New
Version 1.1
Dinda berjalan memasuki pekarangan rumah megah
yang dulu sempat ditinggalinya. Rumah itu milik keluarga Sudarto yang merupakan
keluarga angkat dari saudara kembarnya – Nanda. Tangan kanannya memegang koper
kecil dan tangan kirinya menahan pegangan ransel merah yang berukuran cukup
besar. Terlihat jelas dia cukup keberatan dengan bebannya itu.
Begitu sampai depan pintu, Dinda meletakkan
ranselnya dan menekan bel rumah. Tidak lama kemudian seorang wanita separuh
baya muncul dari balik pintu yang baru saja dibukanya. Dinda mengenali wanita
itu, pembantu yang sudah berjasa di keluarga Sudarto sejak Nanda belum
diangkat.
“Non Didi..., masuk Non...”, ujar wanita itu
dengan senyumnya.
Dinda hanya tersenyum sedikit lalu kembali
mengangkat ranselnya masuk ke dalam rumah. Kopernya langsung dibawa oleh wanita
itu menuju ruang dalam. Dinda melihat ke sekeliling, tidak ada siapa-siapa. Pak
Sudarto dan istrinya memang sedang di luar kota.
Wanita tadi kembali menemui Dinda dengan
langkah cepat. “Non, kopernya udah saya masukin kamar...”
“Makasih Bik...”
“Bapak sama Ibu lagi di luar kota, kalo Den
Nanda biasanya pulang malam karena ada bimbel... Makanya sepi Non...”
Dinda hanya manggut-manggut mendengar
penjelasan wanita itu – Bi Darsih.
“Ehmm..., Non Didi bakal tinggal di sini terus
ya ?”
“Nggak tau lah Bik... Emang kenapa ?”
“Hmm woro opo kok Non... Ya wong saya cuma
nanya aja...”
Dinda tersenyum mendengar ucapan wanita di
hadapannya itu, sebab dia sama sekali tidak mengerti bahasa Jawa. Langkah
kakinya bergerak menuju sebuah ruangan di lantai 2 yang sebelumnya merupakan
kamarnya, dan kini kembali menjadi kamarnya.
Begitu memasuki kamar, Dinda langsung
meletakkan ransel di atas sofa empuk di pojok ruangan. Kondisi kamarnya tidak
banyak berubah, hanya motif wallpaper
saja yang diganti dengan motif yang lebih feminim. Entah apa di pikiran Pak
Sudarto sehingga memberi motif feminim di kamar Dinda yang lebih condong ‘netral’
itu.
Puas mengacaki barang-barang di kamarnya,
Dinda memutuskan untuk berbaring. Tempat tidur yang jauh berbeda dengan yang di
rumahnya bersama Almarhum kakeknya. Lebih empuk, tapi tidak lebih nyaman.
Mungkin belum terbiasa.
“Dinda...,
kamu tinggal sama Ibu yah sayang... Ibu nggak punya siapa-siapa lagi selain
kamu dan Nanda...”
“Maaf...,
saya nggak bisa mengikuti tante... Kalo mau tante aja yang ikut...”
“Tapi Dinda,
Ibu masih ada urusan di Samarinda...”
“Skali
lagi saya minta maaf... Mungkin belum sekarang...”
Dinda
tetap dengan kesibukannya memasukkan barang-barangnya ke dalam koper. Sementara
Lastri hanya bisa pasrah terhadap keputusan putri yang baru ditemuinya itu.
Dinda memutuskan untuk menerima tawaran Pak Sudarto untuk tinggal bersama.
Sementara rumah yang menjadi kenangan bersama Almarhum Kakek dijadikan
semata-mata sebagai tempat usaha dimana Surip sebagai penjaganya.
Memang
berat harus meninggalkan rumah itu, tapi Dinda juga tidak punya banyak pilihan.
Dia bukan gadis yang sangat mandiri menjalankan usaha toko kerajinan, menjadi
ketua tim basket putri di sekolahnya, sekaligus menjadi siswi yang tetap harus
bertanggung jawab. Dinda juga tidak bisa menolak permintaan Surip yang sudah
dianggap om itu, untuk dekat dengan keluarga mengingat itulah permintaan Kakek
sebelum mengakhiri hidupnya.
Tertinggal
Lastri. Dinda sudah mulai bisa mengikhlaskan segala yang menimpa dirinya
kecuali ibu kandungnya itu. Dinda tidak marah padanya, hanya saja dia belum
bisa seutuhnya menerima keadaan bahwa akhirnya bertemu dengan ibu kandungnya
karena bukan dicari, melainkan mencari. Dinda kecewa mengingat Lastri tidak
sekeras dirinya dan Nanda untuk mencari hingga harus berkorban banyak hal.
@@@
...tok..tok..tokk...
Pintu kamar Dinda terbuka. Nanda muncul dari
balik pintu dengan sedikit mengintip.
Terlihat Dinda masih tertidur pulas. Nanda berjalan mendekati Dinda,
dilihat sosok adiknya dari atas sampai bawah. Posisi tidur Dinda yang
berantakan membuat Nanda tersenyum kemudian memperbaiki posisi tidur adiknya
itu.
“Mmmmhhh...”
Dinda tersadar, melihat Nanda di hadapannya.
Tapi dia kembali menutup matanya dan membelakangi Nanda lalu melanjutkan
tidurnya.
“Udah malem Non... Masa tidurnya kayak kebo’
gitu...”
Dinda tidak mempedulikan Nanda, malah dia
memasang selimutnya hingga menutupi seluruh tubuhnya. Nanda yang melihat itu
langsung melepas selimut Dinda dengan cepat hingga Dinda harus dengan terpaksa
bangkit.
“Apaan sih lo?!”, seru Dinda sambil menarik
kembali selimutnya.
“Ini anak... Lo tuh cewek...”
“Nah trus kenapa? Gue gue, napa lo yang
sibuk?”
“Karna gue kakak lo...”
“Iya, kakak yang rese’ ! Aneh, biasanya juga
adek yang ganggu, nah elo?”
“Bawel banget sih ! Ya udah tidur aja sana...”
Nanda kemudian melemparkan selimut tepat di
wajah Dinda, kemudian berjalan ke luar kamar. Dinda hanya cuek dan kembali
membaringkan tubuhnya.
“Bii..., seharian dia ngapain aja?”, tanya
Nanda pada Bi Darsih.
“Nggak ngapa-ngapain kayaknya Den, Non Dinda
di kamar terus...”, jawab Bi Darsih sambil menuangkan air ke dalam gelas.
Nanda meminum air yang dituangkan barusan,
kemudian mengisi piring di hadapannya dengan menu makan malam yang disajikan Bi
Darsih.
“Bi, mau makan bareng nggak?”
“Apa Den?”
“Iyaa..., Bibi temenin saya makan yah...
Duduk...”
Bi Darsih kemudian duduk di kursi di samping
Nanda. Nanda memandangi Bi Darsih dengan senyumannya tanda mempersilahkan
wanita paruh baya di hadapannya itu. Bi Darsih pun melakukan yang dipinta
Nanda.
@@@
Televisi berukuran 25 inch menayangkan film
action yang diperankan artis cantik Angelina Jolie. Nanda sedang asik
menontonnya sendirian di ruang tengah. Suasana rumah sudah gelap karena lampu
sengaja dipadamkan. Dinda tiba-tiba duduk di samping Nanda dengan mengangkat
satu kakinya di kursi. Nanda sedikit terkejut kemudian memperbaiki posisi
duduknya.
“Baru bangun?”
“Hmm...”, jawab Dinda singkat sambil menggaruk
kepalanya dengan pandangan pada televisi.
Nanda diam. Mereka fokus pada tontonan yang
sedang seru-serunya. Waktu sudah menujukkan dini hari. Terdengar suara yang
tidak asing. Dinda menunduk, Nanda menoleh ke perut Dinda.
“Makan gih...”
“Emang masih ada makanan?”
“Masak dong...”
Dinda memanyunkan bibir sambil memegang
perutnya. Dia lapar, tapi sedang malas memasak. Nanda hanya cuek, dia tetap
sibuk memperhatikan tontonannya. Tidak lama kemudian akhirnya Dinda memaksakan
diri untuk ke dapur.
“Sekalian yaah...”, ujar Nanda.
“Enak aja...”
“Kan sekalian doaaangg...”
“Gak !”
Nanda menoleh ke dapur, Dinda benar-benar
tidak mempedulikannya. Dia kemudian menyusul Dinda ke dapur.
“Masak apa? Palingan juga mie, udah deh lo
nggak usah pelit-pelit sama gue... Skali-skali lo baek sama abang sendiri
napa?”
“Prasaan gue udah baek deh sama lo...”
“Ohh yee? Iish Di, ini tuh mie punya siapa?
Kompor, gas, panci, air, semua punya siapa?”
“Iiihh itung-itungan banget sih lo...”
“Lo juga itung-itungan tenaga sama gue...”
“Kalo bukan karna kakek, gue ogah tinggal
disini !”, seru Dinda dengan tatapan tajamnya pada Nanda.
Nanda langsung memalingkan pandangannya, dia
tidak berani melihat Dinda. Sepertinya kali ini Dinda benar marah. Nanda
kemudian berjalan meninggalkan Dinda di dapur sendirian.
Dinda kembali memasak mie-nya. Sebenarnya dia
juga tidak menyangka akan berbicara sekeras tadi pada Nanda, itu diluar kendalinya.
Tapi dia juga gengsi untuk meminta maaf. Lagipula dia memang tidak suka dengan
sikap Nanda tadi. Terlalu sok.
Dinda memasukkan mie yang sudah dibuatnya ke
dalam mangkok. Ternyata mie yang dibuatnya cukup banyak untuk sekedar makan
tengah malam. Dia pun memindahkan sebahagian ke mangkok yang lain. Itung-itung gue minta maaf.... Dinda
kemudian membawa kedua mangkok mie itu ke ruang tengah, tempat Nanda masih
menonton televisi.
Dinda meletakkan mangkok mie di meja, satu di
pegangnya. Seolah tidak ada apa-apa, Dinda mulai memakan mie-nya. Nanda yang
menyadari itu pun menoleh pada Dinda. Dia ingin mengambil mangkok mie di
hadapannya, tapi dia masih ragu.
Mereka diam-diaman, tidak juga saling melirik.
Sibuk menonton seolah-olah sedang nonton sendirian. Begitu mie Dinda habis,
Dinda kembali ke dapur kemudian naik ke kamarnya. Tidak lama kemudian Nanda
tersadar kalau Dinda sudah masuk ke kamar. Diliriknya mangkok mie masih di atas
meja, dia pun mengambilnya. Buat gue?
Sebenarnya Dinda memilih untuk tetap tinggal
di rumah lamanya. Hanya saja ada beberapa faktor yang sulit ditolak Dinda untuk
tinggal di kediaman keluarga Sudarto–keluarga angkat Nanda yang sekarang juga
menjadi keluarga angkatnya. Pertama, dia sudah berjanji pada Almarhum kakeknya
untuk berkumpul dengan keluarga. Setidaknya walaupun dia tidak bersama ibunya,
dia bisa bersama kakaknya. Faktor selanjutnya adalah karena saran dari Mas
Surip dan Pak Sudarto beserta nyonya saja. Mengingat usianya masih muda dan dia
seorang perempuan. Biar bagaimanapun rumah lamanya berada di sekitar pasar yang
notabenenya tidak aman dari segala bentuk kejahatan.
@@@
New
Version 1.2
Kriiiinngggg........!
Kriiiiiiiiinnggggg....!!!!
Dinda berlari cepat melewati pagar sekolahnya.
Hampir saja dia terlambat pagi ini. Lagi-lagi kemampuannya berlari yang lebih
dari cewek lainnya membuatnya beruntung.
“Didii !!”, panggil Tari.
Dinda menoleh pada suara yang sudah dikenalnya
itu, “hei Rii...”
“Gue kira udah nggak masuk lo...”
“Aah nggak dong, anak rajiinn...”, ujar Dinda
sambil berjalan menuju kelas bersama Tari.
“Didi !”
Dinda kembali menoleh, kali ini suara
laki-laki yang setiap hari memanggilnya, itulah Nandika Pratama.
“Kenapa Dik?”, tanya Dinda.
“Nggak pa-pa kok hhe...”
Semenjak kejadian yang menimpa keluarganya(baca
Twin), Dinda sudah bersikap baik pada Dika. Meskipun Dinda belum memberi
lampu hijau atas perasaan Dika terhadapnya. Dinda menyadari bahwa dirinya punya
perasaan pada Dika, tapi dia masih tidak ingin pacaran dulu. Setidaknya sampai
dia benar-benar yakin akan perasaannya, dan dia benar-benar siap untuk membagi
kasihnya pada Dika. Dia tidak ingin menjalin hubungan yang hanya bermodalkan
perasaan. Tidak bisa dipungkiri bahwa kedewasaan itu sangat berperan penting
dalam hubungan. Dinda tidak ingin karena ketidakdewasaan membuatnya malah
menyakiti orang yang disayanginya.
“Palingan mau masuk kelas bareng elo Dii...”,
goda Tari sambil memandangi Dika.
“Ahh nggak juga kok... Cuma kebetulan aja
tadi...”
“Kebetulan yah... Ohhh...”
Dinda hanya memasang senyumannya pada kedua
orang di sampingnya itu. “Udah ah, buruan...”
@@@
Dinda duduk seorang diri di bangku taman
sekolahnya sambil membaca novel teenlit yang dipinjamnya dari Tari. Sebenarnya
dia tidak begitu tertarik dengan novel percintaan, tapi berhubung dia sedang
tidak ada kegiatan yang lebih baik, tidak apa lah. Dinda juga malas ke kantin,
dia ingin tenang sendiri.
Akhir-akhir ini Dinda jadi lebih pendiam dan
tenang. Tidak bisa dipungkiri bahwa dirinya sangat merasa kehilangan sosok
kakek yang bertahun-tahun tinggal bersamanya. Hanya kakek yang dia punya sejak
dia memilih ‘nyasar’ di rumah kakek pada usia 4 tahun. Dia tumbuh bersama
kakek, mulai dari belajar memakai kaus kaki sendiri, sampai saat dia sudah
mengenal arti kehidupan.
“Hai Dinda...”, sapa Dika yang tiba-tiba duduk
di sebelahnya.
“Sejak kapan lo manggil gue Dinda?”
“Sejak lo jadi lebih feminim hehe...”
Dinda menoleh pada Dika, kemudian kembali pada
bacaannya. “Emang gitu?”
“Hmm..., menurut gue sih gitu...”
Dinda terdiam. Di pikirannya ada sedikit keanehan.
Diingat-ingatnya kembali dengan kebiasaannya selama ini. Memang dia agak
berubah pada penampilan, rambutnya lebih sering diurai, cara jalannya juga
sudah tidak secepat biasanya, dan dia juga sudah jarang bercanda kasar dengan
teman-temannya. Tapi baginya itu hanya karena memang tidak ada yang membuatnya
harus melakukan yang biasa dilakukannya. Tiba-tiba dia teringat pada Nanda,
semalam mereka bertengkar kecil.
Dinda menutup novelnya, kemudian menoleh pada
Dika dengan senyumnya. “Prasaan lo aja, Dik...”.
“Oohh... Kirain lo udah brubah...”
“Kenapa emangnya kalo udah brubah?”
“Nggak pa-pa... Lo cocok kok jadi Dinda ataupun
Didi...”
“Ya iyalah, secara dua-duanya kan emang
gue...”, ujar Dinda kemudian menghadap ke depan, memandang jauh ke langit biru.
“Hhaha maksud gue bukan gitu...”
“Iya iyaa, gue tau kok...”
Dika tersenyum. Kemudian suasana menjadi
hening di antara mereka. Beberapa pasang mata memperhatikan mereka, utamanya
anak-anak basket dan teman-teman dekat Dika dan Dinda. Tapi keduanya tampak tidak
menyadari hal itu.
“Dii...”
“Hmm?”. Dinda menoleh pada Dika, menunggu apa
yang akan dikatakan Dika selanjutnya.
“....”. Dika terdiam, pandangannya jauh ke
depan. Tak ada yang terlintas di pikirannya. Kosong, tapi damai.
telah lama aku
lama mengenalmu
lama menantimu
ikuti arusmu
berhenti sejenak
dan lihatlah aku
beri kejelasan
tentang perasaan
maukah kau tau di dalam hatiku
lama menantimu sampai kapan?
apakah kau tau yang lama kutau
lama menantimu sampai kapan?
berhenti sejenak
dan lihatlah aku
beri kejelasan
tentang perasaan
maukah kau tau di dalam hatiku
lama menantimu sampai kapan?
apakah kau tau yang lama kutau
lama menantimu sampai kapan?
kau tau yang kumau
sampai kapan kau menggantungkan aku?
Sheila On 7
– Sampai Kapan
“Kenapa?”
“Nggak...”, jawab Dika dengan menoleh sedikit
kemudian kembali memandang ke depan.
Dinda terdiam, ikut memandang ke depan seperti
Dika. Dinda menghela nafas, senyum di bibirnya terbentuk. Nggak tau kenapa, gue nggak mau saat ini berubah. Gue mau tetep kayak
gini... Di samping lo, merasa tenang, damai, dan aman...
“Dii...”
“Yah?”
“Udah bel masuk...”
“Hah? Masa sih? Gue nggak denger...”
“Banyakan ngelamun lo ! Ngelamunin gue yaaa ?”
“Ihh apaan sih, udah lo masuk gih sana, gue
juga mau masuk...”
Dinda berjalan meninggalkan taman dengan novel
di tangannya. Begitu dia menoleh pada orang di sekitarnya, dia baru sadar kalau
dirinya jadi bahan tontonan sejak tadi. Dinda menggaruk kepalanya dengan
tampang kebingungan. Baginya tidak ada yang perlu heboh dengan hal tadi. Bukannya
yang seperti tadi itu sudah umum kan di sekolah? Bahkan banyak yang lebih, tapi
kenapa dia terlalu diperhatikan? Dinda dan Dika sudah seperti artis saja.
Jangan-jangan begitu nonton TV nanti, mereka sudah muncul berita terkini acara
gosip artis.
“Woi ! Kenapa sih?”, tanya Dinda begitu sampai
di depan kelas dan mendapati Tari dan Dina juga memperhatikannya.
“Heheh..., nggak kok Dii... Mungkin pada nggak
nyangka Dika akhirnya bisa deket banget sama lo, sampe duduk dua-duaan di taman
gitu hoho...”, jawab Tari.
“Ooohh to twiiitt...”, tambah Dina dengan
perubahan wajahnya yang seperti sedang nonton sinema picisan.
“Gaje, udah ahh...”
@@@
Lapangan basket SMA Harapan terlihat cukup
ramai. Maklum sore ini anak-anak basket sedang latihan. Sebagai kapten yang
baik, Dinda tampak fokus di antara mereka, memberikan penerangan terhadap
teman-temannya.
Beberapa pasang mata dari penonton
memperhatikan latihan itu bukan karena suka dengan basket, tapi malah ingin
meninjau kedekatan Dika dan Dinda. Mereka itu anggota mading, hanya saja
cennderung disebut infotaiment sekolah. Karena setiap bulannya mading sekolah
tidak pernah luput dari gosip dan calon fakta. Salah satu dari mereka adalah
Rena. Sebenarnya Rena tidak suka dengan gosip, dia hanya hobi fotografi. Banyak
yang mengagumi kemampuannya itu. Berhubung setiap siswa di SMA Harapan harus
memilih salah satu ekskul yang akan ditekuninya, dia tidak bisa mengelak. Sebab
di ekskul lain tidak membutuhkan fotografi.
“Ren, lo peratiin terus yah, ambil foto yang
paling mesra !”, ujar Dila sambil terus memperhatikan Dika dan Dinda.
Rena hanya diam, tidak mempedulikan omongan
orang di belakangnya itu. Baginya, untuk apa mengurusi urusan pribadi orang
lain? Tidak ada untungnya.
Di lapangan, Dika tampak menghampiri Dinda.
Mereka saling tersenyum dan kadang-kadang tertawa. Entah apa yang mereka
bicarakan, terlihat begitu akrab.
“Ren, ambil fotonya...”
Rena kemudian mengangkat kameranya dan
mengarahkan lensa pada posisi Dika dan Dinda. Rena mengambil gambarnya
seketika.
“Coba liat !”, ujar Dila.
Rena menyodorkan kameranya pada Dila. Dia
tidak habis pikir kenapa orang di belakangnya itu begitu sibuk, begitu semangat
dalam hal seperti ini. Kalau saja kegiatan ekskul tidak diberi nilai pada
rapor, tentu saja Rena malas ikut kegiatan ini.
“Lagi lagii...”, perintah Dila.
Rena menghela nafas dengan kesal. Namun Dila
terus mendesaknya. Apa boleh buat.
@@@
“Dii, mau pulang bareng nggak?”, ajak Dika
begitu menemui Dinda di gerbang sekolah setelah latihan.
“Mmm nggak usah dehh...”
“Kenapa? Udah sore loh Di, masa mau naik
angkot?”
“Nggak pa-pa kok, gue udah biasa...”
“Ohh... Eh, tapi biasanya lo bawa motor, kok
udah enggak?”
“Ehmm... Males aja... Udah deh, lo pulang aja
duluan, gue udah gede kali...”
Dari satu sisi, Dila memperhatikan Dika dan
Dinda dari kejauhan. Pandangan fokus, dan raut wajah sedikit geram. Sementara
di belakangnya ada Rena yang duduk santai. Dia bosan melihat Dila yang
terus-terusan bersikap seperti itu.
“Reen, fotoin Ren !!”
“Kan udah tadi...”, tolak Rena kemudian memperhatikan
hasil potretannya di kamera Canon yang selalu dibawanya kemana-mana.
“Ihh lagi dong buruan !”, ujar Dila sambil
menarik-narik tangan Rena.
“Ah gila lo... Gue tuh cuma mau cari buat
mading, nggak lebih-lebih...”, Rena kembali menolak sambil melepas tangannya
dari pegangan Dila.
“Ihh ini kan juga buat mading Ren... Udah deh
buru ntar keburu pergi mreka...”
“Ah gue capek, fotoin aja sendiri !”, seru
Rena dengan kesal kemudian berjalan meninggalkan Dila.
Dila menggerutu tidak jelas kemudian langsung
mengambil handphone-nya, mengaktifkan
kamera, dan mengarahkannya pada Dika dan Dinda. Tapi Dika tampak berlalu dan
tidak terlihat lagi oleh Dila. Dinda tinggal sendiri di depan gerbang. Dengan
kesalnya, Dila menendang batu di depannya.
“Auuuchhh !!”, jerit Dila dengan ringis
kesakitan.
@@@
Who
is Rena ?
“Hmm dasar cewek yah... Kenapa sih jutek
banget? Susaaah gitu ditebak maunya gimana...”, ucap Dika bermonolog.
Dika termenung, senyum-senyum sendiri sambil
tiduran di kamarnya. Dia teringat pada cewek yang akhir-akhir ini dekat
dengannya. Cewek yang membuatnya bisa lupa dengan beban-bebannya hanya dengan
melihatnya saja. Tapi sayangnya cewek itu terlalu cuek dan jual mahal
terhadapnya. Bahkan meski sudah lama kenal, dia belum juga banyak tahu tentang
cewek itu.
Dert...dert...
Deertt...dertt...
Bisa jemput gue gak?
Gak pake lama yah. Gue tunggu di rumah.
Rena.
|
Dika menutup handphone-nya, dilihatnya weker di atas bufet, sudah lewat jam 4
sore. Tumben banget minta dijemput...,
batinnya sambil tersenyum. Dia kemudian bangkit dari tempat tidurnya dan keluar
dari kamarnya dengan membawa helm.
@@@
Cafetaria yang menyediakan berbagai macam es
krim ini selalu saja ramai, seperti halnya sore ini. Meskipun demikian, Dika
dan Rena tidak berpikiran sama sekali untuk tidak jadi memasuki tempat ini.
Kesan yang hangat, terbuka, dan natural membuat pengunjung sulit berkata tidak,
apalagi dengan sajian es krimnya yang memang luar biasa.
Dika dan Rena berjalan menuju sofa yang
kosong. Begitu sampai, Rena langsung menjatuhkan tubuhnya dengan tangannya
melihat-lihat hasil gambar yang diambilnya memalui kamera kesayangannya. Dika
duduk di samping Rena, kemudian memesan es krim untuk mereka berdua.
“Tumben banget minta dijemput...”, ucap Dika.
“Nggak suka? Ya udah, nggak pa-pa kok...”
“Gue nggak bilang gitu...”
Dika kemudian merebut kamera Rena dan melihat
gambar yang sudah dilihat Rena sebelumnya. “Foto apaan nih?”
“Napa? Bagus kaaann... Haha Rena !”
“Iihh iye-iye bagus... Tapi kalo ambil gambar
nggak usah sampe nekat gitu kali, kalo lo kenapa-napa, kan gue juga yang
kena’...”
“Jiahh emang kalo gue sakit lo juga bakal
sakit? Gombal banget lo!”
Dika tertawa kecil. Pesanan es krim mereka
sudah datang. Rena pun menyendok es krimnya dengan semangat. Dika lagi-lagi
tertawa karena di sekitar mulut Rena belepotan dengan es krim. Dika pun
mengambil tissue dan mengelap bibir Rena.
“Anak keciiill !”, ledek Dika.
“Hehe...”. Rena cuek saja pada ledekan Dika,
dan kembali menyendok es krimnya.
“Udah buruan makannya, abis ini kita pulang.”
“Ihh orang baru makan udah disuruh
cepet-cepet, gimana sih...”
Dika kembali melanjutkan perhatiannya pada
satu per satu gambar yang diambil Rena. Didapatinya satu gambar yang membuat
keningnya berkerut. “Foto apaan nih?”
“Iiih jangan dihapus, itu Dila yang suruh.
Katanya buat mading...”
“Kenapa harus gue sama Didi?”
“Yaa mungkin karena kalian sama-sama kapten
basket. Jangan dihapus pokoknya ! Gue males berurusan sama Dila.”
“Nyanyanyanyanyaa...”, ledek Dika kemudian kembali
menyendok es krimnya.
@@@
20 Mei
2011
PENGUMUMAN
Ujian semester genap akan
dilaksanakan 6–12 Juni 2011. Ujian dilaksanakan pukul 7.15 – 10.00. Roster
ujian akan segera dibagikan kepada wali kelas masing-masing.
Kesiswaan
“Waduuh ujian udah deket, nggak sempet
jalan-jalan doongg...”, ujar Tari begitu selesai membaca pengumuman.
“Hmh kita udah mau naik kelas dua, bisa-bisa
mencar dong...”, ujar Dina.
“Ah gue udah tau lo bakal masuk kelas berapa
Din...”, ucap Dinda sambil membaca buku.
“Hah? Kok tau? Kelas berapa?”
“IPA 1...”, jawab Dinda dengan singkat.
“Ihh ngarang yah! Kan belum ada pembagian
kelas...”
“Emang gue ngarang haha...”
“Iiihh...”
“Udah deh Din, lo kan pinter, makanya Didi
bilang gitu...”
Mereka bertiga kemudian berjalan meninggalkan
papan pengumuman yang mulai dikerumuni anak-anak SMA Harapan lainnya. Papan
pengumuman itu sudah seperti gula yang dikerumuni semut secepat kilat. Padahal
apa bagusnya sih papan pengumuman? Informasinya juga tidak akan hilang kalau
memilih untuk melihat setelah tidak banyak orang. Apalagi ada beberapa dari
mereka yang sengaja dorong-dorong sebagai bentuk candaan. Dan dari
desak-desakan itu, jadilah ketidaknyamanan seperti mencium bau ketek yang
mungkin seminggu nggak pernah nyentuh sabun, kebagian kutu terbang, kejadian
sengaja atau tidak tersengajanya pelecehan seksual pada bagian dada
cewek-cewek, ketumpahan minuman, kakinya keinjek, dan rambutnya kejambak !
Berantem, berantem deh. « Ehm, kayaknya
yang ini lebay deh hihi :D
@@@
“Rena !”lll
Rena membalikkan badannya ke arah suara yang
memanggilnya. Dia kenal dengan suara itu, suara dari orang yang paling
memberinya perhatian.
“Hei Dika... Kenapa?”
“Nggak pa-pa kok... Pengen nyapa aja hehe.
Sendiri?”
“Nggak... Lo nggak liat yah temen-temen gue
nih?”
“Hah?”, Dika menoleh ke sekitar Rena, tidak
ada siapa-siapa.
“Ohh brarti lo nggak liat pedahal harusnya
bisa...”
“Maksud lo apaan sih? Jangan bikin ngeri
deh...”
“Ihh pikiran ! Nih kenalin, temen gue,
namanya...” Rena menoleh ke samping kanannya.
“Eh lo jangan ngasal deh, nggak ada
siapa-siapa selaen tembok !”
“Waaahh lo ternyata udah kenal sama temen gue?
Hhahaha...” Rena tertawa seorang diri, sementara Dika hanya memasang muka
masam. Eh nggak deng, kan kagak nyobain mukanya, jadi mana tau masam ato kagak.
Mungkin aja rasa jengkol ato pete’? Nah loohh ?!
“Lama-lama lo mesti terapi autis deh
kayaknya...”, timpal Dika.
“Autis autis gini lo tetep sayang kan sama
gue? Aaah ngaku lo!”, goda Rena.
“Iiishhh...” Dika mengacak-acak rambut Rena.
Mereka tertawa, Rena kemudian menarik rambut
Dika kemudian lari menghindari balasan. Dika mengejarnya, merekapun tampak
begitu akrab. Beberapa pasang mata singgah ke arah mereka. Sepertinya gosip
baru akan beredar sebelum mading bertindak. Terlebih lagi di antara pasangan
mata itu, ada yang asalnya dari si penguntit kurang kerjaan yang selalu mau tau
urusan orang lain. Diperkenalkan, inilah Nadila Yulinda Sari alias Dila !
Mungkin memang sudah bawaan dari orok punya sikap demikian. Ep, bukan deh,
soalnya nyokapnya Dila itu dosen agama di salah satu universitas Islam. So,
hmm..., nggak wajar aja kalo waktu hamil nyokapnya suka mau sibuk ngurusin
orang kayak anaknya yang sekarang.
Sementara di sisi yang lain, kali ini berbeda
dengan kasus Dila. Dinda memang tidak sengaja melihat keakraban Dika dan Rena.
Dibalik tatapan matanya, hatinya seakan teriris silet. Tapi dasarnya Dinda, dia
tetap stay cool dan bersikap cuek.
@@@
Gue Gak Panas kok
Ruang tengah di kediaman keluarga Sudarto
tampak sunyi. Dinda sampai bosan harus berbuat apa. Maunya main game, tapi
tidak tau bagaimana cara pakai PSP. Maklum, sebagai pemahat, mainannya selama
ini cuma kayu, pisau, dan kawan-kawan.
Dinda menoleh ke atas meja, laptop Nanda
terbuka. Dinda kemudian mendekatinya dan melihat layar, ternyata tugas Nanda
dari sekolah. Dinda menurunkan kursor, matanya mulai membesar begitu melihat
tugas itu belum berujung juga.
“Buseet, ini anak bikin tugas atau apa sih?
Penjelasan semua nih? Ah jangan-jangan kopas...”, ujarnya sendiri sambil
melihat jumlah halamannya. Matanya melotot lebih besar, dia semakin yakin ini
hasil kopas = kopi paste. Tapi tentunya tidak, seorang Nanda tidak akan
melakukan hal itu. Melainkan dia akan melakukan kopas ! (nah loh?) Maksudnya kopi pake susu, alias mengerjakan tugasnya itu
dengan lembur ditemani kopi susu supaya tulisannya sekali mengalir tancap gas
hehe.
Dinda langsung menekan Ctrl + S, lalu
meminimze lembar Microsoft Word yang sudah membuat kepala kotaknya jadi pusing.
Tidak sampai disitu, Dinda memilih mencari games yang dikoleksi saudaranya itu.
Dia mau tau, seperti apa selera sang calon profesor. Jangan-jangan nggak ada game? Tapi ternyata ada (y) ! Plants vs.
Zombies.
“Eeeehhh... ini apaan jelek banget? Zombie
yah?”, ujar Dinda pada dirinya sendiri. (Buset, gitu aja pake nanya). “Eeehh
ini apaan matahari-matahari?”, mata Dinda mendekati layar laptop, tanpa sengaja
tangannya tergeser dan mengakibatkan matahari tadi terklik dan menghilang,
tambahan poin yang disadari Dinda. “Oooaahahaha itu nilai toh haha bilang kek!”
(Lama-lama Dinda tambah bodoh saja, mana ada laptop bisa bicara? Ada, aplikasi
lain tapi bukan game ini).
“Brisik amat sih ! Ngapain lo di laptop gue?”,
seru Nanda yang tiba-tiba berdiri di belakang Dinda.
“Ehh..., mmm..., tenang aja, tugas lo udah gue
save kok...”, ujar Dinda dengan nada tanpa rasa bersalah dengan tetap bermain
game. “Eeeehhh ini bunuhnya gimana?!!”, teriak Dinda begitu melihat sudah
banyak zombie yang muncul di gamenya. Saat itu juga Dinda menarik celana Nanda
karena khawatir akan game over.
“Eh ehh wooy ! Celana gue !!” Dinda langsung
melepas tangannya dan tidak berani menoleh pada Nanda. “Kalo nggak tau main
biasa aja dong...”, lanjut Nanda kesal.
“Sorry...” Dan akhirnya Dinda meminta maaf.
Nanda kemudian duduk di sebelah Dinda. Dia
merestart permainan itu. Kemudian memainkannya. Dinda memperhatikan itu dengan
serius untuk mengobati rasa penasarannya. Di sela-sela main, Nanda menoleh pada
Dinda. Seketika keheningan terpecah.
“Aaahhahahahh !! Hhahahah adooohh hahahh...”
Dinda terkaget dan langsung melotot pada
Nanda. “Apaan sih? Kesurupan lo?”
“Hhahahahah... Aduuhh lucu banget !”
“Apanya yang lucu?” Dinda mulai cemas, siapa
tahu saja kakaknya kesurupan setan ketawa.
“Hhahahahahh... Aduuhh..., aduuuhhh...
Hhahhahahh...”
Dinda jadi kesal kemudian menjitak kepala
Nanda. Ternyata berhasil membuat Nanda berhenti tertawa keras.
“Hhaha sorry Dii... Tadi muka lo lucu banget.
Sumpah, lo lucu banget kalo lagi serius... Mata lo nyipit, alis jadi deketan,
jidat berkerut, bibir maju ! Ahhahahah...”, timpal Nanda sambil memperagakan
ekspresi yang dikatakannya.
“Nggak lucu!”
“Lucu, sumpah. Ahahahahh...”
Dinda memperlihatkan tangannya yang dikepal,
Nanda langsung menahan ketawanya. Jangan sampai hal yang sama kembali melayang
di kepalanya. Apalagi di jidat Dinda sudah muncul tulisan ‘Perang Yok !’.
Bisa-bisa rumah jadi medan perang ke seribu sembilan ratus sembilan puluh
sembilan (angkanya kayak yang tertera di label harga di
supermarket-supermarket).
@@@
“Ting tong...”. Itu suara handphone Rena kalau ada pesan yang masuk.
Rena membuka pesannya, ternyata dari Miss Keke
alias Keurang Kerjaan (maksa banget). Rena meletakkan kembali handphone-nya tanpa membaca isi
pesannya. Tapi lagi-lagi handphone-nya
berbunyi. Dengan setengah hati, Rena membuka isi pesan itu.
4d4 hbung4n 4p4 lo s4m4 Dik4 ??
Dil4
|
Aduh
alay sumpah ! Tapi untungnya
itu bukan faktor disengaja, soalnya handphone
Miss Keke lagi rusak khususnya pada tombol a. Dua minggu yang lalu katanya sih
besok diperbaiki, tapi tidak pernah terwujud. Kalau ditanya paling jawabannya,
“aduuh gue lagi sibuk banget, nggak pernah sempet...”. Ya jelas aja tidak
pernah sempat kalau kerjaannya setiap hari cuma menguntit orang. Kening Rena
berkerut, kemudian membalas pesan itu.
Ngapain lo mau tau? Gw gak suka. Sori.
|
Rena meletakkan kembali handphone-nya. Tapi lagi-lagi handphone-nya
berbunyi. “Mck..., nih orang kenapa sih?”
Lo k4si t4u gw 4to gw
bikin berit4nya d m4ding?!
|
Rena tidak lagi membalas pesan itu. Dia
berlalu meninggalkan handphone-nya di
bufet. Dia tidak peduli Dila akan marah padanya atau tidak, dia juga tidak
peduli dengan ancaman Dila.
@@@
“RENA !”
Haaahhh ! Ngapain lagi sih nih oraaangg?
Sumfeh, ane fufur, ane cafeekk!,
batin Rena begitu mendengar namanya dipanggil.
“Rena, mau kemana
lo?”
“Kemana aja kaki
gue melangkah. Kenapa?”
“Ih sok banget
yah lo!”
“Aduh udah deh,
to the point aja napa?”
“Nggak usah
pura-pura lupa lo. Ada hubungan apa lo sama Dika?”
“Eh lo kenapa sih
mau tau banget urusan orang? Gue nggak suka!” Rena langsung meninggalkan Dila.
Tapi Dila mengejar dengan sambil mengangkat roknya yang sempit. Namanya juga
anak Gehoels, seragamnya sengaja diperketat.
“Eh lo jawab
nggak!”
Rena tetap
berjalan tanpa mempedulikan Dila yang sudah seperti pengantin ‘kabur’ pakai
gaun (masih mending sih pengantin, masih enak dilihat kalau gaunnya
diangkat-angkat, kalau Dila? Waaahw, bisa menurunkan keimanan kaum lelaki).
“Rena! Gue nggak
bakal ngelepesin eloo... Renaa !”
Tiba-tiba Dika
muncul dan menghentikan langkah Dila. Dila langsung rem mendadak begitu melihat
cowok yang jadi tokoh utama dalam kasusnya itu muncul.
“Apa-apaan nih?”
“Emm nggak ada
apa-apa kok Dik...”, jawab Dila sambil merapikan roknya.
Rena menoleh,
kemudian menarik tangan Dika untuk pergi. Dila masih diam, berdiri kaku, dan
wajahnya jadi sedikit takut. Dia tidak berani mengikuti Rena, tidak berani
mengoceh lagi.
Lagi-lagi
kejadian barusan disaksikan oleh Dinda. Tapi lagi-lagi juga Dinda diam dan
pura-pura cuek kemudian masuk ke kelasnya. Tira dan Dina juga melihat itu kali
ini, mereka berdua jadi membicarakan perihal Dika dan Rena.
“Dika, pacaran
nggak yah sama Rena?”
“Menurut lo?”
@@@
Beeeeeeeeeeerrrrrrrrrrrrtttttttttt...........!!
Bel panjang
berbunyi, tanda waktunya pulang sekolah untuk SMA Harapan. Siswa-siswinya mulai
mulai keluar dari kelas masing-masing, begitupun guru-guru. Dinda masih terdiam
di kelasnya, sementara Tira dan Dina membereskan buku-buku mereka.
“Nggak pulang
Di?”, tanya Dina.
“Hmm pulang
kok... Tapi entaran dulu deh...”
“Mau kita
temenin?”
“Nggak usah,
kalian pulang diluan aja...”
Dina dan Tira
saling memandang, kemudian tersenyum pada Dinda. Dinda membalas itu dengan
tatapan datar.
“Ya udah deh, dah
Didi...” Dina pun meninggalkan kelas, diikuti oleh Tira. Sebenarnya mereka
merasa tidak enak pada Dinda karena pergi begitu saja. Tapi sudahlah,
terlanjur. Lagipula sepertinya Dinda memang butuh sendiri.
Di kelas hanya
tinggal Dinda. Kelas-kelas lain sepertinya juga sudah sepi. Suara orang yang
sedang main basket membuat Dinda tidak takut. Kemudian dia keluar dari kelas,
ingin menonton permainan yang sudah jadi bagian dari hidupnya itu.
Cowok dengan
tinggi semampai, berkulit bersih, bentuk wajah yang manis dengan sedikit kumis,
dan bibir kecil merah–tampak segar. Permainan yang indah, karena sudah biasa.
Dinda memperhatikan itu sambil tersenyum tipis. Angin segar bertiup ke arahnya,
membuat suasana hatinya membaik. Dia juga baru sadar saat itu bahwa Dika begitu
enak dilihat.
“Didi !!”
Dinda tersadar,
ternyata Dika berjalan mendekatinya. Dinda langsung memperbaiki posisinya dan
tersenyum. “Kenapa Dik?”
“Lo nggak
pulang?”, tanya Dika begitu sampai di hadapan Dinda.
“Ahh? Nggak,
males. Entaran aja hehe... Lo?”
“Sama. Mau main
basket nggak?”
“Mmm nggak deh,
lo aja...”
“Dika !”
Dinda dan Dika
menoleh ke sumber suara yang memanggil nama Dika. Seketika itu juga, raut wajah
Dinda berubah. Ternyata hari ini bukan untuknya dan Dika senang-senang,
melainkan hari dimana api cemburu berkobar.
“Eh Ren, lo lama
banget sih...”
Hah? Jadi Dika lagi nungguin Rena?, batin Dinda.
“Sorry Dik... Gue
kan piket hehe...”
“Ah biasanya juga
lo males.”
Rena nyengir
kuda, Dika mengacaki rambut Rena dengan gemasnya. Dinda langsung memalingkan
pandangan. Batinnya terus menggerutu, tapi dia sungguh pandai menutupi isi
hatinya meski di pikirannya sudah melayang-layang.
Dinda menjambak rambut Dika, dengan kerasnya
hingga kepala Dika terguncang ke kiri-kanan dan depan-belakang. Dinda sudah
sangat kesal dan mengomel dengan bibir yang maju 3 cm!
“Dasaaar cowok playboooooyyy!!! Mainin gue lo
yah? Iiiiihhhh bisa-bisanya lo ngelakuin ini sama guee!!”
“Ampuunn Diii, ampuuunn...”, Dika hanya pasrah
dan memohon ampun pada Dinda.
“Iiiihhh nggak ada ampun buat cowok kayak
eloooo! Dasar cowok cap kodok!”, ujar Dinda sambil mencubiti kedua pipi Dika
hingga merah.
“Oh iya Di, gue
pulang dulu yah... Tapi lo nggak pa-pa kan?” tanya Dika saat menyadari Dinda
memasang muka masam.
Dinda langsung
tersadar dari lamunannya. “Ah, oh oke, ati-ati yah kalian hehe... Gue nggak
pa-pa kok, cuma sakit perut aja dikit...”
Dika dan Rena
tersenyum pada Dinda, kemudian berlalu dari hadapan Dinda menuju parkiran
sekolah. Begitu mereka hilang dari pandangan, Dinda langsung menghentakkan
kakinya keras-keras dengan melompat tidak jelas. Seakan amarahnya dilontarkan
pada lantai yang diinjaknya.
@@@
Space
Bego ! Bego,
bego, bego !!
Emang yah dasar
Dika playboy ! Gue sadar, gue sadar... Namanya juga anak basket, kapten basket
cowok ! Tapi kenapa coba gue bisa aja kecantol sama dia? Iiiishhh...
Eh, Nandika
Pratama, gue gak kenal banyak yah sama lo, tapi hari ini juga gue tau kalo lo
itu aaaarrgghh PLAYBOY GAK PUNYA MALU ! Bissa juga yah lo ngedeketin gue, trus
karna gue ngegantung lo, jadinya malah ngedeketin Rena. Nggak nyangka gue bisa
suka sama lo idiihh...
Dinda meletakkan
bukunya, bukan diary karena dia jarang menulis diary. Kemudian dia mengambil handphone-nya, online ria pun dimulai. Dinda memilih aplikasi
Twitter, kemudian menuliskan Twit, “santaeeii...”. Ternyata di Timeline ada
twit Dika yang sedang asik berbalas Mention dengan Rena. Mention demi mention,
sampai Timeline Dinda hampir dipenuhi oleh nama Rena dan Dika. Panaaas!
“Iiishh biassa
aja dongg !”
Dinda kemudian
pindah aplikasi ke Facebook, daripada makan hati di Twitter. Lagi-lagi di
Beranda ada status Dika yang bertuliskan “Kamu yang paling, dari yang
paling-paling J”. Mata Dinda melotot, bibirnya jadi maju
seperti monyet. Tapi Dinda malah membuka profil Dika, dan menemukan yang
mengejutkan.
“Lajang?”
Pikiran Dinda
mengalir, berpencar kemana-mana. Ahh
dasar playboy! Eh tapi siapa tau dia nggak pacaran sama Rena? Ah nggak mungkin
semesra itu! Eh tapi kan gue juga nggak tau apa-apa...
@@@
Pagi sudah
menunjukkan pukul 7.05, matahari sudah terang benderang, cahayanya memancar di
jendela kamar Dinda. Dari balik jendela itu, Dinda tampak berlarian, bergegas
untuk ke sekolah. Sementara Nanda dari depan rumah sudah sejak tadi menunggu.
Beberapa kali klakson dibunyikan, dan Dinda hanya bisa latah saat mendengar itu
kemudian berteriak “Bentaaaaaaaaaaarrrr!!”.
Dinda membanting
pintu kamarnya, berlari secepat yang dia mampu, meski sebenarnya belum
selayaknya dia untuk keluar kamar. Sebab dari ujung rambut sampai ujung kaki
belum ada yang pantas dilihat orang luar. Tanpa sisiran, bedak hanya asal
ditepukkan, baju seragamnya yang sebelah kanan keluar tapi yang kiri sudah
masuk rok, sementara sepatunya bukan terpasang di kaki melainkan digantung di
leher, dan satu lagi yaitu tasnya yang belum dikancing.
“Ati-ati
Nonn...”, ujar Bi Darsih begitu melihat Dinda berlari menuruni tangga.
“Aku pergi ya
Bii... Assalamualaikum...”
PEIIIIPPPPH
!!!!!, suara klakson mobil Nanda kembali terdengar. Dinda pun spontan melakukan
gerakan seperti gaya spongebob panik dengan mengangkatkan tangannya lalu
berlari. Bi Darsih jadi khawatir melihat ulah Dinda pagi ini.
PEIIIIIPPHHH !!!!
PEIPHH PEIPPHH !! Pagi-pagi harus dengar suara itu berkali-kali, membuat
telinga Dinda sakit. Andai saja huruf P diganti menjadi B, dan keluar dari
mulut Dika dengan suara merdu, pasti telinga Dinda jadi adem. Eh, ralat, Dinda
bukan cewek manja yang suka dipanggil ‘Beeeeeiibbhh’.
“Lama banget sih
!”, ujar Nanda begitu Dinda membuka pintu mobilnya.
“Soli solii...
Udah, buruan jalan !”
Nanda langsung
tancap gas sambil mengomel pada Dinda. Dinda sendiri tidak memperdulikan itu,
dia sibuk merapikan seragamnya, memasang sepatunya, dan menyisir rambutnya.
Inilah enaknya naik mobil, karena biasanya kalau Dinda sudah buru-buru, kata
rapi dan sisiran sudah hilang dari kamusnya dan baru muncul kembali setelah dia
bertemu dengan Tari. Sebab Tari akan shock
dan berceloteh dengan kecepatan bak 180 km/jam dengan kalimat “Didiii!!! Lo
nyadar nggak sih berapa pasang mata yang udah ngeliat elo dari pintu kamar lo
sampe kelas dengan dandenan yang kayak begitu?!!”
“Paaaaaakkk !!!”,
jerit Dinda sambil berlari kencang menuju gerbang.
Nanda masih
sempat mendengar jeritan adiknya itu, tapi kali ini dia tidak komplain. Sebab
dia akan melakukan hal yang sama, bahkan mungkin lebih parah nantinya begitu
sampai di sekolah.
Dinda menarik
nafas panjang-panjang, kemudian begitu tiba di gerbang, dia memiringkan posisi
badannya, hingga dia bisa masuk di sela-sela sempitnya sisa gerbang yang
terbuka. Kejadian barusan sudah membuat Dinda bak bintang iklan obat
pelangsing.
“Tengkyu
Paak...”, ujar Dinda yang masih sambil berlari.
“AUUCHHH !!”
“Eh sorry
sorry... Gue nggak sengaja...”. Dinda telah menabrak orang, dirinya yang jatuh
mencoba berdiri.
“Santai aja dongg
!”
Dinda kini sudah
berdiri di hadapan orang yang sudah ditabraknya barusan, dengan tampang penuh
rasa bersalah, Dinda mengharapkan orang itu segera memaafkannya dan berhenti
mengoceh. Tapi sepertinya itu sia-sia, sebab yang ditabraknya itu Miss Keke.
“Lo itu punya
mata dipake dong ! Liat deh, seragam gue jadi kusut ! Lo jangan
banding-bandingin sama seragam elo dong ! Iiicchh...”, omel Dila sambil
memandangi Dinda dari atas ke bawah.
“Iyaa, gue salah,
makanya gue minta maaf...”
“Kalo semua bisa
diselein dengan maaf, penjara nggak penuh !”
“Iya gue tau,
terus lo maunya apa?”
“Hmmm... Bentar
yah, gue pikirin dulu...”. Dila kemudian mengangkat wajahnya, mencoba berpikir.
Kali ini kembali dia berpose ala putri raja yang sombong, OMG.
“Kalo udah dapet,
kasih tau gue aja...”. Dinda kembali berlari, meninggalkan Dila yang tampaknya
langsung naik darah.
“Heeeii !!!”
Dinda tidak
peduli, dia terus berlari menuju kelasnya. Dia tidak mau meninggalkan
pelajarannya lebih lama hanya karena meladeni Miss Keke yang tidak penting itu.
Siape elu?
@@@
Pertaruhan Harga Diri !!!
Dinda menutup
bukunya setelah mempelajari teori-teori Geografi yang menjadi bahan ujiannya
dua hari lagi. Matanya mulai lelah, sudah waktunya dia untuk tidur. Dia
meletakkan bukunya, kemudian menutup mata. Tapi ternyata belum saatnya tidur,
sebab dia masih di dalam bathup sambil
berendam.
Dia ingin
menyegarkan tubuhnya, pikirannya, mencari ketenangan. Tadi di sekolah dia
lagi-lagi melihat Dika dan Rena sambil bercanda ria. Meski Dika menyapanya,
Dinda hanya diam. Respon diamnya itu bukannya menghasilkan rasa penasaran,
melainkan Dika membiarkannya.
Dinda menenggelamkan
kepalanya, kemudian muncul lagi. “Uhhuk uhhukk...”. Kalau di film-film kartun,
sudah ada buih yang keluar dari mulutnya.
Tiba-tiba ada
gedoran dari pintu kamar mandi, Dinda seketika kaget dan justru busa-busa sabun
memasuki mulutnya.
“Uhhuk ukkhoeapaaa?!”
“Didi ! Keluar !
Gue kebelet !”
“Uhhuk uhhukk...
Gue laahhukk uuhmmndiih !!”
“Ngomong apaan
sih lo? Buruaannn !”
Dinda pun duduk
sambil berusaha meraih handuk. Badannya masih dipenuhi busa yang singgah, tak
lagi sempat membilas. Namun pintu langsung terbuka.
“HAAAAARRRGGGGHHH
!!!!”, jerit Nanda. Dia melihat adiknya, dan langsung membelakang, tapi ada
yang sudah melepaskan diri dari dalam tubuhnya. Celananya sudah basah.
“Uuukkkhhhhhuukkhh
aaaaakkkhhh !!” Dinda langsung memasang handuknya, dan melempari Nanda dengan
air sabun.
Mau tidak mau,
Nanda langsung berlari keluar dari kamar mandi dengan kondisinya. Basah karena
air sabun yang bercampur dengan air seni di celananya. Dinda pun keluar dari bathup dan menutup pintu kembali.
@@@
Dinda keluar dari
kamarnya, rambutnya yang basah dibiarkan terurai. Kali ini tentunya dia sudah
berpakaian. Celana panjang lebar berwarna cokelat, dan baju dengan lengan yang
kepanjangan berwarna lebih muda. Dilihatnya ke kiri dan kanan untuk memastikan
ketidakberadaan Nanda. Dia belum siap untuk bertemu kakaknya yang sudah
melihatnya mandi tadi sore.
Dinda berjalan
pelan menuju dapur. Perutnya sudah lapar. Begitu sampai di dapur, dilihatnya Bi
Darsih sedang sibuk menata makanan di atas meja makan. Dinda langsung berlari pelan
mendekati Bi Darsih.
“Bibi, makanannya
bawain ke kamar saya yah sepiring... Minumnya juga heheh...”, pinta Dinda
dengan sedikit berbisik.
“Emang kenapa
Non?”
“Yaa, aku mau aja
makan di kamar... Nggak pa-pa kan Bii?”
“Ngge Non...”
“Oke makasih
Bii...”. Dinda langsung berlari menuju ke kamarnya.
Selang waktu
hanya dalam hitungan detik, Nanda muncul. “Masak apa nih Bi?”
“Semur Den...”,
jawab Bi Darsih sambil menyajikan makanan di atas piring makan.
“Biar saya ambil
sendiri Bii...”
“Ehmm, anu Den,
ini pesenennya Non Dinda...”
“Ooohh...”
Bi Darsih pun
membawakan makanan yang sudah disajikannya ke kamar Dinda. Nanda
manggut-manggut mengetahui tingkah adiknya itu. Dia cuek, dan memilih makan
dengan santai.
@@@
Dinda membuka
pintu kamarnya, menampakkan wajahnya, mengintip suasana di luar kamar.
Dilihatnya tidak ada siapa-siapa. Dia pun membuka pintu kamarnya lebih lebar
dan memutuskan untuk ke luar.
“Mau sampe
kapan?”
Mata Dinda
melotot, kaget. Dia tidak berani menoleh, cukup mematung di tempat. Itu Nanda,
itu Nanda!!
“Yang tadi sore?
Nyatai aja napa? Lo kan adek gue...”
Dinda masih diam
meski sudah tidak kaku. Dia ingin berbicara, tidak setuju dengan yang dikatakan
Nanda. Tapi dia belum berani.
“Gue pikir lo
cuek... Jelek lo!”
“Iiiishh !! Lo
apa sih? Nggak nyambung tau !”, ujar Dinda sambil menoleh pada Nanda dengan
tatapan tajam.
“Bagi gue
nyambung-nyambung aja... Mulut, mulut gue...”
“Eh lo jangan
rese’ yah. Bukannya minta maaf, malah bikin masalah...”
“Ngapain gue
minta maaf? Yang tadi itu KECELAKAAN !”
“Haaaargghh
terserah deh !” Dinda langsung berbalik badan dan berjalan menjauh dari Nanda.
“Jelek lo!”
“JUUUGAAA !!”
“Cewek
jadi-jadian !”
Dinda langsung
berhenti. “Lo bilang apa?”
“Luar dalem nggak
ada cewek-ceweknya blweeekk !”
Dinda menoleh,
“lo jangan ngomong sembarangan yah ! Cari masalah banget sih ! Lo kira, lo
gentle? NGGAK BANGET ! bancis gitu iiichh...”
“Ehh buktinya
apaan? Lo tuh yang jadi-jadian !”
“Elo !”
“Elo !”
“Elo !”
“Elooooo !!!”
“Haaaaarrrggghhh
STOP !”
“Oke, kalo gitu
buktiin kalo lo cewek !”
“What? Gue emang
cewek you know !”
“Bukan. Gue mau
lo bener-bener bersikap kayak cewek. Yaaah, kayak Fya gitu deh...”
“Gila yah lo !”
“Kenapa?”
“Oke, kayak Fya?
Keciil ! Tapi syaratnya lo juga mesti buktiin kalo lo cowok !”
“Gampang !”
“Pacarin Fya !”
“WHAT ?!!”
“Why? I think
it’s real...”
“Nggak. Nggak
mungkin bego !”
“Terserah ya laww
! Bancis !”
“Eh bukannya
gituuu !!”
“Bancis !”
“Oke, oke ! Elo
juga pacarin si Dika !”
“Hah?! Nggak bisa
! Ehmm tantangannya gue ganti dehh...”
“Ooohhh tidak
bissaaa...”
“Nanda, lo jangan
gitu ahh... Lo kan juga nggak bisa pacarin si Fya, jadi apa salahnya sih?”
“Udah deh,
ngomong tuh sekali aja !” Nanda kemudian pergi. Dinda mengejarnya sambil
memelas. Tapi Nanda bersikap acuh.
@@@
Dag Dig Dug
“What ?!!”
“Iyaa... bego kan?
Gue pusing deh mesti mulainya kayak gimanaa...”
“Hmm... Gue rasa
sih nggak susah-susah amat Dii... Lo tinggal bilang suka sama Dika, beress !
Kan Dika emang udah ngejar dari dulu...”, ujar Dina.
“Nggak segampang
itu Din...”, bantah Tira.
“So?”
“Gue nggak tau
Din... Sekarang tuh gue sama Dika kayak ada space gitu... Padalagi skarang udah
ujian semester, gue makin nggak bisa bertindak...”
“Bener banget.
Apalagi gue denger-denger Dika lagi deket sama Rena...”
“Rena siapa?”,
tanya Dina.
“Itu yang
pindahan semester lalu, anak mading, trus suka bawa-bawa kamera gitu deh...”
“Yang suka
sendirian?”
“Iyah. Lumayan
misterius gitu deh anaknya... Jutek lagi !”
“Jutekan mana
sama Didi?”
Tari diam. Dina
pun menyadari perkataannya barusan.
“Pasti dia deh,
Didi kan nggak jutek yaahh... Hheheh...”, lanjut Dina. Basi banget !
“Hmm tapi Dii,
kalo misalnya Dika sama Rena beneran jadian gimana? Secara sih wajar aja gitu
kalo Dika berpaling, abis lo udah ngegantung dia lama banget Di... Nggak jelas
gitu...”
“Hhhh... Lo
berdua yah, bukannya ngasih solusi malah bikin gue tambah pusing !”
“Aduh Dii,
sorry... Gue nggak maksud gitu, gue kan cuma ngira-ngira... Mending lo pikirin
itu sekarang daripada akhirnya lo kecewa juga kalo emang omongan gue itu
bener...”
“Tari !!”
“Eh iya iya, gue
diem...”
Tiba-tiba Dika
lewat di depan kelas mereka. Dinda jadi memasang tampang agar bisa terlihat
oleh Dika. Tapi sayangnya itu gagal, Dika tidak menoleh padanya.
“Tuh kaaan...
Aaaaggh auk ahh pussing gue !”
“Sabar Dii,
mungkin dia mau blajar...”
@@@
Tari dan Dina
sudah berkumpul di kamar Dinda, tak terlupakan pula sang pemilik kamar itu
sendiri. Mereka rencananya akan belajar bersama, sekaligus membantu Dinda dalam
menjalankan tantangannya untuk mengalahkan Nanda.
“Pertama-tama gue
mesti gimana?”
“Belajar berhias
yang feminim.”
“Next?”
“Belajar jalan,
duduk, makan, and ngomong yang sopan sepanjang hari...”
“Then?”
“Belajar masak.”
“Gue bisa kok...”
“Masakan standar
rumah tangga?”
“Yang penting
bisa... Lanjut!”
“Huuh... Hmm
deketin Dika...”
“Caranya?”
“SMS diaa...”
“Nggak tau nomer
barunya...”
“What? Ah parah
lo...”
“Iyaa, dulu sih
dia ngasih tau, tapi nggak gue save hehe...”
“Nyengir lagi...
Nggak lucu ! Tambah ribet kan lo ! Tanyain gih sama temen-temen basket lo...”
“Oke boss...”
“Abis itu lo
musti peratian sama dia...”
“Eh gemblog !
Nggak dehh... Nggak lucu tau gue tiba-tiba bersikap gitu sama dia... Ntar
kesannya kenapaaa lagi gue ihh...”
“So lo maunya
gimana nyonyoo?”
“Meneketempret.”
“Iiissshhh sussah
lo yah...”
“Mck ah udahan
ahh... Capek ! Ribet, ogah gue...”
“Trus
tantangannya?”
“Bodo amat, yang
penting gue udah bilang kagak setuju kan?”
“Didii...”
“Hmh udah
deehh..., nggak usah dipikirin lagi. Toh kalo emang udah waktunya, nggak
diharep, nggak disangka, nggak dikira, kalo takdir udah bilang disatuin yah
disatuin aja kan? Kayak lagunya Sheila On Seven, Untuk Perempuan...”, terang
Dinda dengan gaya bicara santai sambil memutarkan lagu yang baru saja
disebutkannya.
Jangan mengejarnya
Jangan mencariya
Dia yang kan menemukanmu
Kau akar di hatinya
Di hari yang tepat
Jangan mengejarku dan jangan mencariku
Aku yang kan menemukanmu
Kau tetap di hatiku
Di hari yang tepat
Di dalam mawar, hampiri kumbang
Bukanlah cinta bila kau kejar
Tenanglah tenang, dia kan datang
Dan memungutmu ke hatinya yang terdalam
Bahkan dia takkan bertahan tanpamu..
Sibukkan harimu, jangan pikirkanku
Takdir yang kan menuntunku pulang
kepadamu
Di hari yang tepat
Di dalam mawar dihampiri kumbang
Bukanlah cinta bila kau kejar
Tenanglah tenang, aku kan datang
Dan memungutmu ke hatiku yang terdalam
Bahkan ku takkan bertahan tanpamu..
Aku yang kan datang
Aku yang kan datang
Aku yang kan datang
Aku yang kan datang..
Sheila On
Seven – Untuk Perempuan.
@@@
Puisi
Untuk Dinda
Dinda melempar
bukunya ke meja, manaikkan kakinya ke sofa, menekuk tangan, tampangnya sudah
murung tingkat dewi. Dia tidak bisa berkonsentrasi belajar. Dia teringat pada
Dika. Dia tidak habis pikir dengan perubahan sikap Dika.
“Bisa-bisanya yah
lo kayak gitu! Kemaren bilang A, besoknya bukan B lagi, tapi Z ! Lo nggak malu
apa sama sikap lo ? Cowok apaan lo ? Lo nggak pantas pernah bilang kalo lo
tulus ! Mana janji lo ? Sampe-sampe dulu lo nyimpen surat di buku gue,
sampe-sampe lo rela nemenin gue keluar kota, dulu lo gue judesin pake cabe
rawit seliter juga nggak pernah nyerah. Tapi skarang ? Iiiishhh apa sih salah
gue sampe lo berubah tiba-tiba and tanpa alasan kayak gini ? Nggak lucu tau!!
Sialan lo! Kucrut! Playboy!”, hardik Dinda dengan emosi. “HAAAAAAAAAKKKKHHHHHHH
!!!!”
“Wooy gila ! Gue
lagi blajar !”, seru Nanda dari kamarnya.
“Blajar ya blajar
aja napa sih lo? Nggak usah ganggu gue !”
Nanda langsung
membuka pintu kamarnya, “eh lo tuh brisik ! Gue nggak bisa konsen blekok !”
“Haaahh ribet
banget sih lo ! Pake penutup telinga aja !”
Nanda kemudian
keluar dari kamar dan menampakkan diri di hadapan Dinda. Dinda memandangnya
dengan tampang sinis. Nanda pun langsung melempar bukunya ke kepala Dinda.
“Woi sakit !”
“Lo yang mulai.
Kalo lo mau ribut, yang jauh !”
“Nggak ! Gue udah
PW di sini ! Lo aja yang blajarnya pindah...”
“Lo sbagai adek
ngehargain gue kenapa sih?”
“Lo sbagai kakak
ngehargain gue juga kenapa sih? Hah?”. Air mata Dinda langsung menetes seiring
dengan berakhirnya kalimatnya. Nanda terdiam.
“Lo nggak pa-pa?”
“Peduli apa lo?”
“Dii...,”
“Hhh..., udah lo
blajar aja sana ! Gue yang pindah !”. Dinda langsung bangkit dan mengambil
bukunya, lalu pergi dari hadapan Nanda. Nanda menghela nafas, kemudian kembali
ke kamarnya.
Dinda membuka
kotak kecil dari bufetnya, diambilnya secarik kertas, dan dibuka isinya. Itu
adalah surat yang dulu diberikan Dika kepadanya. Dinda membaca isi surat itu,
air matanya kembali mengalir.
Buat
Adinda Putri..
Didi,
gue sadar kalo lo nggak suka sama gue...
Gue
juga tau diri kok, kalo gue nggak pantes buat lo...
Lo
mungkin bilang gue lancang banget udah ngasih lo surat...
Tapi
Di, gue nggak bermaksud banyak kok...
Gue
cuma pengen nyatain perasaan gue ke elo...
Gue
nggak minta lo mau jadi pacar gue...
Gue
cuma minta tolong kalo lo ngizinin gue buat ngejaga lo,
Izinin
gue buat sayang sama lo...
Maafin
gue Dii...
Nandika Pratama
Dinda menutup
suratnya, kemudian mengambil surat berikutnya. Surat yang satu ini belum pernah
dibaca oleh Dinda. Ini adalah surat pertama dari Dika, ketika Dinda masih cuek
terhadapnya. Surat yang masih lengkap dengan amplop rapi. Dinda membukanya,
surat yang cukup panjang. Dinda bergetar, kemudian dibacanya surat itu.
Adinda
Putri
Aku tidak
sepuitis para pujangga,
Tapi aku seorang
pria yang ingin menuliskan segala yang kurasa.
Aku bukan orang
hebat yang mampu meluluhkanmu.
Tapi akulah orang
yang akan bertahan padamu.
Seringkali aku
bertanya, kapan aku bisa memilikimu?
Pemilik senyum
yang paling kusyukuri.
Sempat terfikir
bahwa aku akan hilang terhapus waktu.
Tapi tahukah
kamu, cintaku berkembang meski tak sejalan denganmu.
Kasih...
Iya, aku hanya
sanggup menyebutmu sebagai kasihku.
Sebab aku hanya
bisa mengasihimu dengan segala rasa sayangku.
Kamulah sang
pemilik hati.
Kamulah yang
mampu membuatku bertahan.
Kamulah yang
mempu tenangkan gundahku hanya dengan melihat keceriaanmu.
Kamulah yang
segalanya bagiku.
Aku tak tahu apa
yang terjadi.
Ada yang bilang,
Tuhan selalu memberi yang dibutuhkan.
Tapi sungguh aku
membutuhkanmu.
Setiap malam aku
berdoa pada Tuhan, berharap Dia mengabulkan.
“Tuhan, jika
kelak kami dipertemukan, biarkanlah rasa ini tumbuh mendalam. Namun jika tidak,
buatlah aku rela melepasnya. Aku rela, aku percaya, akan kekuasaanMu. Engkau
mampu mengatur hati sang kekasih.”
Kasih, maafkan
aku yang terus mengusikmu.
Aku hanya ingin
kau tahu, bahwa akulah orang yang akan selalu ada untukmu.
Mungkin aku ego,
karena tidak peduli seberapa kesalnya kau akan sikapku ini.
Tapi tenanglah, aku
berjanji, jika memang Tuhan menakdirkan aku pergi suatu saat nanti, maka aku
akan pergi.
Nandika
Pratama
Dinda tidak tahan
lagi, air matanya mengalir semakin deras. Kali ini dia benar-benar memaknai isi
surat-surat Dika. Dinda seakan benci pada Dika, tidak percaya dengan yang
dialaminya. Berharap bahwa dirinya hanya mengalami mimpi buruk yang panjang.
Dia ingin segera bangun, meninggalkan semua kebodohan ini.
@@@
I’m okay, I’m not okay
The girls smile when she feels good or she
wanna be a strong girl.
Dinda berjalan
keluar dari ruangan tempatnya ujian. Koridor sudah diramaikan oleh siswa-siswi
lain yang sudah lebih dulu menyelesaikan soal ujian. Dinda melirik ke kiri dan
kanan, sosok Dina dan Tari belum didapatinya. Ketiganya memang berbeda ruang
ujian, sebab dalam sekelas dibagi menjadi 3 ruang ujian yang diurut berdasarkan
absen. Adinda Putri, Nadia Deyna Soraya, dan Utari Adewiyah, bukanlah urutan
nama dengan abjad yang berdekatan. Dinda pun mengambil bukunya sambil tetap
berjalan.
“Hai Dii...”
Dinda menoleh
pada suara yang memanggilnya. Namun ternyata yang dilihatnya merupakan pemandangan
yang sangat tidak diharapkan. Dika dan Rena.
“Sendiri aja?”
“Hmm...”. Dinda
hanya tersenyum.
“Oooh... Ya udah,
gue duluan yah...”
Dinda tidak
merespon, membiarkan Dika dan Rena pergi. Rasa bencinya kembali muncul, dia
seperti ilfeel pada sikap Dika
barusan. Tapi dia tetap tenang dan cuek.
@@@
Dinda menyalakan
MP3, terdengar langsung lagu dari My Chemical Romance–Im not okay. Dinda
melompat dan bernyanyi seirama dengan lagu itu. Kini rumah Pak Sudarto sudah
berganti dari hening menjadi ribut.
Tiba-tiba pintu
kamar Dinda terbuka, ternyata Bi Darsih. Sambil menutup kedua telinganya, Bi Darsih
berjalan mendekati Dinda. Dinda belum menyadari akan kedatangan Bi Darsih.
“Noon...”
“Huwoohoo... I’m
nooott oookayy, I’m not okay, I’m not okay...,”
“Non Dindaaa !”
“Huwaaa aaaahh
dededen dededengg jeradatarararar huuuh...”, jerit Dinda dengan nada yang
menirukan musik lagunya. Dinda masih tidak mendengar Bi Darsih.
“DIDI !!”,
terdengar suara laki-laki dari luar kamar.
Dinda semakin
mengikuti lagu yang didengarnya, sampai-sampai dia menggunakan kayu di
tangannya untuk memukul meja layaknya bermain drum. Bi Darsih langsung
memegangi pundak Dinda untuk menyadarkannya.
“Nooonnn...”
“Trust me...”,
ujar Dinda dengan potongan lirik sambil berbalik pada Bi Darsih.
“Eh lo gila yah?
Dari kmaren bisanya cuma bikin ribut aja !”, seru Nanda yang tiba-tiba muncul
dari balik pintu.
“Yee ini kamar
kamar guee...”
Nanda langsung
mengambil MP3 Dinda dan mematikan musiknya. “Tapi musik lo itu berisik banget,
kedengeran sampe di kamar gue ! Ngehargain gue dikit napa sih? Besok masih
ujian woiiy !”
“Bukannya
daritadi lo udah belajar? Pagi siang sore malem, blajar mulu ! Sampe makan aja
pake dianterin ke kamar. Lebay banget sih lo ! Otak lo dikasih istirahat
kek...”
“Hahah pantesan
aja lo bego, cara blajar lo aja mengkhawatirkan gitu...”
“Shut up your
fuckin’ mouth !”. Dinda langsung keluar dari kamarnya, berjalan cepat menuruni
tangga menuju pintu ke luar rumah.
Nanda diam di
posisinya. Bi Darsih langsung keluar melihat Dinda. Bi Darsih tampak cemas, dia
bingung dengan keadaan rumah majikannya.
“Den, apa ndak
sebaiknya Aden ngejar Non Dinda?”
“Ngapain, ntar
juga dia balik lagi...”
@@@
Dinda berjalan di
sepanjang trotoar. Beberapa kaleng bekas atau plastik sudah ditendangnya berkali-kali
hingga rusak. Malam cukup ramai, kendaraan berlalu lalang, pengamen-pengamen
jalanan sibuk mencari rezeki di warung-warung dan di persimpangan lampu merah.
Di pikiran mereka hanya mencari cara untuk bertahan hidup. Tidak peduli kondisi
langit. Apa cerah, mendung, biru, gelap, jingga, atau kelabu. Tidak peduli
kondisi jalan, sunyi atau ramai. Karena mereka harus tetap hidup.
Dinda
menghentikan langkahnya. Dia menatap ke langit, tidak banyak bintang, dan ada
bulan. Dinda duduk di pinggir trotoar, seorang kuli bangunan lewat di depannya
dengan sepeda tuanya. Dinda menunduk, melihat kerikil-kerikil kecil di sekitar
kakinya. Diambilnya satu kerikil, kemudian dicoretkan pada pasir. Coretan yang
tiada artinya, hanya membentuk benang kusut. Dinda pun melempar kerikilnya
jauh-jauh.
“Hmmmhh...”.
Dinda mengambil handphone-nya dari
saku celana. Tidak ada pesan, tidak ada panggilan tak terjawab, tapi kemudian
cahaya handphone Dinda jadi lebih
terang untuk sekejap, ada satu pemberitahuan; Low Battery ! Dinda mengembalikan
handphone-nya di tempat sebelumnya.
Kemudian bangkit, menoleh ke kanan dan kiri. Berharap ada yang bisa membuatnya
lebih baik. Nyatanya tidak ada. Dinda memutuskan untuk pulang. Kembali dia
merogohkan saku, mencari uang untuk ongkos pulang.
“Shith !”. Dinda
hanya bisa diam sejenak di tempat, kemudian berjalan ke arah menuju rumahnya.
Meski jarak cukup jauh, dia tidak punya pilihan. Bahkan dirinya bingung
bagaimana bisa sampai di tempat itu.
@@@
“Heillow
honey...”
Dinda langsung
menoleh pada asal suara yang menyapanya. “Apaan sih lo ganjen banget...”
“Hihihi...
Daripada elo, mukanya kusut gitu kayak belom disetrika...”, timpal Tari.
“Sejak kapan muka
disetrika dongdong?”
“Iihhh lo kok
sensi banget sih Dii... Masih pagi gitu, kita mesti slalu senyum. Ada yang
bilang kalo kita senyum pagi-pagi, nasib baik akan menghampiri...”
“O”.
“Didii !!”
Tiba-tiba Dina
datang di antara Dinda dan Tari. Dengan buku Kewarganegaraan di tangannya, aura
kepintarannya memancar.
“Weits anak rajin
dateng...”
“Apaan sih...”,
elak Dina kemudian duduk di bangku sebelah Dinda.
“Ulangan terakhir
PKn, haha sekucil upil deh !”, cerocos seseorang yang tiba-tiba datang–Dila.
Dinda, Tari, dan
Dina menoleh dengan tampang heran. Ini
orang dateng darimana? Main ikut ngomong aja, kasian banget...
“Kenapa? Kalian
nggak usah ngeliatin gue kayak gitu deehh... Gue cuma ada perlu sama satu dari
kalian, Didi Kempot !”, lanjut Dila.
“Eh, Miss Keke
Keki Kaki Kaku ! Nama gue Didi alias Adinda Putri ! Lo kalo ada perlu sama gue
ngomongnya yang baek dong !”
“Ups marah... Ya
sorry, tapi gue mau nagih utang sama lo !”
“Ngeh? Utang
apaan? Gue nggak pernah minjem duit lo, gue juga nggak pernah minta tolong sama
lo, dan gue nggak pernah ikut campur urusan lo !”
“Aduuuhh nggak
usah belaga bego deh Adinda Putri... Lo inget nggak waktu lo nabrak gue
pagi-pagi?”
Dinda terdiam.
Mencoba mengingat-ingat perkataan Dila barusan. Dia pun paham, dan langsung
bangkit. “Jadi mau lo apaan?”
“Bayar utang lo!”
“Lo tuh bego
dipelihara yah ! Gue mesti gimana?”
“Yaaa... Bayar
utang lo bego !”
“Haaahh
buang-buang tenaga ngomong sama lo !”, cetus Dinda kemudian pergi dan diikuti
oleh Dina dan Tari.
“Eeeehh jangan
pergi dulu ! Woiy ! Brani lo yah sama gue ! Didi Kempooott!!!”
Dinda terus
berjalan menjauh. Dina dan Tari sesekali menoleh pada Dila. Penasaran dengan
bagaimana ekspresinya. Ternyata dia menghentak-hentakkan kakinya dengan kesal
sendirian sambil memanggil Dinda dengan suara serak beceknya.
“Emang lo ada
masalah apa sih Dii sama dia?”, tanya Dina penasaran.
“Gue pernah
nabrak dia pagi-pagi, gue buru-buru banget... Dia minta ganti rugi...”
“Ganti rugi
apaan? Emang rambutnya rusak? Seragamnya kotor? Spatu Paris-nya lo injek? Atau
mukanya kena kotoran sapi? Hhahahah...”, ujar Tira sambil membayangkan Dila
kalau mengalami hal-hal yang dikatakannya.
“Hhahahah...”
“Gue bilang juga
apa Dii, kalo pagi-pagi tuh senyum, biar dapet nasib baik...”
“Untung gue slalu
senyum hihi...”, ucap Dina merespon dengan malu-malu.
“Yes, kali ini
nggak ada yang bilang ‘O’ hahah...”
“Bangga?”, ujar
Dinda.
“Iiihh Didii...”.
Tari langsung manyun. Tapi Dinda kemudian mencubit pipinya hingga dia membalas
dengan kesal.
@@@
Nggak Bisa Nahan Diri
Dinda, Dina, dan
Tari berjalan dengan santainya di sepanjang jalan mall. Tidak ada maksud
tertentu selain sekedar menyegarkan pikiran dan iseng. Selagi sisa uang saku
masih cukup, tidak ada salahnya kan? Sekalian merayakan berakhirnya ujian
semester.
Berakhirnya ujian
semester menandakan sebentar lagi akan penaikan kelas. Mereka akan jadi anak
kelas XI. Guru BP mereka sudah memberitahukan kalau mereka masuk di kelas IPA,
tapi untuk kelas IPA berapa, tergantung nilai mereka masing-masing setelah
penerimaan rapot. Di kelas XI juga akan diadakan pergantian pengurus OSIS.
Mereka sudah yakin kalau 2 calonnya itu Dika dan Dila. Kenapa Dika? Karena Dika
memang sudah punya bakat di bidang organisasi, lagipula dia terhitung cerdas.
Sedangkan Dila, dia selalu tidak mau ketinggalan popular. Tentunya berbagai
cara akan dia lakukan untuk bisa menjadi kandidat.
Back to laptop.
Tari membelok ke arah stand handphone,
dari layar bening terlihat jelas handphone
yang sedang menjamur di kalangan remaja saat ini. Jejeran Blackberry dengan
berbagai tipe sudah di depan mata Tari. Kalau saja tidak ada orang, mungkin
ilernya sudah menetes.
“Rii, apaan sih
malu-maluin lo...”, tegur Dinda.
“Di, gue pengen
deh...”
“Nah lo kan udah
punya...”
“Tapi gue mau
yang Dakota...”
“Ya ampun Tari,
syukurin aja punya lo napa? Sama-sama BB kok...”, ucap Dina menasehati.
“Aduh Dina
sayang, tetep aja beda. Apa kata orang gitu kalo Utari Adewiyah handphonenya
ketinggalan? Oooh tidak bissaa... Lo aja iPhone 4, masa gue? Haaahh...”
“Onyx nggak
ketinggalan kok Rii...”
“Ri, handphone gue
umurnya setahun lebih, santai...”, ujar Dinda.
“Ouuhh no no no !
Didi, lo tau gue kan? Reza aja minggu kemaren baru beli iPad ! Ya seenggaknya handphone
gue gitu mesti baru... Malu dong sama cowok sendiri...”
Dina langsung
menarik tangan Tari menjauh dari stand handphone.
Tari hanya menoleh dengan tampang kecewa pada handphone yang diidam-idamkannya. Dinda sendiri hanya
menggeleng-geleng kepala dan berusaha menutupi rasa malunya karena tatapan
orang-orang sudah ke arah mereka bertiga.
Utari Adewiyah
memang paling tidak bisa diam jika melihat perkembangan teknologi dan mode.
Kurang lebih sama dengan Miss Keke, tapi setidaknya dia tidak sombong dan bukan
tukang nguping atau membututi orang. Kegiatannya setiap minggu ke dua dalam
sebulan adalah ke salon untuk creambath atau maskeran, padicure-manicure,
luluran, spa, facial, dan tidak jarang mengganti gaya rambut. Segala macam
sudah dicoba, mulai dari jaman rebonding, catok, sampai keriting gantung.
Sangat menjaga postur badan dengan pola makan dan olahraga yang ala cantik dari
berbagai pelosok dunia. Di kamarnya ada 4 lemari besar yang berisikan khusus
gaun, sepatu, pakaian casual, dan accessories. Beruntung orang tuanya masih
mampu membiayai semua kebutuhannya. Kalaupun kurang, Tari rela menabung dengan
tidak jajan di sekolah demi bisa mendapatkan yang diinginkannya. Intinya Tari
benar-benar cerminan anak muda gaul zaman sekarang dengan cap 3B, Behel alias
Kawat Gigi, Blackberry, dan Belah Tengah.
@@@
Dinda dan Dina
sudah berdiri di depan gerbang SMA Harapan. Mereka sedang menuggu satu sahabat,
yaitu Tari. Lagipula hari ini sudah tidak ada kegiatan belajar-mengajar di
sekolah, jadi mereka santai saja tanpa takut telat. Mereka hanya datang untuk
cek-cek nilai atau sekedar datang karena tidak ada kegiatan di rumah.
Dila turun dari
mobil pengantarnya. Rambutnya yang panjang dikibas bak model iklan shampo. Kemudian
dia menutup pintu mobil sementara tangannya yang lain memegang handphone baru, seolah sengaja
dipamerkan. Selanjutnya dia berjalan bak Miss Universe dengan sepatu yang berkilau,
dari jauh saja sudah jelas terlihat hasil rancangan desainer ternama.
“Biassa aja
dong...”
Dina berusaha
menenangkan Dinda yang kepanasan melihat Dila. Dinda pun berusaha bersikap
acuh. Dia perlu bersyukur karena Tari tidak sampai bersikap demikian (eits,
mungkin).
Tiba-tiba di sisi
lain, Tari sudah muncul. Dia juga diantar dengan mobil mewah keluaran terbaru
berwarna merah cerah. Dia tersenyum penuh bangga. Di tangan kanannya, juga ada
benda yang sama dengan milik Dila. Dinda dan Dina jadi tercengang melihat
sahabat mereka itu.
“Itu Tari bukan
sih?”, tanya Dinda.
“Gue nggak rabun
kan Dii? Itu Tari ngapain?”
Ternyata bukan
hanya Dinda dan Dina saja yang kaget. Dila yang sudah lebih dulu tiba di
gerbang juga bereaksi sama. Dila memperhatikan Tari mulai dari kaki hingga
rambut. Tampak begitu jelas kekesalan di wajahnya.
“Hai girls...”,
sapa Tari dengan senyumnya pada Dinda dan Dina.
“Rii, lo dianter
sama siapa? Kayak bukan nyokap lo...”, tanya Dina.
“Emang bukan. Itu
Reza...”
“Hah... Baru gitu
aja udah sok... Iiichh nggak banget deeh...”, ujar Dila dari jarak sekitar 2
meter dari mereka.
“Nah elo sendiri? Gue nih ya, punya Dakota tuh
nggak sombong !”, balas Tari. (Ada juga orang nggak sombong tapi dibilang -_-)
“Tari, ngapain
sih lo? Udah yuk ah, kita masuk aja...”, ajak Dinda.
“Iiiichh biassa
dongs !”
Dinda, Dina, dan
Tari meninggalkan Dila sendiri dengan ocehannya. Meski Tari masih ingin
membalas, tapi Dinda dan Dina melarang. Mereka tidak ingin kembali menjadi
tontonan karena kesombongan atas barang-barang.
@@@
Tari memasang
posisi duduk manis di bangkunya. Tangannya yang lentik sibuk memencet
tombol-tombol di handphone barunya.
Sementara Dinda dan Dina hanya memperhatikan temannya yang satu itu. Mereka
tidak habis pikir dengan sikap Tari. Tapi setidaknya mereka tidak perlu
jantungan, sebab memang begitulah watak dari sang Utari Adewiyah.
“Dii,
ngomong-ngomong gimana perkembangan lo sama Dika?”, tanya Dina.
“Nggak ada.”
“Maksudnya?”
“Iyah, nggak ada
perkembangan. Gitu-gitu aja... Gue pusing deh... Padalagi udah mau naik kelas
2, dia pasti bakal jadi kandidat ketos baru. Kalo dia kepilih, dia bakal tambah
sibuk and ngelupain gue...”, terang Dinda dengan raut wajah yang berubah
menjadi murung.
“Hmm... Kalo
Nanda? Apa dia udah berhasil ngegaet sii, siapa tuh?”
“Fya? Nggak tau
deh... Tapi gue yakin belom, boro-boro mau ngejar Fya, nyantai di rumah aja
enggak. Sok sibuk dia...”
“Maklum laah, dia
kan pinter, jadi wajar kalo dia belajar keras...”
“Tetep aja bagi
gue LEBAY !”
Dina terdiam.
Memikirkan cara untuk membantu sahabatnya itu. Kemudian dia teringat pada Rena.
Mungkin saja Rena bisa menjadi kunci utama.
“Gimana kalo kita
tanyain Rena tentang hubungannya sama Dika?”
“Ihh apaan sih,
entar yang ada Dika besar kepala lagi...”
“Sekarang mending
lo nggak usah gengsi deh Dii...”
“Ahh nggak, gue
yakin, pasti ada cara lain... Lagian Rena orangnya songong gitu, males gue
ngomong sama dia...”
Dina terdiam.
Memikirkan cara lain untuk mengatasi masalah sahabatnya itu. Tari masih sibuk
dengan kegiatan barunya. Hening.
@@@
“Ehmm..., hai
Akira Renata Sinaga...”
“....”. Rena
tersenyum kecil, bingung dengan sikap orang yang tiba-tiba datang menghampiri
dan menyebut nama panjangnya.
“Lagi sibuk
yah?”, tanya orang itu lagi sambil memainkan rambutnya. Orang ini tidak lain adalah
Tari.
“Mmm nggak juga,
kenapa?”
“Ohhh... Nggak
pa-pa, cuma mau duduk di situ aja, boleh kan?”, tanya Tari sambil menunjuk
bagian kosong dari bangku yang diduduki Rena.
“Hha, yaiyalah,
ini kan bukan bangku nenek gue...”
Tari pun langsung
duduk di sebelah Rena. Memikirkan kalimat yang tepat sambil memasang kancing
baju seragamnya yang sempat lepas. Berniat ingin menanyakan hubungan dengan
Dika, tapi bingung harus mulai dari mana. Apalagi sebelumnya dia tidak
mendiskusikannya terlebih dahulu dengan Dinda ataupun Dina.
“Ehmmm...
Errrrhh... Uuuhh... Hhhhh...”
“Lo kenapa?”
“Ah? Ehmmm nggak
pa-pa kok...”
“Kalo udah di
ujung buang ajaa, toilet emang lagi direnov, tapi masih bisa dipake kok...”
“Hah? Maksud lo?”
“Lo pengen boker
kan?”
“Maksud lo?”
“Nggak deh, sorry,
mungkin gue salah...”
“Banget! Lo aja
tuh kali...”
“Kok nyolot? Kan
gue udah minta maaf...”
“Ya tetep aja itu
udah bikin gue tersinggung...”
“Ya kalo emang lo
nggak ngerasa mau boker ngapain tersinggung?”
“Iiiihh stop!
Omongan lo udah bikin gue jijik tau nggak? Kita itu baru kenal, lo juga cewek,
masa ngomongnya asal lancar gitu sih kayak kereta api?”
“Hmh... Terserah
deh... Gue minta maaf, kalo nggak dimaafin itu udah urusan lo sendiri...”, ujar
Rena sambil berdiri dan meninggalkan Tari.
@@@
“Hah? Jadi lo
bermasalah sama Rena? Aduuuh kenapa sampe gitu sih? Elo sih, makanya
ngomong-ngomong dulu sama kita...”, ujar Dinda dengan kesalnya.
Tari sudah
menceriterakan yang terjadi antara dirinya dengan Rena pada Dinda dan Dina. Dia
sudah tahu dari awal kalau Dinda akan marah padanya, tapi biar bagaimanapun
juga, kejadian itu harus diceriterakannya.
“Sorry Dii... Gue
nggak bisa nahan diri...”
“Hhh... Udah,
udah... Nggak ada gunanya juga lo marah, Dii...”, Dina berusaha menenangkan.
“Auk ahh...
Pussing gue!”. Dinda membuang muka dari Tari.
“Udah dong Dii,
lo ngerti lah, Tari kan emang orangnya gitu... Jangan marah yaahh...”, bujuk
Dina.
“Siapa yang
marah? Gue cuma kesel aja...”
“Ya sama aja
nggak enak suasananya kalo gini...”, Dina memegang lengan Dinda, berharap
sahabatnya itu akan luluh. Dinda pun mulai meregangkan kerutan keningnya. “Lo
juga Rii, sikap kayak gitu jangan dijadiin kebiasaan dong...”
“Iya, gue tau,
makanya gue minta maaf...”
“Fine,
satu-satunya cara adalah elo, Di, mesti deketin Dika. Kalo nggak mau, siap-siap
aja kalah dari Nanda. Tapi yah nih, kenapa sih lo sama Nanda harus kayak lomba
gini cuma demi nggak dibilang nggak laku ato apalah itu. Setelah gue
pikir-pikir, itu kekanak-kanakan Dii... Kalopun juga lo berhasil ngegaet Dika
lantas lo belom siap buat pacaran, itu namanya lo mainin perasaan orang and
nggak ada gunanya...”, ucap Dina menasehati.
Tari mengangguk
pelan. “Sejujurnya gue sependapat sih sama Dina. Nggak enak banget lho kalo
kita pacaran cuma buat status doang. Kalopun juga suka..., paling cuma
suka-sukaan biasa yang bakal hilang kalo lo nggak berhubungan sama orang itu
lagi”, tambahnya.
Dinda terdiam,
membayangkan sosok Dika, dan merenungkan nasehat kedua sahabatnya itu. “Ehmm...
Jadi menurut kalian, gue nggak usah pacaran dulu?”
“Itu sih
keputusan elo, Dii... Tanyain deh sama diri lo sendiri, apa lo yakin sama
Dika?”, jawab Tari.
“Bener. Lagian
juga, harusnya sih lo nggak usah mikirin ini. Ntar juga kalo emang udah
saatnya, pasti ada jalan biar kalian bisa deket...”
“Iya sih”. Dinda
tersenyum, kemudian bangkit mendekati Dina dan Tari. “Kenapa nggak dari
kemaren-kemaren sih kalian ngomong gituu? Hihi...”
“Yaaa..., maklum
Dii... Selama ini kan Dina mikirin ulangannya getooohh hhahahah...”
“Iih appaan sih,
emang baru kepikiran aja...”
“Hhahaha... Eh,
tapi kalo ntar Nanda nanya, gue mesti jawab apa?”
“Hmm..., bilang
aja masih proses. Jangan lupa tanya balik ke dia!”, jawab Tari dengan santai.
@@@
Beraksi
Dinda
membolak-balik majalahnya. Majalah remaja yang berisikan mode, dan kawan-kawannya
membuat Dinda cukup kesulitan memilih halaman yang menarik dibacanya. Tentunya
majalah itu bukan dibeli olehnya. Bahkan pilihan untuk membaca majalah malam
itu hanya karena dia tidak tahu apa kegiatan yang lebih baik.
Ujian telah
berakhir. Tidak ada lagi belajar ekstra bagi Dinda, dan sepertinya begitu pula
untuk saudara kembarnya–Nanda. Nanda tidak lagi mengurung diri di dalam kamar
bersama setumpuk buku, bahkan dia sudah tidak terlihat di rumah sejak sore
tadi. Entah kemana, yang jelas besok adalah hari Minggu. Tidak ada ulangan,
tidak ada belajar.
Tiba-tiba suara
orang datang terdengar. Dinda menoleh ke arah ruang tamu, itu suara Nanda, tapi
dia tidak sendirian. Tidak lama kemudian Nanda muncul, ternyata Nanda datang
bersama Fya. Tunggu dulu, Nanda datang bersama Fya! Dinda memastikan
penglihatannya, kemudian berdiri dan membiarkan majalah yang tadi dipangkunya
terjatuh. Panik!
“Hai Dii...”,
sapa Nanda dengan senyum lebarnya.
“Ahh?
Hhhaaiii...”
“Lo masih ingat
Fya kan?”
“Oohh, masih
dong. Masiihh...”, jawab Dinda dengan berusaha menahan rasa gugupnya. Oh God, ini artinya apaan? Riwayat gue belum
tamat kan?
“Hhehe... Ya
udah, bagus. Gue mau makan malam dulu sama Fya, oke?”
“Ah? Oooh
silahkaan...”
Nanda pun
menggandeng tangan Fya, berjalan menuju ruang makan. Dinda masih ternganga di
tempat. Berharap dirinya hanya mimpi.
“Eh, gue boleh
gabung nggak?”, tanya Dinda yang menoleh pada Nanda dan Fya.
“Oh boleh lah.
Kenapa enggak?”, jawab Fya sambil tersenyum.
“Eh, jangan.
Ehmm..., mending lo makan di luar, ada warung baru lho depan komplek, enaaak
banget. Beneran...”, tolak Nanda berusaha meyakinkan Dinda.
“Ihh apaan sih,
gue mau makan di rumah... Fya juga nggak keberatan kok...”
Makan malam
begitu hening. Nanda yang tadinya memasang senyum kebanggaan 10 medali emas,
kini tampak pucat dan tidak tenang. Makanannya sudah habis sedari tadi. Tapi
Dinda dan Fya masih makan dengan tenang.
“Hmm..., oh iya,
selamat yah...”, ujar Dinda tiba-tiba.
“Hah?”. Fya
mengerutkan kening, tidak mengerti dengan maksud Dinda.
“Ohh...! Iya
makasih yah... Lo langsung tau aja ternyata hehe...”, timpal Nanda langsung
dengan berusaha tersenyum ikhlas.
Dinda tersenyum
kecut. Dia tidak mau menampakkan kekalahannya pada Nanda. Bagaimanapun juga ini
adalah harga diri, bukan harga ayam yang naik-turun kayak lift.
@@@
“Oh my God!
Sumpyeeehh lo?”
Dinda mengangguk
pasrah, wajahnya tampak sudah lipatan ke sepuluh, dia sudah menceriterakan
kejadian semalam pada Tari. Bahkan tujuan utama Tari datang ke rumahnya hanya
untuk mendengar langsung ceritera Dinda yang membuatnya tidak bisa tidur
nyenyak.
“Gue mesti gimana
dong Rii..., haaahh...”
“Hmm... Tapi
bukannya tempo hari lo sendiri yang bilang nggak mau mikir beginian?”
“Iyya siihh...
Tapi semalam tiba-tiba gue nyeseeek banget gitu pas liat Nanda...”
“Uuuh
tayaaangg..., yang cabal yaaah...”
“Kumat deh
lebaynya...”
“Hihi... Ya udah,
pokoknya pilihan ada di tangan lo! Kita ini udah mau kelas 2 lho, minggu depan
terima rapot, teruuus masuk kelas baru, teruuus... mmm...”
“Terus bibir lo
monyong deh hhahah!”, ledek Dinda pada Tari yang bibirnya maju karena
terus-terusan mengucapkan kata ‘terus’.
“Iiiihh Didi
ah... Gue mau bilang kalo ntar kita udah kelas 2, Dika bisa kepilih jadi ketos
baru, terus dia tambah sibuk, terus dia tambah ngelupain elooo!! Oooocchhh no
no noo! My God, my God!!”, ujar Tari yang tiba-tiba panik karena pikirannya
sendiri.
“Aaaaahh... Lo
nakutin gue aja sih...”
“Aduuh sayangku,
tapi emang bener kan? Dika itu kan bakat-bakat ketos banget... Pokoknya neng,
elo mesti cuus deh sama si Dika, nggak pake gengsi, gue bantuin deh. Kecuali
kalo elo emang mundur dari tantangannya Nanda. Okeeeh?!”
Dinda terdiam.
Tari pun mengartikan itu sebagai persetujuan. Semangat perjuangan pun muncul
dari sosok seorang sahabat, Tari mengambil majalah remaja dari tas yang
dibawanya. Dia membuka lembar demi lembar, mencari tips yang cocok untuk
masalah Dinda kali ini.
“Okey, dengerin
ya Dii, gue bacain tipsnya. Satu, pinjem buku catatannya dia, atau upayain dia
yang minjem catatan lo!”
“For what?”
“Yaaahhh buat
alibi aja, biar lo sering ngobrol sama dia... Seenggaknya cara ini tuh nggak
ngesanin banget lo sengaja mau deketin dia. Secara Dika kan orangnya peduli
pelajaran...”
“Hmm boleh...”
“The second is
rajin-rajin nonton dia olahraga. Nah Di, kita semua kan anak basket, ini
keciiil...”
“Third,
sering-sering lewat di sekitar dia. Naah, lo mesti sering lewat depan kelas
dia, dengan gitu, lebih banyak peluang kalian ngobrol aseeekh hahah...”
“Iiish udah deh
lanjut aja baca...”
“Oke, the last,
you have to always have positive thinking about him, what he do, what he think.
Elo jangan pake prasangka lo doang... Misalnya lo mau nyamperin dia, tapi dia
lagi ngobrol sama Rena, lo jangan sampe batal nyamperin cuma gara-gara itu,
anggep aja Rena nggak ada hubungan apa-apa sama Dika, toh juga emang hubungan
mereka belum jelas kan?”
“Halaaah paling
yang ini cuma akal-akalan lo doang, nggak ada di bacaan!”
“Ihh dibilangin...
Ada kok, cuma gue jelasin aja takut lo anggep angin lalu!”
“Hmm okey, pas
masuk skolah nanti, gue bakal buktiin! Yeahh!”
@@@
Permulaan yang Sebenarnya
Kelas baru, orang
baru, suasana baru, dan yang paling pasti adalah tahun ajaran baru. Dinda,
Tari, dan Dina sudah berjalan kompak menuju kelas mereka. Beruntung mereka ada
di program yang sama–IPA, jadi kedekatan bisa dijaga dengan mudah. Seperti
perkiraan sebelumnya, Dina masuk dalam jejeran siswa-siswi berprestasi dan
lolos di kelas XI IPA 1. Sementara Dinda puas dengan XI IPA 4, dan Tira di
kelas XI IPA 5.
“Hmm..., emang
gue udah bego yah sampe masuknya di IPA 5?”
“Yeeehh...,
syukurin aja kita udah lolos di IPA, kalo nggak ada Dina nih, salah-salah kita
kedampar di IPS ato Bahasa!”
“Udaah, ini tuh
emang takdir buat kita bertiga, nggak ada yang perlu disesalin. Kita mesti
bersyukur dengan apapun yang terjadi di hidup kita...”, ujar Dina dengan begitu
bijaknya.
“Nggee...”, Tari
mengangguk kemudian pandangannya tidak sengaja mendapati Dika melewati koridor.
“Eh, pada tau nggak? Dika masuk IPA 1 lho... Sekelas sama elo Din...”
“Oh ya?”
“Iyah Di, so Dina
bisa dijadiin koneksi deh haha...”
“Appaan sih, gue
nggak bisa gitu-gituan...”
“Uuuuhhh...,
tenang temanku sayang, lo nggak gue suruh apa-apa kok selain ngelaporin
perkembangan dia...”
“Hmmh... Ya udah
deh...”
@@@
Nanda
membolak-balik bukunya, mencari halaman yang sudah ditentukannya untuk dibaca.
Tiba-tiba Dinda datang dan duduk di depannya. Memasang tampang curiga sambil
menggigit apel yang baru diambilnya.
“Kenapa lo?”,
tanya Nanda yang merasa terganggu dengan tatapan Dinda.
“Nggak pa-pa...
Hmm, lo masuk kelas apa di skolah lo?”
“Menurut lo?”
“EXACT ONE. Kalo
Fya?”
“Sama aja...”
“Oouchh... Hmmm,
gue heran, lo pacaran tapi kok jarang kontekan gitu sih?”
“Maksud lo? Ohh
jadi lo curiga nih gue pura-pura?”
“Ihh gue nggak
bilang gitu... Gue kan cuman nanya... Secara nih, setau gue kalo orang pacaran
itu biasanya lebih sering pegang handphone
buat SMSan, BBMan, telvonan, nah elo? Baca buku?”
“Eh, suka-suka
gue dong. Lagian juga kan udah ketemu di skolah... Gue tuh nggak kayak
orang-orang yang lebay banget kerjaannya cuma pacaran.”
“Ooochh... Emang
sih elo itu beda sama orang-orang pada umumnya. Tapi masih aja nggak masuk di
akal gue, kalian kan pasangan baru... Emang nggak ada masa kasmaran-kasmarannya
gitu?”
“Cerewet yah!
Udah deh nggak usah ngebahas gue. Urusin aja diri lo, mana tuh si Dika?”
“Iiiishh...”
Dinda langsung
berdiri dan meninggalkan Nanda. Dia tidak berani lagi banyak bertanya kalau
mengingat dia belum bisa mendapatkan Dika. Tapi hati kecilnya masih curiga pada
Nanda. Bagaimanapun dia tidak terima kalau Nanda yang ‘kutu buku’ itu berhasil
menggaet Fya lebih dulu.
@@@
Dua minggu
kemudian...
Sekolah sudah
tampak sepi. Di ruang kelas XI IPA 4 hanya ada Dinda seorang diri yang sibuk
mengerjakan tugas laporannya yang akan dikumpulkan besok. Jemarinya dengan
lincah menekan tuts pada laptop. Berhubung ada latihan basket sore ini, jadi
dia memilih menunggu saja mengingat perjalanan dari sekolahnya lama dan
bisa-bisa macet.
Beruntung Tari
mau meminjamkan laptop dan baru akan diambilnya nanti sore begitu selesai
latihan basket. Dinda memang tidak punya laptop pribadi. Dia canggung meminta
pada orang tua angkatnya.
Suara drible-an bola terdengar dari lantai
koridor. Dinda tidak mempedulikannya, dia tidak ingin menyia-nyiakan waktunya. Anak basket ada yang tinggal juga toh,
gumamnya. Hingga suara itu semakin keras terdengar, dan ternyata bola basket
berwarna orange sudah muncul di depan kelasnya. Ini membuat Dinda menoleh.
Seseorang muncul di balik pintu kelas, menunduk mengambil bola. Dika.
@@@
“Apa kabar?”
“...”, Dinda hanya
terdiam sambil memegang minumannya.
“Udah lama yah
kita nggak duduk berdua kayak gini...”, Dika memandang jauh ke depan. “Lo belum
berubah. Masih tetap cuek,” lanjutnya.
Dinda menoleh
pada Dika, “apa menurut lo gitu?”.
“Hmm..., iya. Lo
itu dingin banget. Bahkan mungkin nggak seorangpun tau apa yang ada di pikiran
lo.”
Dinda memandang
ke lain arah. Dia terdiam, suasana begitu tenang. Daun-daun kering beterbangan,
burung-burung gereja melompat-lompat tanpa ragu, angin berhembus begitu
damainya, membuat orang tergoda untuk tidur.
“Gue kangen sama
lo Ka...”, ucap Dinda dengan suara berbisik tanpa menoleh pada Dika.
Tenang, begitu
tenang. Namun Dinda memilih bangkit dari duduknya, berjalan meninggalkan Dika.
Dika menoleh, tapi dia membiarkan Dinda pergi. Beberapa anggota basket sudah
terlihat berjalan memasuki area sekolah.
@@@
Dinda berdiri di
trotoar jalan. Menunggu angkot yang akan mengantarkannya pulang ke rumah.
Tiba-tiba motor Dika melintas, Dinda hanya cuek dan kembali menunggu. Namun
tidak lama kemudian Dika muncul di hadapannya dengan helm standar yang masih
terpasang rapi.
“Mau bareng?”,
ajak Dika.
“Ah? Mmm... Nggak
usah deh, gue nunggu angkot aja...”
“Udah malem lho
Dii... Nggak pa-pa, sama gue aja... Lo nggak capek apa abis latihan...”
Dinda hanya diam.
Dika mengerti dan mengambil tangan Dinda, membawanya ke motor dan pulang
bersamanya.
Angin malam
begitu dingin. Mereka masing-masing tidak menggunakan jaket. Dinda hanya
berusaha berlindung di balik punggung Dika. Ternyata Dika menyadari yang dirasakan
Dinda. Hasrat ingin memeluk, tapi begitu banyak keraguan yang timbul di antara
mereka. Perlahan Dika menyentuh tangan Dinda yang ada di pundaknya. Dinda tetap
diam. Dika pun menggenggam dengan yakin. Suasana tiba-tiba terasa begitu
hangat, terlena hingga Dinda membiarkan lengannya merangkul ke pinggang Dika.
Kepalanya menunduk, bersandar di pundak Dika.
Kau kucinta
dengan caraku...
Mungkin kau
merasakannya...
Begitu
dalamnya rasa ini,
Hingga aku
tak sanggup mengungkapkannya lagi...
Terlalu
bodoh, saat ku sadar.
Tapi inilah
cintaku,
Aku begitu
tidak berdaya di depanmu.
@@@
PDKT ?
Dika
memasang senyum manisnya begitu Dinda menoleh padanya. Melihat itu, Dinda hanya
tersenyum malu. Dinda masih tidak percaya dengan yang terjadi semalam. Bahkan dia
masih belum menceriterakannya pada Tari dan Dina. Dia masih ragu apa ini pantas
diceriterakan. Dia takut kalau ini hanya perasaannya saja, dia takut kalau Dika
tidak menganggap ini sesuatu yang istimewa. Dinda tidak ingin merasa melayang
kalau dia belum tahu apa pada akhirnya akan terhempas ke
karang atau tidak.
Tiba-tiba
pemandangan yang tidak diharapkan muncul begitu saja. Sama sekali tidak
mengerti kalau Dinda masih ingin menikmati pemikiran-pemikiran indahnya.
Seorang Rena sudah berdiri mantap di depan Dika. Seketika hati Dinda bagai batu
bara yang terbakar perlahan-lahan namun pasti.
Dinda memilih
memalingkan wajah kemudian berjalan menuju kelasnya. Dia tidak ingin merusak
suasana hatinya lebih jauh lagi. Tidak ada gunanya marah pada sesuatu yang yang
belum jelas dengannya, bisa-bisa dia jadi malu sendiri.
“Didi !”
Hufth..., appaan sih manggil-manggil?, gumam Dinda menghentikan langkahnya.
“Di, kok main
pergi aja sih?”, protes Tari.
Dinda berbalik
badan, ternyata Tari yang memanggilnya. Dia menoleh pada Dika, terlihat masih
sibuk mengobrol dengan Rena. Ini akibat pemikirannya hari ini yang terus
berisikan Dika. Hhh... Bego !
“Ri, you know gak
sih? Dika itu aneh !”, seru Dinda kemudian berbalik badan dan melangkah
meninggalkan Tari menuju ke kelasnya.
Tari ternganga
sendiri, di pikirannya mulai bermunculan tanda tanya yang lama-kelamaan semakin
banyak. Kaget, bingung. Dalam hitungan 2 menit 2 detik, dia langsung berlari
mengejar Dinda. Mencari tahu kabar terupdate
pada sahabatnya yang satu itu.
@@@
Hmm gue mau ngajak lo
makan. Mau nggak?
Ohh.. Hmm gue udah makan Ka. Sori yah. Hhee :)
|
Oohha ngga papa kok.
Eh lagi ngapain?
|
Lagi mindahin data
anggota baru, lo?
Ohha ketua yang baik.
Gue Cuma lagi bales
sms lo hoho. Ngga tau sih mau ngapain.
Hha lo juga ketua
yang baik kok. Ish ga jelas deh haha :p
Ih apanya yang ngga
jelas? Jelas2 aja tuh :p elo aja yg bilang ngga secara lo kan emang orangnya ga
jelas haha :p
|
Kok malah gue? Kan
elo yg kerjaannya ga jelas :p
|
Dinda terus
membalas pesan dari Dika. Bibir cerahnya tak kuasa lagi menahan senyum.
Pekerjaannya menyalin data anggota tim basket putri sudah mulai terabaikan.
Sementara di depannya, Nanda memperhatikan dengan tatapan aneh.
@@@
Hari-hari yang
penuh keceriaan untuk Dinda. Mungkin ini yang dinamakan tahap pendekatan dengan
orang yang disukai. Tapi Dinda sendiri masih ragu apa dia benar-benar akan
berakhir dengan status pacaran? Dia bingung. Tanpa perlu dipertanyakan lebih
jelas lagi, Dinda memang menyukai Dika. Bahkan mungkin mencintainya. Entahlah,
Dinda tidak berani menafsirkan kata itu.
Hubungan Dinda
dan Dika jadi terasa lebih dekat, meskipun usia kedekatan mereka kembali baru
menginjak hari ketiga. Masalah kedekatan Rena dan Dika juga tidak dipedulikan
oleh Dinda, mengingat saat ini dirinya juga seperti berposisi sama dengan Rena.
Suasana Solaria
begitu menyenangkan bagi Dinda dan Dika dalam menamani makan siang mereka.
Dinda tidak kuasa menahan ekspresi bahagianya bisa makan berdua dengan Dika. Memang
ini bukan kali pertama dalam hidupnya, tapi ini yang pertama di saat dia sudah
mampu membalas perasaan Dika. Dia bagai begitu yakin kalau tidak akan merasakan
kecemasan yang dialaminya belakangan ini.
“Dii, gue kayak
masih nggak percaya lo duduk di depan gue.”
“Iiih maksud lo?
Emangnya gue apaan?”, ujar Dinda sambil tersenyum.
“Apaan sih, sok
nggak ngerti aja maksud gue...”
“Hmmm... Kalo
emang gue nggak ngerti kenapa?”
Mereka bercanda
sesuka hati, tidak ada beban, tidak merasa canggung. Meskipun makanan di piring
sudah dihabiskan, mereka masih saja nyaman duduk di posisi masing-masing
membahas keseruan-keseruan yang membahagiakan hati keduanya.
Dert...dert...
Handphone
Dika bergetar di meja, Dinda sempat membaca nama Rena di layar. Dinda mengaduk
Jus Alpukatnya, meminum sedikit, membiarkan Dika beralih pada pesan dari
seorang Rena.
“Eh, sampe di
mana tadi?”, tanya Dika begitu selesai membalas pesannya.
“Ah? Hmmm nggak
tau, lupa hhe...”
“...”, Dika hanya
mengangguk-angguk sambil menoleh pada handphonenya
yang baru saja menyampaikan laporan pengiriman pesan.
“Hmm... Dik, gue
boleh nanya sesuatu nggak?”
“Oh, ya boleh
lah. Kenapa?”
“Hmm..., sorry
yah kalo gue lancang. Gue mau tau aja hubungan lo sama Rena.”
Dika terdiam
sejenak, kemudian tersenyum. “Rena. Hmm..., gue nggak tau yah mau jelasin dari
mana. Dia itu...”
“Kalo nggak mau
jawab juga nggak pa-pa kok...”
“Ah enggak kok,
hmmm dia itu mantan gue. Dia juga udah dekat sama gue sejak kecil.”
Dinda terdiam.
Kaget, tiba-tiba tidak ada apa-apa di pikirannya.
“Tapi kita
sama-sama nggak mikir hubungan kita ke arah situ...”, lanjut Dika.
“Ohh..., gitu...”
“Ehm... Dulu kita
pernah pacaran setahun lebih. Tapi sekitar 2 tahun yang lalu dia pindah ke
Medan jadi kita putus. Trus semester lalu dia balik ke sini lagi. Kita udah
kayak sodara, gue nganggep dia kayak adek gue sendiri dan dia juga gitu ke
gue...”, terang Dika berusaha meyakinkan Dinda.
“Hmm...”
“Dii, lo percaya
kan sama gue?”
“Hmm... Oke lah,
gue kaget sih. Tapi untuk saat ini nggak ada yang bikin gue nggak bisa percaya
sama lo.”
“Hmm... Good lah.
Thanks...”
“Trus sekarang
dia tinggal sama siapa?”
“Dia..., dia
serumah sama gue...”
“Waw. Speechless
banget.”
“Tapi Di, lo
ngerti kan? Sama sekali nggak ada perasaan apa-apa antara gue sama dia. Intinya
dijalanin aja, kalo emang srek yah oke, kalo enggak yaa bersahabat aja.”
“Iya gue ngerti.
Lo nggak usah secemas itu kali.”
“Hhhhh... Lo tuh
emang bener-bener yah.”
“Why?”
“Sussah banget
ditebaknya.”
“Ish lo aja tuh.
Menurut gue nggak ada yang aneh dari diri gue...”
“Yayayaa... Hhe,
tapi bagi gue itu jadi kelebihan lo. Gue jadi nggak pernah bosen sama lo, dan nggak
perlu takut lagi kayak tadi...”
“Ish, apa sih...”
“Hhehe... Makasih
yah...”
“Ah? Buat?”
“Yaa..., karna lo
udah ngizinin gue buat mencintai lo...”
Dinda terdiam,
menunduk. Kalau saja dirinya tergambar pada film kartun, pipinya sudah semerah
tomat dan muncul tanda kikuk di jidatnya.
“Dii, gue harap,
kita akan selalu kayak gini. Gue bersyukur banget karna Tuhan ternyata udah
ngizinin gue untuk lebih dekat sama lo, untuk ekspresiin apa yang gue rasa ke
elo, setelah semua yang udah terjadi selama lebih dari setahun ini gue nunggu.
Sampe gue hampir nemuin titik keputusasaan. Gue bersyukur banget...”
“Gue nggak tau
sejak kapan gue punya perasaan sama lo. Mungkin sejak lo masuk ekskul basket
dengan semua shoot keren lo, mungkin juga sejak gue tau ada cewek yang suka
sibuk sendiri sama pesanan-pesanan pelanggannya, atau sejak gue ngeliat lo
setiap kali dihukum depan gerbang karena telat skolah. Yang gue tau pasti, gue
bener-bener sayang sama lo...,” lanjut Dika dengan tatapan sendunya meski Dinda
sama sekali tidak menoleh ke wajahnya.
“Hmm Dik... Lo
nggak usah lebay itu dong ngomongnyaa, gue geli hhee..”, ucap Dinda sambil
tersenyum kecut tapi belum menoleh ke wajah Dika.
“Hhaha sorry
yah... Ngeliat lo kayak gitu gue jadii...,”, Dika menyondongkan tubuhnya lebih
dekat pada Dinda. Kini jarak wajah antar keduanya sudah cukup dekat. Dinda
menutup matanya, keningnya berkerut, cemas tapi dia tidak juga bisa bertindak
apa-apa. “Gemeeees banget !”, Dika langsung mencubit pipi Dinda dengan keras.
“Aaaaaa...!”
“Hhahaha... Sakit
yah? Sorry hhee... Makanya pasang muka jangan ngegemesin gitu...”
@@@
Fuckin’ Feeling
“So, kalian udah
jadian?”
“Not yet.”
Tari dan Dina
langsung saling berpandangan setelah mendengar ceritera Dinda. Awalnya mereka
seperti mendapat surprise besar, tapi begitu mendengar jawaban terakhir Dinda,
suatu keanehan.
“Dia nggak nembak
lo?”
“Enggak.”
“Kenapa?”
“Ya mana gue
tau... Dia cuma bilang gitu aja...”
“Elo sih pake
nyuruh dia berenti, pedahal mungkin tinggal beberapa kalimat lagi akan muncul
‘Di, would you be my heartthrob?’.”
“Abis gue geli
ngedenger omongannya, labay bangeeet. Untung-untung gue nggak kabur...”
“Hhhh... Tapi
nggak pa-pa, wait. Pasti sekarang dia lagi mikirin saat yang tepat buat nembak
lo ciehh...”
“Apaan sih.”
“So, udah nggak
galau lagi nih temen gue...”, goda Dina yang akhirnya ikut bicara.
“Ish galau apaan?
No way. Sejak kapan yah?”
“Halaaah
somboong... Eh tapi si Rena gimana? Apa lo nggak takut mereka deket trus
lama-lama..., cinta itu bisa muncul lho...”
“Kata Dika, dia
cuma anggep Rena sodara. Trus Rena juga gitu ke dia...”
“Och semoga sih
gitu...”
@@@
Dinda memasang
posisi duduk bak ratu di sofa tempat Nanda membaca saat ini. Lagak yang begitu
mengesankan ingin memamerkan sesuatu pada saudara kembarnya itu. Tapi Nanda
tidak mempedulikannya dan tetap fokus pada bacaannya.
Dinda mendekati
Nanda, bersiul pelan dengan irama bahagia, menaikkan kakinya ke meja, dan kali
ini perhatian Nanda pun berhasil dicurinya.
“Napa sih?”
“Hmm..., nggak
pa-pa...”
“Terus?”
Dinda menatap
Nanda dengan tajam bak seorang ditektif. “Hmmm... Kok Fya udah nggak pernah ke
sini?”
“Astaga lo tuh
sibuk banget yah sampe urusan orang lo pikirin juga...”
“Ah bukan gitu
kok, gue cuma lagi pengen ketemu aja sama Fya. Gue ada perlu sama dia...”
“Perlu apaan?”
“Eits, no way.
Ini urusan cewek, lo nggak perlu tau...”
“Ya udah, gue
juga ogah deh manggil dia ke sini buat lo...”
“Hmm gimana kalo
gue ngajak Dika juga?”
“Hmh... Maksud lo
apaan nih? Emang apa urusannya dia sama gue? Oooh gue ngerti. Iye iyee, gue tau
lo pasti pacaran kan sama Dika?”
“Sok tau!”
“Seharian
kerjanya cuma SMSan, jadi suka telat pulang skolah, dan makan berdua di cafe.
Udah ahh..., gue akuin kok lo bukan penyuka sesama jenis. Permainan kita udah
finish, nggak ada yang kalah ataupun menang. Walaupun gue lebih duluan dapetin
Fya, sebagai kakak gue nggak nganggep lo kalah. Lagian gue cowok, itu wajar.”
Dinda memandangi
Nanda dengan mimik tidak percaya. Dia tidak menyangka kalau akhir dari
tantangan di antara mereka yang belakangan ini membuat kepalanya sakit,
ternyata hanya berakhir dengan sedatar ini? Memang dia jadi dekat dengan Dika,
tapi kenapa akhirnya tidak seperti pada serial drama di tivi?
Nanda tidak betah
dengan tatapan Dinda kepadanya. Nanda berdiri, meninggalkan Dinda yang masih
dengan pikirannya. Apa benar ini sudah jadi akhirnya?
@@@
Isak tangis
terdengar begitu jelasnya dari balik pintu. Suara tangisan itu membuat siapapun
yang mendengarnya mungkin akan ikut hanyut dalam duka yang dirasakan.
Tempat tidur
berantakan, selimut tebal menutupi penuh tubuh mungil Rena dan bantal berbentuk
hati yang dipeluknya. Rena tidak lagi sempat untuk mencari tempat demi
kesendiriannya menghilangkan segala gundah. Segala cara yang biasa dilakukannya
tidak juga mempan untuk membuatnya lupa akan apa yang kini mengusik hati dan
pikirannya. Berbagai kesibukan diupayakannya, berbagai suasana yang biasanya
membuatnya bahagia telah dilakukan, tapi tetap saja dia tidak bisa memungkiri
bahwa dirinya tidak mampu lari dari kenyataan.
Cinta. Rena tidak
pernah mengira sebelumnya bahwa dia akan begitu dikelutkan oleh hal yang satu
itu. Cinta pertamanya, awalnya dia menganggap cinta pertamanya hanya sebatas
cinta monyet anak kecil yang akan hilang seiring berjalannya waktu. Tapi
ternyata dia salah, cinta pertamanya berkembang menjadi suatu rasa yang
bertahan hingga saat ini, meski rasa itu mungkin sudah dilupakan oleh orang
itu.
Meninggalkan
cinta di masa lalu membuatnya tidak sanggup bertahan lama. Namun keputusan
untuk kembali tampaknya sudah terlambat. Dia mungkin harus merelakan apa yang
sebelumnya dia miliki menjadi milik orang lain. Apa yang sebelumnya menjadi
hidupnya, kini akan lebur menjadi kenangan semata.
Ketulusannya
selama ini tidak disadari, tidak dianggap sebagai bentuk ketulusan atas
kedalaman rasa cintanya. Meninggalkan sesuatu yang penting demi sebuah
perioritas yang ternyata menjadi pengorbanan semata.
“Sayang, kamu yakin akan kembali ke Bandung? Mama
nggak bisa lho ikut kamu. Mama sama Papa
harus tetap di sini. Kamu nggak pa-pa tinggal sama Tante Anne? Lagian
kamu pindah sekolah, jadinya nggak bisa ikut jalur undangan buat kuliah...”
“Nggak pa-pa kok Ma... Rena juga mau belajar
mandiri, Tante Anne juga pasti bisa bantu Rena... Kalo untuk kuliah, kan ada
jalur SNMPTN, trus ada jalur mandiri juga. Rena yakin bisa kok... Lagian udah
terlanjur pindah, nggak penting lagi dibahasnya...”
“Hmm kamu ini, ya sudahlah. Kamu hati-hati yah
Sayang, Mama bakal nyusul kamu tahun depan...”
Rena mencium tangan mama dan papanya,
mengambil koper dan tasnya, kemudian memasuki mobil yang akan mengantarkannya
ke bandara. Rena melambaikan tangannya, dari balik kaca.
Perjalanannya begitu terasa tenang, dengan
sebuah harapan yang sudah dinanti-nantinya. Di genggamannya sudah ada sebuah
bingkai foto orang yang tidak sabar dijumpainya–Nandika Pratama. Seseorang yang
membuatnya bermimpi kembali pada kisah hidup bahagia bersamanya.
Entah sejak kapan
Rena memiliki rasa yang sebesar ini terhadap Dika. Yang dia tahu, dia begitu
bersyukur pernah mengenal Dika. Yang dia tahu, jantungnya berdegup begitu
kencang saat Dika memanggilnya dengan kata Sweetheart. Yang dia tahu, dirinya
begitu tenang saat berada dalam pelukan Dika. Cinta yang terlalu cepat
dirasakan untuk seseorang yang berusia sedini Rena. Terlalu cepat dia
dipertemukan dengan cinta yang belum sepatutnya dialaminya.
@@@
What’s the mean?
Dinda menjatuhkan
tubuhnya ke bangku, Tari lari terbirit-birit memasuki kelas Dinda dan
menemuinya dengan rasa penasaran tingkat kecamatan (nah lho?).
“What happened?”
“Apanya?”
“Ish lo nggak
usah sok gitu deh, dari jauh gue liat lo masuk kelas dengan tampang murung
serompang gitu.”
“Oh... Nggak ada
apa-apa kok...”
“Are you cheating
me?”
“Ish nggak ada
apa-apa kok... Gue cuma lagi merasa bego aja.”
“Nah itu ada
apa-apa... Emangnya lo kenapa? Berantem sama Dika? Kalian emang udah jadian?”
“Ish bukan... Gue
merasa bego aja karena udah nyusahin diri gue buat nyelesein tantangannya Nanda
yang ternyata dia sendiri tuh kayak..., ish pokoknya nyebelin deeh... Kalo gue
tau dia kayak gitu, hhh ini namanya pembodohan!”
“Iiiish Dina kan
emang udah nasehatin elo Dii...”
“Nah itu juga
begonya gue...”
“Jadi lo nyesel
udah ngelakuin ini semua? So, lo nganggep Dika apa?”
“Maksud lo?”
“Kalo lo nyesel
lakuin ini ke Dika, berarti lo nggak sepenuhnya sayang sama dia...”
“Iiiihh apaan
sih... Lo jangan bikin gue tambah BT deh...”
Sepasang mata
melihat dan mendengar jelas pembicaraan Dinda dan Tari dari balik pintu kelas.
Tujuan awal datang ke kelas itu sudah terlupakan. Dika meninggalkan tempat,
meninggalkan tujuannya.
@@@
Dika duduk
terdiam di sofa cafe, sendirian. Seragam sekolahnya masih melekat di badan.
Sepulang sekolah, dia memang tidak pulang ke rumah. Dia butuh tempat untuk
sendiri.
Teringat
masa-masa indah saat bersama cinta pertamanya. Cafe yang didatanginya saat ini
adalah tempat pertamanya pergi berdua dengan Rena, juga di jam yang sama.
Kebimbangan telah
muncul ketika Rena datang kembali ke dalam hidupnya di saat dia tengah
dibayang-bayangi oleh sosok Dinda. Kadang hatinya memilih Dinda, tapi kadang
pula hatinya tidak kuasa menolak Rena. Apa dia masih mencintai Rena? Atau ini
hanya perasaan biasa? Dika sendiri tidak tahu. Dia merasa begitu bahagia saat
bersama Dinda, dan begitu tenang saat bersama Rena. Dia mengakui bahwa Dinda
telah membawa suasana baru dalam hatinya, mewarnai hidupnya kembali, tapi
kepeduliannya terhadap Rena begitu jelas tersirat.
Awal penglihatan
orang-orang tentang kedekatan Dika dan Rena adalah hubungan mereka lebih dari
teman biasa. Bahkan banyak yang menyatakan mereka berpacaran.
“Sob, lo bilang Rena itu mantan lo, tapi kok
kalian masih deket banget gitu?”, tanya Rey sambil membuka minumannya seusai
bermain basket.
“Lha, emangnya kenapa? Kita sahabatan...”
“Ah gue nggak yakin. Tatapan lo itu lebih dari
tatapan buat sahabat... Lagian lo kalo sama Rena jadi lembut banget, lo masih
ada rasa kali...”
“Apa sih. Gue nganggep dia sodara aja...
Lagian lo tau kan gue sukanya sama siapa.”
“Oohh... Yaa, terserah deh. Tapi gue liat sih
gitu, Sob.”
“....”, Dika terdiam. Merenung sejenak. “Dia
ninggalin gue...”
Dika mengangkat
cangkir GreenTea yang dipesannya, menyeduhnya sedikit, lalu meletakkannya
kembali. Dia teringat pada pembicaraan Dinda dan Tari yang tadi didengarnya di
sekolah. Apa maksud dari kalimat itu? Apa benar Dinda tidak sepenuhnya
menyayanginya? Tapi Dika tidak marah, hanya sedikit kecewa. Memang dia tidak
mengharapkan balasan atas perasaannya pada Dinda, hanya saja dia sempat merasa
Dinda juga mempunyai rasa yang sama. Ternyata dia salah. Setidaknya itulah yang
dirasakan Dika saat ini.
@@@
Suara televisi
terdengar jelas menayangkan film action. Dika menoleh, ternyata Rena yang
sengaja memutar DVD. Dika terdiam memandangi Rena, Rena menyadari itu dan
tersenyum pada Dika.
“Ngapain di situ?
Nonton yuk... Seru!”
Dika pun
mendekati Rena, duduk di sampingnya, ikut menonton, diam. Rena memandanginya,
mengerutkan jidat, heran dengan sikap Dika malam itu.
“Lo kenapa?
Sakit?”
“Nggak kok.”
“Seharian gue
liat lo banyak diem, ada masalah yah?”
“Hmmh... Biasa
aja.”
“Tentang Didi?
Cerita aja sama gue... Kalopun emang gue nggak bisa bantu apa-apa, seenggaknya
lo udah keluarin beban lo...”
“Nggak kok Ren,
lo tenang aja. Kalo emang gue butuh cerita, pasti gue cerita sama lo...”, Dika
tersenyum meyakinkan Rena.
Rena memandangi
Dika, dia tahu kalau orang yang dicintainya itu sedang merasakan beban di
hatinya. Tapi dia tidak ingin memaksa, jika memang Dika memilih untuk tetap
diam. Rena pun berusaha tenang, kemudian tersenyum tulus pada Dika.
@@@
Dinda melempar
bola basketnya ke ring, dan langsung membaringkan tubuhnya di tengah lapangan.
Matahari siang menjelang sore itu seolah jadi teman bicaranya. Sejak kemarin,
Dika hilang kabar darinya. Bahkan mereka juga tidak saling bertemu di sekolah.
Biasanya Dika selalu muncul sepanjang hari, atau paling tidak memberi kabar.
Dinda merasa aneh dengan hal ini. Tapi dia berusaha berpikir positif, mungkin
Dika sedang sibuk.
“Dii, ngapain lo
di situ? Ntar item lho...”, tegur Tari yang berjalan ke arah Dinda.
“Matahari tuh
lagi imut-imutnya kalii...”, ujar Dinda ngawur.
“Eh lu kate
kampret. Cepetan bangun... Kringetan gitu bukannya dilap kek, trus minum air
yang banyak, elo malah berjemur... Ntar belang, baru tau rasa...”
“Hhhh... Sekarang
lo lagi pacaran atau jomblo?”, tanya Dinda memotong comelan Tari.
“Ah? Kok lo nanya
gitu? Gue udah pacaran sama Denis. Waaah Dika udah nembak lo?”
Dinda bangkit,
mengambil bolanya, kemudian berjalan meninggalkan lapangan. Tari merasa
diabaikan, tapi dia tidak tenang melihat sikap sahabatnya itu. Tari pun
mengejar Dinda dengan rasa penasaran.
“Didiiii !!!”
“Apaaah?”, Dinda
tetap berjalan tanpa menoleh pada Tari.
“Dika udah nembak
lo belooom?”
“Kagaaakk !!”
@@@
Elegi
Aku sakit seorang
diri.
Kamu tidak tau,
betapa perihnya terasa.
Karena memang
tidak akan ada gunanya.
Meski kubersujud
sekalipun.
Kadang pula aku
bahagia sendiri
Oleh alasan yang tidak
kau tau
Karena bahagia
itu tidak berpengaruh
Untuk rasa dan
hatimu.
Aku merasakan
semua ini seorang diri.
Menangis
sendirian dalam keheningan.
Dan tidak tau
penyelesaiannya, kecuali membangkitkan diri
Karena kusadar,
kau tak bisa kuharap.
Dalam kisah kali
ini,
Kembali aku juga yang
merasakan dukanya.
Tak ingin pula
kau tau,
Karena itu malah
hanya akan membuatmu merasa bersalah saja
Ku hanya bisa
berharap ada akhir yang bahagia
Karena
kemustahilan bagiku untuk lari dari semua ini
Ku harus bangkit
sendiri
Kuat manahan dan
melawan rasa.
Meski ku sendiri
tidak tahu apa aku sanggup?
Mungkin kumarah.
Tapi tidak
sepantasnya.
Kau bukan
siapa-siapaku lagi.
Tak sepatutnya
lagi kucemburu
Itu sia-sia !
Tapi terus datang
padaku
“Mengapa begitu
lama?”, pikirku dalam berontak.
Mungkin ini
adalah permintaan teregoku saat ini.
Mungkin pula tak
perlu kau hiraukan.
Maafkanlah...
Semua itu mimpi !
Realitanya ku
tetap menunggumu
Entah sampai
kapan cintaku terus diuji
Sesakit apapun,
toh pada akhirnya sikapku hanya satu
Mengasihimu
dengan caraku,
Mencintaimu
dengan caraku, dan menunggumu
Hingga keajaiban
datang.
Keajaiban yang
aku pun sendiri tidak begitu yakin.
Ini semua
rahasia.
Jangan sebut aku
penghalang, pengganggu, atau perebut.
Meski memang aku
mencintainya
Tapi aku tidak
pernah menggodanya.
Aku hanya
mencintainya.
Apa itu salah?
Apa itu salah
jika ku sulit untuk menutupi rasaku?
Apa salah jika
berdiri di belakangmu dan berjalan di sampingmu?
Entah rasa ini
patutnya kusyukuri,
Atau membuatku
jadi perempuan yang tidak tau malu.
Rena membalikkan
halaman pada bukunya, mulai mata pensilnya membentuk garis-garis yang semakin
lama makin jelas tujuannya. Garis dan titik menyatu dan membentuk sketsa yang
jelas. Gambaran hatinya pada masa lalu di saat suasana hatinya sama dengan yang
ada pada goresan pensilnya.
Seorang laki-laki
memeluk perempuan yang merasakan duka. Laki-laki yang menyejukkan hati dengan
pundaknya sebagai sandaran. Laki-laki itu adalah Dika di masa lalu yang sedang
menenangkan perasaan Rena. Kini Rena merindukan suasana itu, merindukan
sentuhan jemari Dika, pelukan hangatnya, sandaran pundaknya, dan kecupan di
keningnya. Di masa itu, Dika memang bukan laki-laki yang seromantis saat ini,
tapi begitu suasana datang, tiba-tiba dirinya menjadi sosok yang begitu peduli
sehingga membuat Rena merasa sangat bersyukur.
Pelukan dalam
gambar itu adalah pelukan terakhir Dika yang dirasakan Rena. Pelukan sebelum
akhirnya mereka berpisah. Terbayang dalam pandangan, masa-masa terakhir itu.
Dimana Rena tidak henti menangis, meski bibirnya tersenyum merelakan semua itu.
Kalimat terakhir yang diucapkan Dika adalah ‘aku masih di sini kok, aku akan
selalu ada buat kamu, selama aku bisa’. Entah apa kalimat itu masih berlaku,
atau sudah kadaluarsa. Mungkin masih berlaku, tapi sudah terbagi.
Kedua mata Rena
kembali memanas, linangan air keluar dengan begitu jujur mengekspresikan yang
dirasakan pemiliknya. Rena meletakkan bukunya, lelah dengan semua
ketidakjelasan ini. Ketidakjelasan karena entah bagaimana ujungnya, bagaimana
penyelesaiannya, dan untuk apa dia menangis. Tidak akan ada yang berubah meski
kamarnya banjir sekalipun. Dia harus realistis. Kadang kenyataan memang tidak
semanis yang dibayangkan. Karena gula kehidupan tidak selamanya mampu di dapat
dengan sekali melangkahkan kaki. Kini Dika sudah terlanjur memilih Dinda.
Setidaknya itu yang ada dalam benak Rena saat ini.
@@@
Tanda Tanya dan Titik
Dinda menunduk sendiri di ayunan halaman
rumah, sambil memotong kayu sesuai dengan ukuran yang diinginkannya. Meski
dirinya juga masih belum tahu akan membuat apa, yang jelas dia ingin
menyibukkan dirinya saja. Lagipula, akhir-akhir ini pesanan pelanggannya sudah
tidak sebanyak sebelumnya sewaktu dirinya masih tinggal di toko kerajinan
almarhum kakeknya.
Mengingat tentang toko kerajinan itu, Dinda
sampai hampir lupa akan keadaan toko. Dia terpikir, bagaimana kabar Mas Surip?
Bagaimana kondisi toko? Bagaimana pelanggan-pelanggannya? Dia merindukan
suasana itu, dimana dirinya selalu sibuk sepanjang hari, dan tidak ada waktu
untuk memikirkan Dika. Menjalani hari dengan perjuangan, memahat di sana-sini,
mencari uang, dan sebagainya. Dibandingkan saat ini, dia lebih sering kepikiran
dengan sesuatu yang tidak sepatutnya membuatnya pusing. Ternyata menjadi orang
yang tinggal di tengah-tengah keluarga kaya tidak menjamin ketenangan
seseorang. Tapi inilah hidup, segala keputusan yang diambil memiliki
keseimbangan antara kelemahan dan kelebihannya.
“Dii...!”, panggil Nanda yang ke luar dari
rumah, menemui Dinda.
“Yah? Napa?”
“Gue mau jalan-jalan, mau ikut gak?”
“Ah?” Tumben,
batin Dinda. “Hmm..., boleh. Kemana?”
“Toko buku.”
Jiaaahh...,
gue kira mau ke mana... “Kalo toko
bukunya di mol gue mau... Hehe...”
“Iyeeh, ya udah siap-siap noh...”
Dinda memungut alat-alat pahatnya, kemudian
bergegas memasuki rumah dengan sedikit berlari layaknya anak kecil yang akan
dibelikan es krim.
@@@
“Semenjak kita tinggal bareng, baru kali ini
kita jalan and makan berdua...”
“Yaahh..., gue sih sebenernya banyak waktu. Lo
aja tuh...”
“Hhe... Yaah, kita kan masih skolah Dii...
Jadi kudu belajar, apalagi udah kelas 2...”
“Aseeek haha... Kalo gue mah nikmatin idup
aja. Emang lo mau lanjut kuliah di mana?”
“Kedok UI, atau UGM, atau UNPAD. Lo?”
“Teknik Geodeshi UGM hehe...”
“Ya elaah, lo kan cewek...”
“Ih terus salah?”
“Nggak sih, cuma heran aja. Secara banyak gitu
jurusan lain yang cocok buat cewek, kenapa mesti yang itu... Tapi terserah lo
sih...”
“Hmmm.”
Mereka kemudian sibuk dengan makanan
masing-masing. Dinda menoleh ke suasana sekitar, orang-orang yang tidak
dikenalnya berlalu lalang. Nanda menatap ke layar handphone-nya, seperti menunggu sesuatu.
“Didi!”
Dinda mendengar suara itu, suara yang memanggil
namanya. Dinda menoleh, ternyata dia memang tidak salah dengar. Sosok Dika
berdiri bersama Rena dari sisi kirinya. Dinda terdiam sejenak, kemudian
tersenyum.
Dika dan Rena berjalan menuju meja tempat
Dinda dan Nanda makan. Nanda memandangi Dika dengan raut wajah bingung. Dinda
menyadari itu, namun hanya tersenyum.
“Waaah ternyata kalian bisa akur juga yah...”,
ujar Dika begitu duduk di di samping Dinda.
“Ah? Hhee emangnya nggak boleh yah? Hmm... lo
kok bisa sama Rena?”
“Oh nggak, cuma lagi suntuk aja di rumah jadi
yaa jalan deh...”
“Tapi kok sama Rena?”, tanya Nanda dengan
penasaran.
“Lho, emangnya kenapa? Oh iya sorry gue lupa
Nan, ini Rena sahabat gue... Dia baru pindah ke sini...”, jawab Dika sambil
menoleh pada Rena dan memberi isyarat untuk memperkenalkan diri.
Rena dan Nanda bersalaman. Nanda pun tidak
ambil pusing, dia kembali sibuk dengan handphone-nya
yang berdering. Sementara Rena memandangi Dinda meski tanpa niat tertentu.
Ternyata masih ada seseorang yang tidak bisa
dibiarkan sedang berdiri memandangi mereka dari jarak yang cukup jauh.
Keberadaannya seolah mengisyaratkan bahwa besok akan terjadi gempa di SMA
Harapan yang diakibatkan oleh siswa-siswinya sendiri. Who’s she? Dila!
(Remember her? The most gossip at SMA Harapan which pink lipgloss and shrill).
@@@
Bel rumah berbunyi. Dinda langsung menoleh ke
pintu, begitupun dengan Tari dan Dina. Mereka memang sengaja datang ke rumah
Dinda untuk menonton ulang film Breaking Down Part 1 yang baru-baru ini tayang
di Indonesia. Dinda pun bangkit dan berjalan ke arah pintu. Cukup penasaran
dengan tamu yang datang karena tidak biasanya ada tamu yang datang tiba-tiba.
Dinda membuka pintu, dan “Fya?”.
“Heiii... Nanda ada?”
“Ah? Dia lagi nggak di rumah... Emangnya lo
nggak tau?”
“Oohh... Hmm tadi sih gue telvonin HPnya nggak
aktif... Jadi gue datang ajah. Abis gue mau minta tolong penting sama dia...”
“Oohaha ya udah deh tungguin di dalem aja
yuk...”
Fya masuk mengikuti Dinda ke ruang tengah.
Dika dan Rena langsung menoleh pada Fya.
“Masih ingat kan? Fya, tamunya Nanda...”, ucap
Dinda dengan menekankan kata ‘tamunya Nanda’ pada Dika dan Rena.
“Ohahaha iyah kita kan pernah ketemu... Gue
nggak nyangka lo bener-bener jadian sama Nanda lho...”, ujar Tari.
“Ah? Nggak kok, kita emang deket tapi nggak
sampe jadian...”
Dinda langsung menoleh pada Fya. Ekpresinya
berubah menjadi bingung. “Lo yakin nggak pacaran sama Nanda?”
“Hah? Maksud lo apaan sih. Yah emang gue nggak
pernah pacaran sama Nanda...”, jawab Fya sambil tersenyum bingung.
“Masa sih? Lo nggak bohong?”
“Apaan sih... Ngapain juga gue bohong? Emang
lo nggak tau kalo Nanda nggak mau pacaran selama SMA?
“Haaaaah? Eeeh..., hmmm..., ii.., iya sih...
Tapi kan...”
“Udah deh, jangan ngaco lo ahh. Emang banyak
yang ngirain kita pacaran, tapi lo nggak usah percaya. Itu semua gosip,
okeh...”
Fya tersenyum kemudian duduk di sofa dan ikut
menonton bersama Tari dan Dina, “Breaking Down?”.
Dinda masih tidak percaya dengan apa yang
barusan didengarnya. Apa benar Nanda sudah bohong padanya? Dinda benar-benar
butuh penjelasan. Tari dan Dina memandangi Dinda, juga dengan pemikiran yang
sama.
@@@
“Fya udah pulang?”
Nanda langsung menoleh dan memutar tubuh,
Dinda sudah berdiri tepat dibelakangnya dengan tatapan tajam dan tangan
ditekuk.
“Lo kenapa?”
“Nggak pa-pa.”
“Oohh...”. Nanda pun cuek kemudian menunduk,
membereskan buku-buku dan alat-alat belajarnya tadi dengan Fya.
“Lo nggak mau ngomong apa-apa sama gue?”
“Ngomong apaan?”
“Nggak tau. Gue cuma pengen denger lo ngomong
sesuatu.”
“Nih gue udah ngomong...”
“Lo yakin nggak ada yang lain? Yang lebih
penting gituh?”, nada bicara Dinda sudah semakin dingin. Membuat Nanda kembali
memandanginya.
“Kalo lo mau gue ngomong, harusnya lo tanya
biar gue tau apa yang mesti gue omongin.”
“Oh.”
“Lo kenapa sih? Sinis banget...”
“Gimana hubungan lo sama Fya?”
“Maksud lo? Baek-baek aja...”
“Haha masih belum nyadar? Masih belum ngerti
arah pembicaraan kita?”
“Emang gue nggak ngerti. Daritadi juga nggak
ada pembicaraan. Yang ada cuma sikap sinis!”. Nanda langsung pergi dari hadapan
Dinda dengan tampang yang lebih sinis.
Dinda terdiam. Dia sungguh ingin menghentikan
langkah Nanda dan mendengar penjelasan atas kesalahan yang membuatnya merasa
ditipu dan tidak dihargai. Meskipun hubungan Nanda dan Fya bukanlah urusannya,
setidaknya demi mengimbangi Nanda, Dinda sudah berusaha keras dan berjuang
untuk menarik perhatian Dika. Memang Dinda tidak menyesal, karena secara tidak
langsung kejadian ini mengenalkannya pada cinta. Hanya saja dia merasa Nanda
benar-benar telah melakukan kesalahan besar kalau benar sudah berbohong
padanya.
@@@
Suasana pagi yang begitu hampa. Biasanya
sepasang saudara kembar Nanda dan Dinda sudah gerusuh kesana kemari seperti
lagunya Ayu Tingting, tapi bukan mencari alamat. Kini Dinda duduk dan sarapan,
dan begitupun dengan Nanda. Mereka saling diam.
Dinda memandangi Nanda dengan tajam. Dia masih
menunggu kakaknya itu akan menjelaskan yang sebenarnya. Tapi Nanda tampak tidak
peduli, bahkan bersikap santai dan sangat menikmati makanannya.
“Pengecut!”, ketus Dinda tiba-tiba dan seraya
membuat Nanda berhenti mengunyah.
“Pe-nge-cut”, ulang Dinda dengan lebih jelas.
Nanda meminum air sedikit dan benar-benar
menghentikan makannya. “Lo ada masalah apa sih sama gue? Dari semalam, gue
nggak ngerti mau lo apa!”
“Cuma pengecut yang nggak berani ngakuin
kenyataan yang sebenarnya dan berbohong untuk menang!”
“Lo ngomong apa sih?!”
“Apa hubungan lo sama Fya? Lo nggak pacaran
kan sama dia? Iya kan?!”
Nanda tercengang. Menjadi bisu dan hanya
menelan ludah. Dinda tidak peduli dan tersenyum sinis.
“Gue nggak pernah bilang kalo Fya pacar gue.”
“Hah? Hahah ooohh jadi maksud lo, lo nggak
pernah bohongin gue? Gitu? Hahaha gue nggak nyangka!”
“Dii, denger dulu. Fya emang bukan pacar gue.
Tapi gue sayang sama dia. Maaf kalo lo ngerasa gue bohongin. Cuma satu hal yang
pasti, meskipun hubungan gue sama Fya nggak dalam status pacaran, gue nganggep
dia kekasih gue. Lebih dari sekedar pacar gue. Gue nganggep dia sebagai teman
hidup gue. Orang yang selalu ada buat gue, dan gue juga akan berusaha untuk
selalu ada buat dia. Gue nggak mau dia jadi pacar gue Dii, gue nggak mau.
Karena bagi gue, pacaran akan butuh ego. Dalam hidup ini ada prioritas. Kalo
gue macarin Fya, lantas gue nggak bisa menuhin apa yang dia harap, gue bakal
ngerasa bersalah dan dia bakal kecewa banget, dan mungkin akhirnya bakal putus,
sampe dia bakal ninggalin gue atau sebaliknya. Sementara gue nggak mau ada
perpisahan, gue nggak mau pisah dari dia Dii... Apapun itu permasalahan di
antara gue sama Fya, gue nggak mau sampe pisah dari dia...”, terang Nanda
dengan tenang dan datar. Tanpa disadarinya, mata Nanda sudah berkaca-kaca
memandang Dinda. Emosi Dinda kini berubah menjadi kekakuan dan tercengang
mendengar perkataan Nanda barusan.
“Dii..., bahkan mungkin gue nggak akan macarin
Fya. Biarpun kita udah lulus SMA. Mungkin gue bakal serius kuliah dan
ngejalenin hari-hari kayak sekarang. Gue udah bersyukur banget dengan keadaan
ini Dii... Bisa ketawa-ketawa bareng dia, berbagi semuanya sama dia, begitu
juga dengan dia, kita susah senang sama-sama Dii... Nggak ada lagi canggung ato
ragu antara kita. Gue juga udah biasa manggil dia sayang, walopun gue nggak tau
dia ngartiin itu apa... Mungkin dia nganggep itu sesuatu yang nggak perlu dia
pikirin... Gue nggak kebayang kalo suatu saat harus berjarak sama dia. Nggak
ada komunikasi sehari aja, jujur sebenarnya gue udah ngerasa sepi banget.
Apalagi kalo kita pacaran lantas putus. Karena cinta itu menuntut ego Dii...
Semakin cinta itu didekati, semakin cinta itu menuntut. Tapi rasa sayang
menuntut kita untuk ngebahagiain orang yang kita sayang. Di saat cinta dan
sayang menyatu, itu yang akan buat kita kacau... Antara selalu dibahagiakan
atau berkorban untuk bahagia nantinya...”, lanjut Nanda. Kini air matanya sudah
jatuh. Namun Nanda langsung menghapusnya kemudian minum air putih di depannya.
“Eh berangkat, ntar telat lagi...”, suara
Nanda bergetar. Dia langsung berdiri dan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.
Dinda masih diam, memandangi Nanda.
@@@
PLAKK !!
Dinda berjalan di sepanjang koridor menuju
kelasnya. Di pikirannya masih terbayang raut wajah dan suara Nanda. Dia tidak
menyangka Nanda yang baginya tidak berwarna, tidak ada respon apa-apa terhadap
cinta, ternyata memiliki rasa yang sesuci itu pada Fya.
Di tengah lamunannya, dia baru sadar kalau beberapa
pasang mata sudah memandanginya dengan berbagai ekpresi. Tapi Dinda hanya cuek
karena di benaknya masih ada Nanda.
“Didiii!!”
“Huuuh Tari... Apaan sih brisik banget
pagi-pagi...”
“Hhhh Didi, you know gak sih? A news about you
by Miss Keke!”
“Haaah? Berita apaan?”
“Mending sekarang juga lo ikut gue ke mading.”
Tari langsung menarik tangan Dinda, berjalan
berlawanan arah. Meninggalkan koridor yang dipenuhi dengan pandangan tidak
mengenakkan terhadap Dinda.
Triangle Love in Our School
!!
Akira Renata Sinaga dicurigai
sebagai orang ketiga yang menghambat
hubungan antara Adinda Putri dan Nandika Pratama. Huwooow...! Meskipun kabarnya
Rena adalah sahabat Dika, tapi mereka pernah pacaran tuhh ckckk. Bisa aja kaan CLBK (Cinta Lama Belum Kelar) :D Mending kelarin dulu
deh Dik hhe kita tunggu yah perkembangannya ;)
|
“Dilaaaa...!!!”
@@@
Pintu basecamp Mading SMA Harapan sudah
dipenuhi oleh para pengurusnya. Dinda dan Tari langsung menerobos masuk dan pandangan
orang-orang beralih pada mereka.
“Heh!
Maksud lo apaan nulis gosip kayak gitu?”
“Aduuuhh
apa nggak salah? Itu kan fakta coooy...”
“Fakta
apaan hah? Sialan banget sih lo cewek gila!”, seru Rena dengan melototi Dila.
“Wuuuuh
ternyata Rena udah lebih cepet, Dii...”, bisik Tari pada Dinda.
“Eh
Dil, lo kapan puasnya sih ngurusin urusan orang?”, ujar Dinda.
“Upss...
Hahaha kalo cewek kayak dia mah nggak ada puasnya Dii...”, ujar Tari.
Beberapa
pengurus Mading berusaha menenangkan situasi, namun tidak dipedulikan. Ada pula
yang langsung menutup pintu dan jendela rapat-rapat agar tidak ketahuan oleh
guru dan pihak yang dapat mempersalahkan mereka, seolah memberi lampu hijau
pada pertengkaran pagi itu.
“Gue
tanya yah, lo nggak malu apah bikin gosip kayak gitu? Nggak takut lo?!”, seru
Rena.
“Heh,
ngapain gue mesti takut? Hahaha ngaco lo!”
“Hah
nggak usah ketawa deh lo, nggak lucu tau nggak!”
“Upss
nggak tau tuhh hahahaha...”
“Dasar
BITCH! Cuihhh cewek gila !!”, hardik Rena yang sudah hampir menampar Dila.
“Uuuuuhhh
lo marah? Heh harusnya kalo lo ngerasa bukan pengganggu hubungan orang, lo
nggak perlu marah! Hahaha malu kan loo? Ahahah elo tuh yang bitch!
Blweeekkk...!”
“Eh Dil
jaga yah omongan lo!”, seru Dinda yang sudah sangat sewot pada Dila.
“Haduuuh
Dii, ngapain sih lo belain dia? Nyadar nggak sih lo? Dia itu penghambat
hubungan elo sama Dika. Hahahaha tapi yaaah, wajar aja sih lo kan emang B E G O
ahahahah...”
BUGG !!
“Haaaaaaakkkhhhanjinggg!!!”,
Dila menjerit.
“Udah
Diii, udaaah !!”, seru Dina yang tiba-tiba muncul dan menarik Dinda.
PLAKK
!!
“Aaaakhhh
bangsat lo semuah! BITCH !!”, kemarahan Dila semakin menjadi-jadi begitu Rena
menyusul menamparnya di bagian yang sama dengan yang ditonjok oleh Dinda.
PLAKK
!!
Dila
membalas Rena dengan tamparan yang lebih keras. Rena malah memukul rahang Dila.
Keributan terjadi, semakin banyak pula yang mengerumuni mereka. Dinda yang
ditahan oleh Dina hanya bisa menendangi kaki Dila. Dila juga membalas itu tapi
Rena membuatnya semakin gila.
Dina
semakin panik, “Riii bantuin guee...”
“Apaan
sih biarin aja dulu biar tau rasa nih cewek gila.”
“Aduh
Rii, entar bisa masuk BP. Lo mau?”
“Ah
i.., iya sih...”. Tari kemudian ikut menahan Dinda. “Wooii bantuin misahin!!”,
ujarnya pada orang-orang.
Tiba-tiba
pintu terbuka, pandangan orang-orang langsung beralih. Mereka yang berdiri di
sekitar pintu langsung berlarian membuka jalan. Ternyata Dika datang.
“WOI !
Apaan nih? Berenti nggak?!!”, seru Dika.
Rena
terdiam, namun Dila langsung menjambak rambut Rena. Perkelahian berlanjut, Dika
langsung memisahkan keduanya meski dirinya menjadi korban salah pukul.
“Woii
udaah ! Rena sadar, Renn!! Aaakhww!”
“Anjing
lo! Babiii..!”, hardik Dila begitu lepas dari Rena.
“Woi
jaga mulut lo!”, seru Dika dengan nada ketus.
“Apa
juga lo? Lo kira cewek lo itu apa? Sama ajah begooo!”
“Gue
nggak peduli sama lo! Pergi gak lo! Jangan ganggu kita lagi!”
“Gue
nggak mauuuhh!! Ahahahah dasar cowok begoo! Cewek-cewek bangsat lo ini sama
ajah semuah! Munafik cuihhh sok baik depan lo aaahahahahh...”
“Heh
Dill gilaaa! Lo nggak usah ngomong gitu! Itu semuah bukan urusan lo kamprett!”,
seru Dinda.
“Ahahahahh
nggak usah ngomong loh!! BITCH!
“Eh
diem lo yah!”, seru Rena yang kembali emosi.
“Ahahahah
Dika lo liat tuh kelakuan cewek-cewek yang lo bangga-banggain! Mereka nggak ada
bedanya sama gueeh, mereka sama aja jalang! MUNAFIK lo semuah!”
Emosi
sudah mulai merasuki Dika, namun dia langsung menarik Rena dan Dinda pergi dari
tempat itu. Dia tidak ingin menjadi seorang pecundang yang bertengkar dengan
perempuan.
“Woooiiih
mau kemana looh?! Ahahahah dasar pengecut lo anjing!”
Pintu
dengan cepat ditutup kembali. Pengurus Mading lainnya mendekati dan menenangkan
Dila, meski resikonya mereka terkena sisa emosi Dila yang tidak terkendali.
@@@
Antara Kita
“Sejak kapan lo
jadi berantem?”
“Baru kali ini
Dik...”
“Hmh sorry.”
“Kenapah?”
“Karena lo harus
ada dalam masalah ini.”
“Hhaa ini bukan
salah lo kali, dan bukan salah siapa-siapa selain Si Miss Keke itu ishh...”
“Udah udaah...
Hmhhh...”
Rena terdiam.
Kemudian menoleh dan memandangi wajah Dika. “Dik, gue mau nanya sesuatu. Tolong
lo jawab yang jujur yah...”
“Hmmm... lo mau
nanya apa?”
“Hmhhh... hhhh
sebenernya udah lama gue mau nanya ini ke elo, tapi gue nggak brani Dik. Apa...
eloo..., hmmm...”, bibir Rena bergetar, sulit untuk berbicara, namun akhirnya
diberanikan, “apa elo sukaa.. sama Didi?”
Dika terdiam,
menunduk. Suasana menjadi hening. Waktu jadi terasa begitu lama bagi Rena. Dia
ingin tahu, tapi tidak ingin. Dia penasaran, tapi takut mendengar kenyataan
yang mungkin saja akan membuatnya serasa ingin lari dari kenyataan. Semakin
lama, Rena semakin ingin menutup telinganya. Dia sudah tahu apa yang akan
dikatakan oleh Dika, tapi dia tidak ingin tahu dulu. Dia tidak ingin mengiyakan
apa yang ada di pikirannya, dia ingin mendengar kepastian dari Dika. Tapi dia
tidak siap, hanya ingin tahu. Tidak, dia benar-benar tidak siap. Rena tidak
ingin harus berlari, tidak seharusnya Rena jatuh ke bukit karang. Dia tidak
ingin tahu tapi perlu untuk tahu.
“Iyah.”
Satu kata itu,
satu kata yang begitu singkat tapi sangat jelas. Waktu yang tadinya begitu
lama, kini seakan terhenti. Tatapan Rena kosong pada Dika, dan tiba-tiba air
matanya keluar dan mengalir di pipinya. Tubuhnya tiba-tiba lunglai. Semua
tulang-tulangnya seperti berubah menjadi tulang rawan. Aliran darahnya terasa
begitu jelas bersama detak jantungnya yang semakin pelan. Remuk.
Tidak begitu
lama, Dika mengangkat kepalanya. Menoleh dan mendapati Rena sudah bagai cuci
muka dengan air mata. Dika langsung memeluk Rena, dan Rena mulai terisak.
Terisak semakin jelas bersama tubuhnya yang bergetar.
Tidak ada
kata-kata lagi, keduanya berdiam dalam pelukan, disaksikan langit malam yang
hampa tanpa tampaknya bulan dan bintang. Dinginnya malam tidak terasa lagi,
mereka telah dihangatkan oleh elegi. Tak lepas pula air mata itu dari Dika,
meski dirinya berusaha kuat.
@@@
Rena duduk
terdiam. Begitupun dengan orang yang kini duduk di hadapannya, Dinda. Rena
tampak begitu pucat, tatapannya kosong, lingkar gelap dan lengkung jelas di
bawah mata, beberapa garis berbekas di pipinya, itu efek bantal yang
menemaninya di hari-hari terakhir ini.
“Rena...”
Rena mengangkat
kepalanya, merespon Dinda.
“Lo baik-baik aja
kan?”
“....”
“Rena..., ada
apa? Apa yang udah terjadi sama lo? Apa yang udah buat lo jadi kayak gini? Lo
sakit apa Ren?”
“....”, Rena
menggeleng pelan.
“Hmhhh Ren, lo
nggak biasanya kayak gini. Gue tau pasti ada sesuatu yang berat banget bagi lo
sekarang. Sampe-sampe udah dua hari lo nggak masuk sekolah. Lo kenapa Ren? Apa
yang mau lo ceritain ke gue?”, ucap Dinda dengan tenang, dirinya dapat
merasakan begitu duka perasaan Rena saat ini.
“Gue titip
kebahagiaan seseorang buat lo Dii...”
“Ah? Maksud lo
apa Ren?”
“Dika...”
“....”
“Dia udah milih
elo...”
Dinda hanya diam
menelan ludah perlahan.
“Slamet yah
Dii... Gue mohon sama elo untuk ngebahagiain dia, jaga hatinya... Gue tau lo
juga sayang sama dia, dan gue nggak mau jadi penghalang buat kebahagiaan
kalian...”
“Ren, lo nggak perlu
ngelakuin ini semua. Dika juga sayang sama elo, gue bisa liat itu. Lo juga udah
terlebih dahulu sama dia, kalian cuma sempat terpisah dan sekarang saatnya
untuk kalian nyatu lagi...”
“Lo salah Dii,
emang perpisahan waktu itu udah jadi tanda kalo gue sama Dika emang udah harus
pisah. Gue aja yang ngelawan takdir dan datang ke sini... Kalo aja gue nggak
dateng, kebahagiaan kalian nggak bakal tertunda. Dan gue udah nggak mau lagi
ngelakuin kesalahan yang sama, gue nggak mau nyakitin orang yang gue sayang...
Tolong Dii...”
Dinda terdiam
sejenak. “Gue nggak tau harus bilang apa Ren...”
Dika merenggangkan tubuh Rena dari pelukannya,
kemudian menghapus air mata di pipi Rena. Meski air matanya ikut menetes.
“Ren..., ini udah jadi cerita buat kita. Saat
ini emang aku akuin, aku suka sama Didi. Cuma dia yang bisa buat aku ngerelain
kepergian kamu waktu itu. Dan saat ini, aku harap kamu bisa ikhlas. Apapun yang
terjadi, aku tetap sayang sama kamu... Kamu itu tetep cinta pertama aku, orang
pertama yang udah ngisi hati aku. Kamu tetep cewek terbaik. Biarpun nanti kamu
liat aku sama Didi, kita tetep bisa sama-sama. Aku tetep bakal ngejagain kamu,
nemenin kamu, selayaknya adik aku... Maafin aku karena aku udah nyakitin hati
kamu lagi. Tapi Ren, kamu harus yakin satu hal, aku masih ada buat kamu dan aku
mau liat kebahagiaan kamu dengan orang-orang yang kamu sayang, termasuk kalau
suatu saat nanti kamu nemuin seseorang yang juga bisa jadi sandaran kamu...
Rena, hidup ini belum berakhir. Masih ada banyak cerita dan teka-teki Tuhan
yang belum kita jalani. Semua ini proses, untuk kebahagiaan kita semua di
akhir...”
Air mata Rena mengalir semakin deras. Tak
mampu terhapus oleh tangan Dika. Getaran tubuhnya semakin kuat. Dika
menenangkan diri, juga memegang tangan Rena.
“Ren..., kamu jangan sedih... Aku mohon, kamu
jangan nangis, kamu harus ikhlas. Kamu harus jadi cewek yang tegar. Meskipun
sikap kamu bisa nipu banyak orang, tapi bukan aku. Aku selalu tau apa yang ada
dalam hati kamu Ren... Aku mohon dengan sangat sama kamu, ikhlas sama ini semua
Ren... Aku janji sama kamu, aku bakalan tetep di deket kamu, sebagai kakak
kamu... Kamu harus bisa jadi lebih dewasa... Kita nggak boleh kalah sama
masalah... Harus tetap semangat, selalu
senyum... Aku yakin pasti bisa...”
Dika memegangi wajah Rena yang basah, kemudian
perlahan menyentuh kening Rena dengan bibirnya. Pelan dan lama. Bibir Dika
terasa bergetar. Nafasnya begitu terasa, membuat Rena semakin tenggelam dengan
perasaannya, namun kecupan itu bisa merasa tenang perlahan-lahan.
Rena memeluk tubuh Dika. Menyandarkan
kepalanya di dada orang yang dikasihinya itu. Membiarkan dirinya hanyut bersama
penenangan Dika. Menutup matanya yang sudah lelah.
Rena teringat
dengan kejadian malam itu bersama Dika, air matanya kembali mengalir, namun
dengan cepat dihapusnya.
“Ren... Lo jangan
nangis... Gue emang belum bisa ngomong apa-apa...”
“Nggak kok Dii,
nggak pa-pa... Gue juga nggak bisa maksa kan... Gue cuma bisa berharap lo bisa
ngejaga hatinya Dika.”
“Iyah Ren, lo
juga...”
Rena tersenyum.
Begitupun dengan Dinda. Mereka kemudian berpelukan hangat. Suasana cafe yang
tenang membuat perasaan keduanya jadi lebih baik.
@@@
Dinda
mengganti-ganti channel televisi, tidak jelas ingin menonton siaran apa. Malam
sudah semakin larut, namun dirinya belum juga bisa tidur. Pikirannya selalu
teringat pada pembicaraannya tadi sore bersama Rena.
“Belum tidur?”
Dinda menoleh,
ternyata Nanda. “Belum ngantuk. Lo?”
“Gue denger suara
tivi, jadi gue bangun. Nggak bisa tidur yah? Ada apa?”, tanya Nanda yang
langsung duduk di samping Dinda.
“Sejak kapan lo
peduli sama gue?”
“Ihh ditanya
baik-baik juga...”
“Hmhh brisik
lo...”
“Emang lo kenapa?
Apa susahnya ngobrol sama gue? Jangan sensi mulu...”
“Hmhhh tauk.”
“Dika?”
Dinda terdiam.
Kemudian menoleh pada Nanda.
“Hmhhh..., pasti
ada hubungannya sama cewek yang jalan sama dia waktu itu, siapa lagi namanya?”
“Rena.”
“Yap, Rena. Dia
itu sahabatnya Dika kan?”
“Iyah. Ah udah ah
ngomong sama lo panjang, lo kan nggak tau apa-apa...”
“Seenggaknya gue
tau kalo Rena itu punya rasa ke Dika, dan gue rasa Dika juga yaaaah hmmmm
kayaknya sih juga punya rasa sama Rena...”
“Kok lo tau?”
“Tatapan and also
sikap. Bener kan? Lo cemburu?”
“Bukkaaan... Iiih
sok tau! Hhhh...”
Akhirnya Dinda
mau menceriterakan semua yang kini mengganggu pikirannya pada Nanda. Nanda
begitu menyimak ceritera adiknya itu dari kata per kata. Pembicaraan yang
secara tidak langsung mampu mendekatkan sepasang saudara itu dalam larutnya
malam.
“Hmmm ribet juga
Dii... Tapi menurut gue yah, saat ini kalian semua butuh waktu untuk tenang
dulu. Lo nggak usah ambil keputusan dulu.”
“Terus gimana?
Apa gue diem aja gitu kayak nggak terjadi apa-apa?”
“Bukan gitu juga.
Lo deketin diri sama Rena, seru-seruan sama dia, sama Dika juga. Ini buat ngobatin sakitnya Rena,
tapi juga dia bisa liat kebahagiaan Dika. Oh iya, sebelumnya lo mesti yakinin
dia kalo lo mau dia bersikap kayak biasa aja, nggak usah canggung apa-apa...”
“Hmhhh semoga
Rena bisa ngerti, semoga kita semua bisa ngejalanin ini... Hufthhh gue capek
banget Nan...”
“Iyah iyah, gue
ngerti... Udah yaaah, yang jelas lo coba aja dulu kayak gitu, oh iya jangan
lupa diomongin sama Dika, okeh?!”, ujar Nanda sambil mengacak-acaki rambut
Dinda.
“Hhee siap boss!
Thank you yak!” Dinda langsung berdiri dan berjalan menuju kamarnya dengan langkah
semangat.
“Yeee giliran
udah seneng, main tinggal aja...”
“Hhee gue ngantuk
bro... Hoaahm...”
“Asal lo aja
deh...”. Nanda hanya geleng-geleng kepala lalu mengambil remote TV dan
mengganti channel.
Dinda
menghentikan langkahnya, menoleh pada Nanda. Malam ini bukan kali pertama dia
menyadari kebijakan kakaknya itu. Meskipun dirinya belum bisa bersikap baik,
namun sebenarnya hatinya sangat ingin bersikap baik. Dirinya benar-benar telah
salah menilai Nanda selama ini, dan sarannya barusan telah membuat Dinda
semakin yakin.
Saat ini memang belum saatnya mengambil
keputusan. Meski memang Rena sudah memohon, namun dirinya masih begitu rapuh.
Belum ada kepastian bahwa dirinya mampu untuk ikhlas dengan keadaan saat ini.
Belum ada bukti bahwa dirinya mampu menjalani kenyataan ini dengan lebih baik.
Bagaikan tongkat, begitu kokoh oleh kasat
mata. Tapi siapa yang tahu kalau pembuluh kayunya sudah dimakan rayap. Siapa
yang tahu kalau begitu tongkat itu jatuh, malah hancur berkeping-keping. Karena
itu bukan tongkat, itu tidak lebih dari kayu kering yang sudah dimakan rayap.
@@@
Bahasa Hati
Di saat ku pergi,
kau juga pergi.
Beradaptasi
dengan kenyataan.
Sepahit buah
mengkudu, sepekat getahnya, dan sekasar permukaannya.
Kisah kita telah
berakhir?
Memang sudah kuakui
sejak dulu.
Namun apa inikah
yang benar-benar akhir?
Aku memang pernah
pergi,
Namun aku tidak
pernah benar-benar meninggalkanmu.
Aku ada di
belakangmu, melihatmu dari sisi yang tak kau sadari.
Kau memang pernah
pergi,
Namun kuyakin tak
benar-benar meninggalkanku.
Entah darimana
keyakinan itu.
Hanya saja aku
benar-benar yakin.
Jika memang
inilah akhirnya,
Aku mengalah,
namun bukan benar-benar mengalah.
Aku hanya
menyayangimu.
Yang kutahu
tuntutan sayang adalah keikhlasan.
Mungkin sudah
berkali-kali kukatakan hal itu.
Aku pun tak
begitu yakin akan sanggup.
Namun aku yakin
akan berusaha sanggup.
Kembali aku juga
bukan meninggalkanmu,
Justru aku
merasuk kepadamu.
Bukan sebagai
pasanganmu, namun sebagai jiwamu.
Akira Renata
Sinaga
Tahukah kau?
Bagaimana aku terjatuh saat kau tak lagi bisa kusentuh?
Bagaimana aku rapuh saat kau mengatakan kata pisah?
Pelukan terakhir yang tak ingin kulepas.
Kecupan terakhir yang kehangatannya terasa mengalir di darahku.
Dan saat kau melambaikan tangan, senyumku menyertaimu.
Senyum harapan agar kau selalu baik disana.
Hingga suatu saat kau datang kembali dan berjanji untuk tidak
pergi.
Hariku berjalan, namun aku mati.
Rasanya seperti tidak ada darah.
Sakit namun tidak terasa sakit.
Aku tidak lagi menangis.
Mungkin aku sudah mati rasa.
Hingga saat-saat itu datang.
Entah sejak kapan awal mulanya.
Pertama kali aku melihatnya.
Dingin! Dika langsung membuka matanya. Kaget
setengah mati dengan air yang tiba-tiba tersiram deras tepat di wajahnya.
“Heh! Bangun gak lo banguuun!”
“Apaan sih lo?!”
“Ini lapangan buat latihan! Bukan buat tidur!”
“Ya tapi nggak gitu juga cara banguninnya...”
“Ihh lo aja yang nggak nyadar, gue udah
bangunin baek-baek tapi emang tidur lo kayak mayat, ya udah...”
Sejak itu ku benar-benar membencinya.
Namun karena itu pula aku memerhatikannya.
Gerak-geriknya, dan tanpa sadar aku telah berubah mengaguminya.
Kini kau kembali.
Awalnya kupikir aku akan melompat girang.
Namun saat melihatmu, ------- datar -------
Memang aku bahagia, memang aku tersenyum.
Memang masih terasa hangat.
Hanya saja tidak seperti yang kuduga.
Aku sudah terlanjur tercuri olehnya.
Nandika Pratama
Aku bukan penulis.
Aku tidak pandai merangkai kata.
Namun kali ini aku benar-benar ingin menulis.
Menuliskan apa yang kurasakan saat ini.
Apa ini duka? Luka? Sedih? Kecewa? Atau apa?
Aku tidak mengerti.
Kadang aku merasa ini lebay.
Tidak seharusnya aku ada dalam kondisi seperti ini.
Terlalu rumit!
Kadang aku serasa ingin menyerah.
Namun ternyata tidak semudah itu.
Aku tidak bisa hanya duduk diam.
Aku tidak tahu harus bertindak apa, dan bagaimana.
Satu yang kusyukuri.
Kisah ini menyadarkanku pada satu hal.
Cinta.
Entah apa yang telah terjadi antara aku dan dirinya.
Aku sama sekali tidak tahu.
Awalnya kupikir rasaku tidak mungkin akan sejauh ini.
Bahkan aku sendiri sangat tidak menyangka.
Ini diluar logikaku.
Kupikir ini hanya first love, dan akan jadi sekedar first love.
Aku sudah salah besar.
Rasaku sudah bercabang, berakar, menjadi pohon yang kokoh.
Setidaknya aku bersyukur dengan hal ini,
Tanpa kisah ini mungkin aku takkan pernah menyadarinya.
Betapa aku takut kehilangan,
Betapa aku ingin mempertahankan.
Meski mungkin akan mengorbankan seseorang yang masih putih.
Cinta itu ternyata membuat kita ingin ego.
Tapi sampai kapan?
Sampai kapan kisah kita harus berjalan seperti ini?
Layaknya aku di persimpangan.
Antara mempertahankan cinta dan egoku,
Menuntut kebahagiaan?
Atau merelakan takdir yang mengambil keputusan.
Menunggu sesuatu yang belum jelas arahnya.
Adinda Putri
@@@
Cookies
..dert..dert..
Handphone Dika
bergetar.
..dert..dert..
Handphone Rena
bergetar di waktu yang sama. Ternyata ada pesan dari orang yang sama-Dinda.
Ke rumah gue yuk.
Gue tunggu yah.
Didi :)
|
@@@
“Yeeee akhirnya kalian dateng juga... Tau
nggak kenapa gue aja ke sini?”, ujar Dinda dengan semangat.
“....”, Dika dan Rena hanya menggeleng pelan.
“Iiiihh lesu banget sih lo pada! Gue mau
ngajakin kalian bikin kue bareng gue. Mau? Mau dooong, mau yaah, mau laaah
hehe... Ya udah yuk.”
Dika dan Rena saling berpandangan, kemudian
menoleh kembali pada Dinda. Tangan mereka sudah ditarik oleh Dinda menuju dapur
rumah.
Bahan-bahan kue sudah tertata rapi di atas
meja. Beberapa buku resep juga tidak absen. Dengan semangatnya, Dinda langsung
membuka-buka buku resep dan menemukan halaman yang dicarinya.
“Tadaaa...! Gue mau buat cookies, kayaknya sih
gampang trus enak lagi. Gimana?”
“Ah? Hmmm terserah lo aja deh Dii...”, jawab
Dika.
“Kalo lo Ren?”
“Iya, gue juga terserah aja...”
“Okkey! Ya udah yuuk... Dika, tolong ambilin
mangkuk yang itu yak...”, ujar Dinda bersemangat sambil menyalakan mixer.
Dika membawakan mangkuk yang diminta oleh
Dinda, “Nih Dii...”, kemudian membaca resep Cookies yang akan mereka buat.
“Kok pada diem aja siih? Ren, lo tolong
bantuin gue tuangin tepungnya yah abis ini...”
Dinda mencampur telur, margarin, dan butter
dengan mixer. Namun Rena dan Dika masih seperti patung. Tidak lama kemudian,
Dika tersenyum. Sepertinya dia sudah mengerti dengan tujuan Dinda.
“Eh tuang sini aja biar gue yang nyampurin
tepung...”, ujar Dika sambil menyodorkan mangkuk pada Dinda.
Dinda memandang Dika, tersenyum, begitupun
sebaliknya. Dinda kemudian melakukan yang disuruh oleh Dika.
“Eh Ren sini, jangan diem ajaa...”, ujar Dika
sambil menarik Rena mendekat padanya.
“Gue mesti ngapain...”, Rena masih lesu dan
bingung harus berbuat apa.
“Udah Ren, bantuin aja si Dika...”, jawab
Dinda sambil tersenyum dan menuangkan adonan.
Ternyata tidak butuh waktu yang terlalu lama
untuk mengubah suasana menjadi hangat. Mereka bertiga sudah sama-sama sibuk
sambil bercanda.
“Eeehhh tangan gue lengkeeet!”, ujar Dika
sambil mengangkat tangannya yang dipenuhi adonan.
“Ahhahahahahh...!”, Dinda dan Rena hanya
menertawai Dika sambil menghindar.
“Eh yang bener dong ini gimana?”
“Hahahah tambah tepung kali...”, saran Rena.
Dika pun langsung menaburkan tepung ke mangkuk
adonannya, Dinda langsung menyenggol tangan Dika dengan sengaja hingga tepung
di tangan Dika bertebaran di udara.
“Ohok ohokk... Didi!!”
Dinda dan Rena langsung berlari menghindar
dari Dika sambil tertawa puas. Dika langsung mengejar keduanya dengan
memanjangkan tangannya yang penuh adonan mengarah pada mereka. Akhirnya yang
menjadi korban selanjutnya adalah Rena. Wajahnya dipenuhi adonan dari jari-jari
Dika. Rena balik mengejar hingga Dinda ikut merasakan yang sama.
“Heh heh..., udah kuenya ga jadi-jadi
hahaha...”, ujar Dinda sambil berlari kembali ke adonan.
Mereka pun melanjutkan pengerjaan adonannya,
hingga menjadi adonan yang siap dibentuk. Kali ini mereka malah berdebat dalam
membentuk adonan. Hingga adonan yang dibentuk menjadi 3 macam.
“Liat niiih, punya gue tuh lebih keren... Lucu
gitu bentuk eskpresi-ekspresi orang, blweeekk...!”, ujar Dinda dengan meledek.
“Iiihh punya gue lebih bagus. Bentuknya jelas,
bintang. Secara tuh yah bintang kan cantik, kalo diliat aja bisa bikin hati
kita tenang. Jadi kalo makan Cookies gue, kali-kali aja yang tadinya badmood
bisa jadi goodmood heheh...”, terang Rena memuji Cookies-nya.
“Heh lo pada tuh ribet yah, punya gue dong,
simple.”
“Halaaah, simple sih simple, bulat gitu
hahahaha...”
“Yeh biarin... Kayak hidup gitu. Kita mesti
yakin kalo hidup ini simple. Kalo mau manis yah tambahin gula dengan
pikiran-pikiran positif dan belajar jadi orang bijaksana, kalo bosan yah
tambahin kacang dikit biar ada gregetnya. Dan kalo mau mulus-mulus aja yaaah
kadarnya dikasi standar aja, nggak usah cari masalah atau cari sensasi...”
Dinda dan Rena terdiam. Perkataan Dika barusan
benar-benar bijak. Harusnya mereka juga bisa hidup seperti Cookies. Harusnya
mereka bisa membuat hidup selayaknya membuat Cookies. Jalan hidup mereka ada di
tangan mereka masing-masing. Seperti proses dan hasilnya, sangat berpengaruh
dari bagaimana mereka memutuskan dan bertanggung jawab pada keputusan itu.
Hidup ini semestinya bagaikan potongan
Cookies. Renyah, manis, dan jadi teman yang baik saat senggang. Mengapa kita
tidak menjadi seseorang yang selalu serenyah Cookies dengan bersikap ramah pada
kehidupan, manis dengan selalu berpikiran positif dan bijaksana, serta menjadi
seseorang yang senantiasa ikhlas menebar kebahagiaan pada orang-orang di
sekitar kita?
Rena tampak sibuk menyusun Cookies di stoples.
Dika terdiam memandangi Dinda yang sedang memilih DVD film yang akan mereka
tonton bersama. Dika melangkah, mendekati Dinda.
“Dii...”
“Hmm?”. Dinda menoleh pada Dika.
“Thanks yah...”
“Untuk?”
“Untuk semuanya...”
Dinda tersenyum, “Gue juga makasih...”
“Untuk?”
“Untuk semuanya... Makasih banget yah Dik...”
Dika turut tersenyum. Kemudian memilih DVD
yang sudah bergeletakan di karpet. “Kita nonton ini aja...”
@@@
Bestfriend
“Haaaaaaah??!” Tari dan Dina memasang tampang
super polos begitu mendengarkan penjelasan Dinda.
“Yeeeyy nggak usah sampe masang muka bego gitu
kalii!”, ujar Dinda sambil mencubiti pipi kedua sahabatnya.
“Dii, lo kok nggak pernah cerita apa-apa? Kita
tuh kesannya kayak ketinggalan banget gituh...”, protes Tari.
“Bukannya gitu... Kemaren-kemaren gue emang
nggak sempat aja nyeritain ke kalian. Lagian ini prosesnya cepet banget...”
“OMG ! So, what’s your decision?”
“Yaaah yang kayak gue bilang tadi...”
“Hubungan lo sama Dika? Trus Nanda? Trus Rena?
Aaaah gue pusing...”, Dina bertanya bertubi-tubi dengan tampang kebingungan
“Dika, hubungan gue sama diaa baik-baik aja.
Gue udah nggak mikir bakal pacaran sama dia atau enggak. Bagi gue status itu
nggak penting, gue banyak blajar dari Nanda. Sekarang gue juga udah ngakuin
Nanda, dia orang yang hebat. Gue nggak nyangka dia ternyata kayak gitu. Kalo
Renaa..., dia baik, orang yang sangat tulus... Gue juga nggak nyangka di balik
sikapnya yang kayak gitu, dia punya rasa yang dalem banget sama Dika...
Hhhh..., pokoknya ini semua udah jadi pelajaran yang hebat banget buat gue...”,
terang Dinda dengan senyum tulusnya sambil membayangkan ketiga sosok yang
dibicarakannya.
“Oooouhh gue juga nggak nyangkaa... Rena,
cewek yang sempet nggak gue suka ternyata kayak gitu... Dan Nanda yang coooool
banget itu ternyata kayak gitu...”, ucap Tari dengan pelan dan tenang.
“Hhhhh... Gue bener-bener ada dalam segmen ini
kan Dii? Gue nggak nyangka kalo sahabat gue punya kisah hidup kayak gini...”,
tambah Dina.
“Ishhh daritadi prasaan ngomongnya nggak
nyangka atau kayak gini kayak gitu. Udah aahhh bubar bubaaarr...!”, ujar Dinda
yang merasa situasi mulai berlebihan.
“Iiiihh Didi...”
“Udah yaaah, yang penting sekarang ceritanya
udah kelar. Semua udah selesai. Inilah akhir ceritanya okeeh...”
“Tapi Dii, bagi gue masih ngegantung...”
“Gantung apa? Jemuran?”
“Iiihh gue serius Dii... Masa hubungan lo sama
Dika gini aja? Nggak ada yang berubah gitu, kurang seruuu!”
“Appa siiihh... Emang harus yah? Yah kalo
emang ini yang terbaik?”
“Aaah tapi kan Rena juga udah ngeikhlasin
hubungan lo sama Dika... Dia sendiri kan yang sampe bela-belain ngajak ketemuan
di Cafe buat ngebicarain itu...”, ujar Tari yang merasa tidak puas.
“Hhh iyah gue tauu... Tapi menurut gue ini tuh
masih terlalu cepat buat ngambil keputusan. Slow...”
“Tapi Dika juga udah nyata-nyata milih elo
kaan...”
“Iyah Non, tapiii... hhhh susah yah...”. Dinda
menghela nafas panjang, raut wajahnya menjadi cemberut. Dia sendiri juga
bingung, namun dia yakin dengan apa yang dikatakannya.
“Udah Rii... Didi emang bener... Nggak harus
kan semuanya berakhir dengan kata pacaran? Ini semua tergantung dari
merekanya... Kalo Dika mau yaah entar juga nembak...”, Dina menetralkan.
“I know that. Tapi sampe kapan Adinda Putri
harus berhubungan tanpa status dengan Nandika Pratama? Yang gue tau nih,
perasaan tuh nggak pernah salah. Kalo emang Rena yakin sama keputusannya, udah
nggak seharusnya ada penghalang untuk nyatuin Didi sama Dika. Mau sampe kapan
gitu? Secara ujung-ujungnya juga mereka emang buat disatuin kan? Apa yang salah
dengan kepastian status?”
“Tarii...”
“Dinaa...”
“Hhhh udah udaahh... Pasti semuanya bakal ada
waktunya kok... Nggak usah dipikirin dehh...”
“Mck...”
Tari masih tidak puas. Dinda dan Dina saling
berpandangan. Mereka hanya berdiam hingga bel masuk mengisyaratkan perpisahan
mereka pagi itu.
@@@
Suasana kelas XI IPA 1 begitu tenang. Seisinya
serius pada satu titik yaitu materi Biologi yang dibahas oleh Pak Fahrian.
Diam-diam Dina terus memperhatikan laki-laki duduk tidak jauh di depannya–Dika.
Dia masih teringat pada pembicaraan tadi pagi bersama Dinda dan Tari. Baginya,
kisah yang menimpa sahabatnya itu adalah kisah yang sulit dipercaya untuk ada
dalam kehidupan anak kelas 2 SMA.
“Din, lo kenapa sih dari tadi gue liat ngelirik
Dika mulu...”, tegur Mitha–teman sebangku Dina.
“Ah? Hmm nggak pa-pa kok...”, jawab Dina
sedikit terkejut.
“Oohh... Eh Dika sama Didi udah jadian apa
belom sih? Terus Rena gimana?”, kembali Mitha bertanya, kini dengan lebih
penasaran.
“Mereka nggak pacaran”, jawab Dina singkat.
“Kalo Rena?”
“Kalo Rena hmm..., gue nggak tau gimana
ngejelesinnya... Yang jelas dia itu cuma kayak sodaraan gitu sama Dika...”
“Sodara? Mereka keluarga?”
“Bukaan, mereka deket, jadinya nganggep kayak
sodara gituu...”
“Ooohh kalo gitu kenapa sih Didi nggak pacaran
aja sama Dika? Mereka udah cocok banget...”
“Nadia Deyna Soraya! Miftah Az Zahrah!”
Dina dan Mitha seraya langsung menghadap ke
depan. Pak Fahrian hanya geleng-geleng kepala melihat kedua muridnya itu.
Perhatian murid yang lainnya langsung mengarah pada mereka berdua, termasuk
Dika.
@@@
Bel pergantian jam pelajaran sudah berbunyi.
Pak Fahrian bergegas keluar dari ruangan. Dina dan Mitha pun langsung
menurunkan kaki dan duduk di bangku paling depan. Setidaknya itu tempat paling
dekat untuk beristirahat. Ini pertama kalinya mereka dihukum berdiri dan
mengangkat satu kaki di depan kelas. Untungnya bukan murid pertama di XI IPA 1.
“Tumben lo berisik di kelas...”, ujar Dika
begitu Dina duduk di depannya.
“Ah? Mungkin lebih tepatnya baru kedapetan
hehe...”
“Oohaha...”
“Hmm Dik...”
“Yah?”, Dika menoleh pada Dina yang sudah
memandangnya.
@@@
Dinda dan Tari sudah duduk manis di bangku
kantin. Pandangan menoleh ke sekeliling mencari wujud seseorang, siapa lagi
kalau bukan Dina. Tari mengaduk minumannya, mengecek handphone-nya.
“Udah gue SMSin tapi nggak dibales...”
“Ooohh ya udah mungkin lagi sibuk...”
“IPA 1 gitu loh, maklum hahaha...”
“Ahaha gue nggak nyangka yah, kita bisa
berteman sama cewek sepintar Dina hahah...”
“Hahah tau. Inget nggak waktu pertama masuk
SMA?”
“Inget, dan Dina mau duduk di sebelah gue aja
pake minta izin bilangnya ‘hmmm maaf, aku boleh nggak duduk di sini?’ hahahah
polos bangeeet...”, ujar Dinda yang sempat memeragakan cara bicara Dina.
“Hahah terus kalo kita brisik dia suka bilang
‘huuuustt..., hargain guru di depan...”, tambah Tari.
“Ahahahah tapi lama-lama dia jadi agak
cerewet, tapi cerewetnya garing atau jadi oon hahaha...”
“Hahaha terus lo suka marahin dia!”
“Haha iya... Hhhh Dina itu terlalu baik...”
“Sangat. Dia sabar banget sampe bisa bertemen
sama kita hahah...”
“Hmm iyah... Eh tapi tumben dia nggak ada
kabar. Biasanya SMS kalo lagi sibuk. Nggak mungkin juga nggak punya pulsa,
secara pulsa belom abis aja dia udah ngisi lagi...”
“Humn samperin aja yuk. Ya udah habisin makan
lo...”
@@@
Dinda dan Tari berjalan santai menuju kelas XI
IPA 1. Sesekali mereka melihat ke sekitar, mungkin saja bisa mendapati sosok
Dina. Tapi ternyata tidak. Beberapa pasang mata memandangi mereka. Dinda hanya
cuek, tidak dengan Tari.
“Lo nyadar nggak kalo diliatin?”
“Biasa ajah...”
“Tapi Dii, kita tuh bener-bener diliatin...
Emang ada yang salah yah? Coba liat gue, rambut gue berantakan? Atau ada sambel
di gigi gue?”, tanya Tari dengan berusaha mendapatkan pandangan mata Dinda.
“Aduh Rii, lo tuh baik-baik aja. Cantik kok.”
Tari diam. Namun matanya melirik-lirik pada
siswa-siswi lain yang mereka lewati. Langkah kaki terhenti saat Tari dan Dinda
berdiri tepat di depan pintu kelas XI IPA 1.
“Apaan nih? Kita nggak salah ruang kan?”, tanya
Tari heran dan langsung menoleh ke kiri dan kanan. Tidak ada siapa-siapa lagi
di dekat mereka, dan memang benar ruang di depan mereka berdiri adalah ruang
kelas XI IPA 1.
Dinda terdiam dan tampangnya berubah jadi
bingung, sama seperti Tari. Mereka heran dengan kondisi pintu yang sudah dihias
Bunga Anggrek. Tapi mereka yakin tidak salah ruang. Dinda memberanikan diri
untuk membuka pintu. Dinda dan Tari memasuki kelas, ternyata tidak ada
siapa-siapa. Malah Bunga Anggrek kembali menjadi pemandangan dengan berjejer di
lantai.
“Ada apa sih Di?”, tanya Tari bingung.
“Gue juga nggak tau... Bingung gue. Balik
yuk!”
Dinda langsung berbalik badan menuju pintu
kelas dan diikuti oleh Tari.
“Didi...”, panggil Tari.
“Kenapa?”
“Hmmm... Lo suka suka Anggrek kan?”
“Iya, emang napa? Hmh sebenernya gue suka di
sini. Tapi aneh aja...”
Tari mulai mengerti maksud dari situasi ini.
Bunga Anggrek adalah bunga kesukaan Dinda. Namun dia tidak berani mengatakan
yang dipikirannya pada Dinda.
“Hhhh balik yuk ahh... Firasat gue nggak
enak”, ajak Dinda sambil menarik tangan Tari keluar dari ruang kelas.
“Nanana nananana, nanana nananana, nanana
nananana, nanana nananana...
Kuawali hariku dengan mendoakanmu agar kau
slalu sehat dan bahagia di sana, sebelum kau melupakanku lebih jauh, sebelum
kau meninggalkanku lebih jauh.
Ku tak pernah berharap kau kan merindukan
keberadaanku yang menyedihkan ini. Ku hanya ingin bilang kau melihatku
kapanpun, dimanapun, hatiku kan berkata seperti ini,
Pria inilah yang jatuh hati padamu, pria
inilah yang kan slalu memujamu. Oha? Yeah.. Oha? Yeah... Begitu para repper
coba menghiburku...
Nanana nananana, nanana nananana, nanana
nananana, nanana nananana...
Akulah orang yang selalu menaruh bunga dan
menuliskan cinta di atas meja kerjamu. Akulah orang yang kan slalu mengawasimu.
Menikmati indahmu dari sisi gelapku. Dan biarkan aku jadi pemujamu jangan
pernah hiraukan perasaan hatiku. Tenanglah tenang pujaan hatiku sayang, aku
takkan sampai hati bila menyentuhmu.
Mungkin kau takkan pernah tau betapa mudahnya
kau untuk dikagumi. Mungkin kau takkan pernah sadar betapa mudahnya kau untuk
dicintai...
Akulah orang yang kan selalu memujamu...
Akulah orang yang akan selalu mengintaimu... Akulah orang yang akan selalu
memujamu... Akulah orang yang akan selalu mengintaimu...
Mungkin kau takkan pernah tau betapa mudahnya
kau untuk dikagumi. Mungkin kau takkan pernah sadar betapa mudahnya kau untuk
dicintai...
Karena hanya dengan perasaan rinduku yang
dalam padamu, kupertahankan hidup. Maka hanya dengan jejak-jejak hatimu, ada
arti kutelusuri hidup ini. Selamanya hanya kubisa memujamu, selamanya hanya
kubisa merindukanmu, huuuuhhh... huuuuhhh... haaaahhh...”
Dika menaruh menurunkan gitarnya, tersenyum
memandang pada Dinda. “Hmm udah lama banget lagu ini gue nyanyiin buat lo, tapi
nggak pernah berani di depan lo. Dan saat ini, gue ngerasa kalo lagu ini udah
nggak pantes buat lo Dii...”
“Hah? Maksud looo?”, tanya Tari yang sedari
tadi berdiri di belakang Dinda. Awalnya dia ternganga dan kagum, namun
tampangnya langsung berubah.
Dika tersenyum, “iyah... Karena gue nggak mau
selamanya hanya sekedar jadi pemuja rahasia. Gue mau, elo, Adinda Putri, alias
Didi, mau untuk jadi..., huuufhhh..., jadi cewek gue...”
Suasana langsung hening. Dinda dan Tari
terdiam di tempat, tidak bergerak. Namun Tari sadar lebih dulu dan langsung
memegang tangan Dinda.
“Didii...”, panggil Tari dengan berbisik.
“Dii, lo pernah bilang kalo lo mau jadi
seperti Anggrek. Sederhana, apa adanya, dan punya kesan menenangkan. Meskipun
orang menilai lo gimana, tapi gue bisa liat Anggrek di diri lo Dii... Gue harap
lo bisa nerima gue jadi tempat lo bersandar dan hidup sama gue...”
“Ahh? Pacaran maksud lo?”, Dinda akhirnya
membuka mulut. Dia gugup. Meski ini bukan pertama kali Dika menyatakan
perasaannya, Dinda benar-benar gugup.
“I.., iyaa...”, jawab Dika sambil tersenyum
dan takut.
“Hhhh...”
“Didi, lo kenapa? Jawab aja Dii, ayoo...”,
desak Tari dengan suara yang dipelankan.
“Hhhhh guee..., hmmm..., gue mau pipis Dik...”
“Ah? Oh ya udah lo ke toilet aja. Lo juga
nggak mesti jawab sekarang kok...”, ucap Dika yang masih memasang senyum
termanisnya.
“Hokeh...”
Dinda langsung berlari dari hadapan Dika, Tari
langsung panik, mengejar dan menarik tangan Dinda.
“Didi kenapa lo nggak bilang iya ajaaa?”
“Ah aduh gue nggak bisa ngomong depan
diaa...!”
“Ya udah sekarang aja ngomongnya!”
“Hah?” Dinda cemas, bingung, namun
menghentikan langkahnya kemudian menoleh pada Dika, “Dika, okeh!”
“Iya oke...”
“Aduh Dika, maksud Didi oke dia mau jadi cewek
lo!”
“Haah?”. Sekarang Dika malah ikut bingung.
“Gue mau jadi cewek lo Dik, tapi abis gue
pipis yah. Daaahh...”. Dinda kembali berlari menuju toilet. Tari mengekor di
belakangnya sambil tersenyum.
Dika ternganga, dan langsung tersenyum lega.
“Thank you Diii!!”
Dika tidak kuasa lagi menahan kebahagiaannya,
dia melompat-lompat kegirangan. Di saat itu pula riuh suara dari siswa-siswi
lainnya datang mengerumuni Dika. Mereka turut bahagia dan memberi selamat pada
Dika. Dika terus tersenyum, bahkan tertawa kegirangan. Dia tidak percaya dengan
yang barusan didengarnya. Kejadian tadi bagaikan mimpi. Namun memang itulah
yang terjadi.
“Dikaaa...”
Seseorang memanggil Dika dari balik kerumunan,
Dika mengenal suara itu, Rena. Dika langsung berhenti tersenyum, dia sedikit
gugup. Meski hatinya sudah mantap memilih Dinda, namun bagaimanapun juga dia
masih ada rasa canggung pada Rena atas kejadian ini. Rena kemudian muncul di
hadapannya dengan senyum yang merekah.
“Slamet yaaaah...”
Rena langsung memeluk Dika. Sekali lagi Dika
dibuat kaget. Namun ini benar-benar nyata. Dika tidak kuasa menahan senyum
bahagianya dan membalas pelukan Rena.
“Makasih banget Ren...”
Tepuk tangan menjadi keributan, Dina langsung
menghampiri Dika dengan senyum merekah, “Lo hebat Dik!”.
@@@
Mama?
“Eh lo tau nggak gimana ekspresi Didi tadi?
Ahahahahah lucu banget! Coba aja ada nyamuk ato lalat masuk ke mulutnya
hahahah...”
“Eh sialan! Kalo ada di posisi gue, lo juga
pasti bakalan kayak gitu kali...”, timpal Dinda. “Hmm tapi kayaknya gue tau ini
kerjaan siapa...”, Dinda langsung tersenyum menatap Dina, “lo sengaja nggak
nemuin kita supaya bisa mancing kita ke kelas lo kan?”
“Ah? Hhee iya sih, tapi ini rencana Dika
kookk... Bener deh...”
Dinda, Tari, dan Dina berjalan memasuki rumah
dengan santai dan seru membicarakan kejadian hebat tadi. Bi Darsih langsung
berjalan cepat menghampiri mereka.
“Non, ada tamu...”
Dinda langsung menoleh ke sofa ruang tamu.
Setelah jas santai berwarna cokelat dengan bagian kera yang berbulu halus,
rambut tertata rapi, dan dandanan yang senada. Begitulah penampilan seorang
wanita yang kini berdiri di depan matanya. Jelas dia mengenal wanita itu.
Dinda terdiam. Raut wajahnya datar. Wanita itu
berjalan mendekati Dinda dan tersenyum hangat. Namun Dinda tidak bereaksi. Tari
dan Dina saling berpandangan, bingung.
“Apa kabar sayang?”, sapa wanita itu.
Dinda hanya diam, kemudian membuang muka.
Sikapnya itu membuat Tari dan Dina semakin bingung.
“Kita masuk aja yuk...”
“Didi...”
“Kalian masih mau disini? Gue mau ke kamar...”
Dinda langsung melangkah, meninggalkan Dina,
Tari, dan wanita itu. Tiba-tiba dari luar Nanda datang.
“Mamah?”
Tari dan Dina menoleh.
“Mama kok bisa ada disini?” Nanda langsung
mendekati wanita itu dan memeluknya. Wanita itu balas memeluk Nanda dan
tersenyum.
Kini Tari dan Dina mengerti. Wanita itu adalah
Lastri, ibu kandung Nanda dan Dinda. Mereka langsung pergi, menuju kamar Dinda.
“Didiii... Mau sampe kapan?”
“Apanya?”
“Mau sampe kapan lo nggak maafin nyokap lo?”
“Hhhh gue nggak tau. Gue ngerasa aneh aja kalo
ngeliat dia...”
“Tapi Dii, biar bagaimanapun dia nyokap lo...”
“Gue tauu... Tapi gue emang belum siap... Dan
gue nggak tau akan sampe kapan kayak gini... Plis lo semua jangan maksa gue...”
“Didii... Hidup kita bergantung besar dari
keputusan kita. Kalo lo mau hidup lo baik, lo juga mesti ambil keputusan yang
baik. Begitu juga sebaliknya. Kita punya peluang untuk ngatur jalan hidup kita
sendiri Dii... Jangan biarin lo diperbudak sama dunia. Gue tau kalo pada
akhirnya lo juga nuntut kebahagiaan sama keluarga lo kan? Termasuk sama nyokap
lo... Jadi kalo lo mau kebahagiaan itu, lo juga mesti ambil keputusan yang bisa
nyatuin lo sama keluarga... Kenapa harus ditunda? Sampai kapan? Nanti, nanti,
dan nanti? Terus nanti lo masih bakalan bilang nggak siap? Didi, hidup ini
sederhana... Asal lo mau ngemuka mata dan belajar... Apa harus lo ngalamin
kejadian-kejadian yang buat elo yaaah serasa jadi tokoh novel? Nggak Dii... Elo
yang mesti bersikap. Nggak selamanya nasib lo bakal happy ending kalo lo
gini-gini aja...”. Kembali omongan bijak keluar dari mulut Dina. Suasana kamar
Dinda jadi hening. Bahkan Tari ikut memaknai kalimat-kalimat Dina barusan.
Dinda terdiam. Dia mengerti maksud Dina,
nuraninya membenarkan. Omongan Dina memang masuk akal. Tiba-tiba Dinda sendiri
juga heran mengapa dia segitu tidak bisa menerima ibunya.
“Hhhhh... So?”
“Maksud lo? Yah temuin nyokap lo laaah...”
Dinda menarik nafas, kemudian menghembuskannya
pelan-pelan. Berdiri, sedikit merapikan dirinya, menoleh dan tersenyum pada
Dina dan Tari, dia sudah siap.
Dinda menuruni anak tangga dengan tenang.
Suara ibunya dan Nanda bisa didengarnya. Dia masih belum terlambat. Ini
benar-benar saat yang tepat.
Dinda pun muncul di antara keluarganya dengan
langkah pelan. Nanda dan Lastri menoleh pada Dinda. Nanda terdiam, namun Lastri
langsung berdiri dan tersenyum menyambut putrinya itu.
Dinda berdiri di hadapan ibunya, menunduk.
Dirinya terlalu gugup untuk bisa menatap ibunya. Nanda memandanginya, mengerti
apa yang akan dilakukan adiknya itu. Namun dia tidak menyangka, dan tidak ingin
melewati tiap detiknya.
“Maah...”
Singkat dan datar. Nanda serasa tidak
mendengar apa-apa. Tapi memang Dinda sudah bersuara. Ingin rasanya memperlambat
suara Dinda, namun ini bukan video yang bisa diatur-atur.
“Mamaa...”
Lagi-lagi. Itu benar-benar nyata. Lastri dan
Nanda terdiam dengan pikiran yang sama. Dinda mengangkat wajahnya pelan-pelan,
memandangi ibunya. Lastri sudah tidak kuasa menahan desakan air matanya. Lastri
langsung memeluk Dinda. Keduanya larut dalam perasaan masing-masing. Nanda
masih terdiam kaku menyaksikan kejadian ini.
Di sisi lain, Dina dan Tari tampak berdiri dan
bergandengan, sudah terlihat persis seperti penonton serial drama Asia. Bahkan
yang ini lebih nyata karena dialami sahabat mereka sendiri.
Hidup
ini harusnya sesederhana Cookies. Nikmati Cookiesmu :)
END.