkiran. Saka membuka helmnya dan memastikan apa yang dilihatnya. Tidak lama, Rindy berhasil mengeluarkan sepedanya dan mulai mengayuh. Saka tidak percaya itu Rindy. Tapi dia langsung menyalakan mesin motornya dan mengejar Rindy yang belum jauh.
Jalan raya tidak begitu ramai. Suasana menjelang malam lebih gelap dari biasanya. Rindy tetap santai mengayuh sepedanya. Kehadiran Saka yang sedari tadi mengikutinya belum disadarinya. Jarak dari tempat bimbel ke rumah Rindy sekitar 20 km. Cukup jauh dan memegalkan kaki.
Rindy mengambil jalan ke pinggir, dan singgah di sebuah kafe kecil seperti warkop. Kondisi kafe terbuka, hanya ada sedikit dindingnya yang tidak dari kaca, sofanya nyaman dengan meja besar di depan untuk setiap sofa. Kafe ini tidak ramai, memberi kesan hangat bagi Rindy. Kakinya yang pegal mengayuh sepeda biasanya diistirahatkan di tempat ini.
Rindy langsung masuk ke kafe dengan membawa barangnya setelah memarkir sepeda. Dia duduk menyandarkan punggung dan kepalanya di sandaran sofa panjang. Hanya dia sendiri di sofa itu. Rasa-rasanya ingin tertidur, tapi bukan saatnya. Rindy masih ingat kalau rumahnya masih setengah perjalanan lagi dari kafe itu.
Saka memandang Rindy dari luar kafe. Antara ingin masuk atau menunggu saja. Kalau dia masuk, dia tidak mau ketahuan sudah mengikuti Rindy. Tapi dia juga tidak sanggup menunggu di luar ditemani nyamuk-nyamuk kehausan, apalagi Rindy sama sekali tidak memperlihatkan sikap ingin segera keluar. Saka memutuskan masuk.
Rindy terlihat sedang membaca buku pegangannya dari tempat bimbel. Cara membacanya membuat wajahnya tertutupi oleh buku itu, hingga dia tidak menyadari Saka. Saka cukup canggung untuk menyapa Rindy. Tapi akhirnya rasa pegal berdiam diri mengalahkan kecanggungannya.
“Rin...”, sapa Saka yang sudah berdiri di samping Rindy.
Rindy memindahkan bukunya dari pandangannya. Melihat keberadaan Saka, Rindy cukup heran tapi tidak berekspresi banyak. Saka pun langsung duduk di sebelah Rindy. Rindy memandang Saka, dengan harapan Saka memberitahu kenapa dia bisa di kafe itu.
“Kamu suka kesini?”, tanya Saka.
“Hmm iya... Kamu?”
“Baru sekarang.”
“Oohh...”. Rindy manggut-manggut kepala dan kembali membaca bukunya.
“Kamu mau ngapain di sini?”
“Nggak ngapa-ngapain kok... Cuma mau istirahat aja bentar... Kamu?”
“Sama...”
“Kamu sendiri?”, tanya Rindy sambil meletakkan bukunya di meja.
“Iya...”
“Bentar yah, aku pesen minum...”
Rindy kemudian berjalan menuju tempat memesan. Si pelayan sepertinya sudah tahu yang akan dipesan Rindy, makanya sesampai di hadapan pelayan itu, Rindy sudah dapat yang diinginkannya. Tapi Rindy masih menunggu sebentar sebab si pelayan tidak tahu kalau Rindy memesan satu lagi.
Rindy datang dengan nampan di tangannya. Saka meminggirkan kakinya agar Rindy bisa lewat di depannya. Rindy kemudian duduk di posisi sebelumnya sambil meletakkan yang di pesannya barusan ke meja.
“Minum...”, ucap Rindy sambil tersenyum.
Saka melihat yang dipesan Rindy, 2 gelas susu cokelat hangat dan 2 piring kecil Brownies Cokelat Keju.
“Kamu masih suka susu cokelat kan?”, tanya Rindy masih dengan senyumnya sambil menyampingkan rambut panjangnya sehingga satu sisi leher sampingnya terlihat oleh Saka.
Saka hanya tersenyum, kemudian meminum susu yang memang untuknya. Rindy pun melakukan hal yang sama.
“Kamu udah bisa keluar malam yah? Dulu kan enggak dibolehin...”
“Aku tadi abis bimbel... Kalo untuk urusan gitu kan Ayah ngebolehin...”
“Ohh bimbel dimana?”, tanya Saka pura-pura tidak tahu.
“Yang deket skolah...”, jawab Rindy sambil menujuk buku pegangannya yang tertulis jelas di sampulnya nama lembaga tempat bimbelnya.
Saka manggut-manggut kepala dan tersenyum pada Rindy. Rindy balik tersenyum kemudian menunduk ke arah tangan-tangannya yang dibiarkan di atas pahanya. Saka memandangi Rindy yang terdiam.
Sekali-kali Rindy meminum susunya dan memakan browniesnya untuk menghindari salah tingkahnya. Tapi Saka masih juga selalu memandanginya. Keduanya memang sudah lama tidak sedekat ini, berdua saja di suatu tempat, sekeliling mereka tidak mengenali.
Dulu mereka sepasang kekasih. Menjalani hubungan itu dari kelas 3 SMP sampai kelas 2 SMA. Hingga kini mereka masih berteman baik, tapi Rindy selalu canggung memulai obrolan dengan Saka kalau teman-teman Saka bersikap lebay saat mendapati mereka mengobrol. Entah mengapa teman-teman Saka seperti menganggap mereka ‘artis’ yang kisah cintanya terus diamati dan menggemparkan suasana kelas. Padahal banyak pasangan-pasangan lain yang putus tapi masih selalu mengobrol.
“Bentar yah...”
Rindy kembali berdiri dan berjalan. Tapi kini dia berjalan keluar dari kafe. Saka duduk lebih santai dan mengeluarkan handphone-nya. Membuka pesan-pesannya yang berisi pemberitahuan dari Facebook. Kemudian dia menelusuri dunia mayanya di Twitter seperti biasa. Bosan dengan itu, Saka mengecek  aplikasi handphone-nya yang menfasilitasi obrolan.
Sudah sekitar 10 menit Rindy belum juga kembali. Saka mulai heran. Dilihatnya tas dan buku Rindy masih di atas meja. Saka kemudian mengambil tas Rindy dan membukanya. Beberapa alat tulis, buku, tissue, dompet, handphone, dan kertas-kertas yang berisi macam-macam. Saka menyalakan handphone Rindy dan melihat di layar tertulis namanya, Irhamsyah Akbar. Saka terdiam, kemudian menyimpan kembali handphone Rindy dan mengembalikan tas selempang berwarna cokelat itu di posisinya semula.
Sekilas nama panjang Saka sama sekali tidak nyambung dengan nama panggilannya. Irhamsyah Akbar dengan Saka ? Tapi Sa berasal dari –syah, dan Ka dari Akbar.
“Maaf yah lama...”, ucap Rindy yang ternyata sudah berdiri di samping Saka sambil tersenyum.
“Darimana?”, tanya Saka sambil meminggirkan kaki.
“Mushollah...”
Saka manggut-manggut kepala. “Nggak ngajak-ngajak tadi...”
“Hhee maaf... Sekarang aja...”, ujar Rindy sambil meraih tasnya.
“Hmm... Eh kamu mau pulang?”, sejenak Saka bangkit ingin ke mushollah tapi pikirannya langsung pindah melihat Rindy memakai tasnya.
“Iya... Udah malem...”, jawab Rindy.
“Ooohh ya udah deh aku di rumah aja nanti... Kamu pulang naik apa?”, tanya Saka yang lagi-lagi pura-pura tidak tahu.
“Aku naik speda...”, jawab Rindy sambil tersenyum.
“Sejak kapan?”
“Udah lama... Tapi nggak pernah pake ke skolah...”
“Ohh pantes... Kok nggak crita-crita?”
“Hmm nggak penting juga aku crita...”
Saka kembali manggut-manggut. Rindy berjalan melewati Saka, kemudian menoleh kembali pada Saka.
“Nggak pulang?”
“Mau pulang kok...”, jawab Saka kemudian berjalan di samping Rindy.
Rindy masih kaku berada di samping Saka. Dia berkembang menjadi pemalu terhadap laki-laki yang baru dekat lagi dengannya, berhubung Saka sudah lama tidak berjalan di sampingnya. Tapi bisa dibilang juga dia malas dengan kaum Adam jika belum dekat dengannya. Karena itu juga Rindy selalu canggung kalau ada teman-teman Saka.
Rindy memutar sepedanya dan menaikinya. Saka juga sudah ada di atas motornya dan menyalakan mesinnya. Rindy tersenyum, kemudian pamit pada Saka. Rindy mengayuh sepedanya ke jalan raya, dan Saka mengikuti. Rindy menyadari itu dan langsung menoleh pada Saka.
“Nggak pulang yah?”
“Aku antar...”, jawab Saka.
“Kok gitu? Nggak pa-pa kok, aku bisa sendiri...”
“Nggak pa-pa kok... Aku antar aja...”
Rindy tersenyum, “naik speda lama loh... Entar kamu capek...”
“Udah, nggak pa-pa...”
Rindy terdiam. Hatinya berbunga-bunga dan serasa ingin terbang. Tapi itu tidak tergambarkan di wajahnya. Dia tetap tenang tanpa ekspresi.
Saat ini Saka merasa, Rindy banyak berubah. Lebih tenang, dan entah apa lagi. Mungkin karena dilihat dari luar, sebab Saka yakin kalau Rindy sebenarnya masih seperti dulu.
“Kamu slalu gini?”
“Iya...”
“Ohh kamu nggak dingin?”
“Aku kan pake lengan panjang sama clana panjang...”
“Hhaa..., dulu kamu suka kedinginan...”
“Hhee iya sihh... Tapi tadi kan udah minum susu hangat...”
“Hmm...”
“Makasih ya Ka...”
“Kenapa?”
“Nggak pa-pa... Cuma mau bilang makasih aja...”
Mereka terus mengendarai, bersampingan, dan sesekali tertawa saat mereka mendapati sesuatu yang dari perjalanan itu. Saka cukup kesusahan mengendarai motornya, apalagi kalau kendaraan di belakangnya terus-terusan membunyikan klakson. Kalau begitu Rindy hanya senyum-senyum saja.
҈ ҈ ҈
Rindy menaruh tasnya di meja belajar begitu memasuki kamarnya. Dilihatnya sebuah foto terpajang dengan bingkai elegan, itu adalah fotonya dan Saka. Kini Rindy memperhatikan foto itu lagi setelah lama dibiarkan. Rindy bahagia, tapi itu hanya dirasakan dalam hatinya.
Nurul duduk di sofa pendek depan sofa panjang yang ditempati Rindy dan Saka. Rindy memainkan tangan Saka, dan Saka langsung merangkul Rindy dengan gemasnya. Nurul memandangi keduanya sambil tersenyum.
“Temen lo yang ini manja banget Nu... Manjaaa...”, ujar Saka yang masih terus merangkul Rindy.
“Aa’ahh...”. Rindy hanya bersuara manja pada Saka yang mengartikan malu dengan yang dikatakan Saka barusan.
Rindy kemudian memijati tangan Saka, dan Saka memandangi Rindy dengan senyum kasih tulus. Mereka tetap santai bersama meskipun Nurul ada di hadapan mereka. Nurul memainkan handphone-nya, membiarkan kedua temannya itu keasikan menikmati kebersamaan.
Tanpa sengaja tetesan seperti kristal keluar dari mata Rindy. Rindy sangat merindukan kasih sayang Saka. Rindy sangat merindukan kebersamaan mereka, saat-saat indah yang telah mereka lalui dengan senyum, tawa dan candaan, juga saat-saat duka dimana keduanya ditimpa cobaan dalam berhubungan, kemudian mereka berhasil menyelesaikan kedukaan itu dan berganti menjadi rasa syukur karena masih tetap bersama. Rindy benar-benar merindukan itu semua.
Rindy larut dalam tangisnya. Meskipun Rindy selalu terlihat tidak punya masalah apa-apa, tapi justru itulah saat dimana Rindy benar-benar rapuh. Sikap cueknyalah yang membuat orang lain merasa Rindy tidak lagi membutuhkan Saka. Padahal orang lain tidak tahu apa yang dirasakan Rindy sebenarnya. Kecuali Nurul, sahabat Rindy selama 10 tahun, yang selalu tahu apa yang dirasakan Rindy tanpa harus diberitahu. Hanya Nurul yang tahu betapa Rindy sangat membutuhkan Saka di sisinya.
Rindy sangat menyesal kenapa dia tidak bisa menerima Saka apa adanya, kenapa dia tidak memiliki segunung kepercayaan pada Saka, kenapa dia bisa begitu memberatkan Saka. Dulu Rindy merasa kalau Saka sudah tidak peduli padanya, mereka terjerat pada keadaan kurang komunikasi. Bukan salah siapa, tapi memang entah keadaan membuat mereka tidak tahu harus berkata apa. Sedangkan bila bersama temannya, Saka bisa saja mengobrol panjang kali lebar. Rindy merasa cemburu dengan keadaan itu, utamanya pada teman-teman perempuan Saka. Rindy akui, dirinya memang tidak seasik mereka untuk diajak bicara. Tapi Saka juga bukan tipe laki-laki yang menyukai perempuan banyak bicara. Namun terlanjur Rindy merasa seperti bukan pacar Saka. Karena segala sikap Rindy itu, Saka jadi terbebani dan akhirnya memutuskan hubungan pada Rindy.
Sempat Rindy menangis berhari-hari, berminggu-minggu, dan berbulan-bulan kadang masih rapuh. Sudah berkali-kali Rindy meminta hubungan kembali pada Saka, tapi Saka menolaknya. Rindy tahu dan mengerti akan itu, Saka sudah trauma padanya. Itulah yang membuat Rindy seringkali menyalahkan dirinya di masa lalu. Dan Rindy takut untuk menyakiti Saka lagi, orang yang sangat disayanginya itu.
Pernah Rindy melakukan hal yang hingga kini masih disesalinya, yaitu menerima permintaan seorang teman sekolahnya untuk menjadi pacar. Ini terjadi setelah 5 bulan putus dengan Saka. Saat Saka mengetahuinya, Saka benar-benar kecewa. Saka datang ke rumah Rindy di malam hari setelah pulang dari Yogya. Saka membawakan oleh-oleh untuk Rindy, sebuah gelang yang hingga saat ini belum pernah dilepas oleh Rindy. Malam itu juga Saka memeluk dan mencium Rindy. Hal itulah yang membuat Rindy sadar bahwa Saka masih mencintainya. Padahal Rindy tidak mencintai laki-laki yang telah bersamanya waktu itu, Rindy hanya ingin mengobati perasaannya yang luka. Dan akhirnya mereka berpisah tanpa mencukupi sebulan berpacaran.
Kini Rindy tidak lagi berniat untuk berpacaran dengan laki-laki lain. Dirinya merasa lelah dengan kata akhir dari sebuah hubungan. Selain itu, Rindy juga merasa belum selayaknya dia pacaran lagi. Dirinya merasa belum dewasa. Dia tidak ingin jika kelak dia akan menyakiti dan membuat kesalahan lagi pada laki-laki yang dicintainya karena ketidakdewasaannya. Meski kadang dia merasa sangat membutuhkan kasih sayang dan perhatian dari laki-laki yang mencintainya, tapi Rindy tetap tidak berniat pacaran. Rindy lebih cuek setiap kali ada cinta yang datang mendekatinya. Bahkan karena kecuekannya itu, Rindy tidak peka terhadap perasaan  laki-laki lain untuknya.
҈ ҈ ҈
Kesibukan

Sudah pukul 16.15, sore telah tiba dengan tanda matahari mulai bergeser ke ufuk Barat. Rindy mengeluarkan sepedanya dari teras rumah dan siap untuk menyusuri jalan. Di keranjang sepedanya, ia meletakkan sebuah handuk kecil dan novel Sculdugguery Pleasant. Sepasang headset terpasang di telinganya, dengan playlist lagu-lagu dari Blink 182, My Chemical Romance, Linkin Park, Katy Parry, Simple Plan, Chris Brown, dan Jason Mraz. Itu adalah beberapa selera musik luar negeri untuk Rindy.
Rindy mengenakan kaos dengan lengan ¾, celana jeans pendek sedikit di atas lutut, sepatu kets putih, dan mengikat rambutnya dengan dibiarkan sedikit berantakan,  membuatnya terlihat santai dan lepas.
Angin sore meniup anak-anak rambut dan poni Rindy. Rindy sangat menyukai suasana seperti itu. Makanya, bersepeda sudah menjadi kegemarannya. Walaupun dulu sempat ayahnya melarang kegiatan itu mengingat usianya sudah 16 tahun, tapi Rindy tetap tidak gengsi. Hingga akhirnya ayahnya membiarkan keinginannya itu karena sudah banyak orang dewasa yang bersepeda.
Tidak terasa jalan yang dilalui Rindy sudah cukup jauh. Rindy menyadari kalau jalan yang dia lewati terarah pada rumah Saka. Hhh..., gue muter gak yah?, batinnya. Tapi Rindy memilih untuk meneruskan perjalanannya dan melewati rumah Saka.
Rumah Saka terlihat sepi meskipun ada kendaraan di garasi rumahnya. Rindy berhenti sejenak, teringat masa lalu ketika dia berada di teras rumah Saka, sedang mengobrol berdua ditemani kucing Saka. Setitik air mata keluar dari mata kirinya, dia pun kembali mengayuh sepedanya dan menghapus air matanya. Di satu sisi, ada sosok yang memperhatikan wajahnya.
҈ ҈ ҈


17.21
20.04.11
Rin, tgs lo udh slese blm? Wktunya tnggal 3 hri lg lo..
Bls yh, Rika.
 
 






“Ohh God ! Lupa !”
Rindy kemudian langsung mengayuh sepedanya dengan cepat menuju rumahnya. Ada tugas penting dari ekskul yang diikutinya, tapi belum sempat dikerjakannya. Padahal ini tugas pertama setelah dia diangkat sebagai koordinator penelitian IPA.
Sebenarnya tumben Rindy ingin ikut sibuk dalam kegiatan sekolahnya. Biasanya dia hanya cuek, apalagi ikut ekskul. Tapi tidak ada lagi yang bisa dia lakukan selain menyibukkan diri agar dirinya melewati hari-hari lebih cepat dan tanpa disadarinya sendiri. Sudah terlalu jenuh untuk berdiam diri, tanpa adanya kebahagiaan bersama orang yang membuat dirinya merasa berarti.
Jika dia tidak sibuk, ketidakwarasan yang muncul pada dirinya. Bermain, bernyanyi, melompat, dan segala hal yang membuatnya lupa dengan rasa dukanya. Tidak peduli apa kata orang. Tidak peduli jika mereka beranggapan bahwa dirinya sibuk sendiri, gila sendiri, bahkan ada yang mengejek dengan kata autis. Tapi tidak masalah, Rindy menganggap itu hanya candaan. Sebab sepertinya memang hanya candaan.
҈ ҈ ҈
Rindy berlari menuju kelasnya. Masih terlalu pagi, tidak ada PR yang belum dikerjakan, tidak ada ulangan yang materinya belum dipelajari, tidak ada anjing yang mengejar, dan tidak ada apa-apa selain tugas pertamanya sebagai koordinator penelitian IPA diselesaikan. Di pikirannya menyatakan bahwa dirinya harus secepatnya sampai di kelas.
“Rindy !”, panggil Rika begitu melihat Rindy berlari. Namun Rindy tidak mendengar panggilan untuknya itu dan masih tetap berlari.
“Rinn !! Rindy !!”, panggil Rika lagi sambil berlari kecil mendekati Rindy.
Rindy pun akhirnya menoleh pada arah suara yang memanggilnya. Nafasnya masih terengah-engah, rambutnya sudah berantakan, seragamnya sudah berantakan karena angin, dan wajahnya yang sudah menampakkan titik-titik keringat.
“Ka, sori... Gue belum ngerjain apa-apa... Makanya skarang gue buru-buru, mumpung masih pagi, gue mau ngecek ke kelas-kelas...”, ujar Rindy begitu Rika sudah tidak jauh di depannya.
“Hhaa?! Nggak ada sama skali ?”
“...”, Rindy menggeleng dengan polosnya.
“Trus gimana dong? Besok udah rapat...”
“Ya udah, gue gerak skarang... Gue pergi yah, daaahh...”
Rindy kemudian berlalu meninggalkan Rika yang masih kaget setelah mendengar perkataan Rindy barusan. Di benaknya hanya ada satu pertanyaan, “gimana gue ngejelesinnya besok?”. Sebab Rika adalah ketua dalam ekskul ini. Jadi tanggung jawabnya sangat besar jika saja ada masalah seperti yang dilakukan Rindy.

Rindy memasuki kelas per kelas yang beruntungnya masih sepi. Tanpa harus banyak bicara pada siswa-siswi di kelas itu, Rindy bisa langsung melakukan tugasnya. Rindy mengintipi laci-laci meja dan lantai, mencari jejak-jejak rokok. Mencatatnya, dan mengambil gambar jika ada yang sangat menarik perhatiannya. Kemudian sampai pada satu kelas, kelas Saka. Tidak ada siapa-siapa di ruang kelas itu walaupun sudah ada yang datang. Rindy pun bebas mengecek laci-laci bangkunya.
“Siapa?”
Rindy langsung terkaget mendengar suara itu. Suara itu sangat familiar, itu suara Saka. Rindy masih menunduk di balik bangku dan menyembunyikan kameranya di dalam tas. Berpura-pura tidak melakukan apa-apa.
“Lho, ngapain?”, tanya Saka yang tiba-tiba berdiri di belakang Rindy.
“Aah? Hmm nggak ngapa-ngapain kok... Aku cuma lagi ngumpet...”, jawab Rindy sambil menoleh dengan serileks yang dia bisa.
“Ngumpet? Dari siapa?”
“Tadi ada Pak Udin... Haha...”, jawab Rindy kemudian berdiri. “Eh ya udah yah, aku balik kelas dulu...”, lanjut Rindy sebelum Saka kembali bertanya. Rindy kemudian berlalu dari hadapan Saka yang terlihat bingung.
Huuufthh..., slamet..., slamet... Kalo ketahuan kan malu... Eh tapi kenapa mesti malu? Apa karna gue masuk ekskul atau apa? Ihh nggak jelas banget sih gue..., batin Rindy sambil terus berjalan menuju kelas lainnya.
“Rin!”
Rindy menghentikan langkahnya. Dia kaget mendengar namanya dipanggil, apalagi dipanggil oleh Saka. Aduuuh.., dia mau bilang apa?
“Rindy, kamu lupa sesuatu...”
“Ah? Apaan?”
Saka menyodorkan buku catatan kecil pada Rindy, itu memang buku catatan Rindy yang tadi dipakainya mencatat isi penelitiannya, beruntung sudah sempat ditutup, jadi Saka tidak sempat melihat isinya.
“Mmm.., makasih yah...”, Rindy tersenyum, kemudian membalikkan tubuhnya, kembali berjalan perlahan.
Saka memandangi Rindy yang semakin jauh, kemudian kembali memasuki kelasnya.
҈ ҈ ҈
Rindy menekan tuts keyboard laptopnya, membuat hipotesa tentang penelitiannya. Meski sekarang sudah jam istirahat, dia memilih untuk berkonsentrasi pada tugas yang sudah sangat mengejar waktunya. Tiba-tiba saja terdengar suara Saka dari luar kelasnya. Rindy menoleh ke pintu, memang ada Saka di sana. Bibir Rindy membentuk senyuman, melihat keceriaan Saka bersama teman-temannya.
Hubungan Rindy dan Saka sangat menggantung. Mereka masih saling mencintai, menyayangi, namun tidak begitu mengasihi. Keduanya sama-sama ragu untuk menampakkan perasaan tulus masing-masing. Mengingat hubungan mereka sudah tidak menyatu lagi. Ada pula rasa trauma dalam diri Saka yang membuatnya tidak berani mengakui perasaannya, membuatnya melawan perasaannya sendiri. Kedukaan pada hubungan keduanya di masa lalu membuatnya memilih bertahan pada keputusannya ini.
Tersiksa memang pantas menjadi kata yang menggambarkan perasaan keduanya saat ini. Tersiksa karena harus menipu diri sendiri, lari dari kenyataan akan rasa cinta keduanya. Mereka terlalu naif, tidak adil pada diri. Tapi yang namanya keputusan sudah terlanjur diambil, mereka harus bisa menjalaninya.
Pandangan Saka mendapati Rindy yang diam dengan pikirannya sendiri. Saka yang tadinya tertawa bersama teman-temannya, kini ikut terdiam melihat raut wajah Rindy. Tapi itu tidak lama bertahan, handphone-nya bergetar dan langsung diceknya. Ada messenger dari seseorang yang kini selalu menemani hari-harinya–Dena.
Dena siapa? Pacar Saka. Dena adalah pacar Saka. Saka sudah menjalani hubungan bersama Dena selama 2 bulan lebih. Entah pantasnya disebut sebagai belajar mencintai, belajar membuka hati, perasaan yang datang tanpa disadari, atau pelampiasan? Yang pasti Saka memilih menjalani hubungan dengan Dena daripada dengan Rindy. Entah pantasnya disebut pembodohan atau jalan yang harus dihadapi? Saka sendiri tidak begitu peduli, yang jelasnya dia bisa tertawa setiap hari bersama Dena.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar