Sepeda Rindy
Rindy keluar dari tempat bimbelnya dengan buku
pegangan tebal yang dipeluknya. Senyum manisnya menebar saat teman sekelasnya
menyapa. Dan Rindy tetap berjalan menuju sepeda kesayangannya–berwarna abu-abu,
memiliki keranjang kecil di depan, dan memiliki goncengan di belakang meski
jarang terpakai. Rindy meletakkan bukunya di keranjang sepedanya kemudian
memutar sepedanya ke arah jalan raya.
Saat itu juga Saka datang dan memarkir
motornya. Tanpa sengaja matanya melihat Rindy yang masih sibuk mengeluarkan
sepedanya dari parkiran. Saka membuka helmnya dan memastikan apa yang
dilihatnya. Tidak lama, Rindy berhasil mengeluarkan sepedanya dan mulai
mengayuh. Saka tidak percaya itu Rindy. Tapi dia langsung menyalakan mesin
motornya dan mengejar Rindy yang belum jauh.
Jalan raya tidak begitu ramai. Suasana
menjelang malam lebih gelap dari biasanya. Rindy tetap santai mengayuh
sepedanya. Kehadiran Saka yang sedari tadi mengikutinya belum disadarinya.
Jarak dari tempat bimbel ke rumah Rindy sekitar 20 km. Cukup jauh dan
memegalkan kaki.
Rindy mengambil jalan ke pinggir, dan singgah
di sebuah kafe kecil seperti warkop. Kondisi kafe terbuka, hanya ada sedikit
dindingnya yang tidak dari kaca, sofanya nyaman dengan meja besar di depan
untuk setiap sofa. Kafe ini tidak ramai, memberi kesan hangat bagi Rindy.
Kakinya yang pegal mengayuh sepeda biasanya diistirahatkan di tempat ini.
Rindy langsung masuk ke kafe dengan membawa
barangnya setelah memarkir sepeda. Dia duduk menyandarkan punggung dan
kepalanya di sandaran sofa panjang. Hanya dia sendiri di sofa itu. Rasa-rasanya
ingin tertidur, tapi bukan saatnya. Rindy masih ingat kalau rumahnya masih
setengah perjalanan lagi dari kafe itu.
Saka memandang Rindy dari luar kafe. Antara
ingin masuk atau menunggu saja. Kalau dia masuk, dia tidak mau ketahuan sudah
mengikuti Rindy. Tapi dia juga tidak sanggup menunggu di luar ditemani
nyamuk-nyamuk kehausan, apalagi Rindy sama sekali tidak memperlihatkan sikap
ingin segera keluar. Saka memutuskan masuk.
Rindy terlihat sedang membaca buku pegangannya
dari tempat bimbel. Cara membacanya membuat wajahnya tertutupi oleh buku itu,
hingga dia tidak menyadari Saka. Saka cukup canggung untuk menyapa Rindy. Tapi
akhirnya rasa pegal berdiam diri mengalahkan kecanggungannya.
“Rin...”, sapa Saka yang sudah berdiri di
samping Rindy.
Rindy memindahkan bukunya dari pandangannya.
Melihat keberadaan Saka, Rindy cukup heran tapi tidak berekspresi banyak. Saka
pun langsung duduk di sebelah Rindy. Rindy memandang Saka, dengan harapan Saka
memberitahu kenapa dia bisa di kafe itu.
“Kamu suka kesini?”, tanya Saka.
“Hmm iya... Kamu?”
“Baru sekarang.”
“Oohh...”. Rindy manggut-manggut kepala dan
kembali membaca bukunya.
“Kamu mau ngapain di sini?”
“Nggak ngapa-ngapain kok... Cuma mau istirahat
aja bentar... Kamu?”
“Sama...”
“Kamu sendiri?”, tanya Rindy sambil meletakkan
bukunya di meja.
“Iya...”
“Bentar yah, aku pesen minum...”
Rindy kemudian berjalan menuju tempat memesan.
Si pelayan sepertinya sudah tahu yang akan dipesan Rindy, makanya sesampai di
hadapan pelayan itu, Rindy sudah dapat yang diinginkannya. Tapi Rindy masih
menunggu sebentar sebab si pelayan tidak tahu kalau Rindy memesan satu lagi.
Rindy datang dengan nampan di tangannya. Saka
meminggirkan kakinya agar Rindy bisa lewat di depannya. Rindy kemudian duduk di
posisi sebelumnya sambil meletakkan yang di pesannya barusan ke meja.
“Minum...”, ucap Rindy sambil tersenyum.
Saka melihat yang dipesan Rindy, 2 gelas susu
cokelat hangat dan 2 piring kecil Brownies Cokelat Keju.
“Kamu masih suka susu cokelat kan?”, tanya
Rindy masih dengan senyumnya sambil menyampingkan rambut panjangnya sehingga
satu sisi leher sampingnya terlihat oleh Saka.
Saka hanya tersenyum, kemudian meminum susu
yang memang untuknya. Rindy pun melakukan hal yang sama.
“Kamu udah bisa keluar malam yah? Dulu kan
enggak dibolehin...”
“Aku tadi abis bimbel... Kalo untuk urusan
gitu kan Ayah ngebolehin...”
“Ohh bimbel dimana?”, tanya Saka pura-pura
tidak tahu.
“Yang deket skolah...”, jawab Rindy sambil
menujuk buku pegangannya yang tertulis jelas di sampulnya nama lembaga tempat
bimbelnya.
Saka manggut-manggut kepala dan tersenyum pada
Rindy. Rindy balik tersenyum kemudian menunduk ke arah tangan-tangannya yang
dibiarkan di atas pahanya. Saka memandangi Rindy yang terdiam.
Sekali-kali Rindy meminum susunya dan memakan
browniesnya untuk menghindari salah tingkahnya. Tapi Saka masih juga selalu
memandanginya. Keduanya memang sudah lama tidak sedekat ini, berdua saja di
suatu tempat, sekeliling mereka tidak mengenali.
Dulu mereka sepasang kekasih. Menjalani
hubungan itu dari kelas 3 SMP sampai kelas 2 SMA. Hingga kini mereka masih
berteman baik, tapi Rindy selalu canggung memulai obrolan dengan Saka kalau
teman-teman Saka bersikap lebay saat mendapati mereka mengobrol. Entah mengapa
teman-teman Saka seperti menganggap mereka ‘artis’ yang kisah cintanya terus
diamati dan menggemparkan suasana kelas. Padahal banyak pasangan-pasangan lain
yang putus tapi masih selalu mengobrol.
“Bentar yah...”
Rindy kembali berdiri dan berjalan. Tapi kini
dia berjalan keluar dari kafe. Saka duduk lebih santai dan mengeluarkan
handphone-nya. Membuka pesan-pesannya yang berisi pemberitahuan dari Facebook.
Kemudian dia menelusuri dunia mayanya di Twitter seperti biasa. Bosan dengan
itu, Saka mengecek aplikasi handphone-nya yang menfasilitasi
obrolan.
Sudah sekitar 10 menit Rindy belum juga
kembali. Saka mulai heran. Dilihatnya tas dan buku Rindy masih di atas meja.
Saka kemudian mengambil tas Rindy dan membukanya. Beberapa alat tulis, buku,
tissue, dompet, handphone, dan kertas-kertas yang berisi macam-macam. Saka
menyalakan handphone Rindy dan melihat di layar tertulis namanya, Irhamsyah
Akbar. Saka terdiam, kemudian menyimpan kembali handphone Rindy dan
mengembalikan tas selempang berwarna cokelat itu di posisinya semula.
Sekilas nama panjang Saka sama sekali tidak
nyambung dengan nama panggilannya. Irhamsyah Akbar dengan Saka ? Tapi Sa
berasal dari –syah, dan Ka dari Akbar.
“Maaf yah lama...”, ucap Rindy yang ternyata
sudah berdiri di samping Saka sambil tersenyum.
“Darimana?”, tanya Saka sambil meminggirkan
kaki.
“Mushollah...”
Saka manggut-manggut kepala. “Nggak
ngajak-ngajak tadi...”
“Hhee maaf... Sekarang aja...”, ujar Rindy
sambil meraih tasnya.
“Hmm... Eh kamu mau pulang?”, sejenak Saka
bangkit ingin ke mushollah tapi pikirannya langsung pindah melihat Rindy
memakai tasnya.
“Iya... Udah malem...”, jawab Rindy.
“Ooohh ya udah deh aku di rumah aja nanti...
Kamu pulang naik apa?”, tanya Saka yang lagi-lagi pura-pura tidak tahu.
“Aku naik speda...”, jawab Rindy sambil
tersenyum.
“Sejak kapan?”
“Udah lama... Tapi nggak pernah pake ke
skolah...”
“Ohh pantes... Kok nggak crita-crita?”
“Hmm nggak penting juga aku crita...”
Saka kembali manggut-manggut. Rindy berjalan
melewati Saka, kemudian menoleh kembali pada Saka.
“Nggak pulang?”
“Mau pulang kok...”, jawab Saka kemudian
berjalan di samping Rindy.
Rindy masih kaku berada di samping Saka. Dia
berkembang menjadi pemalu terhadap laki-laki yang baru dekat lagi dengannya,
berhubung Saka sudah lama tidak berjalan di sampingnya. Tapi bisa dibilang juga
dia malas dengan kaum Adam jika belum dekat dengannya. Karena itu juga Rindy
selalu canggung kalau ada teman-teman Saka.
Rindy memutar sepedanya dan menaikinya. Saka
juga sudah ada di atas motornya dan menyalakan mesinnya. Rindy tersenyum,
kemudian pamit pada Saka. Rindy mengayuh sepedanya ke jalan raya, dan Saka
mengikuti. Rindy menyadari itu dan langsung menoleh pada Saka.
“Nggak pulang yah?”
“Aku antar...”, jawab Saka.
“Kok gitu? Nggak pa-pa kok, aku bisa
sendiri...”
“Nggak pa-pa kok... Aku antar aja...”
Rindy tersenyum, “naik speda lama loh... Entar
kamu capek...”
“Udah, nggak pa-pa...”
Rindy terdiam. Hatinya berbunga-bunga dan
serasa ingin terbang. Tapi itu tidak tergambarkan di wajahnya. Dia tetap tenang
tanpa ekspresi.
Saat ini Saka merasa, Rindy banyak berubah.
Lebih tenang, dan entah apa lagi. Mungkin karena dilihat dari luar, sebab Saka
yakin kalau Rindy sebenarnya masih seperti dulu.
“Kamu slalu gini?”
“Iya...”
“Ohh kamu nggak dingin?”
“Aku kan pake lengan panjang sama clana
panjang...”
“Hhaa..., dulu kamu suka kedinginan...”
“Hhee iya sihh... Tapi tadi kan udah minum
susu hangat...”
“Hmm...”
“Makasih ya Ka...”
“Kenapa?”
“Nggak pa-pa... Cuma mau bilang makasih
aja...”
Mereka terus mengendarai, bersampingan, dan
sesekali tertawa saat mereka mendapati sesuatu yang dari perjalanan itu. Saka
cukup kesusahan mengendarai motornya, apalagi kalau kendaraan di belakangnya
terus-terusan membunyikan klakson. Kalau begitu Rindy hanya senyum-senyum saja.
҈ ҈ ҈
Rindy menaruh tasnya di meja belajar begitu
memasuki kamarnya. Dilihatnya sebuah foto terpajang dengan bingkai elegan, itu
adalah fotonya dan Saka. Kini Rindy memperhatikan foto itu lagi setelah lama
dibiarkan. Rindy bahagia, tapi itu hanya dirasakan dalam hatinya.
Nurul duduk
di sofa pendek depan sofa panjang yang ditempati Rindy dan Saka. Rindy
memainkan tangan Saka, dan Saka langsung merangkul Rindy dengan gemasnya. Nurul
memandangi keduanya sambil tersenyum.
“Temen lo
yang ini manja banget Nu... Manjaaa...”, ujar Saka yang masih terus merangkul
Rindy.
“Aa’ahh...”.
Rindy hanya bersuara manja pada Saka yang mengartikan malu dengan yang
dikatakan Saka barusan.
Rindy
kemudian memijati tangan Saka, dan Saka memandangi Rindy dengan senyum kasih
tulus. Mereka tetap santai bersama meskipun Nurul ada di hadapan mereka. Nurul
memainkan handphone-nya, membiarkan kedua temannya itu keasikan menikmati
kebersamaan.
Tanpa sengaja tetesan seperti kristal keluar
dari mata Rindy. Rindy sangat merindukan kasih sayang Saka. Rindy sangat
merindukan kebersamaan mereka, saat-saat indah yang telah mereka lalui dengan
senyum, tawa dan candaan, juga saat-saat duka dimana keduanya ditimpa cobaan
dalam berhubungan, kemudian mereka berhasil menyelesaikan kedukaan itu dan
berganti menjadi rasa syukur karena masih tetap bersama. Rindy benar-benar
merindukan itu semua.
Rindy larut dalam tangisnya. Meskipun Rindy
selalu terlihat tidak punya masalah apa-apa, tapi justru itulah saat dimana
Rindy benar-benar rapuh. Sikap cueknyalah yang membuat orang lain merasa Rindy
tidak lagi membutuhkan Saka. Padahal orang lain tidak tahu apa yang dirasakan
Rindy sebenarnya. Kecuali Nurul, sahabat Rindy selama 10 tahun, yang selalu
tahu apa yang dirasakan Rindy tanpa harus diberitahu. Hanya Nurul yang tahu
betapa Rindy sangat membutuhkan Saka di sisinya.
Rindy sangat menyesal kenapa dia tidak bisa
menerima Saka apa adanya, kenapa dia tidak memiliki segunung kepercayaan pada
Saka, kenapa dia bisa begitu memberatkan Saka. Dulu Rindy merasa kalau Saka
sudah tidak peduli padanya, mereka terjerat pada keadaan kurang komunikasi.
Bukan salah siapa, tapi memang entah keadaan membuat mereka tidak tahu harus
berkata apa. Sedangkan bila bersama temannya, Saka bisa saja mengobrol panjang
kali lebar. Rindy merasa cemburu dengan keadaan itu, utamanya pada teman-teman
perempuan Saka. Rindy akui, dirinya memang tidak seasik mereka untuk diajak
bicara. Tapi Saka juga bukan tipe laki-laki yang menyukai perempuan banyak
bicara. Namun terlanjur Rindy merasa seperti bukan pacar Saka. Karena segala sikap
Rindy itu, Saka jadi terbebani dan akhirnya memutuskan hubungan pada Rindy.
Sempat Rindy menangis berhari-hari,
berminggu-minggu, dan berbulan-bulan kadang masih rapuh. Sudah berkali-kali
Rindy meminta hubungan kembali pada Saka, tapi Saka menolaknya. Rindy tahu dan
mengerti akan itu, Saka sudah trauma padanya. Itulah yang membuat Rindy
seringkali menyalahkan dirinya di masa lalu. Dan Rindy takut untuk menyakiti
Saka lagi, orang yang sangat disayanginya itu.
Pernah Rindy melakukan hal yang hingga kini
masih disesalinya, yaitu menerima permintaan seorang teman sekolahnya untuk
menjadi pacar. Ini terjadi setelah 5 bulan putus dengan Saka. Saat Saka
mengetahuinya, Saka benar-benar kecewa. Saka datang ke rumah Rindy di malam
hari setelah pulang dari Yogya. Saka membawakan oleh-oleh untuk Rindy, sebuah
gelang yang hingga saat ini belum pernah dilepas oleh Rindy. Malam itu juga
Saka memeluk dan mencium Rindy. Hal itulah yang membuat Rindy sadar bahwa Saka
masih mencintainya. Padahal Rindy tidak mencintai laki-laki yang telah
bersamanya waktu itu, Rindy hanya ingin mengobati perasaannya yang luka. Dan
akhirnya mereka berpisah tanpa mencukupi sebulan berpacaran.
Kini Rindy tidak lagi berniat untuk berpacaran
dengan laki-laki lain. Dirinya merasa lelah dengan kata akhir dari sebuah
hubungan. Selain itu, Rindy juga merasa belum selayaknya dia pacaran lagi.
Dirinya merasa belum dewasa. Dia tidak ingin jika kelak dia akan menyakiti dan
membuat kesalahan lagi pada laki-laki yang dicintainya karena
ketidakdewasaannya. Meski kadang dia merasa sangat membutuhkan kasih sayang dan
perhatian dari laki-laki yang mencintainya, tapi Rindy tetap tidak berniat
pacaran. Rindy lebih cuek setiap kali ada cinta yang datang mendekatinya.
Bahkan karena kecuekannya itu, Rindy tidak peka terhadap perasaan laki-laki lain untuknya.
҈ ҈ ҈
Kesibukan
Sudah pukul 16.15, sore telah tiba dengan
tanda matahari mulai bergeser ke ufuk Barat. Rindy mengeluarkan sepedanya dari
teras rumah dan siap untuk menyusuri jalan. Di keranjang sepedanya, ia meletakkan
sebuah handuk kecil dan novel Sculdugguery Pleasant. Sepasang headset terpasang
di telinganya, dengan playlist lagu-lagu dari Blink 182, My Chemical Romance,
Linkin Park, Katy Parry, Simple Plan, Chris Brown, dan Jason Mraz. Itu adalah
beberapa selera musik luar negeri untuk Rindy.
Rindy mengenakan kaos dengan lengan ¾, celana
jeans pendek sedikit di atas lutut, sepatu kets putih, dan mengikat rambutnya
dengan dibiarkan sedikit berantakan,
membuatnya terlihat santai dan lepas.
Angin sore meniup anak-anak rambut dan poni
Rindy. Rindy sangat menyukai suasana seperti itu. Makanya, bersepeda sudah
menjadi kegemarannya. Walaupun dulu sempat ayahnya melarang kegiatan itu
mengingat usianya sudah 16 tahun, tapi Rindy tetap tidak gengsi. Hingga
akhirnya ayahnya membiarkan keinginannya itu karena sudah banyak orang dewasa
yang bersepeda.
Tidak terasa jalan yang dilalui Rindy sudah
cukup jauh. Rindy menyadari kalau jalan yang dia lewati terarah pada rumah
Saka. Hhh..., gue muter gak yah?,
batinnya. Tapi Rindy memilih untuk meneruskan perjalanannya dan melewati rumah
Saka.
Rumah Saka terlihat sepi meskipun ada
kendaraan di garasi rumahnya. Rindy berhenti sejenak, teringat masa lalu ketika
dia berada di teras rumah Saka, sedang mengobrol berdua ditemani kucing Saka.
Setitik air mata keluar dari mata kirinya, dia pun kembali mengayuh sepedanya
dan menghapus air matanya. Di satu sisi, ada sosok yang memperhatikan wajahnya.
҈ ҈ ҈
|
“Ohh God ! Lupa !”
Rindy kemudian langsung mengayuh
sepedanya dengan cepat menuju rumahnya. Ada tugas penting dari ekskul yang
diikutinya, tapi belum sempat dikerjakannya. Padahal ini tugas pertama setelah
dia diangkat sebagai koordinator penelitian IPA.
Sebenarnya tumben Rindy ingin ikut
sibuk dalam kegiatan sekolahnya. Biasanya dia hanya cuek, apalagi ikut ekskul.
Tapi tidak ada lagi yang bisa dia lakukan selain menyibukkan diri agar dirinya
melewati hari-hari lebih cepat dan tanpa disadarinya sendiri. Sudah terlalu
jenuh untuk berdiam diri, tanpa adanya kebahagiaan bersama orang yang membuat
dirinya merasa berarti.
Jika dia tidak sibuk, ketidakwarasan
yang muncul pada dirinya. Bermain, bernyanyi, melompat, dan segala hal yang
membuatnya lupa dengan rasa dukanya. Tidak peduli apa kata orang. Tidak peduli
jika mereka beranggapan bahwa dirinya sibuk sendiri, gila sendiri, bahkan ada
yang mengejek dengan kata autis. Tapi tidak masalah, Rindy menganggap itu hanya
candaan. Sebab sepertinya memang hanya candaan.
҈ ҈ ҈
Rindy berlari menuju kelasnya. Masih
terlalu pagi, tidak ada PR yang belum dikerjakan, tidak ada ulangan yang
materinya belum dipelajari, tidak ada anjing yang mengejar, dan tidak ada
apa-apa selain tugas pertamanya sebagai koordinator penelitian IPA
diselesaikan. Di pikirannya menyatakan bahwa dirinya harus secepatnya sampai di
kelas.
“Rindy !”, panggil Rika begitu melihat
Rindy berlari. Namun Rindy tidak mendengar panggilan untuknya itu dan masih
tetap berlari.
“Rinn !! Rindy !!”, panggil Rika lagi
sambil berlari kecil mendekati Rindy.
Rindy pun akhirnya menoleh pada arah
suara yang memanggilnya. Nafasnya masih terengah-engah, rambutnya sudah
berantakan, seragamnya sudah berantakan karena angin, dan wajahnya yang sudah
menampakkan titik-titik keringat.
“Ka, sori... Gue belum ngerjain
apa-apa... Makanya skarang gue buru-buru, mumpung masih pagi, gue mau ngecek ke
kelas-kelas...”, ujar Rindy begitu Rika sudah tidak jauh di depannya.
“Hhaa?! Nggak ada sama skali ?”
“...”, Rindy menggeleng dengan
polosnya.
“Trus gimana dong? Besok udah
rapat...”
“Ya udah, gue gerak skarang... Gue
pergi yah, daaahh...”
Rindy kemudian berlalu meninggalkan
Rika yang masih kaget setelah mendengar perkataan Rindy barusan. Di benaknya
hanya ada satu pertanyaan, “gimana gue
ngejelesinnya besok?”. Sebab Rika adalah ketua dalam ekskul ini. Jadi
tanggung jawabnya sangat besar jika saja ada masalah seperti yang dilakukan
Rindy.
Rindy memasuki kelas per kelas yang
beruntungnya masih sepi. Tanpa harus banyak bicara pada siswa-siswi di kelas
itu, Rindy bisa langsung melakukan tugasnya. Rindy mengintipi laci-laci meja
dan lantai, mencari jejak-jejak rokok. Mencatatnya, dan mengambil gambar jika
ada yang sangat menarik perhatiannya. Kemudian sampai pada satu kelas, kelas Saka.
Tidak ada siapa-siapa di ruang kelas itu walaupun sudah ada yang datang. Rindy
pun bebas mengecek laci-laci bangkunya.
“Siapa?”
Rindy langsung terkaget mendengar
suara itu. Suara itu sangat familiar, itu suara Saka. Rindy masih menunduk di
balik bangku dan menyembunyikan kameranya di dalam tas. Berpura-pura tidak
melakukan apa-apa.
“Lho, ngapain?”, tanya Saka yang
tiba-tiba berdiri di belakang Rindy.
“Aah? Hmm nggak ngapa-ngapain kok...
Aku cuma lagi ngumpet...”, jawab Rindy sambil menoleh dengan serileks yang dia
bisa.
“Ngumpet? Dari siapa?”
“Tadi ada Pak Udin... Haha...”, jawab
Rindy kemudian berdiri. “Eh ya udah yah, aku balik kelas dulu...”, lanjut Rindy
sebelum Saka kembali bertanya. Rindy kemudian berlalu dari hadapan Saka yang
terlihat bingung.
Huuufthh...,
slamet..., slamet... Kalo ketahuan kan malu... Eh tapi kenapa mesti malu? Apa
karna gue masuk ekskul atau apa? Ihh nggak jelas banget sih gue..., batin Rindy sambil terus berjalan menuju
kelas lainnya.
“Rin!”
Rindy menghentikan langkahnya. Dia kaget
mendengar namanya dipanggil, apalagi dipanggil oleh Saka. Aduuuh.., dia mau bilang apa?
“Rindy, kamu lupa sesuatu...”
“Ah? Apaan?”
Saka menyodorkan buku catatan kecil
pada Rindy, itu memang buku catatan Rindy yang tadi dipakainya mencatat isi penelitiannya,
beruntung sudah sempat ditutup, jadi Saka tidak sempat melihat isinya.
“Mmm.., makasih yah...”, Rindy
tersenyum, kemudian membalikkan tubuhnya, kembali berjalan perlahan.
Saka memandangi Rindy yang semakin
jauh, kemudian kembali memasuki kelasnya.
҈ ҈ ҈
Rindy menekan tuts keyboard laptopnya,
membuat hipotesa tentang penelitiannya. Meski sekarang sudah jam istirahat, dia
memilih untuk berkonsentrasi pada tugas yang sudah sangat mengejar waktunya.
Tiba-tiba saja terdengar suara Saka dari luar kelasnya. Rindy menoleh ke pintu,
memang ada Saka di sana. Bibir Rindy membentuk senyuman, melihat keceriaan Saka
bersama teman-temannya.
Hubungan Rindy dan Saka sangat
menggantung. Mereka masih saling mencintai, menyayangi, namun tidak begitu
mengasihi. Keduanya sama-sama ragu untuk menampakkan perasaan tulus
masing-masing. Mengingat hubungan mereka sudah tidak menyatu lagi. Ada pula
rasa trauma dalam diri Saka yang membuatnya tidak berani mengakui perasaannya,
membuatnya melawan perasaannya sendiri. Kedukaan pada hubungan keduanya di masa
lalu membuatnya memilih bertahan pada keputusannya ini.
Tersiksa memang pantas menjadi kata
yang menggambarkan perasaan keduanya saat ini. Tersiksa karena harus menipu
diri sendiri, lari dari kenyataan akan rasa cinta keduanya. Mereka terlalu
naif, tidak adil pada diri. Tapi yang namanya keputusan sudah terlanjur
diambil, mereka harus bisa menjalaninya.
Pandangan Saka mendapati Rindy yang
diam dengan pikirannya sendiri. Saka yang tadinya tertawa bersama
teman-temannya, kini ikut terdiam melihat raut wajah Rindy. Tapi itu tidak lama
bertahan, handphone-nya bergetar dan langsung diceknya. Ada messenger dari
seseorang yang kini selalu menemani hari-harinya–Dena.
Dena siapa? Pacar Saka. Dena adalah
pacar Saka. Saka sudah menjalani hubungan bersama Dena selama 2 bulan lebih.
Entah pantasnya disebut sebagai belajar mencintai, belajar membuka hati,
perasaan yang datang tanpa disadari, atau pelampiasan? Yang pasti Saka memilih
menjalani hubungan dengan Dena daripada dengan Rindy. Entah pantasnya disebut
pembodohan atau jalan yang harus dihadapi? Saka sendiri tidak begitu peduli,
yang jelasnya dia bisa tertawa setiap hari bersama Dena.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar