Rabu, 16 Mei 2012

Kertas-Kertas Kecil


Sepeda Rindy

Rindy keluar dari tempat bimbelnya dengan buku pegangan tebal yang dipeluknya. Senyum manisnya menebar saat teman sekelasnya menyapa. Dan Rindy tetap berjalan menuju sepeda kesayangannya–berwarna abu-abu, memiliki keranjang kecil di depan, dan memiliki goncengan di belakang meski jarang terpakai. Rindy meletakkan bukunya di keranjang sepedanya kemudian memutar sepedanya ke arah jalan raya.
Saat itu juga Saka datang dan memarkir motornya. Tanpa sengaja matanya melihat Rindy yang masih sibuk mengeluarkan sepedanya dari parkiran. Saka membuka helmnya dan memastikan apa yang dilihatnya. Tidak lama, Rindy berhasil mengeluarkan sepedanya dan mulai mengayuh. Saka tidak percaya itu Rindy. Tapi dia langsung menyalakan mesin motornya dan mengejar Rindy yang belum jauh.
Jalan raya tidak begitu ramai. Suasana menjelang malam lebih gelap dari biasanya. Rindy tetap santai mengayuh sepedanya. Kehadiran Saka yang sedari tadi mengikutinya belum disadarinya. Jarak dari tempat bimbel ke rumah Rindy sekitar 20 km. Cukup jauh dan memegalkan kaki.
Rindy mengambil jalan ke pinggir, dan singgah di sebuah kafe kecil seperti warkop. Kondisi kafe terbuka, hanya ada sedikit dindingnya yang tidak dari kaca, sofanya nyaman dengan meja besar di depan untuk setiap sofa. Kafe ini tidak ramai, memberi kesan hangat bagi Rindy. Kakinya yang pegal mengayuh sepeda biasanya diistirahatkan di tempat ini.
Rindy langsung masuk ke kafe dengan membawa barangnya setelah memarkir sepeda. Dia duduk menyandarkan punggung dan kepalanya di sandaran sofa panjang. Hanya dia sendiri di sofa itu. Rasa-rasanya ingin tertidur, tapi bukan saatnya. Rindy masih ingat kalau rumahnya masih setengah perjalanan lagi dari kafe itu.
Saka memandang Rindy dari luar kafe. Antara ingin masuk atau menunggu saja. Kalau dia masuk, dia tidak mau ketahuan sudah mengikuti Rindy. Tapi dia juga tidak sanggup menunggu di luar ditemani nyamuk-nyamuk kehausan, apalagi Rindy sama sekali tidak memperlihatkan sikap ingin segera keluar. Saka memutuskan masuk.
Rindy terlihat sedang membaca buku pegangannya dari tempat bimbel. Cara membacanya membuat wajahnya tertutupi oleh buku itu, hingga dia tidak menyadari Saka. Saka cukup canggung untuk menyapa Rindy. Tapi akhirnya rasa pegal berdiam diri mengalahkan kecanggungannya.
“Rin...”, sapa Saka yang sudah berdiri di samping Rindy.
Rindy memindahkan bukunya dari pandangannya. Melihat keberadaan Saka, Rindy cukup heran tapi tidak berekspresi banyak. Saka pun langsung duduk di sebelah Rindy. Rindy memandang Saka, dengan harapan Saka memberitahu kenapa dia bisa di kafe itu.
“Kamu suka kesini?”, tanya Saka.
“Hmm iya... Kamu?”
“Baru sekarang.”
“Oohh...”. Rindy manggut-manggut kepala dan kembali membaca bukunya.
“Kamu mau ngapain di sini?”
“Nggak ngapa-ngapain kok... Cuma mau istirahat aja bentar... Kamu?”
“Sama...”
“Kamu sendiri?”, tanya Rindy sambil meletakkan bukunya di meja.
“Iya...”
“Bentar yah, aku pesen minum...”
Rindy kemudian berjalan menuju tempat memesan. Si pelayan sepertinya sudah tahu yang akan dipesan Rindy, makanya sesampai di hadapan pelayan itu, Rindy sudah dapat yang diinginkannya. Tapi Rindy masih menunggu sebentar sebab si pelayan tidak tahu kalau Rindy memesan satu lagi.
Rindy datang dengan nampan di tangannya. Saka meminggirkan kakinya agar Rindy bisa lewat di depannya. Rindy kemudian duduk di posisi sebelumnya sambil meletakkan yang di pesannya barusan ke meja.
“Minum...”, ucap Rindy sambil tersenyum.
Saka melihat yang dipesan Rindy, 2 gelas susu cokelat hangat dan 2 piring kecil Brownies Cokelat Keju.
“Kamu masih suka susu cokelat kan?”, tanya Rindy masih dengan senyumnya sambil menyampingkan rambut panjangnya sehingga satu sisi leher sampingnya terlihat oleh Saka.
Saka hanya tersenyum, kemudian meminum susu yang memang untuknya. Rindy pun melakukan hal yang sama.
“Kamu udah bisa keluar malam yah? Dulu kan enggak dibolehin...”
“Aku tadi abis bimbel... Kalo untuk urusan gitu kan Ayah ngebolehin...”
“Ohh bimbel dimana?”, tanya Saka pura-pura tidak tahu.
“Yang deket skolah...”, jawab Rindy sambil menujuk buku pegangannya yang tertulis jelas di sampulnya nama lembaga tempat bimbelnya.
Saka manggut-manggut kepala dan tersenyum pada Rindy. Rindy balik tersenyum kemudian menunduk ke arah tangan-tangannya yang dibiarkan di atas pahanya. Saka memandangi Rindy yang terdiam.
Sekali-kali Rindy meminum susunya dan memakan browniesnya untuk menghindari salah tingkahnya. Tapi Saka masih juga selalu memandanginya. Keduanya memang sudah lama tidak sedekat ini, berdua saja di suatu tempat, sekeliling mereka tidak mengenali.
Dulu mereka sepasang kekasih. Menjalani hubungan itu dari kelas 3 SMP sampai kelas 2 SMA. Hingga kini mereka masih berteman baik, tapi Rindy selalu canggung memulai obrolan dengan Saka kalau teman-teman Saka bersikap lebay saat mendapati mereka mengobrol. Entah mengapa teman-teman Saka seperti menganggap mereka ‘artis’ yang kisah cintanya terus diamati dan menggemparkan suasana kelas. Padahal banyak pasangan-pasangan lain yang putus tapi masih selalu mengobrol.
“Bentar yah...”
Rindy kembali berdiri dan berjalan. Tapi kini dia berjalan keluar dari kafe. Saka duduk lebih santai dan mengeluarkan handphone-nya. Membuka pesan-pesannya yang berisi pemberitahuan dari Facebook. Kemudian dia menelusuri dunia mayanya di Twitter seperti biasa. Bosan dengan itu, Saka mengecek  aplikasi handphone-nya yang menfasilitasi obrolan.
Sudah sekitar 10 menit Rindy belum juga kembali. Saka mulai heran. Dilihatnya tas dan buku Rindy masih di atas meja. Saka kemudian mengambil tas Rindy dan membukanya. Beberapa alat tulis, buku, tissue, dompet, handphone, dan kertas-kertas yang berisi macam-macam. Saka menyalakan handphone Rindy dan melihat di layar tertulis namanya, Irhamsyah Akbar. Saka terdiam, kemudian menyimpan kembali handphone Rindy dan mengembalikan tas selempang berwarna cokelat itu di posisinya semula.
Sekilas nama panjang Saka sama sekali tidak nyambung dengan nama panggilannya. Irhamsyah Akbar dengan Saka ? Tapi Sa berasal dari –syah, dan Ka dari Akbar.
“Maaf yah lama...”, ucap Rindy yang ternyata sudah berdiri di samping Saka sambil tersenyum.
“Darimana?”, tanya Saka sambil meminggirkan kaki.
“Mushollah...”
Saka manggut-manggut kepala. “Nggak ngajak-ngajak tadi...”
“Hhee maaf... Sekarang aja...”, ujar Rindy sambil meraih tasnya.
“Hmm... Eh kamu mau pulang?”, sejenak Saka bangkit ingin ke mushollah tapi pikirannya langsung pindah melihat Rindy memakai tasnya.
“Iya... Udah malem...”, jawab Rindy.
“Ooohh ya udah deh aku di rumah aja nanti... Kamu pulang naik apa?”, tanya Saka yang lagi-lagi pura-pura tidak tahu.
“Aku naik speda...”, jawab Rindy sambil tersenyum.
“Sejak kapan?”
“Udah lama... Tapi nggak pernah pake ke skolah...”
“Ohh pantes... Kok nggak crita-crita?”
“Hmm nggak penting juga aku crita...”
Saka kembali manggut-manggut. Rindy berjalan melewati Saka, kemudian menoleh kembali pada Saka.
“Nggak pulang?”
“Mau pulang kok...”, jawab Saka kemudian berjalan di samping Rindy.
Rindy masih kaku berada di samping Saka. Dia berkembang menjadi pemalu terhadap laki-laki yang baru dekat lagi dengannya, berhubung Saka sudah lama tidak berjalan di sampingnya. Tapi bisa dibilang juga dia malas dengan kaum Adam jika belum dekat dengannya. Karena itu juga Rindy selalu canggung kalau ada teman-teman Saka.
Rindy memutar sepedanya dan menaikinya. Saka juga sudah ada di atas motornya dan menyalakan mesinnya. Rindy tersenyum, kemudian pamit pada Saka. Rindy mengayuh sepedanya ke jalan raya, dan Saka mengikuti. Rindy menyadari itu dan langsung menoleh pada Saka.
“Nggak pulang yah?”
“Aku antar...”, jawab Saka.
“Kok gitu? Nggak pa-pa kok, aku bisa sendiri...”
“Nggak pa-pa kok... Aku antar aja...”
Rindy tersenyum, “naik speda lama loh... Entar kamu capek...”
“Udah, nggak pa-pa...”
Rindy terdiam. Hatinya berbunga-bunga dan serasa ingin terbang. Tapi itu tidak tergambarkan di wajahnya. Dia tetap tenang tanpa ekspresi.
Saat ini Saka merasa, Rindy banyak berubah. Lebih tenang, dan entah apa lagi. Mungkin karena dilihat dari luar, sebab Saka yakin kalau Rindy sebenarnya masih seperti dulu.
“Kamu slalu gini?”
“Iya...”
“Ohh kamu nggak dingin?”
“Aku kan pake lengan panjang sama clana panjang...”
“Hhaa..., dulu kamu suka kedinginan...”
“Hhee iya sihh... Tapi tadi kan udah minum susu hangat...”
“Hmm...”
“Makasih ya Ka...”
“Kenapa?”
“Nggak pa-pa... Cuma mau bilang makasih aja...”
Mereka terus mengendarai, bersampingan, dan sesekali tertawa saat mereka mendapati sesuatu yang dari perjalanan itu. Saka cukup kesusahan mengendarai motornya, apalagi kalau kendaraan di belakangnya terus-terusan membunyikan klakson. Kalau begitu Rindy hanya senyum-senyum saja.
҈ ҈ ҈
Rindy menaruh tasnya di meja belajar begitu memasuki kamarnya. Dilihatnya sebuah foto terpajang dengan bingkai elegan, itu adalah fotonya dan Saka. Kini Rindy memperhatikan foto itu lagi setelah lama dibiarkan. Rindy bahagia, tapi itu hanya dirasakan dalam hatinya.
Nurul duduk di sofa pendek depan sofa panjang yang ditempati Rindy dan Saka. Rindy memainkan tangan Saka, dan Saka langsung merangkul Rindy dengan gemasnya. Nurul memandangi keduanya sambil tersenyum.
“Temen lo yang ini manja banget Nu... Manjaaa...”, ujar Saka yang masih terus merangkul Rindy.
“Aa’ahh...”. Rindy hanya bersuara manja pada Saka yang mengartikan malu dengan yang dikatakan Saka barusan.
Rindy kemudian memijati tangan Saka, dan Saka memandangi Rindy dengan senyum kasih tulus. Mereka tetap santai bersama meskipun Nurul ada di hadapan mereka. Nurul memainkan handphone-nya, membiarkan kedua temannya itu keasikan menikmati kebersamaan.
Tanpa sengaja tetesan seperti kristal keluar dari mata Rindy. Rindy sangat merindukan kasih sayang Saka. Rindy sangat merindukan kebersamaan mereka, saat-saat indah yang telah mereka lalui dengan senyum, tawa dan candaan, juga saat-saat duka dimana keduanya ditimpa cobaan dalam berhubungan, kemudian mereka berhasil menyelesaikan kedukaan itu dan berganti menjadi rasa syukur karena masih tetap bersama. Rindy benar-benar merindukan itu semua.
Rindy larut dalam tangisnya. Meskipun Rindy selalu terlihat tidak punya masalah apa-apa, tapi justru itulah saat dimana Rindy benar-benar rapuh. Sikap cueknyalah yang membuat orang lain merasa Rindy tidak lagi membutuhkan Saka. Padahal orang lain tidak tahu apa yang dirasakan Rindy sebenarnya. Kecuali Nurul, sahabat Rindy selama 10 tahun, yang selalu tahu apa yang dirasakan Rindy tanpa harus diberitahu. Hanya Nurul yang tahu betapa Rindy sangat membutuhkan Saka di sisinya.
Rindy sangat menyesal kenapa dia tidak bisa menerima Saka apa adanya, kenapa dia tidak memiliki segunung kepercayaan pada Saka, kenapa dia bisa begitu memberatkan Saka. Dulu Rindy merasa kalau Saka sudah tidak peduli padanya, mereka terjerat pada keadaan kurang komunikasi. Bukan salah siapa, tapi memang entah keadaan membuat mereka tidak tahu harus berkata apa. Sedangkan bila bersama temannya, Saka bisa saja mengobrol panjang kali lebar. Rindy merasa cemburu dengan keadaan itu, utamanya pada teman-teman perempuan Saka. Rindy akui, dirinya memang tidak seasik mereka untuk diajak bicara. Tapi Saka juga bukan tipe laki-laki yang menyukai perempuan banyak bicara. Namun terlanjur Rindy merasa seperti bukan pacar Saka. Karena segala sikap Rindy itu, Saka jadi terbebani dan akhirnya memutuskan hubungan pada Rindy.
Sempat Rindy menangis berhari-hari, berminggu-minggu, dan berbulan-bulan kadang masih rapuh. Sudah berkali-kali Rindy meminta hubungan kembali pada Saka, tapi Saka menolaknya. Rindy tahu dan mengerti akan itu, Saka sudah trauma padanya. Itulah yang membuat Rindy seringkali menyalahkan dirinya di masa lalu. Dan Rindy takut untuk menyakiti Saka lagi, orang yang sangat disayanginya itu.
Pernah Rindy melakukan hal yang hingga kini masih disesalinya, yaitu menerima permintaan seorang teman sekolahnya untuk menjadi pacar. Ini terjadi setelah 5 bulan putus dengan Saka. Saat Saka mengetahuinya, Saka benar-benar kecewa. Saka datang ke rumah Rindy di malam hari setelah pulang dari Yogya. Saka membawakan oleh-oleh untuk Rindy, sebuah gelang yang hingga saat ini belum pernah dilepas oleh Rindy. Malam itu juga Saka memeluk dan mencium Rindy. Hal itulah yang membuat Rindy sadar bahwa Saka masih mencintainya. Padahal Rindy tidak mencintai laki-laki yang telah bersamanya waktu itu, Rindy hanya ingin mengobati perasaannya yang luka. Dan akhirnya mereka berpisah tanpa mencukupi sebulan berpacaran.
Kini Rindy tidak lagi berniat untuk berpacaran dengan laki-laki lain. Dirinya merasa lelah dengan kata akhir dari sebuah hubungan. Selain itu, Rindy juga merasa belum selayaknya dia pacaran lagi. Dirinya merasa belum dewasa. Dia tidak ingin jika kelak dia akan menyakiti dan membuat kesalahan lagi pada laki-laki yang dicintainya karena ketidakdewasaannya. Meski kadang dia merasa sangat membutuhkan kasih sayang dan perhatian dari laki-laki yang mencintainya, tapi Rindy tetap tidak berniat pacaran. Rindy lebih cuek setiap kali ada cinta yang datang mendekatinya. Bahkan karena kecuekannya itu, Rindy tidak peka terhadap perasaan  laki-laki lain untuknya.
҈ ҈ ҈
Kesibukan

Sudah pukul 16.15, sore telah tiba dengan tanda matahari mulai bergeser ke ufuk Barat. Rindy mengeluarkan sepedanya dari teras rumah dan siap untuk menyusuri jalan. Di keranjang sepedanya, ia meletakkan sebuah handuk kecil dan novel Sculdugguery Pleasant. Sepasang headset terpasang di telinganya, dengan playlist lagu-lagu dari Blink 182, My Chemical Romance, Linkin Park, Katy Parry, Simple Plan, Chris Brown, dan Jason Mraz. Itu adalah beberapa selera musik luar negeri untuk Rindy.
Rindy mengenakan kaos dengan lengan ¾, celana jeans pendek sedikit di atas lutut, sepatu kets putih, dan mengikat rambutnya dengan dibiarkan sedikit berantakan,  membuatnya terlihat santai dan lepas.
Angin sore meniup anak-anak rambut dan poni Rindy. Rindy sangat menyukai suasana seperti itu. Makanya, bersepeda sudah menjadi kegemarannya. Walaupun dulu sempat ayahnya melarang kegiatan itu mengingat usianya sudah 16 tahun, tapi Rindy tetap tidak gengsi. Hingga akhirnya ayahnya membiarkan keinginannya itu karena sudah banyak orang dewasa yang bersepeda.
Tidak terasa jalan yang dilalui Rindy sudah cukup jauh. Rindy menyadari kalau jalan yang dia lewati terarah pada rumah Saka. Hhh..., gue muter gak yah?, batinnya. Tapi Rindy memilih untuk meneruskan perjalanannya dan melewati rumah Saka.
Rumah Saka terlihat sepi meskipun ada kendaraan di garasi rumahnya. Rindy berhenti sejenak, teringat masa lalu ketika dia berada di teras rumah Saka, sedang mengobrol berdua ditemani kucing Saka. Setitik air mata keluar dari mata kirinya, dia pun kembali mengayuh sepedanya dan menghapus air matanya. Di satu sisi, ada sosok yang memperhatikan wajahnya.
҈ ҈ ҈


17.21
20.04.11
Rin, tgs lo udh slese blm? Wktunya tnggal 3 hri lg lo..
Bls yh, Rika.
 
 






“Ohh God ! Lupa !”
Rindy kemudian langsung mengayuh sepedanya dengan cepat menuju rumahnya. Ada tugas penting dari ekskul yang diikutinya, tapi belum sempat dikerjakannya. Padahal ini tugas pertama setelah dia diangkat sebagai koordinator penelitian IPA.
Sebenarnya tumben Rindy ingin ikut sibuk dalam kegiatan sekolahnya. Biasanya dia hanya cuek, apalagi ikut ekskul. Tapi tidak ada lagi yang bisa dia lakukan selain menyibukkan diri agar dirinya melewati hari-hari lebih cepat dan tanpa disadarinya sendiri. Sudah terlalu jenuh untuk berdiam diri, tanpa adanya kebahagiaan bersama orang yang membuat dirinya merasa berarti.
Jika dia tidak sibuk, ketidakwarasan yang muncul pada dirinya. Bermain, bernyanyi, melompat, dan segala hal yang membuatnya lupa dengan rasa dukanya. Tidak peduli apa kata orang. Tidak peduli jika mereka beranggapan bahwa dirinya sibuk sendiri, gila sendiri, bahkan ada yang mengejek dengan kata autis. Tapi tidak masalah, Rindy menganggap itu hanya candaan. Sebab sepertinya memang hanya candaan.
҈ ҈ ҈
Rindy berlari menuju kelasnya. Masih terlalu pagi, tidak ada PR yang belum dikerjakan, tidak ada ulangan yang materinya belum dipelajari, tidak ada anjing yang mengejar, dan tidak ada apa-apa selain tugas pertamanya sebagai koordinator penelitian IPA diselesaikan. Di pikirannya menyatakan bahwa dirinya harus secepatnya sampai di kelas.
“Rindy !”, panggil Rika begitu melihat Rindy berlari. Namun Rindy tidak mendengar panggilan untuknya itu dan masih tetap berlari.
“Rinn !! Rindy !!”, panggil Rika lagi sambil berlari kecil mendekati Rindy.
Rindy pun akhirnya menoleh pada arah suara yang memanggilnya. Nafasnya masih terengah-engah, rambutnya sudah berantakan, seragamnya sudah berantakan karena angin, dan wajahnya yang sudah menampakkan titik-titik keringat.
“Ka, sori... Gue belum ngerjain apa-apa... Makanya skarang gue buru-buru, mumpung masih pagi, gue mau ngecek ke kelas-kelas...”, ujar Rindy begitu Rika sudah tidak jauh di depannya.
“Hhaa?! Nggak ada sama skali ?”
“...”, Rindy menggeleng dengan polosnya.
“Trus gimana dong? Besok udah rapat...”
“Ya udah, gue gerak skarang... Gue pergi yah, daaahh...”
Rindy kemudian berlalu meninggalkan Rika yang masih kaget setelah mendengar perkataan Rindy barusan. Di benaknya hanya ada satu pertanyaan, “gimana gue ngejelesinnya besok?”. Sebab Rika adalah ketua dalam ekskul ini. Jadi tanggung jawabnya sangat besar jika saja ada masalah seperti yang dilakukan Rindy.

Rindy memasuki kelas per kelas yang beruntungnya masih sepi. Tanpa harus banyak bicara pada siswa-siswi di kelas itu, Rindy bisa langsung melakukan tugasnya. Rindy mengintipi laci-laci meja dan lantai, mencari jejak-jejak rokok. Mencatatnya, dan mengambil gambar jika ada yang sangat menarik perhatiannya. Kemudian sampai pada satu kelas, kelas Saka. Tidak ada siapa-siapa di ruang kelas itu walaupun sudah ada yang datang. Rindy pun bebas mengecek laci-laci bangkunya.
“Siapa?”
Rindy langsung terkaget mendengar suara itu. Suara itu sangat familiar, itu suara Saka. Rindy masih menunduk di balik bangku dan menyembunyikan kameranya di dalam tas. Berpura-pura tidak melakukan apa-apa.
“Lho, ngapain?”, tanya Saka yang tiba-tiba berdiri di belakang Rindy.
“Aah? Hmm nggak ngapa-ngapain kok... Aku cuma lagi ngumpet...”, jawab Rindy sambil menoleh dengan serileks yang dia bisa.
“Ngumpet? Dari siapa?”
“Tadi ada Pak Udin... Haha...”, jawab Rindy kemudian berdiri. “Eh ya udah yah, aku balik kelas dulu...”, lanjut Rindy sebelum Saka kembali bertanya. Rindy kemudian berlalu dari hadapan Saka yang terlihat bingung.
Huuufthh..., slamet..., slamet... Kalo ketahuan kan malu... Eh tapi kenapa mesti malu? Apa karna gue masuk ekskul atau apa? Ihh nggak jelas banget sih gue..., batin Rindy sambil terus berjalan menuju kelas lainnya.
“Rin!”
Rindy menghentikan langkahnya. Dia kaget mendengar namanya dipanggil, apalagi dipanggil oleh Saka. Aduuuh.., dia mau bilang apa?
“Rindy, kamu lupa sesuatu...”
“Ah? Apaan?”
Saka menyodorkan buku catatan kecil pada Rindy, itu memang buku catatan Rindy yang tadi dipakainya mencatat isi penelitiannya, beruntung sudah sempat ditutup, jadi Saka tidak sempat melihat isinya.
“Mmm.., makasih yah...”, Rindy tersenyum, kemudian membalikkan tubuhnya, kembali berjalan perlahan.
Saka memandangi Rindy yang semakin jauh, kemudian kembali memasuki kelasnya.
҈ ҈ ҈
Rindy menekan tuts keyboard laptopnya, membuat hipotesa tentang penelitiannya. Meski sekarang sudah jam istirahat, dia memilih untuk berkonsentrasi pada tugas yang sudah sangat mengejar waktunya. Tiba-tiba saja terdengar suara Saka dari luar kelasnya. Rindy menoleh ke pintu, memang ada Saka di sana. Bibir Rindy membentuk senyuman, melihat keceriaan Saka bersama teman-temannya.
Hubungan Rindy dan Saka sangat menggantung. Mereka masih saling mencintai, menyayangi, namun tidak begitu mengasihi. Keduanya sama-sama ragu untuk menampakkan perasaan tulus masing-masing. Mengingat hubungan mereka sudah tidak menyatu lagi. Ada pula rasa trauma dalam diri Saka yang membuatnya tidak berani mengakui perasaannya, membuatnya melawan perasaannya sendiri. Kedukaan pada hubungan keduanya di masa lalu membuatnya memilih bertahan pada keputusannya ini.
Tersiksa memang pantas menjadi kata yang menggambarkan perasaan keduanya saat ini. Tersiksa karena harus menipu diri sendiri, lari dari kenyataan akan rasa cinta keduanya. Mereka terlalu naif, tidak adil pada diri. Tapi yang namanya keputusan sudah terlanjur diambil, mereka harus bisa menjalaninya.
Pandangan Saka mendapati Rindy yang diam dengan pikirannya sendiri. Saka yang tadinya tertawa bersama teman-temannya, kini ikut terdiam melihat raut wajah Rindy. Tapi itu tidak lama bertahan, handphone-nya bergetar dan langsung diceknya. Ada messenger dari seseorang yang kini selalu menemani hari-harinya–Dena.
Dena siapa? Pacar Saka. Dena adalah pacar Saka. Saka sudah menjalani hubungan bersama Dena selama 2 bulan lebih. Entah pantasnya disebut sebagai belajar mencintai, belajar membuka hati, perasaan yang datang tanpa disadari, atau pelampiasan? Yang pasti Saka memilih menjalani hubungan dengan Dena daripada dengan Rindy. Entah pantasnya disebut pembodohan atau jalan yang harus dihadapi? Saka sendiri tidak begitu peduli, yang jelasnya dia bisa tertawa setiap hari bersama Dena.

Sabtu, 12 Mei 2012

Sepotong Cookies :)


 
New Version 1.1
Dinda berjalan memasuki pekarangan rumah megah yang dulu sempat ditinggalinya. Rumah itu milik keluarga Sudarto yang merupakan keluarga angkat dari saudara kembarnya – Nanda. Tangan kanannya memegang koper kecil dan tangan kirinya menahan pegangan ransel merah yang berukuran cukup besar. Terlihat jelas dia cukup keberatan dengan bebannya itu.
Begitu sampai depan pintu, Dinda meletakkan ranselnya dan menekan bel rumah. Tidak lama kemudian seorang wanita separuh baya muncul dari balik pintu yang baru saja dibukanya. Dinda mengenali wanita itu, pembantu yang sudah berjasa di keluarga Sudarto sejak Nanda belum diangkat.
“Non Didi..., masuk Non...”, ujar wanita itu dengan senyumnya.
Dinda hanya tersenyum sedikit lalu kembali mengangkat ranselnya masuk ke dalam rumah. Kopernya langsung dibawa oleh wanita itu menuju ruang dalam. Dinda melihat ke sekeliling, tidak ada siapa-siapa. Pak Sudarto dan istrinya memang sedang di luar kota.
Wanita tadi kembali menemui Dinda dengan langkah cepat. “Non, kopernya udah saya masukin kamar...”
“Makasih Bik...”
“Bapak sama Ibu lagi di luar kota, kalo Den Nanda biasanya pulang malam karena ada bimbel... Makanya sepi Non...”
Dinda hanya manggut-manggut mendengar penjelasan wanita itu – Bi Darsih.
“Ehmm..., Non Didi bakal tinggal di sini terus ya ?”
“Nggak tau lah Bik... Emang kenapa ?”
“Hmm woro opo kok Non... Ya wong saya cuma nanya aja...”
Dinda tersenyum mendengar ucapan wanita di hadapannya itu, sebab dia sama sekali tidak mengerti bahasa Jawa. Langkah kakinya bergerak menuju sebuah ruangan di lantai 2 yang sebelumnya merupakan kamarnya, dan kini kembali menjadi kamarnya.
Begitu memasuki kamar, Dinda langsung meletakkan ransel di atas sofa empuk di pojok ruangan. Kondisi kamarnya tidak banyak berubah, hanya motif wallpaper saja yang diganti dengan motif yang lebih feminim. Entah apa di pikiran Pak Sudarto sehingga memberi motif feminim di kamar Dinda yang lebih condong ‘netral’ itu.
Puas mengacaki barang-barang di kamarnya, Dinda memutuskan untuk berbaring. Tempat tidur yang jauh berbeda dengan yang di rumahnya bersama Almarhum kakeknya. Lebih empuk, tapi tidak lebih nyaman. Mungkin belum terbiasa.
“Dinda..., kamu tinggal sama Ibu yah sayang... Ibu nggak punya siapa-siapa lagi selain kamu dan Nanda...”
“Maaf..., saya nggak bisa mengikuti tante... Kalo mau tante aja yang ikut...”
“Tapi Dinda, Ibu masih ada urusan di Samarinda...”
“Skali lagi saya minta maaf... Mungkin belum sekarang...”
Dinda tetap dengan kesibukannya memasukkan barang-barangnya ke dalam koper. Sementara Lastri hanya bisa pasrah terhadap keputusan putri yang baru ditemuinya itu. Dinda memutuskan untuk menerima tawaran Pak Sudarto untuk tinggal bersama. Sementara rumah yang menjadi kenangan bersama Almarhum Kakek dijadikan semata-mata sebagai tempat usaha dimana Surip sebagai penjaganya.
Memang berat harus meninggalkan rumah itu, tapi Dinda juga tidak punya banyak pilihan. Dia bukan gadis yang sangat mandiri menjalankan usaha toko kerajinan, menjadi ketua tim basket putri di sekolahnya, sekaligus menjadi siswi yang tetap harus bertanggung jawab. Dinda juga tidak bisa menolak permintaan Surip yang sudah dianggap om itu, untuk dekat dengan keluarga mengingat itulah permintaan Kakek sebelum mengakhiri hidupnya.
Tertinggal Lastri. Dinda sudah mulai bisa mengikhlaskan segala yang menimpa dirinya kecuali ibu kandungnya itu. Dinda tidak marah padanya, hanya saja dia belum bisa seutuhnya menerima keadaan bahwa akhirnya bertemu dengan ibu kandungnya karena bukan dicari, melainkan mencari. Dinda kecewa mengingat Lastri tidak sekeras dirinya dan Nanda untuk mencari hingga harus berkorban banyak hal.
@@@
...tok..tok..tokk...
Pintu kamar Dinda terbuka. Nanda muncul dari balik pintu dengan sedikit mengintip.  Terlihat Dinda masih tertidur pulas. Nanda berjalan mendekati Dinda, dilihat sosok adiknya dari atas sampai bawah. Posisi tidur Dinda yang berantakan membuat Nanda tersenyum kemudian memperbaiki posisi tidur adiknya itu.
“Mmmmhhh...”
Dinda tersadar, melihat Nanda di hadapannya. Tapi dia kembali menutup matanya dan membelakangi Nanda lalu melanjutkan tidurnya.
“Udah malem Non... Masa tidurnya kayak kebo’ gitu...”
Dinda tidak mempedulikan Nanda, malah dia memasang selimutnya hingga menutupi seluruh tubuhnya. Nanda yang melihat itu langsung melepas selimut Dinda dengan cepat hingga Dinda harus dengan terpaksa bangkit.
“Apaan sih lo?!”, seru Dinda sambil menarik kembali selimutnya.
“Ini anak... Lo tuh cewek...”
“Nah trus kenapa? Gue gue, napa lo yang sibuk?”
“Karna gue kakak lo...”
“Iya, kakak yang rese’ ! Aneh, biasanya juga adek yang ganggu, nah elo?”
“Bawel banget sih ! Ya udah tidur aja sana...”
Nanda kemudian melemparkan selimut tepat di wajah Dinda, kemudian berjalan ke luar kamar. Dinda hanya cuek dan kembali membaringkan tubuhnya.
“Bii..., seharian dia ngapain aja?”, tanya Nanda pada Bi Darsih.
“Nggak ngapa-ngapain kayaknya Den, Non Dinda di kamar terus...”, jawab Bi Darsih sambil menuangkan air ke dalam gelas.
Nanda meminum air yang dituangkan barusan, kemudian mengisi piring di hadapannya dengan menu makan malam yang disajikan Bi Darsih.
“Bi, mau makan bareng nggak?”
“Apa Den?”
“Iyaa..., Bibi temenin saya makan yah... Duduk...”
Bi Darsih kemudian duduk di kursi di samping Nanda. Nanda memandangi Bi Darsih dengan senyumannya tanda mempersilahkan wanita paruh baya di hadapannya itu. Bi Darsih pun melakukan yang dipinta Nanda.
@@@
Televisi berukuran 25 inch menayangkan film action yang diperankan artis cantik Angelina Jolie. Nanda sedang asik menontonnya sendirian di ruang tengah. Suasana rumah sudah gelap karena lampu sengaja dipadamkan. Dinda tiba-tiba duduk di samping Nanda dengan mengangkat satu kakinya di kursi. Nanda sedikit terkejut kemudian memperbaiki posisi duduknya.
“Baru bangun?”
“Hmm...”, jawab Dinda singkat sambil menggaruk kepalanya dengan pandangan pada televisi.
Nanda diam. Mereka fokus pada tontonan yang sedang seru-serunya. Waktu sudah menujukkan dini hari. Terdengar suara yang tidak asing. Dinda menunduk, Nanda menoleh ke perut Dinda.
“Makan gih...”
“Emang masih ada makanan?”
“Masak dong...”
Dinda memanyunkan bibir sambil memegang perutnya. Dia lapar, tapi sedang malas memasak. Nanda hanya cuek, dia tetap sibuk memperhatikan tontonannya. Tidak lama kemudian akhirnya Dinda memaksakan diri untuk ke dapur.
“Sekalian yaah...”, ujar Nanda.
“Enak aja...”
“Kan sekalian doaaangg...”
“Gak !”
Nanda menoleh ke dapur, Dinda benar-benar tidak mempedulikannya. Dia kemudian menyusul Dinda ke dapur.
“Masak apa? Palingan juga mie, udah deh lo nggak usah pelit-pelit sama gue... Skali-skali lo baek sama abang sendiri napa?”
“Prasaan gue udah baek deh sama lo...”
“Ohh yee? Iish Di, ini tuh mie punya siapa? Kompor, gas, panci, air, semua punya siapa?”
“Iiihh itung-itungan banget sih lo...”
“Lo juga itung-itungan tenaga sama gue...”
“Kalo bukan karna kakek, gue ogah tinggal disini !”, seru Dinda dengan tatapan tajamnya pada Nanda.
Nanda langsung memalingkan pandangannya, dia tidak berani melihat Dinda. Sepertinya kali ini Dinda benar marah. Nanda kemudian berjalan meninggalkan Dinda di dapur sendirian.
Dinda kembali memasak mie-nya. Sebenarnya dia juga tidak menyangka akan berbicara sekeras tadi pada Nanda, itu diluar kendalinya. Tapi dia juga gengsi untuk meminta maaf. Lagipula dia memang tidak suka dengan sikap Nanda tadi. Terlalu sok.
Dinda memasukkan mie yang sudah dibuatnya ke dalam mangkok. Ternyata mie yang dibuatnya cukup banyak untuk sekedar makan tengah malam. Dia pun memindahkan sebahagian ke mangkok yang lain. Itung-itung gue minta maaf.... Dinda kemudian membawa kedua mangkok mie itu ke ruang tengah, tempat Nanda masih menonton televisi.
Dinda meletakkan mangkok mie di meja, satu di pegangnya. Seolah tidak ada apa-apa, Dinda mulai memakan mie-nya. Nanda yang menyadari itu pun menoleh pada Dinda. Dia ingin mengambil mangkok mie di hadapannya, tapi dia masih ragu.
Mereka diam-diaman, tidak juga saling melirik. Sibuk menonton seolah-olah sedang nonton sendirian. Begitu mie Dinda habis, Dinda kembali ke dapur kemudian naik ke kamarnya. Tidak lama kemudian Nanda tersadar kalau Dinda sudah masuk ke kamar. Diliriknya mangkok mie masih di atas meja, dia pun mengambilnya. Buat gue?
Sebenarnya Dinda memilih untuk tetap tinggal di rumah lamanya. Hanya saja ada beberapa faktor yang sulit ditolak Dinda untuk tinggal di kediaman keluarga Sudarto–keluarga angkat Nanda yang sekarang juga menjadi keluarga angkatnya. Pertama, dia sudah berjanji pada Almarhum kakeknya untuk berkumpul dengan keluarga. Setidaknya walaupun dia tidak bersama ibunya, dia bisa bersama kakaknya. Faktor selanjutnya adalah karena saran dari Mas Surip dan Pak Sudarto beserta nyonya saja. Mengingat usianya masih muda dan dia seorang perempuan. Biar bagaimanapun rumah lamanya berada di sekitar pasar yang notabenenya tidak aman dari segala bentuk kejahatan.
@@@

New Version 1.2
Kriiiinngggg........! Kriiiiiiiiinnggggg....!!!!
Dinda berlari cepat melewati pagar sekolahnya. Hampir saja dia terlambat pagi ini. Lagi-lagi kemampuannya berlari yang lebih dari cewek lainnya membuatnya beruntung.
“Didii !!”, panggil Tari.
Dinda menoleh pada suara yang sudah dikenalnya itu, “hei Rii...”
“Gue kira udah nggak masuk lo...”
“Aah nggak dong, anak rajiinn...”, ujar Dinda sambil berjalan menuju kelas bersama Tari.
“Didi !”
Dinda kembali menoleh, kali ini suara laki-laki yang setiap hari memanggilnya, itulah Nandika Pratama.
“Kenapa Dik?”, tanya Dinda.
“Nggak pa-pa kok hhe...”
Semenjak kejadian yang menimpa keluarganya(baca Twin), Dinda sudah bersikap baik pada Dika. Meskipun Dinda belum memberi lampu hijau atas perasaan Dika terhadapnya. Dinda menyadari bahwa dirinya punya perasaan pada Dika, tapi dia masih tidak ingin pacaran dulu. Setidaknya sampai dia benar-benar yakin akan perasaannya, dan dia benar-benar siap untuk membagi kasihnya pada Dika. Dia tidak ingin menjalin hubungan yang hanya bermodalkan perasaan. Tidak bisa dipungkiri bahwa kedewasaan itu sangat berperan penting dalam hubungan. Dinda tidak ingin karena ketidakdewasaan membuatnya malah menyakiti orang yang disayanginya.
“Palingan mau masuk kelas bareng elo Dii...”, goda Tari sambil memandangi Dika.
“Ahh nggak juga kok... Cuma kebetulan aja tadi...”
“Kebetulan yah... Ohhh...”
Dinda hanya memasang senyumannya pada kedua orang di sampingnya itu. “Udah ah, buruan...”
@@@
Dinda duduk seorang diri di bangku taman sekolahnya sambil membaca novel teenlit yang dipinjamnya dari Tari. Sebenarnya dia tidak begitu tertarik dengan novel percintaan, tapi berhubung dia sedang tidak ada kegiatan yang lebih baik, tidak apa lah. Dinda juga malas ke kantin, dia ingin tenang sendiri.
Akhir-akhir ini Dinda jadi lebih pendiam dan tenang. Tidak bisa dipungkiri bahwa dirinya sangat merasa kehilangan sosok kakek yang bertahun-tahun tinggal bersamanya. Hanya kakek yang dia punya sejak dia memilih ‘nyasar’ di rumah kakek pada usia 4 tahun. Dia tumbuh bersama kakek, mulai dari belajar memakai kaus kaki sendiri, sampai saat dia sudah mengenal arti kehidupan.
“Hai Dinda...”, sapa Dika yang tiba-tiba duduk di sebelahnya.
“Sejak kapan lo manggil gue Dinda?”
“Sejak lo jadi lebih feminim hehe...”
Dinda menoleh pada Dika, kemudian kembali pada bacaannya. “Emang gitu?”
“Hmm..., menurut gue sih gitu...”
Dinda terdiam. Di pikirannya ada sedikit keanehan. Diingat-ingatnya kembali dengan kebiasaannya selama ini. Memang dia agak berubah pada penampilan, rambutnya lebih sering diurai, cara jalannya juga sudah tidak secepat biasanya, dan dia juga sudah jarang bercanda kasar dengan teman-temannya. Tapi baginya itu hanya karena memang tidak ada yang membuatnya harus melakukan yang biasa dilakukannya. Tiba-tiba dia teringat pada Nanda, semalam mereka bertengkar kecil.
Dinda menutup novelnya, kemudian menoleh pada Dika dengan senyumnya. “Prasaan lo aja, Dik...”.
“Oohh... Kirain lo udah brubah...”
“Kenapa emangnya kalo udah brubah?”
“Nggak pa-pa... Lo cocok kok jadi Dinda ataupun Didi...”
“Ya iyalah, secara dua-duanya kan emang gue...”, ujar Dinda kemudian menghadap ke depan, memandang jauh ke langit biru.
“Hhaha maksud gue bukan gitu...”
“Iya iyaa, gue tau kok...”
Dika tersenyum. Kemudian suasana menjadi hening di antara mereka. Beberapa pasang mata memperhatikan mereka, utamanya anak-anak basket dan teman-teman dekat Dika dan Dinda. Tapi keduanya tampak tidak menyadari hal itu.
“Dii...”
“Hmm?”. Dinda menoleh pada Dika, menunggu apa yang akan dikatakan Dika selanjutnya.
“....”. Dika terdiam, pandangannya jauh ke depan. Tak ada yang terlintas di pikirannya. Kosong, tapi damai.

telah lama aku
lama mengenalmu
lama menantimu
ikuti arusmu

berhenti sejenak
dan lihatlah aku
beri kejelasan
tentang perasaan

maukah kau tau di dalam hatiku
lama menantimu sampai kapan?

apakah kau tau yang lama kutau
lama menantimu sampai kapan?


berhenti sejenak
dan lihatlah aku
beri kejelasan
tentang perasaan

maukah kau tau di dalam hatiku
lama menantimu sampai kapan?

apakah kau tau yang lama kutau
lama menantimu sampai kapan?

kau tau yang kumau
sampai kapan kau menggantungkan aku?

Sheila On 7 – Sampai Kapan

“Kenapa?”
“Nggak...”, jawab Dika dengan menoleh sedikit kemudian kembali memandang ke depan.
Dinda terdiam, ikut memandang ke depan seperti Dika. Dinda menghela nafas, senyum di bibirnya terbentuk. Nggak tau kenapa, gue nggak mau saat ini berubah. Gue mau tetep kayak gini... Di samping lo, merasa tenang, damai, dan aman...
“Dii...”
“Yah?”
“Udah bel masuk...”
“Hah? Masa sih? Gue nggak denger...”
“Banyakan ngelamun lo ! Ngelamunin gue yaaa ?”
“Ihh apaan sih, udah lo masuk gih sana, gue juga mau masuk...”
Dinda berjalan meninggalkan taman dengan novel di tangannya. Begitu dia menoleh pada orang di sekitarnya, dia baru sadar kalau dirinya jadi bahan tontonan sejak tadi. Dinda menggaruk kepalanya dengan tampang kebingungan. Baginya tidak ada yang perlu heboh dengan hal tadi. Bukannya yang seperti tadi itu sudah umum kan di sekolah? Bahkan banyak yang lebih, tapi kenapa dia terlalu diperhatikan? Dinda dan Dika sudah seperti artis saja. Jangan-jangan begitu nonton TV nanti, mereka sudah muncul berita terkini acara gosip artis.
“Woi ! Kenapa sih?”, tanya Dinda begitu sampai di depan kelas dan mendapati Tari dan Dina juga memperhatikannya.
“Heheh..., nggak kok Dii... Mungkin pada nggak nyangka Dika akhirnya bisa deket banget sama lo, sampe duduk dua-duaan di taman gitu hoho...”, jawab Tari.
“Ooohh to twiiitt...”, tambah Dina dengan perubahan wajahnya yang seperti sedang nonton sinema picisan.
“Gaje, udah ahh...”
@@@
Lapangan basket SMA Harapan terlihat cukup ramai. Maklum sore ini anak-anak basket sedang latihan. Sebagai kapten yang baik, Dinda tampak fokus di antara mereka, memberikan penerangan terhadap teman-temannya.
Beberapa pasang mata dari penonton memperhatikan latihan itu bukan karena suka dengan basket, tapi malah ingin meninjau kedekatan Dika dan Dinda. Mereka itu anggota mading, hanya saja cennderung disebut infotaiment sekolah. Karena setiap bulannya mading sekolah tidak pernah luput dari gosip dan calon fakta. Salah satu dari mereka adalah Rena. Sebenarnya Rena tidak suka dengan gosip, dia hanya hobi fotografi. Banyak yang mengagumi kemampuannya itu. Berhubung setiap siswa di SMA Harapan harus memilih salah satu ekskul yang akan ditekuninya, dia tidak bisa mengelak. Sebab di ekskul lain tidak membutuhkan fotografi.
“Ren, lo peratiin terus yah, ambil foto yang paling mesra !”, ujar Dila sambil terus memperhatikan Dika dan Dinda.
Rena hanya diam, tidak mempedulikan omongan orang di belakangnya itu. Baginya, untuk apa mengurusi urusan pribadi orang lain? Tidak ada untungnya.
Di lapangan, Dika tampak menghampiri Dinda. Mereka saling tersenyum dan kadang-kadang tertawa. Entah apa yang mereka bicarakan, terlihat begitu akrab.
“Ren, ambil fotonya...”
Rena kemudian mengangkat kameranya dan mengarahkan lensa pada posisi Dika dan Dinda. Rena mengambil gambarnya seketika.
“Coba liat !”, ujar Dila.
Rena menyodorkan kameranya pada Dila. Dia tidak habis pikir kenapa orang di belakangnya itu begitu sibuk, begitu semangat dalam hal seperti ini. Kalau saja kegiatan ekskul tidak diberi nilai pada rapor, tentu saja Rena malas ikut kegiatan ini.
“Lagi lagii...”, perintah Dila.
Rena menghela nafas dengan kesal. Namun Dila terus mendesaknya. Apa boleh buat.
@@@
“Dii, mau pulang bareng nggak?”, ajak Dika begitu menemui Dinda di gerbang sekolah setelah latihan.
“Mmm nggak usah dehh...”
“Kenapa? Udah sore loh Di, masa mau naik angkot?”
“Nggak pa-pa kok, gue udah biasa...”
“Ohh... Eh, tapi biasanya lo bawa motor, kok udah enggak?”
“Ehmm... Males aja... Udah deh, lo pulang aja duluan, gue udah gede kali...”
Dari satu sisi, Dila memperhatikan Dika dan Dinda dari kejauhan. Pandangan fokus, dan raut wajah sedikit geram. Sementara di belakangnya ada Rena yang duduk santai. Dia bosan melihat Dila yang terus-terusan bersikap seperti itu.
“Reen, fotoin Ren !!”
“Kan udah tadi...”, tolak Rena kemudian memperhatikan hasil potretannya di kamera Canon yang selalu dibawanya kemana-mana.
“Ihh lagi dong buruan !”, ujar Dila sambil menarik-narik tangan Rena.
“Ah gila lo... Gue tuh cuma mau cari buat mading, nggak lebih-lebih...”, Rena kembali menolak sambil melepas tangannya dari pegangan Dila.
“Ihh ini kan juga buat mading Ren... Udah deh buru ntar keburu pergi mreka...”
“Ah gue capek, fotoin aja sendiri !”, seru Rena dengan kesal kemudian berjalan meninggalkan Dila.
Dila menggerutu tidak jelas kemudian langsung mengambil handphone-nya, mengaktifkan kamera, dan mengarahkannya pada Dika dan Dinda. Tapi Dika tampak berlalu dan tidak terlihat lagi oleh Dila. Dinda tinggal sendiri di depan gerbang. Dengan kesalnya, Dila menendang batu di depannya.
“Auuuchhh !!”, jerit Dila dengan ringis kesakitan.
@@@

Who is Rena ?
“Hmm dasar cewek yah... Kenapa sih jutek banget? Susaaah gitu ditebak maunya gimana...”, ucap Dika bermonolog.
Dika termenung, senyum-senyum sendiri sambil tiduran di kamarnya. Dia teringat pada cewek yang akhir-akhir ini dekat dengannya. Cewek yang membuatnya bisa lupa dengan beban-bebannya hanya dengan melihatnya saja. Tapi sayangnya cewek itu terlalu cuek dan jual mahal terhadapnya. Bahkan meski sudah lama kenal, dia belum juga banyak tahu tentang cewek itu.
Dert...dert...
Deertt...dertt...

          Bisa jemput gue gak? Gak pake lama yah. Gue tunggu di rumah.

          Rena.
 
Dika menutup handphone-nya, dilihatnya weker di atas bufet, sudah lewat jam 4 sore. Tumben banget minta dijemput..., batinnya sambil tersenyum. Dia kemudian bangkit dari tempat tidurnya dan keluar dari kamarnya dengan membawa helm.
@@@
Cafetaria yang menyediakan berbagai macam es krim ini selalu saja ramai, seperti halnya sore ini. Meskipun demikian, Dika dan Rena tidak berpikiran sama sekali untuk tidak jadi memasuki tempat ini. Kesan yang hangat, terbuka, dan natural membuat pengunjung sulit berkata tidak, apalagi dengan sajian es krimnya yang memang luar biasa.
Dika dan Rena berjalan menuju sofa yang kosong. Begitu sampai, Rena langsung menjatuhkan tubuhnya dengan tangannya melihat-lihat hasil gambar yang diambilnya memalui kamera kesayangannya. Dika duduk di samping Rena, kemudian memesan es krim untuk mereka berdua.
“Tumben banget minta dijemput...”, ucap Dika.
“Nggak suka? Ya udah, nggak pa-pa kok...”
“Gue nggak bilang gitu...”
Dika kemudian merebut kamera Rena dan melihat gambar yang sudah dilihat Rena sebelumnya. “Foto apaan nih?”
“Napa? Bagus kaaann... Haha Rena !”
“Iihh iye-iye bagus... Tapi kalo ambil gambar nggak usah sampe nekat gitu kali, kalo lo kenapa-napa, kan gue juga yang kena’...”
“Jiahh emang kalo gue sakit lo juga bakal sakit? Gombal banget lo!”
Dika tertawa kecil. Pesanan es krim mereka sudah datang. Rena pun menyendok es krimnya dengan semangat. Dika lagi-lagi tertawa karena di sekitar mulut Rena belepotan dengan es krim. Dika pun mengambil tissue dan mengelap bibir Rena.
“Anak keciiill !”, ledek Dika.
“Hehe...”. Rena cuek saja pada ledekan Dika, dan kembali menyendok es krimnya.
“Udah buruan makannya, abis ini kita pulang.”
“Ihh orang baru makan udah disuruh cepet-cepet, gimana sih...”
Dika kembali melanjutkan perhatiannya pada satu per satu gambar yang diambil Rena. Didapatinya satu gambar yang membuat keningnya berkerut. “Foto apaan nih?”
“Iiih jangan dihapus, itu Dila yang suruh. Katanya buat mading...”
“Kenapa harus gue sama Didi?”
“Yaa mungkin karena kalian sama-sama kapten basket. Jangan dihapus pokoknya ! Gue males berurusan sama Dila.”
“Nyanyanyanyanyaa...”, ledek Dika kemudian kembali menyendok es krimnya.
@@@
20 Mei 2011
PENGUMUMAN
           Ujian semester genap akan dilaksanakan 6–12 Juni 2011. Ujian dilaksanakan pukul 7.15 – 10.00. Roster ujian akan segera dibagikan kepada wali kelas masing-masing.
      
Kesiswaan

“Waduuh ujian udah deket, nggak sempet jalan-jalan doongg...”, ujar Tari begitu selesai membaca pengumuman.
“Hmh kita udah mau naik kelas dua, bisa-bisa mencar dong...”, ujar Dina.
“Ah gue udah tau lo bakal masuk kelas berapa Din...”, ucap Dinda sambil membaca buku.
“Hah? Kok tau? Kelas berapa?”
“IPA 1...”, jawab Dinda dengan singkat.
“Ihh ngarang yah! Kan belum ada pembagian kelas...”
“Emang gue ngarang haha...”
“Iiihh...”
“Udah deh Din, lo kan pinter, makanya Didi bilang gitu...”
Mereka bertiga kemudian berjalan meninggalkan papan pengumuman yang mulai dikerumuni anak-anak SMA Harapan lainnya. Papan pengumuman itu sudah seperti gula yang dikerumuni semut secepat kilat. Padahal apa bagusnya sih papan pengumuman? Informasinya juga tidak akan hilang kalau memilih untuk melihat setelah tidak banyak orang. Apalagi ada beberapa dari mereka yang sengaja dorong-dorong sebagai bentuk candaan. Dan dari desak-desakan itu, jadilah ketidaknyamanan seperti mencium bau ketek yang mungkin seminggu nggak pernah nyentuh sabun, kebagian kutu terbang, kejadian sengaja atau tidak tersengajanya pelecehan seksual pada bagian dada cewek-cewek, ketumpahan minuman, kakinya keinjek, dan rambutnya kejambak ! Berantem, berantem deh. « Ehm, kayaknya yang ini lebay deh hihi :D
@@@
“Rena !”lll
Rena membalikkan badannya ke arah suara yang memanggilnya. Dia kenal dengan suara itu, suara dari orang yang paling memberinya perhatian.
“Hei Dika... Kenapa?”
“Nggak pa-pa kok... Pengen nyapa aja hehe. Sendiri?”
“Nggak... Lo nggak liat yah temen-temen gue nih?”
“Hah?”, Dika menoleh ke sekitar Rena, tidak ada siapa-siapa.
“Ohh brarti lo nggak liat pedahal harusnya bisa...”
“Maksud lo apaan sih? Jangan bikin ngeri deh...”
“Ihh pikiran ! Nih kenalin, temen gue, namanya...” Rena menoleh ke samping kanannya.
“Eh lo jangan ngasal deh, nggak ada siapa-siapa selaen tembok !”
“Waaahh lo ternyata udah kenal sama temen gue? Hhahaha...” Rena tertawa seorang diri, sementara Dika hanya memasang muka masam. Eh nggak deng, kan kagak nyobain mukanya, jadi mana tau masam ato kagak. Mungkin aja rasa jengkol ato pete’? Nah loohh ?!
“Lama-lama lo mesti terapi autis deh kayaknya...”, timpal Dika.
“Autis autis gini lo tetep sayang kan sama gue? Aaah ngaku lo!”, goda Rena.
“Iiishhh...” Dika mengacak-acak rambut Rena.
Mereka tertawa, Rena kemudian menarik rambut Dika kemudian lari menghindari balasan. Dika mengejarnya, merekapun tampak begitu akrab. Beberapa pasang mata singgah ke arah mereka. Sepertinya gosip baru akan beredar sebelum mading bertindak. Terlebih lagi di antara pasangan mata itu, ada yang asalnya dari si penguntit kurang kerjaan yang selalu mau tau urusan orang lain. Diperkenalkan, inilah Nadila Yulinda Sari alias Dila ! Mungkin memang sudah bawaan dari orok punya sikap demikian. Ep, bukan deh, soalnya nyokapnya Dila itu dosen agama di salah satu universitas Islam. So, hmm..., nggak wajar aja kalo waktu hamil nyokapnya suka mau sibuk ngurusin orang kayak anaknya yang sekarang.
Sementara di sisi yang lain, kali ini berbeda dengan kasus Dila. Dinda memang tidak sengaja melihat keakraban Dika dan Rena. Dibalik tatapan matanya, hatinya seakan teriris silet. Tapi dasarnya Dinda, dia tetap stay cool dan bersikap cuek.
@@@
Gue Gak Panas kok
Ruang tengah di kediaman keluarga Sudarto tampak sunyi. Dinda sampai bosan harus berbuat apa. Maunya main game, tapi tidak tau bagaimana cara pakai PSP. Maklum, sebagai pemahat, mainannya selama ini cuma kayu, pisau, dan kawan-kawan.
Dinda menoleh ke atas meja, laptop Nanda terbuka. Dinda kemudian mendekatinya dan melihat layar, ternyata tugas Nanda dari sekolah. Dinda menurunkan kursor, matanya mulai membesar begitu melihat tugas itu belum berujung juga.
“Buseet, ini anak bikin tugas atau apa sih? Penjelasan semua nih? Ah jangan-jangan kopas...”, ujarnya sendiri sambil melihat jumlah halamannya. Matanya melotot lebih besar, dia semakin yakin ini hasil kopas = kopi paste. Tapi tentunya tidak, seorang Nanda tidak akan melakukan hal itu. Melainkan dia akan melakukan kopas ! (nah loh?) Maksudnya kopi pake susu, alias mengerjakan tugasnya itu dengan lembur ditemani kopi susu supaya tulisannya sekali mengalir tancap gas hehe.
Dinda langsung menekan Ctrl + S, lalu meminimze lembar Microsoft Word yang sudah membuat kepala kotaknya jadi pusing. Tidak sampai disitu, Dinda memilih mencari games yang dikoleksi saudaranya itu. Dia mau tau, seperti apa selera sang calon profesor. Jangan-jangan nggak ada game? Tapi ternyata ada (y) ! Plants vs. Zombies.
“Eeeehhh... ini apaan jelek banget? Zombie yah?”, ujar Dinda pada dirinya sendiri. (Buset, gitu aja pake nanya). “Eeehh ini apaan matahari-matahari?”, mata Dinda mendekati layar laptop, tanpa sengaja tangannya tergeser dan mengakibatkan matahari tadi terklik dan menghilang, tambahan poin yang disadari Dinda. “Oooaahahaha itu nilai toh haha bilang kek!” (Lama-lama Dinda tambah bodoh saja, mana ada laptop bisa bicara? Ada, aplikasi lain tapi bukan game ini).
“Brisik amat sih ! Ngapain lo di laptop gue?”, seru Nanda yang tiba-tiba berdiri di belakang Dinda.
“Ehh..., mmm..., tenang aja, tugas lo udah gue save kok...”, ujar Dinda dengan nada tanpa rasa bersalah dengan tetap bermain game. “Eeeehhh ini bunuhnya gimana?!!”, teriak Dinda begitu melihat sudah banyak zombie yang muncul di gamenya. Saat itu juga Dinda menarik celana Nanda karena khawatir akan game over.
“Eh ehh wooy ! Celana gue !!” Dinda langsung melepas tangannya dan tidak berani menoleh pada Nanda. “Kalo nggak tau main biasa aja dong...”, lanjut Nanda kesal.
“Sorry...” Dan akhirnya Dinda meminta maaf.
Nanda kemudian duduk di sebelah Dinda. Dia merestart permainan itu. Kemudian memainkannya. Dinda memperhatikan itu dengan serius untuk mengobati rasa penasarannya. Di sela-sela main, Nanda menoleh pada Dinda. Seketika keheningan terpecah.
“Aaahhahahahh !! Hhahahah adooohh hahahh...”
Dinda terkaget dan langsung melotot pada Nanda. “Apaan sih? Kesurupan lo?”
“Hhahahahah... Aduuhh lucu banget !”
“Apanya yang lucu?” Dinda mulai cemas, siapa tahu saja kakaknya kesurupan setan ketawa.
“Hhahahahahh... Aduuhh..., aduuuhhh... Hhahhahahh...”
Dinda jadi kesal kemudian menjitak kepala Nanda. Ternyata berhasil membuat Nanda berhenti tertawa keras.
“Hhaha sorry Dii... Tadi muka lo lucu banget. Sumpah, lo lucu banget kalo lagi serius... Mata lo nyipit, alis jadi deketan, jidat berkerut, bibir maju ! Ahhahahah...”, timpal Nanda sambil memperagakan ekspresi yang dikatakannya.
“Nggak lucu!”
“Lucu, sumpah. Ahahahahh...”
Dinda memperlihatkan tangannya yang dikepal, Nanda langsung menahan ketawanya. Jangan sampai hal yang sama kembali melayang di kepalanya. Apalagi di jidat Dinda sudah muncul tulisan ‘Perang Yok !’. Bisa-bisa rumah jadi medan perang ke seribu sembilan ratus sembilan puluh sembilan (angkanya kayak yang tertera di label harga di supermarket-supermarket).
@@@
“Ting tong...”. Itu suara handphone Rena kalau ada pesan yang masuk.
Rena membuka pesannya, ternyata dari Miss Keke alias Keurang Kerjaan (maksa banget). Rena meletakkan kembali handphone-nya tanpa membaca isi pesannya. Tapi lagi-lagi handphone-nya berbunyi. Dengan setengah hati, Rena membuka isi pesan itu.

       4d4 hbung4n 4p4 lo s4m4 Dik4 ??
       Dil4
  

Aduh alay sumpah ! Tapi untungnya itu bukan faktor disengaja, soalnya handphone Miss Keke lagi rusak khususnya pada tombol a. Dua minggu yang lalu katanya sih besok diperbaiki, tapi tidak pernah terwujud. Kalau ditanya paling jawabannya, “aduuh gue lagi sibuk banget, nggak pernah sempet...”. Ya jelas aja tidak pernah sempat kalau kerjaannya setiap hari cuma menguntit orang. Kening Rena berkerut, kemudian membalas pesan itu.
       
        Ngapain lo mau tau? Gw gak suka. Sori.
 

Rena meletakkan kembali handphone-nya. Tapi lagi-lagi handphone-nya berbunyi. “Mck..., nih orang kenapa sih?”
       
       Lo k4si t4u gw 4to gw bikin berit4nya d m4ding?!
 
Rena tidak lagi membalas pesan itu. Dia berlalu meninggalkan handphone-nya di bufet. Dia tidak peduli Dila akan marah padanya atau tidak, dia juga tidak peduli dengan ancaman Dila.
@@@
“RENA !”
Haaahhh ! Ngapain lagi sih nih oraaangg? Sumfeh, ane fufur, ane cafeekk!, batin Rena begitu mendengar namanya dipanggil.
“Rena, mau kemana lo?”
“Kemana aja kaki gue melangkah. Kenapa?”
“Ih sok banget yah lo!”
“Aduh udah deh, to the point aja napa?”
“Nggak usah pura-pura lupa lo. Ada hubungan apa lo sama Dika?”
“Eh lo kenapa sih mau tau banget urusan orang? Gue nggak suka!” Rena langsung meninggalkan Dila. Tapi Dila mengejar dengan sambil mengangkat roknya yang sempit. Namanya juga anak Gehoels, seragamnya sengaja diperketat.
“Eh lo jawab nggak!”
Rena tetap berjalan tanpa mempedulikan Dila yang sudah seperti pengantin ‘kabur’ pakai gaun (masih mending sih pengantin, masih enak dilihat kalau gaunnya diangkat-angkat, kalau Dila? Waaahw, bisa menurunkan keimanan kaum lelaki).
“Rena! Gue nggak bakal ngelepesin eloo... Renaa !”
Tiba-tiba Dika muncul dan menghentikan langkah Dila. Dila langsung rem mendadak begitu melihat cowok yang jadi tokoh utama dalam kasusnya itu muncul.
“Apa-apaan nih?”
“Emm nggak ada apa-apa kok Dik...”, jawab Dila sambil merapikan roknya.
Rena menoleh, kemudian menarik tangan Dika untuk pergi. Dila masih diam, berdiri kaku, dan wajahnya jadi sedikit takut. Dia tidak berani mengikuti Rena, tidak berani mengoceh lagi.
Lagi-lagi kejadian barusan disaksikan oleh Dinda. Tapi lagi-lagi juga Dinda diam dan pura-pura cuek kemudian masuk ke kelasnya. Tira dan Dina juga melihat itu kali ini, mereka berdua jadi membicarakan perihal Dika dan Rena.
“Dika, pacaran nggak yah sama Rena?”
“Menurut lo?”
@@@
Beeeeeeeeeeerrrrrrrrrrrrtttttttttt...........!!
Bel panjang berbunyi, tanda waktunya pulang sekolah untuk SMA Harapan. Siswa-siswinya mulai mulai keluar dari kelas masing-masing, begitupun guru-guru. Dinda masih terdiam di kelasnya, sementara Tira dan Dina membereskan buku-buku mereka.
“Nggak pulang Di?”, tanya Dina.
“Hmm pulang kok... Tapi entaran dulu deh...”
“Mau kita temenin?”
“Nggak usah, kalian pulang diluan aja...”
Dina dan Tira saling memandang, kemudian tersenyum pada Dinda. Dinda membalas itu dengan tatapan datar.
“Ya udah deh, dah Didi...” Dina pun meninggalkan kelas, diikuti oleh Tira. Sebenarnya mereka merasa tidak enak pada Dinda karena pergi begitu saja. Tapi sudahlah, terlanjur. Lagipula sepertinya Dinda memang butuh sendiri.
Di kelas hanya tinggal Dinda. Kelas-kelas lain sepertinya juga sudah sepi. Suara orang yang sedang main basket membuat Dinda tidak takut. Kemudian dia keluar dari kelas, ingin menonton permainan yang sudah jadi bagian dari hidupnya itu.
Cowok dengan tinggi semampai, berkulit bersih, bentuk wajah yang manis dengan sedikit kumis, dan bibir kecil merah–tampak segar. Permainan yang indah, karena sudah biasa. Dinda memperhatikan itu sambil tersenyum tipis. Angin segar bertiup ke arahnya, membuat suasana hatinya membaik. Dia juga baru sadar saat itu bahwa Dika begitu enak dilihat.
“Didi !!”
Dinda tersadar, ternyata Dika berjalan mendekatinya. Dinda langsung memperbaiki posisinya dan tersenyum. “Kenapa Dik?”
“Lo nggak pulang?”, tanya Dika begitu sampai di hadapan Dinda.
“Ahh? Nggak, males. Entaran aja hehe... Lo?”
“Sama. Mau main basket nggak?”
“Mmm nggak deh, lo aja...”
“Dika !”
Dinda dan Dika menoleh ke sumber suara yang memanggil nama Dika. Seketika itu juga, raut wajah Dinda berubah. Ternyata hari ini bukan untuknya dan Dika senang-senang, melainkan hari dimana api cemburu berkobar.
“Eh Ren, lo lama banget sih...”
Hah? Jadi Dika lagi nungguin Rena?, batin Dinda.
“Sorry Dik... Gue kan piket hehe...”
“Ah biasanya juga lo males.”
Rena nyengir kuda, Dika mengacaki rambut Rena dengan gemasnya. Dinda langsung memalingkan pandangan. Batinnya terus menggerutu, tapi dia sungguh pandai menutupi isi hatinya meski di pikirannya sudah melayang-layang.
Dinda menjambak rambut Dika, dengan kerasnya hingga kepala Dika terguncang ke kiri-kanan dan depan-belakang. Dinda sudah sangat kesal dan mengomel dengan bibir yang maju 3 cm!
“Dasaaar cowok playboooooyyy!!! Mainin gue lo yah? Iiiiihhhh bisa-bisanya lo ngelakuin ini sama guee!!”
“Ampuunn Diii, ampuuunn...”, Dika hanya pasrah dan memohon ampun pada Dinda.
“Iiiihhh nggak ada ampun buat cowok kayak eloooo! Dasar cowok cap kodok!”, ujar Dinda sambil mencubiti kedua pipi Dika hingga merah.
“Oh iya Di, gue pulang dulu yah... Tapi lo nggak pa-pa kan?” tanya Dika saat menyadari Dinda memasang muka masam.
Dinda langsung tersadar dari lamunannya. “Ah, oh oke, ati-ati yah kalian hehe... Gue nggak pa-pa kok, cuma sakit perut aja dikit...”
Dika dan Rena tersenyum pada Dinda, kemudian berlalu dari hadapan Dinda menuju parkiran sekolah. Begitu mereka hilang dari pandangan, Dinda langsung menghentakkan kakinya keras-keras dengan melompat tidak jelas. Seakan amarahnya dilontarkan pada lantai yang diinjaknya.
@@@ 

Space
Bego ! Bego, bego, bego !!
Emang yah dasar Dika playboy ! Gue sadar, gue sadar... Namanya juga anak basket, kapten basket cowok ! Tapi kenapa coba gue bisa aja kecantol sama dia? Iiiishhh...
Eh, Nandika Pratama, gue gak kenal banyak yah sama lo, tapi hari ini juga gue tau kalo lo itu aaaarrgghh PLAYBOY GAK PUNYA MALU ! Bissa juga yah lo ngedeketin gue, trus karna gue ngegantung lo, jadinya malah ngedeketin Rena. Nggak nyangka gue bisa suka sama lo idiihh...

Dinda meletakkan bukunya, bukan diary karena dia jarang menulis diary.  Kemudian dia mengambil handphone-nya, online ria pun dimulai. Dinda memilih aplikasi Twitter, kemudian menuliskan Twit, “santaeeii...”. Ternyata di Timeline ada twit Dika yang sedang asik berbalas Mention dengan Rena. Mention demi mention, sampai Timeline Dinda hampir dipenuhi oleh nama Rena dan Dika. Panaaas!
“Iiishh biassa aja dongg !”
Dinda kemudian pindah aplikasi ke Facebook, daripada makan hati di Twitter. Lagi-lagi di Beranda ada status Dika yang bertuliskan “Kamu yang paling, dari yang paling-paling J”. Mata Dinda melotot, bibirnya jadi maju seperti monyet. Tapi Dinda malah membuka profil Dika, dan menemukan yang mengejutkan.
“Lajang?”
Pikiran Dinda mengalir, berpencar kemana-mana. Ahh dasar playboy! Eh tapi siapa tau dia nggak pacaran sama Rena? Ah nggak mungkin semesra itu! Eh tapi kan gue juga nggak tau apa-apa...
@@@
Pagi sudah menunjukkan pukul 7.05, matahari sudah terang benderang, cahayanya memancar di jendela kamar Dinda. Dari balik jendela itu, Dinda tampak berlarian, bergegas untuk ke sekolah. Sementara Nanda dari depan rumah sudah sejak tadi menunggu. Beberapa kali klakson dibunyikan, dan Dinda hanya bisa latah saat mendengar itu kemudian berteriak “Bentaaaaaaaaaaarrrr!!”.
Dinda membanting pintu kamarnya, berlari secepat yang dia mampu, meski sebenarnya belum selayaknya dia untuk keluar kamar. Sebab dari ujung rambut sampai ujung kaki belum ada yang pantas dilihat orang luar. Tanpa sisiran, bedak hanya asal ditepukkan, baju seragamnya yang sebelah kanan keluar tapi yang kiri sudah masuk rok, sementara sepatunya bukan terpasang di kaki melainkan digantung di leher, dan satu lagi yaitu tasnya yang belum dikancing.
“Ati-ati Nonn...”, ujar Bi Darsih begitu melihat Dinda berlari menuruni tangga.
“Aku pergi ya Bii... Assalamualaikum...”
PEIIIIPPPPH !!!!!, suara klakson mobil Nanda kembali terdengar. Dinda pun spontan melakukan gerakan seperti gaya spongebob panik dengan mengangkatkan tangannya lalu berlari. Bi Darsih jadi khawatir melihat ulah Dinda pagi ini.
PEIIIIIPPHHH !!!! PEIPHH PEIPPHH !! Pagi-pagi harus dengar suara itu berkali-kali, membuat telinga Dinda sakit. Andai saja huruf P diganti menjadi B, dan keluar dari mulut Dika dengan suara merdu, pasti telinga Dinda jadi adem. Eh, ralat, Dinda bukan cewek manja yang suka dipanggil ‘Beeeeeiibbhh’.
“Lama banget sih !”, ujar Nanda begitu Dinda membuka pintu mobilnya.
“Soli solii... Udah, buruan jalan !”
Nanda langsung tancap gas sambil mengomel pada Dinda. Dinda sendiri tidak memperdulikan itu, dia sibuk merapikan seragamnya, memasang sepatunya, dan menyisir rambutnya. Inilah enaknya naik mobil, karena biasanya kalau Dinda sudah buru-buru, kata rapi dan sisiran sudah hilang dari kamusnya dan baru muncul kembali setelah dia bertemu dengan Tari. Sebab Tari akan shock dan berceloteh dengan kecepatan bak 180 km/jam dengan kalimat “Didiii!!! Lo nyadar nggak sih berapa pasang mata yang udah ngeliat elo dari pintu kamar lo sampe kelas dengan dandenan yang kayak begitu?!!”

“Paaaaaakkk !!!”, jerit Dinda sambil berlari kencang menuju gerbang.
Nanda masih sempat mendengar jeritan adiknya itu, tapi kali ini dia tidak komplain. Sebab dia akan melakukan hal yang sama, bahkan mungkin lebih parah nantinya begitu sampai di sekolah.
Dinda menarik nafas panjang-panjang, kemudian begitu tiba di gerbang, dia memiringkan posisi badannya, hingga dia bisa masuk di sela-sela sempitnya sisa gerbang yang terbuka. Kejadian barusan sudah membuat Dinda bak bintang iklan obat pelangsing.
“Tengkyu Paak...”, ujar Dinda yang masih sambil berlari.
“AUUCHHH !!”
“Eh sorry sorry... Gue nggak sengaja...”. Dinda telah menabrak orang, dirinya yang jatuh mencoba berdiri.
“Santai aja dongg !”
Dinda kini sudah berdiri di hadapan orang yang sudah ditabraknya barusan, dengan tampang penuh rasa bersalah, Dinda mengharapkan orang itu segera memaafkannya dan berhenti mengoceh. Tapi sepertinya itu sia-sia, sebab yang ditabraknya itu Miss Keke.
“Lo itu punya mata dipake dong ! Liat deh, seragam gue jadi kusut ! Lo jangan banding-bandingin sama seragam elo dong ! Iiicchh...”, omel Dila sambil memandangi Dinda dari atas ke bawah.
“Iyaa, gue salah, makanya gue minta maaf...”
“Kalo semua bisa diselein dengan maaf, penjara nggak penuh !”
“Iya gue tau, terus lo maunya apa?”
“Hmmm... Bentar yah, gue pikirin dulu...”. Dila kemudian mengangkat wajahnya, mencoba berpikir. Kali ini kembali dia berpose ala putri raja yang sombong, OMG.
“Kalo udah dapet, kasih tau gue aja...”. Dinda kembali berlari, meninggalkan Dila yang tampaknya langsung naik darah.
“Heeeii !!!”
Dinda tidak peduli, dia terus berlari menuju kelasnya. Dia tidak mau meninggalkan pelajarannya lebih lama hanya karena meladeni Miss Keke yang tidak penting itu. Siape elu?
@@@
Pertaruhan Harga Diri !!!
Dinda menutup bukunya setelah mempelajari teori-teori Geografi yang menjadi bahan ujiannya dua hari lagi. Matanya mulai lelah, sudah waktunya dia untuk tidur. Dia meletakkan bukunya, kemudian menutup mata. Tapi ternyata belum saatnya tidur, sebab dia masih di dalam bathup sambil berendam.
Dia ingin menyegarkan tubuhnya, pikirannya, mencari ketenangan. Tadi di sekolah dia lagi-lagi melihat Dika dan Rena sambil bercanda ria. Meski Dika menyapanya, Dinda hanya diam. Respon diamnya itu bukannya menghasilkan rasa penasaran, melainkan Dika membiarkannya.
Dinda menenggelamkan kepalanya, kemudian muncul lagi. “Uhhuk uhhukk...”. Kalau di film-film kartun, sudah ada buih yang keluar dari mulutnya.
Tiba-tiba ada gedoran dari pintu kamar mandi, Dinda seketika kaget dan justru busa-busa sabun memasuki mulutnya.
“Uhhuk ukkhoeapaaa?!”
“Didi ! Keluar ! Gue kebelet !”
“Uhhuk uhhukk... Gue laahhukk uuhmmndiih !!”
“Ngomong apaan sih lo? Buruaannn !”
Dinda pun duduk sambil berusaha meraih handuk. Badannya masih dipenuhi busa yang singgah, tak lagi sempat membilas. Namun pintu langsung terbuka.
“HAAAAARRRGGGGHHH !!!!”, jerit Nanda. Dia melihat adiknya, dan langsung membelakang, tapi ada yang sudah melepaskan diri dari dalam tubuhnya. Celananya sudah basah.
“Uuukkkhhhhhuukkhh aaaaakkkhhh !!” Dinda langsung memasang handuknya, dan melempari Nanda dengan air sabun.
Mau tidak mau, Nanda langsung berlari keluar dari kamar mandi dengan kondisinya. Basah karena air sabun yang bercampur dengan air seni di celananya. Dinda pun keluar dari bathup dan menutup pintu kembali.
@@@
Dinda keluar dari kamarnya, rambutnya yang basah dibiarkan terurai. Kali ini tentunya dia sudah berpakaian. Celana panjang lebar berwarna cokelat, dan baju dengan lengan yang kepanjangan berwarna lebih muda. Dilihatnya ke kiri dan kanan untuk memastikan ketidakberadaan Nanda. Dia belum siap untuk bertemu kakaknya yang sudah melihatnya mandi tadi sore.
Dinda berjalan pelan menuju dapur. Perutnya sudah lapar. Begitu sampai di dapur, dilihatnya Bi Darsih sedang sibuk menata makanan di atas meja makan. Dinda langsung berlari pelan mendekati Bi Darsih.
“Bibi, makanannya bawain ke kamar saya yah sepiring... Minumnya juga heheh...”, pinta Dinda dengan sedikit berbisik.
“Emang kenapa Non?”
“Yaa, aku mau aja makan di kamar... Nggak pa-pa kan Bii?”
“Ngge Non...”
“Oke makasih Bii...”. Dinda langsung berlari menuju ke kamarnya.
Selang waktu hanya dalam hitungan detik, Nanda muncul. “Masak apa nih Bi?”
“Semur Den...”, jawab Bi Darsih sambil menyajikan makanan di atas piring makan.
“Biar saya ambil sendiri Bii...”
“Ehmm, anu Den, ini pesenennya Non Dinda...”
“Ooohh...”
Bi Darsih pun membawakan makanan yang sudah disajikannya ke kamar Dinda. Nanda manggut-manggut mengetahui tingkah adiknya itu. Dia cuek, dan memilih makan dengan santai.
@@@
Dinda membuka pintu kamarnya, menampakkan wajahnya, mengintip suasana di luar kamar. Dilihatnya tidak ada siapa-siapa. Dia pun membuka pintu kamarnya lebih lebar dan memutuskan untuk ke luar.
“Mau sampe kapan?”
Mata Dinda melotot, kaget. Dia tidak berani menoleh, cukup mematung di tempat. Itu Nanda, itu Nanda!!
“Yang tadi sore? Nyatai aja napa? Lo kan adek gue...”
Dinda masih diam meski sudah tidak kaku. Dia ingin berbicara, tidak setuju dengan yang dikatakan Nanda. Tapi dia belum berani.
“Gue pikir lo cuek... Jelek lo!”
“Iiiishh !! Lo apa sih? Nggak nyambung tau !”, ujar Dinda sambil menoleh pada Nanda dengan tatapan tajam.
“Bagi gue nyambung-nyambung aja... Mulut, mulut gue...”
“Eh lo jangan rese’ yah. Bukannya minta maaf, malah bikin masalah...”
“Ngapain gue minta maaf? Yang tadi itu KECELAKAAN !”
“Haaaargghh terserah deh !” Dinda langsung berbalik badan dan berjalan menjauh dari Nanda.
“Jelek lo!”
“JUUUGAAA !!”
“Cewek jadi-jadian !”
Dinda langsung berhenti. “Lo bilang apa?”
“Luar dalem nggak ada cewek-ceweknya blweeekk !”
Dinda menoleh, “lo jangan ngomong sembarangan yah ! Cari masalah banget sih ! Lo kira, lo gentle? NGGAK BANGET ! bancis gitu iiichh...”
“Ehh buktinya apaan? Lo tuh yang jadi-jadian !”
“Elo !”
“Elo !”
“Elo !”
“Elooooo !!!”
“Haaaaarrrggghhh STOP !”
“Oke, kalo gitu buktiin kalo lo cewek !”
“What? Gue emang cewek you know !”
“Bukan. Gue mau lo bener-bener bersikap kayak cewek. Yaaah, kayak Fya gitu deh...”
“Gila yah lo !”
“Kenapa?”
“Oke, kayak Fya? Keciil ! Tapi syaratnya lo juga mesti buktiin kalo lo cowok !”
“Gampang !”
“Pacarin Fya !”
“WHAT ?!!”
“Why? I think it’s real...”
“Nggak. Nggak mungkin bego !”
“Terserah ya laww ! Bancis !”
“Eh bukannya gituuu !!”
“Bancis !”
“Oke, oke ! Elo juga pacarin si Dika !”
“Hah?! Nggak bisa ! Ehmm tantangannya gue ganti dehh...”
“Ooohhh tidak bissaaa...”
“Nanda, lo jangan gitu ahh... Lo kan juga nggak bisa pacarin si Fya, jadi apa salahnya sih?”
“Udah deh, ngomong tuh sekali aja !” Nanda kemudian pergi. Dinda mengejarnya sambil memelas. Tapi Nanda bersikap acuh.
@@@


Dag Dig Dug
“What  ?!!”
“Iyaa... bego kan? Gue pusing deh mesti mulainya kayak gimanaa...”
“Hmm... Gue rasa sih nggak susah-susah amat Dii... Lo tinggal bilang suka sama Dika, beress ! Kan Dika emang udah ngejar dari dulu...”, ujar Dina.
“Nggak segampang itu Din...”, bantah Tira.
“So?”
“Gue nggak tau Din... Sekarang tuh gue sama Dika kayak ada space gitu... Padalagi skarang udah ujian semester, gue makin nggak bisa bertindak...”
“Bener banget. Apalagi gue denger-denger Dika lagi deket sama Rena...”
“Rena siapa?”, tanya Dina.
“Itu yang pindahan semester lalu, anak mading, trus suka bawa-bawa kamera gitu deh...”
“Yang suka sendirian?”
“Iyah. Lumayan misterius gitu deh anaknya... Jutek lagi !”
“Jutekan mana sama Didi?”
Tari diam. Dina pun menyadari perkataannya barusan.
“Pasti dia deh, Didi kan nggak jutek yaahh... Hheheh...”, lanjut Dina. Basi banget !
“Hmm tapi Dii, kalo misalnya Dika sama Rena beneran jadian gimana? Secara sih wajar aja gitu kalo Dika berpaling, abis lo udah ngegantung dia lama banget Di... Nggak jelas gitu...”
“Hhhh... Lo berdua yah, bukannya ngasih solusi malah bikin gue tambah pusing !”
“Aduh Dii, sorry... Gue nggak maksud gitu, gue kan cuma ngira-ngira... Mending lo pikirin itu sekarang daripada akhirnya lo kecewa juga kalo emang omongan gue itu bener...”
“Tari !!”
“Eh iya iya, gue diem...”
Tiba-tiba Dika lewat di depan kelas mereka. Dinda jadi memasang tampang agar bisa terlihat oleh Dika. Tapi sayangnya itu gagal, Dika tidak menoleh padanya.
“Tuh kaaan... Aaaaggh auk ahh pussing gue !”
“Sabar Dii, mungkin dia mau blajar...”
@@@
Tari dan Dina sudah berkumpul di kamar Dinda, tak terlupakan pula sang pemilik kamar itu sendiri. Mereka rencananya akan belajar bersama, sekaligus membantu Dinda dalam menjalankan tantangannya untuk mengalahkan Nanda.
“Pertama-tama gue mesti gimana?”
“Belajar berhias yang feminim.”
“Next?”
“Belajar jalan, duduk, makan, and ngomong yang sopan sepanjang hari...”
“Then?”
“Belajar masak.”
“Gue bisa kok...”
“Masakan standar rumah tangga?”
“Yang penting bisa... Lanjut!”
“Huuh... Hmm deketin Dika...”
“Caranya?”
“SMS diaa...”
“Nggak tau nomer barunya...”
“What? Ah parah lo...”
“Iyaa, dulu sih dia ngasih tau, tapi nggak gue save hehe...”
“Nyengir lagi... Nggak lucu ! Tambah ribet kan lo ! Tanyain gih sama temen-temen basket lo...”
“Oke boss...”
“Abis itu lo musti peratian sama dia...”
“Eh gemblog ! Nggak dehh... Nggak lucu tau gue tiba-tiba bersikap gitu sama dia... Ntar kesannya kenapaaa lagi gue ihh...”
“So lo maunya gimana nyonyoo?”
“Meneketempret.”
“Iiissshhh sussah lo yah...”
“Mck ah udahan ahh... Capek ! Ribet, ogah gue...”
“Trus tantangannya?”
“Bodo amat, yang penting gue udah bilang kagak setuju kan?”
“Didii...”
“Hmh udah deehh..., nggak usah dipikirin lagi. Toh kalo emang udah waktunya, nggak diharep, nggak disangka, nggak dikira, kalo takdir udah bilang disatuin yah disatuin aja kan? Kayak lagunya Sheila On Seven, Untuk Perempuan...”, terang Dinda dengan gaya bicara santai sambil memutarkan lagu yang baru saja disebutkannya.

Jangan mengejarnya
Jangan mencariya
Dia yang kan menemukanmu
Kau akar di hatinya
Di hari yang tepat

Jangan mengejarku dan jangan mencariku
Aku yang kan menemukanmu
Kau tetap di hatiku
Di hari yang tepat

Di dalam mawar, hampiri kumbang
Bukanlah cinta bila kau kejar
Tenanglah tenang, dia kan datang
Dan memungutmu ke hatinya yang terdalam
Bahkan dia takkan bertahan tanpamu..

Sibukkan harimu, jangan pikirkanku
Takdir yang kan menuntunku pulang kepadamu
Di hari yang tepat

Di dalam mawar dihampiri kumbang
Bukanlah cinta bila kau kejar
Tenanglah tenang, aku kan datang
Dan memungutmu ke hatiku yang terdalam
Bahkan ku takkan bertahan tanpamu..

Aku yang kan datang
Aku yang kan datang
Aku yang kan datang
Aku yang kan datang..
Sheila On Seven – Untuk Perempuan.
@@@
Puisi Untuk Dinda
Dinda melempar bukunya ke meja, manaikkan kakinya ke sofa, menekuk tangan, tampangnya sudah murung tingkat dewi. Dia tidak bisa berkonsentrasi belajar. Dia teringat pada Dika. Dia tidak habis pikir dengan perubahan sikap Dika.
“Bisa-bisanya yah lo kayak gitu! Kemaren bilang A, besoknya bukan B lagi, tapi Z ! Lo nggak malu apa sama sikap lo ? Cowok apaan lo ? Lo nggak pantas pernah bilang kalo lo tulus ! Mana janji lo ? Sampe-sampe dulu lo nyimpen surat di buku gue, sampe-sampe lo rela nemenin gue keluar kota, dulu lo gue judesin pake cabe rawit seliter juga nggak pernah nyerah. Tapi skarang ? Iiiishhh apa sih salah gue sampe lo berubah tiba-tiba and tanpa alasan kayak gini ? Nggak lucu tau!! Sialan lo! Kucrut! Playboy!”, hardik Dinda dengan emosi. “HAAAAAAAAAKKKKHHHHHHH !!!!”
“Wooy gila ! Gue lagi blajar !”, seru Nanda dari kamarnya.
“Blajar ya blajar aja napa sih lo? Nggak usah ganggu gue !”
Nanda langsung membuka pintu kamarnya, “eh lo tuh brisik ! Gue nggak bisa konsen blekok !”
“Haaahh ribet banget sih lo ! Pake penutup telinga aja !”
Nanda kemudian keluar dari kamar dan menampakkan diri di hadapan Dinda. Dinda memandangnya dengan tampang sinis. Nanda pun langsung melempar bukunya ke kepala Dinda.
“Woi sakit !”
“Lo yang mulai. Kalo lo mau ribut, yang jauh !”
“Nggak ! Gue udah PW di sini ! Lo aja yang blajarnya pindah...”
“Lo sbagai adek ngehargain gue kenapa sih?”
“Lo sbagai kakak ngehargain gue juga kenapa sih? Hah?”. Air mata Dinda langsung menetes seiring dengan berakhirnya kalimatnya. Nanda terdiam.
“Lo nggak pa-pa?”
“Peduli apa lo?”
“Dii...,”
“Hhh..., udah lo blajar aja sana ! Gue yang pindah !”. Dinda langsung bangkit dan mengambil bukunya, lalu pergi dari hadapan Nanda. Nanda menghela nafas, kemudian kembali ke kamarnya.
Dinda membuka kotak kecil dari bufetnya, diambilnya secarik kertas, dan dibuka isinya. Itu adalah surat yang dulu diberikan Dika kepadanya. Dinda membaca isi surat itu, air matanya kembali mengalir.
Buat Adinda Putri..
Didi, gue sadar kalo lo nggak suka sama gue...
Gue juga tau diri kok, kalo gue nggak pantes buat lo...
Lo mungkin bilang gue lancang banget udah ngasih lo surat...
Tapi Di, gue nggak bermaksud banyak kok...
Gue cuma pengen nyatain perasaan gue ke elo...
Gue nggak minta lo mau jadi pacar gue...
Gue cuma minta tolong kalo lo ngizinin gue buat ngejaga lo,
Izinin gue buat sayang sama lo...
Maafin gue Dii...
Nandika Pratama
Dinda menutup suratnya, kemudian mengambil surat berikutnya. Surat yang satu ini belum pernah dibaca oleh Dinda. Ini adalah surat pertama dari Dika, ketika Dinda masih cuek terhadapnya. Surat yang masih lengkap dengan amplop rapi. Dinda membukanya, surat yang cukup panjang. Dinda bergetar, kemudian dibacanya surat itu.

Adinda Putri
Aku tidak sepuitis para pujangga,
Tapi aku seorang pria yang ingin menuliskan segala yang kurasa.
Aku bukan orang hebat yang mampu meluluhkanmu.
Tapi akulah orang yang akan bertahan padamu.

Seringkali aku bertanya, kapan aku bisa memilikimu?
Pemilik senyum yang paling kusyukuri.
Sempat terfikir bahwa aku akan hilang terhapus waktu.
Tapi tahukah kamu, cintaku berkembang meski tak sejalan denganmu.

Kasih...
Iya, aku hanya sanggup menyebutmu sebagai kasihku.
Sebab aku hanya bisa mengasihimu dengan segala rasa sayangku.
Kamulah sang pemilik hati.
Kamulah yang mampu membuatku bertahan.
Kamulah yang mempu tenangkan gundahku hanya dengan melihat keceriaanmu.
Kamulah yang segalanya bagiku.

Aku tak tahu apa yang terjadi.
Ada yang bilang, Tuhan selalu memberi yang dibutuhkan.
Tapi sungguh aku membutuhkanmu.
Setiap malam aku berdoa pada Tuhan, berharap Dia mengabulkan.

“Tuhan, jika kelak kami dipertemukan, biarkanlah rasa ini tumbuh mendalam. Namun jika tidak, buatlah aku rela melepasnya. Aku rela, aku percaya, akan kekuasaanMu. Engkau mampu mengatur hati sang kekasih.”

Kasih, maafkan aku yang terus mengusikmu.
Aku hanya ingin kau tahu, bahwa akulah orang yang akan selalu ada untukmu.
Mungkin aku ego, karena tidak peduli seberapa kesalnya kau akan sikapku ini.
Tapi tenanglah, aku berjanji, jika memang Tuhan menakdirkan aku pergi suatu saat nanti, maka aku akan pergi.
Nandika Pratama
Dinda tidak tahan lagi, air matanya mengalir semakin deras. Kali ini dia benar-benar memaknai isi surat-surat Dika. Dinda seakan benci pada Dika, tidak percaya dengan yang dialaminya. Berharap bahwa dirinya hanya mengalami mimpi buruk yang panjang. Dia ingin segera bangun, meninggalkan semua kebodohan ini.
@@@
  

I’m okay, I’m not okay
The girls smile when she feels good or she wanna be a strong girl.

Dinda berjalan keluar dari ruangan tempatnya ujian. Koridor sudah diramaikan oleh siswa-siswi lain yang sudah lebih dulu menyelesaikan soal ujian. Dinda melirik ke kiri dan kanan, sosok Dina dan Tari belum didapatinya. Ketiganya memang berbeda ruang ujian, sebab dalam sekelas dibagi menjadi 3 ruang ujian yang diurut berdasarkan absen. Adinda Putri, Nadia Deyna Soraya, dan Utari Adewiyah, bukanlah urutan nama dengan abjad yang berdekatan. Dinda pun mengambil bukunya sambil tetap berjalan.
“Hai Dii...”
Dinda menoleh pada suara yang memanggilnya. Namun ternyata yang dilihatnya merupakan pemandangan yang sangat tidak diharapkan. Dika dan Rena.
“Sendiri aja?”
“Hmm...”. Dinda hanya tersenyum.
“Oooh... Ya udah, gue duluan yah...”
Dinda tidak merespon, membiarkan Dika dan Rena pergi. Rasa bencinya kembali muncul, dia seperti ilfeel pada sikap Dika barusan. Tapi dia tetap tenang dan cuek.
@@@
Dinda menyalakan MP3, terdengar langsung lagu dari My Chemical Romance–Im not okay. Dinda melompat dan bernyanyi seirama dengan lagu itu. Kini rumah Pak Sudarto sudah berganti dari hening menjadi ribut.
Tiba-tiba pintu kamar Dinda terbuka, ternyata Bi Darsih. Sambil menutup kedua telinganya, Bi Darsih berjalan mendekati Dinda. Dinda belum menyadari akan kedatangan Bi Darsih.
“Noon...”
“Huwoohoo... I’m nooott oookayy, I’m not okay, I’m not okay...,”
“Non Dindaaa !”
“Huwaaa aaaahh dededen dededengg jeradatarararar huuuh...”, jerit Dinda dengan nada yang menirukan musik lagunya. Dinda masih tidak mendengar Bi Darsih.
“DIDI !!”, terdengar suara laki-laki dari luar kamar.
Dinda semakin mengikuti lagu yang didengarnya, sampai-sampai dia menggunakan kayu di tangannya untuk memukul meja layaknya bermain drum. Bi Darsih langsung memegangi pundak Dinda untuk menyadarkannya.
“Nooonnn...”
“Trust me...”, ujar Dinda dengan potongan lirik sambil berbalik pada Bi Darsih.
“Eh lo gila yah? Dari kmaren bisanya cuma bikin ribut aja !”, seru Nanda yang tiba-tiba muncul dari balik pintu.
“Yee ini kamar kamar guee...”
Nanda langsung mengambil MP3 Dinda dan mematikan musiknya. “Tapi musik lo itu berisik banget, kedengeran sampe di kamar gue ! Ngehargain gue dikit napa sih? Besok masih ujian woiiy !”
“Bukannya daritadi lo udah belajar? Pagi siang sore malem, blajar mulu ! Sampe makan aja pake dianterin ke kamar. Lebay banget sih lo ! Otak lo dikasih istirahat kek...”
“Hahah pantesan aja lo bego, cara blajar lo aja mengkhawatirkan gitu...”
“Shut up your fuckin’ mouth !”. Dinda langsung keluar dari kamarnya, berjalan cepat menuruni tangga menuju pintu ke luar rumah.
Nanda diam di posisinya. Bi Darsih langsung keluar melihat Dinda. Bi Darsih tampak cemas, dia bingung dengan keadaan rumah majikannya.
“Den, apa ndak sebaiknya Aden ngejar Non Dinda?”
“Ngapain, ntar juga dia balik lagi...”
@@@
Dinda berjalan di sepanjang trotoar. Beberapa kaleng bekas atau plastik sudah ditendangnya berkali-kali hingga rusak. Malam cukup ramai, kendaraan berlalu lalang, pengamen-pengamen jalanan sibuk mencari rezeki di warung-warung dan di persimpangan lampu merah. Di pikiran mereka hanya mencari cara untuk bertahan hidup. Tidak peduli kondisi langit. Apa cerah, mendung, biru, gelap, jingga, atau kelabu. Tidak peduli kondisi jalan, sunyi atau ramai. Karena mereka harus tetap hidup.
Dinda menghentikan langkahnya. Dia menatap ke langit, tidak banyak bintang, dan ada bulan. Dinda duduk di pinggir trotoar, seorang kuli bangunan lewat di depannya dengan sepeda tuanya. Dinda menunduk, melihat kerikil-kerikil kecil di sekitar kakinya. Diambilnya satu kerikil, kemudian dicoretkan pada pasir. Coretan yang tiada artinya, hanya membentuk benang kusut. Dinda pun melempar kerikilnya jauh-jauh.
“Hmmmhh...”. Dinda mengambil handphone-nya dari saku celana. Tidak ada pesan, tidak ada panggilan tak terjawab, tapi kemudian cahaya handphone Dinda jadi lebih terang untuk sekejap, ada satu pemberitahuan; Low Battery ! Dinda mengembalikan handphone-nya di tempat sebelumnya. Kemudian bangkit, menoleh ke kanan dan kiri. Berharap ada yang bisa membuatnya lebih baik. Nyatanya tidak ada. Dinda memutuskan untuk pulang. Kembali dia merogohkan saku, mencari uang untuk ongkos pulang.
“Shith !”. Dinda hanya bisa diam sejenak di tempat, kemudian berjalan ke arah menuju rumahnya. Meski jarak cukup jauh, dia tidak punya pilihan. Bahkan dirinya bingung bagaimana bisa sampai di tempat itu.
@@@
“Heillow honey...”
Dinda langsung menoleh pada asal suara yang menyapanya. “Apaan sih lo ganjen banget...”
“Hihihi... Daripada elo, mukanya kusut gitu kayak belom disetrika...”, timpal Tari.
“Sejak kapan muka disetrika dongdong?”
“Iihhh lo kok sensi banget sih Dii... Masih pagi gitu, kita mesti slalu senyum. Ada yang bilang kalo kita senyum pagi-pagi, nasib baik akan menghampiri...”
“O”.
“Didii !!”
Tiba-tiba Dina datang di antara Dinda dan Tari. Dengan buku Kewarganegaraan di tangannya, aura kepintarannya memancar.
“Weits anak rajin dateng...”
“Apaan sih...”, elak Dina kemudian duduk di bangku sebelah Dinda.
“Ulangan terakhir PKn, haha sekucil upil deh !”, cerocos seseorang yang tiba-tiba datang–Dila.
Dinda, Tari, dan Dina menoleh dengan tampang heran. Ini orang dateng darimana? Main ikut ngomong aja, kasian banget...
“Kenapa? Kalian nggak usah ngeliatin gue kayak gitu deehh... Gue cuma ada perlu sama satu dari kalian, Didi Kempot !”, lanjut Dila.
“Eh, Miss Keke Keki Kaki Kaku ! Nama gue Didi alias Adinda Putri ! Lo kalo ada perlu sama gue ngomongnya yang baek dong !”
“Ups marah... Ya sorry, tapi gue mau nagih utang sama lo !”
“Ngeh? Utang apaan? Gue nggak pernah minjem duit lo, gue juga nggak pernah minta tolong sama lo, dan gue nggak pernah ikut campur urusan lo !”
“Aduuuhh nggak usah belaga bego deh Adinda Putri... Lo inget nggak waktu lo nabrak gue pagi-pagi?”
Dinda terdiam. Mencoba mengingat-ingat perkataan Dila barusan. Dia pun paham, dan langsung bangkit. “Jadi mau lo apaan?”
“Bayar utang lo!”
“Lo tuh bego dipelihara yah ! Gue mesti gimana?”
“Yaaa... Bayar utang lo bego !”
“Haaahh buang-buang tenaga ngomong sama lo !”, cetus Dinda kemudian pergi dan diikuti oleh Dina dan Tari.
“Eeeehh jangan pergi dulu ! Woiy ! Brani lo yah sama gue ! Didi Kempooott!!!”
Dinda terus berjalan menjauh. Dina dan Tari sesekali menoleh pada Dila. Penasaran dengan bagaimana ekspresinya. Ternyata dia menghentak-hentakkan kakinya dengan kesal sendirian sambil memanggil Dinda dengan suara serak beceknya.
“Emang lo ada masalah apa sih Dii sama dia?”, tanya Dina penasaran.
“Gue pernah nabrak dia pagi-pagi, gue buru-buru banget... Dia minta ganti rugi...”
“Ganti rugi apaan? Emang rambutnya rusak? Seragamnya kotor? Spatu Paris-nya lo injek? Atau mukanya kena kotoran sapi? Hhahahah...”, ujar Tira sambil membayangkan Dila kalau mengalami hal-hal yang dikatakannya.
“Hhahahah...”
“Gue bilang juga apa Dii, kalo pagi-pagi tuh senyum, biar dapet nasib baik...”
“Untung gue slalu senyum hihi...”, ucap Dina merespon dengan malu-malu.
“Yes, kali ini nggak ada yang bilang ‘O’ hahah...”
“Bangga?”, ujar Dinda.
“Iiihh Didii...”. Tari langsung manyun. Tapi Dinda kemudian mencubit pipinya hingga dia membalas dengan kesal.
@@@
Nggak Bisa Nahan Diri
Dinda, Dina, dan Tari berjalan dengan santainya di sepanjang jalan mall. Tidak ada maksud tertentu selain sekedar menyegarkan pikiran dan iseng. Selagi sisa uang saku masih cukup, tidak ada salahnya kan? Sekalian merayakan berakhirnya ujian semester.
Berakhirnya ujian semester menandakan sebentar lagi akan penaikan kelas. Mereka akan jadi anak kelas XI. Guru BP mereka sudah memberitahukan kalau mereka masuk di kelas IPA, tapi untuk kelas IPA berapa, tergantung nilai mereka masing-masing setelah penerimaan rapot. Di kelas XI juga akan diadakan pergantian pengurus OSIS. Mereka sudah yakin kalau 2 calonnya itu Dika dan Dila. Kenapa Dika? Karena Dika memang sudah punya bakat di bidang organisasi, lagipula dia terhitung cerdas. Sedangkan Dila, dia selalu tidak mau ketinggalan popular. Tentunya berbagai cara akan dia lakukan untuk bisa menjadi kandidat.
Back to laptop. Tari membelok ke arah stand handphone, dari layar bening terlihat jelas handphone yang sedang menjamur di kalangan remaja saat ini. Jejeran Blackberry dengan berbagai tipe sudah di depan mata Tari. Kalau saja tidak ada orang, mungkin ilernya sudah menetes.
“Rii, apaan sih malu-maluin lo...”, tegur Dinda.
“Di, gue pengen deh...”
“Nah lo kan udah punya...”
“Tapi gue mau yang Dakota...”
“Ya ampun Tari, syukurin aja punya lo napa? Sama-sama BB kok...”, ucap Dina menasehati.
“Aduh Dina sayang, tetep aja beda. Apa kata orang gitu kalo Utari Adewiyah handphonenya ketinggalan? Oooh tidak bissaa... Lo aja iPhone 4, masa gue? Haaahh...”
“Onyx nggak ketinggalan kok Rii...”
“Ri, handphone gue umurnya setahun lebih, santai...”, ujar Dinda.
“Ouuhh no no no ! Didi, lo tau gue kan? Reza aja minggu kemaren baru beli iPad ! Ya seenggaknya handphone gue gitu mesti baru... Malu dong sama cowok sendiri...”
Dina langsung menarik tangan Tari menjauh dari stand handphone. Tari hanya menoleh dengan tampang kecewa pada handphone yang diidam-idamkannya. Dinda sendiri hanya menggeleng-geleng kepala dan berusaha menutupi rasa malunya karena tatapan orang-orang sudah ke arah mereka bertiga.
Utari Adewiyah memang paling tidak bisa diam jika melihat perkembangan teknologi dan mode. Kurang lebih sama dengan Miss Keke, tapi setidaknya dia tidak sombong dan bukan tukang nguping atau membututi orang. Kegiatannya setiap minggu ke dua dalam sebulan adalah ke salon untuk creambath atau maskeran, padicure-manicure, luluran, spa, facial, dan tidak jarang mengganti gaya rambut. Segala macam sudah dicoba, mulai dari jaman rebonding, catok, sampai keriting gantung. Sangat menjaga postur badan dengan pola makan dan olahraga yang ala cantik dari berbagai pelosok dunia. Di kamarnya ada 4 lemari besar yang berisikan khusus gaun, sepatu, pakaian casual, dan accessories. Beruntung orang tuanya masih mampu membiayai semua kebutuhannya. Kalaupun kurang, Tari rela menabung dengan tidak jajan di sekolah demi bisa mendapatkan yang diinginkannya. Intinya Tari benar-benar cerminan anak muda gaul zaman sekarang dengan cap 3B, Behel alias Kawat Gigi, Blackberry, dan Belah Tengah.
@@@
Dinda dan Dina sudah berdiri di depan gerbang SMA Harapan. Mereka sedang menuggu satu sahabat, yaitu Tari. Lagipula hari ini sudah tidak ada kegiatan belajar-mengajar di sekolah, jadi mereka santai saja tanpa takut telat. Mereka hanya datang untuk cek-cek nilai atau sekedar datang karena tidak ada kegiatan di rumah.
Dila turun dari mobil pengantarnya. Rambutnya yang panjang dikibas bak model iklan shampo. Kemudian dia menutup pintu mobil sementara tangannya yang lain memegang handphone baru, seolah sengaja dipamerkan. Selanjutnya dia berjalan bak Miss Universe dengan sepatu yang berkilau, dari jauh saja sudah jelas terlihat hasil rancangan desainer ternama.
“Biassa aja dong...”
Dina berusaha menenangkan Dinda yang kepanasan melihat Dila. Dinda pun berusaha bersikap acuh. Dia perlu bersyukur karena Tari tidak sampai bersikap demikian (eits, mungkin).
Tiba-tiba di sisi lain, Tari sudah muncul. Dia juga diantar dengan mobil mewah keluaran terbaru berwarna merah cerah. Dia tersenyum penuh bangga. Di tangan kanannya, juga ada benda yang sama dengan milik Dila. Dinda dan Dina jadi tercengang melihat sahabat mereka itu.
“Itu Tari bukan sih?”, tanya Dinda.
“Gue nggak rabun kan Dii? Itu Tari ngapain?”
Ternyata bukan hanya Dinda dan Dina saja yang kaget. Dila yang sudah lebih dulu tiba di gerbang juga bereaksi sama. Dila memperhatikan Tari mulai dari kaki hingga rambut. Tampak begitu jelas kekesalan di wajahnya.
“Hai girls...”, sapa Tari dengan senyumnya pada Dinda dan Dina.
“Rii, lo dianter sama siapa? Kayak bukan nyokap lo...”, tanya Dina.
“Emang bukan. Itu Reza...”
“Hah... Baru gitu aja udah sok... Iiichh nggak banget deeh...”, ujar Dila dari jarak sekitar 2 meter dari mereka.
“Nah elo sendiri? Gue nih ya, punya Dakota tuh nggak sombong !”, balas Tari. (Ada juga orang nggak sombong tapi dibilang -_-)
“Tari, ngapain sih lo? Udah yuk ah, kita masuk aja...”, ajak Dinda.
“Iiiichh biassa dongs !”
Dinda, Dina, dan Tari meninggalkan Dila sendiri dengan ocehannya. Meski Tari masih ingin membalas, tapi Dinda dan Dina melarang. Mereka tidak ingin kembali menjadi tontonan karena kesombongan atas barang-barang.
@@@
Tari memasang posisi duduk manis di bangkunya. Tangannya yang lentik sibuk memencet tombol-tombol di handphone barunya. Sementara Dinda dan Dina hanya memperhatikan temannya yang satu itu. Mereka tidak habis pikir dengan sikap Tari. Tapi setidaknya mereka tidak perlu jantungan, sebab memang begitulah watak dari sang Utari Adewiyah.
“Dii, ngomong-ngomong gimana perkembangan lo sama Dika?”, tanya Dina.
“Nggak ada.”
“Maksudnya?”
“Iyah, nggak ada perkembangan. Gitu-gitu aja... Gue pusing deh... Padalagi udah mau naik kelas 2, dia pasti bakal jadi kandidat ketos baru. Kalo dia kepilih, dia bakal tambah sibuk and ngelupain gue...”, terang Dinda dengan raut wajah yang berubah menjadi murung.
“Hmm... Kalo Nanda? Apa dia udah berhasil ngegaet sii, siapa tuh?”
“Fya? Nggak tau deh... Tapi gue yakin belom, boro-boro mau ngejar Fya, nyantai di rumah aja enggak. Sok sibuk dia...”
“Maklum laah, dia kan pinter, jadi wajar kalo dia belajar keras...”
“Tetep aja bagi gue LEBAY !”
Dina terdiam. Memikirkan cara untuk membantu sahabatnya itu. Kemudian dia teringat pada Rena. Mungkin saja Rena bisa menjadi kunci utama.
“Gimana kalo kita tanyain Rena tentang hubungannya sama Dika?”
“Ihh apaan sih, entar yang ada Dika besar kepala lagi...”
“Sekarang mending lo nggak usah gengsi deh Dii...”
“Ahh nggak, gue yakin, pasti ada cara lain... Lagian Rena orangnya songong gitu, males gue ngomong sama dia...”
Dina terdiam. Memikirkan cara lain untuk mengatasi masalah sahabatnya itu. Tari masih sibuk dengan kegiatan barunya. Hening.
@@@
“Ehmm..., hai Akira Renata Sinaga...”
“....”. Rena tersenyum kecil, bingung dengan sikap orang yang tiba-tiba datang menghampiri dan menyebut nama panjangnya.
“Lagi sibuk yah?”, tanya orang itu lagi sambil memainkan rambutnya. Orang ini tidak lain adalah Tari.
“Mmm nggak juga, kenapa?”
“Ohhh... Nggak pa-pa, cuma mau duduk di situ aja, boleh kan?”, tanya Tari sambil menunjuk bagian kosong dari bangku yang diduduki Rena.
“Hha, yaiyalah, ini kan bukan bangku nenek gue...”
Tari pun langsung duduk di sebelah Rena. Memikirkan kalimat yang tepat sambil memasang kancing baju seragamnya yang sempat lepas. Berniat ingin menanyakan hubungan dengan Dika, tapi bingung harus mulai dari mana. Apalagi sebelumnya dia tidak mendiskusikannya terlebih dahulu dengan Dinda ataupun Dina.
“Ehmmm... Errrrhh... Uuuhh... Hhhhh...”
“Lo kenapa?”
“Ah? Ehmmm nggak pa-pa kok...”
“Kalo udah di ujung buang ajaa, toilet emang lagi direnov, tapi masih bisa dipake kok...”
“Hah? Maksud lo?”
“Lo pengen boker kan?”
“Maksud lo?”
“Nggak deh, sorry, mungkin gue salah...”
“Banget! Lo aja tuh kali...”
“Kok nyolot? Kan gue udah minta maaf...”
“Ya tetep aja itu udah bikin gue tersinggung...”
“Ya kalo emang lo nggak ngerasa mau boker ngapain tersinggung?”
“Iiiihh stop! Omongan lo udah bikin gue jijik tau nggak? Kita itu baru kenal, lo juga cewek, masa ngomongnya asal lancar gitu sih kayak kereta api?”
“Hmh... Terserah deh... Gue minta maaf, kalo nggak dimaafin itu udah urusan lo sendiri...”, ujar Rena sambil berdiri dan meninggalkan Tari.
@@@
“Hah? Jadi lo bermasalah sama Rena? Aduuuh kenapa sampe gitu sih? Elo sih, makanya ngomong-ngomong dulu sama kita...”, ujar Dinda dengan kesalnya.
Tari sudah menceriterakan yang terjadi antara dirinya dengan Rena pada Dinda dan Dina. Dia sudah tahu dari awal kalau Dinda akan marah padanya, tapi biar bagaimanapun juga, kejadian itu harus diceriterakannya.
“Sorry Dii... Gue nggak bisa nahan diri...”
“Hhh... Udah, udah... Nggak ada gunanya juga lo marah, Dii...”, Dina berusaha menenangkan.
“Auk ahh... Pussing gue!”. Dinda membuang muka dari Tari.
“Udah dong Dii, lo ngerti lah, Tari kan emang orangnya gitu... Jangan marah yaahh...”, bujuk Dina.
“Siapa yang marah? Gue cuma kesel aja...”
“Ya sama aja nggak enak suasananya kalo gini...”, Dina memegang lengan Dinda, berharap sahabatnya itu akan luluh. Dinda pun mulai meregangkan kerutan keningnya. “Lo juga Rii, sikap kayak gitu jangan dijadiin kebiasaan dong...”
“Iya, gue tau, makanya gue minta maaf...”
“Fine, satu-satunya cara adalah elo, Di, mesti deketin Dika. Kalo nggak mau, siap-siap aja kalah dari Nanda. Tapi yah nih, kenapa sih lo sama Nanda harus kayak lomba gini cuma demi nggak dibilang nggak laku ato apalah itu. Setelah gue pikir-pikir, itu kekanak-kanakan Dii... Kalopun juga lo berhasil ngegaet Dika lantas lo belom siap buat pacaran, itu namanya lo mainin perasaan orang and nggak ada gunanya...”, ucap Dina menasehati.
Tari mengangguk pelan. “Sejujurnya gue sependapat sih sama Dina. Nggak enak banget lho kalo kita pacaran cuma buat status doang. Kalopun juga suka..., paling cuma suka-sukaan biasa yang bakal hilang kalo lo nggak berhubungan sama orang itu lagi”, tambahnya.
Dinda terdiam, membayangkan sosok Dika, dan merenungkan nasehat kedua sahabatnya itu. “Ehmm... Jadi menurut kalian, gue nggak usah pacaran dulu?”
“Itu sih keputusan elo, Dii... Tanyain deh sama diri lo sendiri, apa lo yakin sama Dika?”, jawab Tari.
“Bener. Lagian juga, harusnya sih lo nggak usah mikirin ini. Ntar juga kalo emang udah saatnya, pasti ada jalan biar kalian bisa deket...”
“Iya sih”. Dinda tersenyum, kemudian bangkit mendekati Dina dan Tari. “Kenapa nggak dari kemaren-kemaren sih kalian ngomong gituu? Hihi...”
“Yaaa..., maklum Dii... Selama ini kan Dina mikirin ulangannya getooohh hhahahah...”
“Iih appaan sih, emang baru kepikiran aja...”
“Hhahaha... Eh, tapi kalo ntar Nanda nanya, gue mesti jawab apa?”
“Hmm..., bilang aja masih proses. Jangan lupa tanya balik ke dia!”, jawab Tari dengan santai.
@@@
Beraksi
Dinda membolak-balik majalahnya. Majalah remaja yang berisikan mode, dan kawan-kawannya membuat Dinda cukup kesulitan memilih halaman yang menarik dibacanya. Tentunya majalah itu bukan dibeli olehnya. Bahkan pilihan untuk membaca majalah malam itu hanya karena dia tidak tahu apa kegiatan yang lebih baik.
Ujian telah berakhir. Tidak ada lagi belajar ekstra bagi Dinda, dan sepertinya begitu pula untuk saudara kembarnya–Nanda. Nanda tidak lagi mengurung diri di dalam kamar bersama setumpuk buku, bahkan dia sudah tidak terlihat di rumah sejak sore tadi. Entah kemana, yang jelas besok adalah hari Minggu. Tidak ada ulangan, tidak ada belajar.
Tiba-tiba suara orang datang terdengar. Dinda menoleh ke arah ruang tamu, itu suara Nanda, tapi dia tidak sendirian. Tidak lama kemudian Nanda muncul, ternyata Nanda datang bersama Fya. Tunggu dulu, Nanda datang bersama Fya! Dinda memastikan penglihatannya, kemudian berdiri dan membiarkan majalah yang tadi dipangkunya terjatuh. Panik!
“Hai Dii...”, sapa Nanda dengan senyum lebarnya.
“Ahh? Hhhaaiii...”
“Lo masih ingat Fya kan?”
“Oohh, masih dong. Masiihh...”, jawab Dinda dengan berusaha menahan rasa gugupnya. Oh God, ini artinya apaan? Riwayat gue belum tamat kan?
“Hhehe... Ya udah, bagus. Gue mau makan malam dulu sama Fya, oke?”
“Ah? Oooh silahkaan...”
Nanda pun menggandeng tangan Fya, berjalan menuju ruang makan. Dinda masih ternganga di tempat. Berharap dirinya hanya mimpi.
“Eh, gue boleh gabung nggak?”, tanya Dinda yang menoleh pada Nanda dan Fya.
“Oh boleh lah. Kenapa enggak?”, jawab Fya sambil tersenyum.
“Eh, jangan. Ehmm..., mending lo makan di luar, ada warung baru lho depan komplek, enaaak banget. Beneran...”, tolak Nanda berusaha meyakinkan Dinda.
“Ihh apaan sih, gue mau makan di rumah... Fya juga nggak keberatan kok...”

Makan malam begitu hening. Nanda yang tadinya memasang senyum kebanggaan 10 medali emas, kini tampak pucat dan tidak tenang. Makanannya sudah habis sedari tadi. Tapi Dinda dan Fya masih makan dengan tenang.
“Hmm..., oh iya, selamat yah...”, ujar Dinda tiba-tiba.
“Hah?”. Fya mengerutkan kening, tidak mengerti dengan maksud Dinda.
“Ohh...! Iya makasih yah... Lo langsung tau aja ternyata hehe...”, timpal Nanda langsung dengan berusaha tersenyum ikhlas.
Dinda tersenyum kecut. Dia tidak mau menampakkan kekalahannya pada Nanda. Bagaimanapun juga ini adalah harga diri, bukan harga ayam yang naik-turun kayak lift.
@@@
“Oh my God! Sumpyeeehh lo?”
Dinda mengangguk pasrah, wajahnya tampak sudah lipatan ke sepuluh, dia sudah menceriterakan kejadian semalam pada Tari. Bahkan tujuan utama Tari datang ke rumahnya hanya untuk mendengar langsung ceritera Dinda yang membuatnya tidak bisa tidur nyenyak.
“Gue mesti gimana dong Rii..., haaahh...”
“Hmm... Tapi bukannya tempo hari lo sendiri yang bilang nggak mau mikir beginian?”
“Iyya siihh... Tapi semalam tiba-tiba gue nyeseeek banget gitu pas liat Nanda...”
“Uuuh tayaaangg..., yang cabal yaaah...”
“Kumat deh lebaynya...”
“Hihi... Ya udah, pokoknya pilihan ada di tangan lo! Kita ini udah mau kelas 2 lho, minggu depan terima rapot, teruuus masuk kelas baru, teruuus... mmm...”
“Terus bibir lo monyong deh hhahah!”, ledek Dinda pada Tari yang bibirnya maju karena terus-terusan mengucapkan kata ‘terus’.
“Iiiihh Didi ah... Gue mau bilang kalo ntar kita udah kelas 2, Dika bisa kepilih jadi ketos baru, terus dia tambah sibuk, terus dia tambah ngelupain elooo!! Oooocchhh no no noo! My God, my God!!”, ujar Tari yang tiba-tiba panik karena pikirannya sendiri.
“Aaaaahh... Lo nakutin gue aja sih...”
“Aduuh sayangku, tapi emang bener kan? Dika itu kan bakat-bakat ketos banget... Pokoknya neng, elo mesti cuus deh sama si Dika, nggak pake gengsi, gue bantuin deh. Kecuali kalo elo emang mundur dari tantangannya Nanda. Okeeeh?!”
Dinda terdiam. Tari pun mengartikan itu sebagai persetujuan. Semangat perjuangan pun muncul dari sosok seorang sahabat, Tari mengambil majalah remaja dari tas yang dibawanya. Dia membuka lembar demi lembar, mencari tips yang cocok untuk masalah Dinda kali ini.
“Okey, dengerin ya Dii, gue bacain tipsnya. Satu, pinjem buku catatannya dia, atau upayain dia yang minjem catatan lo!”
“For what?”
“Yaaahhh buat alibi aja, biar lo sering ngobrol sama dia... Seenggaknya cara ini tuh nggak ngesanin banget lo sengaja mau deketin dia. Secara Dika kan orangnya peduli pelajaran...”
“Hmm boleh...”
“The second is rajin-rajin nonton dia olahraga. Nah Di, kita semua kan anak basket, ini keciiil...”
“Third, sering-sering lewat di sekitar dia. Naah, lo mesti sering lewat depan kelas dia, dengan gitu, lebih banyak peluang kalian ngobrol aseeekh hahah...”
“Iiish udah deh lanjut aja baca...”
“Oke, the last, you have to always have positive thinking about him, what he do, what he think. Elo jangan pake prasangka lo doang... Misalnya lo mau nyamperin dia, tapi dia lagi ngobrol sama Rena, lo jangan sampe batal nyamperin cuma gara-gara itu, anggep aja Rena nggak ada hubungan apa-apa sama Dika, toh juga emang hubungan mereka belum jelas kan?”
“Halaaah paling yang ini cuma akal-akalan lo doang, nggak ada di bacaan!”
“Ihh dibilangin... Ada kok, cuma gue jelasin aja takut lo anggep angin lalu!”
“Hmm okey, pas masuk skolah nanti, gue bakal buktiin! Yeahh!”
                                                                              @@@
 
Permulaan yang Sebenarnya
Kelas baru, orang baru, suasana baru, dan yang paling pasti adalah tahun ajaran baru. Dinda, Tari, dan Dina sudah berjalan kompak menuju kelas mereka. Beruntung mereka ada di program yang sama–IPA, jadi kedekatan bisa dijaga dengan mudah. Seperti perkiraan sebelumnya, Dina masuk dalam jejeran siswa-siswi berprestasi dan lolos di kelas XI IPA 1. Sementara Dinda puas dengan XI IPA 4, dan Tira di kelas XI IPA 5.
“Hmm..., emang gue udah bego yah sampe masuknya di IPA 5?”
“Yeeehh..., syukurin aja kita udah lolos di IPA, kalo nggak ada Dina nih, salah-salah kita kedampar di IPS ato Bahasa!”
“Udaah, ini tuh emang takdir buat kita bertiga, nggak ada yang perlu disesalin. Kita mesti bersyukur dengan apapun yang terjadi di hidup kita...”, ujar Dina dengan begitu bijaknya.
“Nggee...”, Tari mengangguk kemudian pandangannya tidak sengaja mendapati Dika melewati koridor. “Eh, pada tau nggak? Dika masuk IPA 1 lho... Sekelas sama elo Din...”
“Oh ya?”
“Iyah Di, so Dina bisa dijadiin koneksi deh haha...”
“Appaan sih, gue nggak bisa gitu-gituan...”
“Uuuuhhh..., tenang temanku sayang, lo nggak gue suruh apa-apa kok selain ngelaporin perkembangan dia...”
“Hmmh... Ya udah deh...”
@@@
Nanda membolak-balik bukunya, mencari halaman yang sudah ditentukannya untuk dibaca. Tiba-tiba Dinda datang dan duduk di depannya. Memasang tampang curiga sambil menggigit apel yang baru diambilnya.
“Kenapa lo?”, tanya Nanda yang merasa terganggu dengan tatapan Dinda.
“Nggak pa-pa... Hmm, lo masuk kelas apa di skolah lo?”
“Menurut lo?”
“EXACT ONE. Kalo Fya?”
“Sama aja...”
“Oouchh... Hmmm, gue heran, lo pacaran tapi kok jarang kontekan gitu sih?”
“Maksud lo? Ohh jadi lo curiga nih gue pura-pura?”
“Ihh gue nggak bilang gitu... Gue kan cuman nanya... Secara nih, setau gue kalo orang pacaran itu biasanya lebih sering pegang handphone buat SMSan, BBMan, telvonan, nah elo? Baca buku?”
“Eh, suka-suka gue dong. Lagian juga kan udah ketemu di skolah... Gue tuh nggak kayak orang-orang yang lebay banget kerjaannya cuma pacaran.”
“Ooochh... Emang sih elo itu beda sama orang-orang pada umumnya. Tapi masih aja nggak masuk di akal gue, kalian kan pasangan baru... Emang nggak ada masa kasmaran-kasmarannya gitu?”
“Cerewet yah! Udah deh nggak usah ngebahas gue. Urusin aja diri lo, mana tuh si Dika?”
“Iiiishh...”
Dinda langsung berdiri dan meninggalkan Nanda. Dia tidak berani lagi banyak bertanya kalau mengingat dia belum bisa mendapatkan Dika. Tapi hati kecilnya masih curiga pada Nanda. Bagaimanapun dia tidak terima kalau Nanda yang ‘kutu buku’ itu berhasil menggaet Fya lebih dulu.
@@@
Dua minggu kemudian...
Sekolah sudah tampak sepi. Di ruang kelas XI IPA 4 hanya ada Dinda seorang diri yang sibuk mengerjakan tugas laporannya yang akan dikumpulkan besok. Jemarinya dengan lincah menekan tuts pada laptop. Berhubung ada latihan basket sore ini, jadi dia memilih menunggu saja mengingat perjalanan dari sekolahnya lama dan bisa-bisa macet.
Beruntung Tari mau meminjamkan laptop dan baru akan diambilnya nanti sore begitu selesai latihan basket. Dinda memang tidak punya laptop pribadi. Dia canggung meminta pada orang tua angkatnya.
Suara drible-an bola terdengar dari lantai koridor. Dinda tidak mempedulikannya, dia tidak ingin menyia-nyiakan waktunya. Anak basket ada yang tinggal juga toh, gumamnya. Hingga suara itu semakin keras terdengar, dan ternyata bola basket berwarna orange sudah muncul di depan kelasnya. Ini membuat Dinda menoleh. Seseorang muncul di balik pintu kelas, menunduk mengambil bola. Dika.
@@@
“Apa kabar?”
“...”, Dinda hanya terdiam sambil memegang minumannya.
“Udah lama yah kita nggak duduk berdua kayak gini...”, Dika memandang jauh ke depan. “Lo belum berubah. Masih tetap cuek,” lanjutnya.
Dinda menoleh pada Dika, “apa menurut lo gitu?”.
“Hmm..., iya. Lo itu dingin banget. Bahkan mungkin nggak seorangpun tau apa yang ada di pikiran lo.”
Dinda memandang ke lain arah. Dia terdiam, suasana begitu tenang. Daun-daun kering beterbangan, burung-burung gereja melompat-lompat tanpa ragu, angin berhembus begitu damainya, membuat orang tergoda untuk tidur.
“Gue kangen sama lo Ka...”, ucap Dinda dengan suara berbisik tanpa menoleh pada Dika.
Tenang, begitu tenang. Namun Dinda memilih bangkit dari duduknya, berjalan meninggalkan Dika. Dika menoleh, tapi dia membiarkan Dinda pergi. Beberapa anggota basket sudah terlihat berjalan memasuki area sekolah.
@@@
Dinda berdiri di trotoar jalan. Menunggu angkot yang akan mengantarkannya pulang ke rumah. Tiba-tiba motor Dika melintas, Dinda hanya cuek dan kembali menunggu. Namun tidak lama kemudian Dika muncul di hadapannya dengan helm standar yang masih terpasang rapi.
“Mau bareng?”, ajak Dika.
“Ah? Mmm... Nggak usah deh, gue nunggu angkot aja...”
“Udah malem lho Dii... Nggak pa-pa, sama gue aja... Lo nggak capek apa abis latihan...”
Dinda hanya diam. Dika mengerti dan mengambil tangan Dinda, membawanya ke motor dan pulang bersamanya.
Angin malam begitu dingin. Mereka masing-masing tidak menggunakan jaket. Dinda hanya berusaha berlindung di balik punggung Dika. Ternyata Dika menyadari yang dirasakan Dinda. Hasrat ingin memeluk, tapi begitu banyak keraguan yang timbul di antara mereka. Perlahan Dika menyentuh tangan Dinda yang ada di pundaknya. Dinda tetap diam. Dika pun menggenggam dengan yakin. Suasana tiba-tiba terasa begitu hangat, terlena hingga Dinda membiarkan lengannya merangkul ke pinggang Dika. Kepalanya menunduk, bersandar di pundak Dika.

Kau kucinta dengan caraku...
Mungkin kau merasakannya...
Begitu dalamnya rasa ini,
Hingga aku tak sanggup mengungkapkannya lagi...
Terlalu bodoh, saat ku sadar.
Tapi inilah cintaku,
Aku begitu tidak berdaya di depanmu.
@@@


PDKT ?
          Dika memasang senyum manisnya begitu Dinda menoleh padanya. Melihat itu, Dinda hanya tersenyum malu. Dinda masih tidak percaya dengan yang terjadi semalam. Bahkan dia masih belum menceriterakannya pada Tari dan Dina. Dia masih ragu apa ini pantas diceriterakan. Dia takut kalau ini hanya perasaannya saja, dia takut kalau Dika tidak menganggap ini sesuatu yang istimewa. Dinda tidak ingin merasa melayang kalau dia belum tahu apa pada akhirnya akan terhempas ke karang atau tidak.
Tiba-tiba pemandangan yang tidak diharapkan muncul begitu saja. Sama sekali tidak mengerti kalau Dinda masih ingin menikmati pemikiran-pemikiran indahnya. Seorang Rena sudah berdiri mantap di depan Dika. Seketika hati Dinda bagai batu bara yang terbakar perlahan-lahan namun pasti.
Dinda memilih memalingkan wajah kemudian berjalan menuju kelasnya. Dia tidak ingin merusak suasana hatinya lebih jauh lagi. Tidak ada gunanya marah pada sesuatu yang yang belum jelas dengannya, bisa-bisa dia jadi malu sendiri.
“Didi !”
Hufth..., appaan sih manggil-manggil?, gumam Dinda menghentikan langkahnya.
“Di, kok main pergi aja sih?”, protes Tari.
Dinda berbalik badan, ternyata Tari yang memanggilnya. Dia menoleh pada Dika, terlihat masih sibuk mengobrol dengan Rena. Ini akibat pemikirannya hari ini yang terus berisikan Dika. Hhh... Bego !
“Ri, you know gak sih? Dika itu aneh !”, seru Dinda kemudian berbalik badan dan melangkah meninggalkan Tari menuju ke kelasnya.
Tari ternganga sendiri, di pikirannya mulai bermunculan tanda tanya yang lama-kelamaan semakin banyak. Kaget, bingung. Dalam hitungan 2 menit 2 detik, dia langsung berlari mengejar Dinda. Mencari tahu kabar terupdate pada sahabatnya yang satu itu.
@@@
Didi..
Dika
                                                            
     Kenapa Ka?
                                                                
Hmm gue mau ngajak lo makan. Mau nggak?

    Ohh.. Hmm gue udah makan  Ka. Sori yah. Hhee :)

Oohha ngga papa kok. Eh lagi ngapain?

    Lagi mindahin data anggota baru, lo?

Ohha ketua yang baik.
Gue Cuma lagi bales sms lo hoho. Ngga tau sih mau ngapain.

    Hha lo juga ketua yang baik kok. Ish ga jelas deh haha :p

Ih apanya yang ngga jelas? Jelas2 aja tuh :p elo aja yg bilang ngga secara lo kan emang orangnya ga jelas haha :p

    Kok malah gue? Kan elo yg kerjaannya ga jelas :p



Dinda terus membalas pesan dari Dika. Bibir cerahnya tak kuasa lagi menahan senyum. Pekerjaannya menyalin data anggota tim basket putri sudah mulai terabaikan. Sementara di depannya, Nanda memperhatikan dengan tatapan aneh.
@@@
Hari-hari yang penuh keceriaan untuk Dinda. Mungkin ini yang dinamakan tahap pendekatan dengan orang yang disukai. Tapi Dinda sendiri masih ragu apa dia benar-benar akan berakhir dengan status pacaran? Dia bingung. Tanpa perlu dipertanyakan lebih jelas lagi, Dinda memang menyukai Dika. Bahkan mungkin mencintainya. Entahlah, Dinda tidak berani menafsirkan kata itu.
Hubungan Dinda dan Dika jadi terasa lebih dekat, meskipun usia kedekatan mereka kembali baru menginjak hari ketiga. Masalah kedekatan Rena dan Dika juga tidak dipedulikan oleh Dinda, mengingat saat ini dirinya juga seperti berposisi sama dengan Rena.

Suasana Solaria begitu menyenangkan bagi Dinda dan Dika dalam menamani makan siang mereka. Dinda tidak kuasa menahan ekspresi bahagianya bisa makan berdua dengan Dika. Memang ini bukan kali pertama dalam hidupnya, tapi ini yang pertama di saat dia sudah mampu membalas perasaan Dika. Dia bagai begitu yakin kalau tidak akan merasakan kecemasan yang dialaminya belakangan ini.
“Dii, gue kayak masih nggak percaya lo duduk di depan gue.”
“Iiih maksud lo? Emangnya gue apaan?”, ujar Dinda sambil tersenyum.
“Apaan sih, sok nggak ngerti aja maksud gue...”
“Hmmm... Kalo emang gue nggak ngerti kenapa?”
Mereka bercanda sesuka hati, tidak ada beban, tidak merasa canggung. Meskipun makanan di piring sudah dihabiskan, mereka masih saja nyaman duduk di posisi masing-masing membahas keseruan-keseruan yang membahagiakan hati keduanya.
Dert...dert...
Handphone Dika bergetar di meja, Dinda sempat membaca nama Rena di layar. Dinda mengaduk Jus Alpukatnya, meminum sedikit, membiarkan Dika beralih pada pesan dari seorang Rena.
“Eh, sampe di mana tadi?”, tanya Dika begitu selesai membalas pesannya.
“Ah? Hmmm nggak tau, lupa hhe...”
“...”, Dika hanya mengangguk-angguk sambil menoleh pada handphonenya yang baru saja menyampaikan laporan pengiriman pesan.
“Hmm... Dik, gue boleh nanya sesuatu nggak?”
“Oh, ya boleh lah. Kenapa?”
“Hmm..., sorry yah kalo gue lancang. Gue mau tau aja hubungan lo sama Rena.”
Dika terdiam sejenak, kemudian tersenyum. “Rena. Hmm..., gue nggak tau yah mau jelasin dari mana. Dia itu...”
“Kalo nggak mau jawab juga nggak pa-pa kok...”
“Ah enggak kok, hmmm dia itu mantan gue. Dia juga udah dekat sama gue sejak kecil.”
Dinda terdiam. Kaget, tiba-tiba tidak ada apa-apa di pikirannya.
“Tapi kita sama-sama nggak mikir hubungan kita ke arah situ...”, lanjut Dika.
“Ohh..., gitu...”
“Ehm... Dulu kita pernah pacaran setahun lebih. Tapi sekitar 2 tahun yang lalu dia pindah ke Medan jadi kita putus. Trus semester lalu dia balik ke sini lagi. Kita udah kayak sodara, gue nganggep dia kayak adek gue sendiri dan dia juga gitu ke gue...”, terang Dika berusaha meyakinkan Dinda.
“Hmm...”
“Dii, lo percaya kan sama gue?”
“Hmm... Oke lah, gue kaget sih. Tapi untuk saat ini nggak ada yang bikin gue nggak bisa percaya sama lo.”
“Hmm... Good lah. Thanks...”
“Trus sekarang dia tinggal sama siapa?”
“Dia..., dia serumah sama gue...”
“Waw. Speechless banget.”
“Tapi Di, lo ngerti kan? Sama sekali nggak ada perasaan apa-apa antara gue sama dia. Intinya dijalanin aja, kalo emang srek yah oke, kalo enggak yaa bersahabat aja.”
“Iya gue ngerti. Lo nggak usah secemas itu kali.”
“Hhhhh... Lo tuh emang bener-bener yah.”
“Why?”
“Sussah banget ditebaknya.”
“Ish lo aja tuh. Menurut gue nggak ada yang aneh dari diri gue...”
“Yayayaa... Hhe, tapi bagi gue itu jadi kelebihan lo. Gue jadi nggak pernah bosen sama lo, dan nggak perlu takut lagi kayak tadi...”
“Ish, apa sih...”
“Hhehe... Makasih yah...”
“Ah? Buat?”
“Yaa..., karna lo udah ngizinin gue buat mencintai lo...”
Dinda terdiam, menunduk. Kalau saja dirinya tergambar pada film kartun, pipinya sudah semerah tomat dan muncul tanda kikuk di jidatnya.
“Dii, gue harap, kita akan selalu kayak gini. Gue bersyukur banget karna Tuhan ternyata udah ngizinin gue untuk lebih dekat sama lo, untuk ekspresiin apa yang gue rasa ke elo, setelah semua yang udah terjadi selama lebih dari setahun ini gue nunggu. Sampe gue hampir nemuin titik keputusasaan. Gue bersyukur banget...”
“Gue nggak tau sejak kapan gue punya perasaan sama lo. Mungkin sejak lo masuk ekskul basket dengan semua shoot keren lo, mungkin juga sejak gue tau ada cewek yang suka sibuk sendiri sama pesanan-pesanan pelanggannya, atau sejak gue ngeliat lo setiap kali dihukum depan gerbang karena telat skolah. Yang gue tau pasti, gue bener-bener sayang sama lo...,” lanjut Dika dengan tatapan sendunya meski Dinda sama sekali tidak menoleh ke wajahnya.
“Hmm Dik... Lo nggak usah lebay itu dong ngomongnyaa, gue geli hhee..”, ucap Dinda sambil tersenyum kecut tapi belum menoleh ke wajah Dika.
“Hhaha sorry yah... Ngeliat lo kayak gitu gue jadii...,”, Dika menyondongkan tubuhnya lebih dekat pada Dinda. Kini jarak wajah antar keduanya sudah cukup dekat. Dinda menutup matanya, keningnya berkerut, cemas tapi dia tidak juga bisa bertindak apa-apa. “Gemeeees banget !”, Dika langsung mencubit pipi Dinda dengan keras.
“Aaaaaa...!”
“Hhahaha... Sakit yah? Sorry hhee... Makanya pasang muka jangan ngegemesin gitu...”
@@@












Fuckin’ Feeling
“So, kalian udah jadian?”
“Not yet.”
Tari dan Dina langsung saling berpandangan setelah mendengar ceritera Dinda. Awalnya mereka seperti mendapat surprise besar, tapi begitu mendengar jawaban terakhir Dinda, suatu keanehan.
“Dia nggak nembak lo?”
“Enggak.”
“Kenapa?”
“Ya mana gue tau... Dia cuma bilang gitu aja...”
“Elo sih pake nyuruh dia berenti, pedahal mungkin tinggal beberapa kalimat lagi akan muncul ‘Di, would you be my heartthrob?’.”
“Abis gue geli ngedenger omongannya, labay bangeeet. Untung-untung gue nggak kabur...”
“Hhhh... Tapi nggak pa-pa, wait. Pasti sekarang dia lagi mikirin saat yang tepat buat nembak lo ciehh...”
“Apaan sih.”
“So, udah nggak galau lagi nih temen gue...”, goda Dina yang akhirnya ikut bicara.
“Ish galau apaan? No way. Sejak kapan yah?”
“Halaaah somboong... Eh tapi si Rena gimana? Apa lo nggak takut mereka deket trus lama-lama..., cinta itu bisa muncul lho...”
“Kata Dika, dia cuma anggep Rena sodara. Trus Rena juga gitu ke dia...”
“Och semoga sih gitu...”
@@@
Dinda memasang posisi duduk bak ratu di sofa tempat Nanda membaca saat ini. Lagak yang begitu mengesankan ingin memamerkan sesuatu pada saudara kembarnya itu. Tapi Nanda tidak mempedulikannya dan tetap fokus pada bacaannya.
Dinda mendekati Nanda, bersiul pelan dengan irama bahagia, menaikkan kakinya ke meja, dan kali ini perhatian Nanda pun berhasil dicurinya.
“Napa sih?”
“Hmm..., nggak pa-pa...”
“Terus?”
Dinda menatap Nanda dengan tajam bak seorang ditektif. “Hmmm... Kok Fya udah nggak pernah ke sini?”
“Astaga lo tuh sibuk banget yah sampe urusan orang lo pikirin juga...”
“Ah bukan gitu kok, gue cuma lagi pengen ketemu aja sama Fya. Gue ada perlu sama dia...”
“Perlu apaan?”
“Eits, no way. Ini urusan cewek, lo nggak perlu tau...”
“Ya udah, gue juga ogah deh manggil dia ke sini buat lo...”
“Hmm gimana kalo gue ngajak Dika juga?”
“Hmh... Maksud lo apaan nih? Emang apa urusannya dia sama gue? Oooh gue ngerti. Iye iyee, gue tau lo pasti pacaran kan sama Dika?”
“Sok tau!”
“Seharian kerjanya cuma SMSan, jadi suka telat pulang skolah, dan makan berdua di cafe. Udah ahh..., gue akuin kok lo bukan penyuka sesama jenis. Permainan kita udah finish, nggak ada yang kalah ataupun menang. Walaupun gue lebih duluan dapetin Fya, sebagai kakak gue nggak nganggep lo kalah. Lagian gue cowok, itu wajar.”
Dinda memandangi Nanda dengan mimik tidak percaya. Dia tidak menyangka kalau akhir dari tantangan di antara mereka yang belakangan ini membuat kepalanya sakit, ternyata hanya berakhir dengan sedatar ini? Memang dia jadi dekat dengan Dika, tapi kenapa akhirnya tidak seperti pada serial drama di tivi?
Nanda tidak betah dengan tatapan Dinda kepadanya. Nanda berdiri, meninggalkan Dinda yang masih dengan pikirannya. Apa benar ini sudah jadi akhirnya?
@@@
Isak tangis terdengar begitu jelasnya dari balik pintu. Suara tangisan itu membuat siapapun yang mendengarnya mungkin akan ikut hanyut dalam duka yang dirasakan.
Tempat tidur berantakan, selimut tebal menutupi penuh tubuh mungil Rena dan bantal berbentuk hati yang dipeluknya. Rena tidak lagi sempat untuk mencari tempat demi kesendiriannya menghilangkan segala gundah. Segala cara yang biasa dilakukannya tidak juga mempan untuk membuatnya lupa akan apa yang kini mengusik hati dan pikirannya. Berbagai kesibukan diupayakannya, berbagai suasana yang biasanya membuatnya bahagia telah dilakukan, tapi tetap saja dia tidak bisa memungkiri bahwa dirinya tidak mampu lari dari kenyataan.
Cinta. Rena tidak pernah mengira sebelumnya bahwa dia akan begitu dikelutkan oleh hal yang satu itu. Cinta pertamanya, awalnya dia menganggap cinta pertamanya hanya sebatas cinta monyet anak kecil yang akan hilang seiring berjalannya waktu. Tapi ternyata dia salah, cinta pertamanya berkembang menjadi suatu rasa yang bertahan hingga saat ini, meski rasa itu mungkin sudah dilupakan oleh orang itu.
Meninggalkan cinta di masa lalu membuatnya tidak sanggup bertahan lama. Namun keputusan untuk kembali tampaknya sudah terlambat. Dia mungkin harus merelakan apa yang sebelumnya dia miliki menjadi milik orang lain. Apa yang sebelumnya menjadi hidupnya, kini akan lebur menjadi kenangan semata.
Ketulusannya selama ini tidak disadari, tidak dianggap sebagai bentuk ketulusan atas kedalaman rasa cintanya. Meninggalkan sesuatu yang penting demi sebuah perioritas yang ternyata menjadi pengorbanan semata.
“Sayang, kamu yakin akan kembali ke Bandung? Mama nggak bisa lho ikut kamu. Mama sama Papa  harus tetap di sini. Kamu nggak pa-pa tinggal sama Tante Anne? Lagian kamu pindah sekolah, jadinya nggak bisa ikut jalur undangan buat kuliah...”
“Nggak pa-pa kok Ma... Rena juga mau belajar mandiri, Tante Anne juga pasti bisa bantu Rena... Kalo untuk kuliah, kan ada jalur SNMPTN, trus ada jalur mandiri juga. Rena yakin bisa kok... Lagian udah terlanjur pindah, nggak penting lagi dibahasnya...”
“Hmm kamu ini, ya sudahlah. Kamu hati-hati yah Sayang, Mama bakal nyusul kamu tahun depan...”
Rena mencium tangan mama dan papanya, mengambil koper dan tasnya, kemudian memasuki mobil yang akan mengantarkannya ke bandara. Rena melambaikan tangannya, dari balik kaca.
Perjalanannya begitu terasa tenang, dengan sebuah harapan yang sudah dinanti-nantinya. Di genggamannya sudah ada sebuah bingkai foto orang yang tidak sabar dijumpainya–Nandika Pratama. Seseorang yang membuatnya bermimpi kembali pada kisah hidup bahagia bersamanya.
Entah sejak kapan Rena memiliki rasa yang sebesar ini terhadap Dika. Yang dia tahu, dia begitu bersyukur pernah mengenal Dika. Yang dia tahu, jantungnya berdegup begitu kencang saat Dika memanggilnya dengan kata Sweetheart. Yang dia tahu, dirinya begitu tenang saat berada dalam pelukan Dika. Cinta yang terlalu cepat dirasakan untuk seseorang yang berusia sedini Rena. Terlalu cepat dia dipertemukan dengan cinta yang belum sepatutnya dialaminya.
@@@
What’s the mean?
Dinda menjatuhkan tubuhnya ke bangku, Tari lari terbirit-birit memasuki kelas Dinda dan menemuinya dengan rasa penasaran tingkat kecamatan (nah lho?).
“What  happened?”
“Apanya?”
“Ish lo nggak usah sok gitu deh, dari jauh gue liat lo masuk kelas dengan tampang murung serompang gitu.”
“Oh... Nggak ada apa-apa kok...”
“Are you cheating me?”
“Ish nggak ada apa-apa kok... Gue cuma lagi merasa bego aja.”
“Nah itu ada apa-apa... Emangnya lo kenapa? Berantem sama Dika? Kalian emang udah jadian?”
“Ish bukan... Gue merasa bego aja karena udah nyusahin diri gue buat nyelesein tantangannya Nanda yang ternyata dia sendiri tuh kayak..., ish pokoknya nyebelin deeh... Kalo gue tau dia kayak gitu, hhh ini namanya pembodohan!”
“Iiiish Dina kan emang udah nasehatin elo Dii...”
“Nah itu juga begonya gue...”
“Jadi lo nyesel udah ngelakuin ini semua? So, lo nganggep Dika apa?”
“Maksud lo?”
“Kalo lo nyesel lakuin ini ke Dika, berarti lo nggak sepenuhnya sayang sama dia...”
“Iiiihh apaan sih... Lo jangan bikin gue tambah BT deh...”
Sepasang mata melihat dan mendengar jelas pembicaraan Dinda dan Tari dari balik pintu kelas. Tujuan awal datang ke kelas itu sudah terlupakan. Dika meninggalkan tempat, meninggalkan tujuannya.
@@@
Dika duduk terdiam di sofa cafe, sendirian. Seragam sekolahnya masih melekat di badan. Sepulang sekolah, dia memang tidak pulang ke rumah. Dia butuh tempat untuk sendiri.
Teringat masa-masa indah saat bersama cinta pertamanya. Cafe yang didatanginya saat ini adalah tempat pertamanya pergi berdua dengan Rena, juga di jam yang sama.
Kebimbangan telah muncul ketika Rena datang kembali ke dalam hidupnya di saat dia tengah dibayang-bayangi oleh sosok Dinda. Kadang hatinya memilih Dinda, tapi kadang pula hatinya tidak kuasa menolak Rena. Apa dia masih mencintai Rena? Atau ini hanya perasaan biasa? Dika sendiri tidak tahu. Dia merasa begitu bahagia saat bersama Dinda, dan begitu tenang saat bersama Rena. Dia mengakui bahwa Dinda telah membawa suasana baru dalam hatinya, mewarnai hidupnya kembali, tapi kepeduliannya terhadap Rena begitu jelas tersirat.
Awal penglihatan orang-orang tentang kedekatan Dika dan Rena adalah hubungan mereka lebih dari teman biasa. Bahkan banyak yang menyatakan mereka berpacaran.
“Sob, lo bilang Rena itu mantan lo, tapi kok kalian masih deket banget gitu?”, tanya Rey sambil membuka minumannya seusai bermain basket.
“Lha, emangnya kenapa? Kita sahabatan...”
“Ah gue nggak yakin. Tatapan lo itu lebih dari tatapan buat sahabat... Lagian lo kalo sama Rena jadi lembut banget, lo masih ada rasa kali...”
“Apa sih. Gue nganggep dia sodara aja... Lagian lo tau kan gue sukanya sama siapa.”
“Oohh... Yaa, terserah deh. Tapi gue liat sih gitu, Sob.”
“....”, Dika terdiam. Merenung sejenak. “Dia ninggalin gue...”
Dika mengangkat cangkir GreenTea yang dipesannya, menyeduhnya sedikit, lalu meletakkannya kembali. Dia teringat pada pembicaraan Dinda dan Tari yang tadi didengarnya di sekolah. Apa maksud dari kalimat itu? Apa benar Dinda tidak sepenuhnya menyayanginya? Tapi Dika tidak marah, hanya sedikit kecewa. Memang dia tidak mengharapkan balasan atas perasaannya pada Dinda, hanya saja dia sempat merasa Dinda juga mempunyai rasa yang sama. Ternyata dia salah. Setidaknya itulah yang dirasakan Dika saat ini.
@@@
Suara televisi terdengar jelas menayangkan film action. Dika menoleh, ternyata Rena yang sengaja memutar DVD. Dika terdiam memandangi Rena, Rena menyadari itu dan tersenyum pada Dika.
“Ngapain di situ? Nonton yuk... Seru!”
Dika pun mendekati Rena, duduk di sampingnya, ikut menonton, diam. Rena memandanginya, mengerutkan jidat, heran dengan sikap Dika malam itu.
“Lo kenapa? Sakit?”
“Nggak kok.”
“Seharian gue liat lo banyak diem, ada masalah yah?”
“Hmmh... Biasa aja.”
“Tentang Didi? Cerita aja sama gue... Kalopun emang gue nggak bisa bantu apa-apa, seenggaknya lo udah keluarin beban lo...”
“Nggak kok Ren, lo tenang aja. Kalo emang gue butuh cerita, pasti gue cerita sama lo...”, Dika tersenyum meyakinkan Rena.
Rena memandangi Dika, dia tahu kalau orang yang dicintainya itu sedang merasakan beban di hatinya. Tapi dia tidak ingin memaksa, jika memang Dika memilih untuk tetap diam. Rena pun berusaha tenang, kemudian tersenyum tulus pada Dika.
@@@
Dinda melempar bola basketnya ke ring, dan langsung membaringkan tubuhnya di tengah lapangan. Matahari siang menjelang sore itu seolah jadi teman bicaranya. Sejak kemarin, Dika hilang kabar darinya. Bahkan mereka juga tidak saling bertemu di sekolah. Biasanya Dika selalu muncul sepanjang hari, atau paling tidak memberi kabar. Dinda merasa aneh dengan hal ini. Tapi dia berusaha berpikir positif, mungkin Dika sedang sibuk.
“Dii, ngapain lo di situ? Ntar item lho...”, tegur Tari yang berjalan ke arah Dinda.
“Matahari tuh lagi imut-imutnya kalii...”, ujar Dinda ngawur.
“Eh lu kate kampret. Cepetan bangun... Kringetan gitu bukannya dilap kek, trus minum air yang banyak, elo malah berjemur... Ntar belang, baru tau rasa...”
“Hhhh... Sekarang lo lagi pacaran atau jomblo?”, tanya Dinda memotong comelan Tari.
“Ah? Kok lo nanya gitu? Gue udah pacaran sama Denis. Waaah Dika udah nembak lo?”
Dinda bangkit, mengambil bolanya, kemudian berjalan meninggalkan lapangan. Tari merasa diabaikan, tapi dia tidak tenang melihat sikap sahabatnya itu. Tari pun mengejar Dinda dengan rasa penasaran.
“Didiiii !!!”
“Apaaah?”, Dinda tetap berjalan tanpa menoleh pada Tari.
“Dika udah nembak lo belooom?”
“Kagaaakk !!”
@@@
Elegi
Aku sakit seorang diri.
Kamu tidak tau, betapa perihnya terasa.
Karena memang tidak akan ada gunanya.
Meski kubersujud sekalipun.

Kadang pula aku bahagia sendiri
Oleh alasan yang tidak kau tau
Karena bahagia itu tidak berpengaruh
Untuk rasa dan hatimu.

Aku merasakan semua ini seorang diri.
Menangis sendirian dalam keheningan.
Dan tidak tau penyelesaiannya, kecuali membangkitkan diri
Karena kusadar, kau tak bisa kuharap.

Dalam kisah kali ini,
Kembali aku juga yang merasakan dukanya.
Tak ingin pula kau tau,
Karena itu malah hanya akan membuatmu merasa bersalah saja

Ku hanya bisa berharap ada akhir yang bahagia
Karena kemustahilan bagiku untuk lari dari semua ini
Ku harus bangkit sendiri
Kuat manahan dan melawan rasa.
Meski ku sendiri tidak tahu apa aku sanggup?

Mungkin kumarah.
Tapi tidak sepantasnya.
Kau bukan siapa-siapaku lagi.
Tak sepatutnya lagi kucemburu
Itu sia-sia !
Tapi terus datang padaku
“Mengapa begitu lama?”, pikirku dalam berontak.
Mungkin ini adalah permintaan teregoku saat ini.
Mungkin pula tak perlu kau hiraukan.
Maafkanlah...

Semua itu mimpi !
Realitanya ku tetap menunggumu
Entah sampai kapan cintaku terus diuji
Sesakit apapun, toh pada akhirnya sikapku hanya satu
Mengasihimu dengan caraku,
Mencintaimu dengan caraku, dan menunggumu
Hingga keajaiban datang.
Keajaiban yang aku pun sendiri tidak begitu yakin.
Ini semua rahasia.

Jangan sebut aku penghalang, pengganggu, atau perebut.
Meski memang aku mencintainya
Tapi aku tidak pernah menggodanya.
Aku hanya mencintainya.
Apa itu salah?

Apa itu salah jika ku sulit untuk menutupi rasaku?
Apa salah jika berdiri di belakangmu dan berjalan di sampingmu?
Entah rasa ini patutnya kusyukuri,
Atau membuatku jadi perempuan yang tidak tau malu.

Rena membalikkan halaman pada bukunya, mulai mata pensilnya membentuk garis-garis yang semakin lama makin jelas tujuannya. Garis dan titik menyatu dan membentuk sketsa yang jelas. Gambaran hatinya pada masa lalu di saat suasana hatinya sama dengan yang ada pada goresan pensilnya.
Seorang laki-laki memeluk perempuan yang merasakan duka. Laki-laki yang menyejukkan hati dengan pundaknya sebagai sandaran. Laki-laki itu adalah Dika di masa lalu yang sedang menenangkan perasaan Rena. Kini Rena merindukan suasana itu, merindukan sentuhan jemari Dika, pelukan hangatnya, sandaran pundaknya, dan kecupan di keningnya. Di masa itu, Dika memang bukan laki-laki yang seromantis saat ini, tapi begitu suasana datang, tiba-tiba dirinya menjadi sosok yang begitu peduli sehingga membuat Rena merasa sangat bersyukur.
Pelukan dalam gambar itu adalah pelukan terakhir Dika yang dirasakan Rena. Pelukan sebelum akhirnya mereka berpisah. Terbayang dalam pandangan, masa-masa terakhir itu. Dimana Rena tidak henti menangis, meski bibirnya tersenyum merelakan semua itu. Kalimat terakhir yang diucapkan Dika adalah ‘aku masih di sini kok, aku akan selalu ada buat kamu, selama aku bisa’. Entah apa kalimat itu masih berlaku, atau sudah kadaluarsa. Mungkin masih berlaku, tapi sudah terbagi.
Kedua mata Rena kembali memanas, linangan air keluar dengan begitu jujur mengekspresikan yang dirasakan pemiliknya. Rena meletakkan bukunya, lelah dengan semua ketidakjelasan ini. Ketidakjelasan karena entah bagaimana ujungnya, bagaimana penyelesaiannya, dan untuk apa dia menangis. Tidak akan ada yang berubah meski kamarnya banjir sekalipun. Dia harus realistis. Kadang kenyataan memang tidak semanis yang dibayangkan. Karena gula kehidupan tidak selamanya mampu di dapat dengan sekali melangkahkan kaki. Kini Dika sudah terlanjur memilih Dinda. Setidaknya itu yang ada dalam benak Rena saat ini.
@@@
  
Tanda Tanya dan Titik

Dinda menunduk sendiri di ayunan halaman rumah, sambil memotong kayu sesuai dengan ukuran yang diinginkannya. Meski dirinya juga masih belum tahu akan membuat apa, yang jelas dia ingin menyibukkan dirinya saja. Lagipula, akhir-akhir ini pesanan pelanggannya sudah tidak sebanyak sebelumnya sewaktu dirinya masih tinggal di toko kerajinan almarhum kakeknya.
Mengingat tentang toko kerajinan itu, Dinda sampai hampir lupa akan keadaan toko. Dia terpikir, bagaimana kabar Mas Surip? Bagaimana kondisi toko? Bagaimana pelanggan-pelanggannya? Dia merindukan suasana itu, dimana dirinya selalu sibuk sepanjang hari, dan tidak ada waktu untuk memikirkan Dika. Menjalani hari dengan perjuangan, memahat di sana-sini, mencari uang, dan sebagainya. Dibandingkan saat ini, dia lebih sering kepikiran dengan sesuatu yang tidak sepatutnya membuatnya pusing. Ternyata menjadi orang yang tinggal di tengah-tengah keluarga kaya tidak menjamin ketenangan seseorang. Tapi inilah hidup, segala keputusan yang diambil memiliki keseimbangan antara kelemahan dan kelebihannya.
“Dii...!”, panggil Nanda yang ke luar dari rumah, menemui Dinda.
“Yah? Napa?”
“Gue mau jalan-jalan, mau ikut gak?”
“Ah?” Tumben, batin Dinda. “Hmm..., boleh. Kemana?”
“Toko buku.”
Jiaaahh..., gue kira mau ke mana... “Kalo toko bukunya di mol gue mau... Hehe...”
“Iyeeh, ya udah siap-siap noh...”
Dinda memungut alat-alat pahatnya, kemudian bergegas memasuki rumah dengan sedikit berlari layaknya anak kecil yang akan dibelikan es krim.
@@@
“Semenjak kita tinggal bareng, baru kali ini kita jalan and makan berdua...”
“Yaahh..., gue sih sebenernya banyak waktu. Lo aja tuh...”
“Hhe... Yaah, kita kan masih skolah Dii... Jadi kudu belajar, apalagi udah kelas 2...”
“Aseeek haha... Kalo gue mah nikmatin idup aja. Emang lo mau lanjut kuliah di mana?”
“Kedok UI, atau UGM, atau UNPAD. Lo?”
“Teknik Geodeshi UGM hehe...”
“Ya elaah, lo kan cewek...”
“Ih terus salah?”
“Nggak sih, cuma heran aja. Secara banyak gitu jurusan lain yang cocok buat cewek, kenapa mesti yang itu... Tapi terserah lo sih...”
“Hmmm.”
Mereka kemudian sibuk dengan makanan masing-masing. Dinda menoleh ke suasana sekitar, orang-orang yang tidak dikenalnya berlalu lalang. Nanda menatap ke layar handphone-nya, seperti menunggu sesuatu.
“Didi!”
Dinda mendengar suara itu, suara yang memanggil namanya. Dinda menoleh, ternyata dia memang tidak salah dengar. Sosok Dika berdiri bersama Rena dari sisi kirinya. Dinda terdiam sejenak, kemudian tersenyum.
Dika dan Rena berjalan menuju meja tempat Dinda dan Nanda makan. Nanda memandangi Dika dengan raut wajah bingung. Dinda menyadari itu, namun hanya tersenyum.
“Waaah ternyata kalian bisa akur juga yah...”, ujar Dika begitu duduk di di samping Dinda.
“Ah? Hhee emangnya nggak boleh yah? Hmm... lo kok bisa sama Rena?”
“Oh nggak, cuma lagi suntuk aja di rumah jadi yaa jalan deh...”
“Tapi kok sama Rena?”, tanya Nanda dengan penasaran.
“Lho, emangnya kenapa? Oh iya sorry gue lupa Nan, ini Rena sahabat gue... Dia baru pindah ke sini...”, jawab Dika sambil menoleh pada Rena dan memberi isyarat untuk memperkenalkan diri.
Rena dan Nanda bersalaman. Nanda pun tidak ambil pusing, dia kembali sibuk dengan handphone-nya yang berdering. Sementara Rena memandangi Dinda meski tanpa niat tertentu.

Ternyata masih ada seseorang yang tidak bisa dibiarkan sedang berdiri memandangi mereka dari jarak yang cukup jauh. Keberadaannya seolah mengisyaratkan bahwa besok akan terjadi gempa di SMA Harapan yang diakibatkan oleh siswa-siswinya sendiri. Who’s she? Dila! (Remember her? The most gossip at SMA Harapan which pink lipgloss and shrill).
@@@
Bel rumah berbunyi. Dinda langsung menoleh ke pintu, begitupun dengan Tari dan Dina. Mereka memang sengaja datang ke rumah Dinda untuk menonton ulang film Breaking Down Part 1 yang baru-baru ini tayang di Indonesia. Dinda pun bangkit dan berjalan ke arah pintu. Cukup penasaran dengan tamu yang datang karena tidak biasanya ada tamu yang datang tiba-tiba.
Dinda membuka pintu, dan “Fya?”.
“Heiii... Nanda ada?”
“Ah? Dia lagi nggak di rumah... Emangnya lo nggak tau?”
“Oohh... Hmm tadi sih gue telvonin HPnya nggak aktif... Jadi gue datang ajah. Abis gue mau minta tolong penting sama dia...”
“Oohaha ya udah deh tungguin di dalem aja yuk...”
Fya masuk mengikuti Dinda ke ruang tengah. Dika dan Rena langsung menoleh pada Fya.
“Masih ingat kan? Fya, tamunya Nanda...”, ucap Dinda dengan menekankan kata ‘tamunya Nanda’ pada Dika dan Rena.
“Ohahaha iyah kita kan pernah ketemu... Gue nggak nyangka lo bener-bener jadian sama Nanda lho...”, ujar Tari.
“Ah? Nggak kok, kita emang deket tapi nggak sampe jadian...”
Dinda langsung menoleh pada Fya. Ekpresinya berubah menjadi bingung. “Lo yakin nggak pacaran sama Nanda?”
“Hah? Maksud lo apaan sih. Yah emang gue nggak pernah pacaran sama Nanda...”, jawab Fya sambil tersenyum bingung.
“Masa sih? Lo nggak bohong?”
“Apaan sih... Ngapain juga gue bohong? Emang lo nggak tau kalo Nanda nggak mau pacaran selama SMA?
“Haaaaah? Eeeh..., hmmm..., ii.., iya sih... Tapi kan...”
“Udah deh, jangan ngaco lo ahh. Emang banyak yang ngirain kita pacaran, tapi lo nggak usah percaya. Itu semua gosip, okeh...”
Fya tersenyum kemudian duduk di sofa dan ikut menonton bersama Tari dan Dina, “Breaking Down?”.
Dinda masih tidak percaya dengan apa yang barusan didengarnya. Apa benar Nanda sudah bohong padanya? Dinda benar-benar butuh penjelasan. Tari dan Dina memandangi Dinda, juga dengan pemikiran yang sama.
@@@
“Fya udah pulang?”
Nanda langsung menoleh dan memutar tubuh, Dinda sudah berdiri tepat dibelakangnya dengan tatapan tajam dan tangan ditekuk.
“Lo kenapa?”
“Nggak pa-pa.”
“Oohh...”. Nanda pun cuek kemudian menunduk, membereskan buku-buku dan alat-alat belajarnya tadi dengan Fya.
“Lo nggak mau ngomong apa-apa sama gue?”
“Ngomong apaan?”
“Nggak tau. Gue cuma pengen denger lo ngomong sesuatu.”
“Nih gue udah ngomong...”
“Lo yakin nggak ada yang lain? Yang lebih penting gituh?”, nada bicara Dinda sudah semakin dingin. Membuat Nanda kembali memandanginya.
“Kalo lo mau gue ngomong, harusnya lo tanya biar gue tau apa yang mesti gue omongin.”
“Oh.”
“Lo kenapa sih? Sinis banget...”
“Gimana hubungan lo sama Fya?”
“Maksud lo? Baek-baek aja...”
“Haha masih belum nyadar? Masih belum ngerti arah pembicaraan kita?”
“Emang gue nggak ngerti. Daritadi juga nggak ada pembicaraan. Yang ada cuma sikap sinis!”. Nanda langsung pergi dari hadapan Dinda dengan tampang yang lebih sinis.
Dinda terdiam. Dia sungguh ingin menghentikan langkah Nanda dan mendengar penjelasan atas kesalahan yang membuatnya merasa ditipu dan tidak dihargai. Meskipun hubungan Nanda dan Fya bukanlah urusannya, setidaknya demi mengimbangi Nanda, Dinda sudah berusaha keras dan berjuang untuk menarik perhatian Dika. Memang Dinda tidak menyesal, karena secara tidak langsung kejadian ini mengenalkannya pada cinta. Hanya saja dia merasa Nanda benar-benar telah melakukan kesalahan besar kalau benar sudah berbohong padanya.
@@@
Suasana pagi yang begitu hampa. Biasanya sepasang saudara kembar Nanda dan Dinda sudah gerusuh kesana kemari seperti lagunya Ayu Tingting, tapi bukan mencari alamat. Kini Dinda duduk dan sarapan, dan begitupun dengan Nanda. Mereka saling diam.
Dinda memandangi Nanda dengan tajam. Dia masih menunggu kakaknya itu akan menjelaskan yang sebenarnya. Tapi Nanda tampak tidak peduli, bahkan bersikap santai dan sangat menikmati makanannya.
“Pengecut!”, ketus Dinda tiba-tiba dan seraya membuat Nanda berhenti mengunyah.
“Pe-nge-cut”, ulang Dinda dengan lebih jelas.
Nanda meminum air sedikit dan benar-benar menghentikan makannya. “Lo ada masalah apa sih sama gue? Dari semalam, gue nggak ngerti mau lo apa!”
“Cuma pengecut yang nggak berani ngakuin kenyataan yang sebenarnya dan berbohong untuk menang!”
“Lo ngomong apa sih?!”
“Apa hubungan lo sama Fya? Lo nggak pacaran kan sama dia? Iya kan?!”
Nanda tercengang. Menjadi bisu dan hanya menelan ludah. Dinda tidak peduli dan tersenyum sinis.
“Gue nggak pernah bilang kalo Fya pacar gue.”
“Hah? Hahah ooohh jadi maksud lo, lo nggak pernah bohongin gue? Gitu? Hahaha gue nggak nyangka!”
“Dii, denger dulu. Fya emang bukan pacar gue. Tapi gue sayang sama dia. Maaf kalo lo ngerasa gue bohongin. Cuma satu hal yang pasti, meskipun hubungan gue sama Fya nggak dalam status pacaran, gue nganggep dia kekasih gue. Lebih dari sekedar pacar gue. Gue nganggep dia sebagai teman hidup gue. Orang yang selalu ada buat gue, dan gue juga akan berusaha untuk selalu ada buat dia. Gue nggak mau dia jadi pacar gue Dii, gue nggak mau. Karena bagi gue, pacaran akan butuh ego. Dalam hidup ini ada prioritas. Kalo gue macarin Fya, lantas gue nggak bisa menuhin apa yang dia harap, gue bakal ngerasa bersalah dan dia bakal kecewa banget, dan mungkin akhirnya bakal putus, sampe dia bakal ninggalin gue atau sebaliknya. Sementara gue nggak mau ada perpisahan, gue nggak mau pisah dari dia Dii... Apapun itu permasalahan di antara gue sama Fya, gue nggak mau sampe pisah dari dia...”, terang Nanda dengan tenang dan datar. Tanpa disadarinya, mata Nanda sudah berkaca-kaca memandang Dinda. Emosi Dinda kini berubah menjadi kekakuan dan tercengang mendengar perkataan Nanda barusan.
“Dii..., bahkan mungkin gue nggak akan macarin Fya. Biarpun kita udah lulus SMA. Mungkin gue bakal serius kuliah dan ngejalenin hari-hari kayak sekarang. Gue udah bersyukur banget dengan keadaan ini Dii... Bisa ketawa-ketawa bareng dia, berbagi semuanya sama dia, begitu juga dengan dia, kita susah senang sama-sama Dii... Nggak ada lagi canggung ato ragu antara kita. Gue juga udah biasa manggil dia sayang, walopun gue nggak tau dia ngartiin itu apa... Mungkin dia nganggep itu sesuatu yang nggak perlu dia pikirin... Gue nggak kebayang kalo suatu saat harus berjarak sama dia. Nggak ada komunikasi sehari aja, jujur sebenarnya gue udah ngerasa sepi banget. Apalagi kalo kita pacaran lantas putus. Karena cinta itu menuntut ego Dii... Semakin cinta itu didekati, semakin cinta itu menuntut. Tapi rasa sayang menuntut kita untuk ngebahagiain orang yang kita sayang. Di saat cinta dan sayang menyatu, itu yang akan buat kita kacau... Antara selalu dibahagiakan atau berkorban untuk bahagia nantinya...”, lanjut Nanda. Kini air matanya sudah jatuh. Namun Nanda langsung menghapusnya kemudian minum air putih di depannya.
“Eh berangkat, ntar telat lagi...”, suara Nanda bergetar. Dia langsung berdiri dan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Dinda masih diam, memandangi Nanda.
@@@

PLAKK !!
Dinda berjalan di sepanjang koridor menuju kelasnya. Di pikirannya masih terbayang raut wajah dan suara Nanda. Dia tidak menyangka Nanda yang baginya tidak berwarna, tidak ada respon apa-apa terhadap cinta, ternyata memiliki rasa yang sesuci itu pada Fya.
Di tengah lamunannya, dia baru sadar kalau beberapa pasang mata sudah memandanginya dengan berbagai ekpresi. Tapi Dinda hanya cuek karena di benaknya masih ada Nanda.
“Didiii!!”
“Huuuh Tari... Apaan sih brisik banget pagi-pagi...”
“Hhhh Didi, you know gak sih? A news about you by Miss Keke!”
“Haaah? Berita apaan?”
“Mending sekarang juga lo ikut gue ke mading.”
Tari langsung menarik tangan Dinda, berjalan berlawanan arah. Meninggalkan koridor yang dipenuhi dengan pandangan tidak mengenakkan terhadap Dinda.
Triangle Love in Our School !!
Akira Renata Sinaga dicurigai sebagai orang ketiga yang menghambat hubungan antara Adinda Putri dan Nandika Pratama. Huwooow...! Meskipun kabarnya Rena adalah sahabat Dika, tapi mereka pernah pacaran tuhh ckckk. Bisa aja kaan CLBK (Cinta Lama Belum Kelar) :D Mending kelarin dulu deh Dik hhe kita tunggu yah perkembangannya ;)
 

                      
“Dilaaaa...!!!”
@@@
Pintu basecamp Mading SMA Harapan sudah dipenuhi oleh para pengurusnya. Dinda dan Tari langsung menerobos masuk dan pandangan orang-orang beralih pada mereka.
“Heh! Maksud lo apaan nulis gosip kayak gitu?”
“Aduuuhh apa nggak salah? Itu kan fakta coooy...”
“Fakta apaan hah? Sialan banget sih lo cewek gila!”, seru Rena dengan melototi Dila.
“Wuuuuh ternyata Rena udah lebih cepet, Dii...”, bisik Tari pada Dinda.
“Eh Dil, lo kapan puasnya sih ngurusin urusan orang?”, ujar Dinda.
“Upss... Hahaha kalo cewek kayak dia mah nggak ada puasnya Dii...”, ujar Tari.
Beberapa pengurus Mading berusaha menenangkan situasi, namun tidak dipedulikan. Ada pula yang langsung menutup pintu dan jendela rapat-rapat agar tidak ketahuan oleh guru dan pihak yang dapat mempersalahkan mereka, seolah memberi lampu hijau pada pertengkaran pagi itu.
“Gue tanya yah, lo nggak malu apah bikin gosip kayak gitu? Nggak takut lo?!”, seru Rena.
“Heh, ngapain gue mesti takut? Hahaha ngaco lo!”
“Hah nggak usah ketawa deh lo, nggak lucu tau nggak!”
“Upss nggak tau tuhh hahahaha...”
“Dasar BITCH! Cuihhh cewek gila !!”, hardik Rena yang sudah hampir menampar Dila.
“Uuuuuhhh lo marah? Heh harusnya kalo lo ngerasa bukan pengganggu hubungan orang, lo nggak perlu marah! Hahaha malu kan loo? Ahahah elo tuh yang bitch! Blweeekkk...!”
“Eh Dil jaga yah omongan lo!”, seru Dinda yang sudah sangat sewot pada Dila.
“Haduuuh Dii, ngapain sih lo belain dia? Nyadar nggak sih lo? Dia itu penghambat hubungan elo sama Dika. Hahahaha tapi yaaah, wajar aja sih lo kan emang B E G O ahahahah...”
BUGG !!
“Haaaaaaakkkhhhanjinggg!!!”, Dila menjerit.
“Udah Diii, udaaah !!”, seru Dina yang tiba-tiba muncul dan menarik Dinda.
PLAKK !!
“Aaaakhhh bangsat lo semuah! BITCH !!”, kemarahan Dila semakin menjadi-jadi begitu Rena menyusul menamparnya di bagian yang sama dengan yang ditonjok oleh Dinda.
PLAKK !!
Dila membalas Rena dengan tamparan yang lebih keras. Rena malah memukul rahang Dila. Keributan terjadi, semakin banyak pula yang mengerumuni mereka. Dinda yang ditahan oleh Dina hanya bisa menendangi kaki Dila. Dila juga membalas itu tapi Rena membuatnya semakin gila.
Dina semakin panik, “Riii bantuin guee...”
“Apaan sih biarin aja dulu biar tau rasa nih cewek gila.”
“Aduh Rii, entar bisa masuk BP. Lo mau?”
“Ah i.., iya sih...”. Tari kemudian ikut menahan Dinda. “Wooii bantuin misahin!!”, ujarnya pada orang-orang.
Tiba-tiba pintu terbuka, pandangan orang-orang langsung beralih. Mereka yang berdiri di sekitar pintu langsung berlarian membuka jalan. Ternyata Dika datang.
“WOI ! Apaan nih? Berenti nggak?!!”, seru Dika.
Rena terdiam, namun Dila langsung menjambak rambut Rena. Perkelahian berlanjut, Dika langsung memisahkan keduanya meski dirinya menjadi korban salah pukul.
“Woii udaah ! Rena sadar, Renn!! Aaakhww!”
“Anjing lo! Babiii..!”, hardik Dila begitu lepas dari Rena.
“Woi jaga mulut lo!”, seru Dika dengan nada ketus.
“Apa juga lo? Lo kira cewek lo itu apa? Sama ajah begooo!”
“Gue nggak peduli sama lo! Pergi gak lo! Jangan ganggu kita lagi!”
“Gue nggak mauuuhh!! Ahahahah dasar cowok begoo! Cewek-cewek bangsat lo ini sama ajah semuah! Munafik cuihhh sok baik depan lo aaahahahahh...”
“Heh Dill gilaaa! Lo nggak usah ngomong gitu! Itu semuah bukan urusan lo kamprett!”, seru Dinda.
“Ahahahahh nggak usah ngomong loh!! BITCH!
“Eh diem lo yah!”, seru Rena yang kembali emosi.
“Ahahahah Dika lo liat tuh kelakuan cewek-cewek yang lo bangga-banggain! Mereka nggak ada bedanya sama gueeh, mereka sama aja jalang! MUNAFIK lo semuah!”
Emosi sudah mulai merasuki Dika, namun dia langsung menarik Rena dan Dinda pergi dari tempat itu. Dia tidak ingin menjadi seorang pecundang yang bertengkar dengan perempuan.
“Woooiiih mau kemana looh?! Ahahahah dasar pengecut lo anjing!”
Pintu dengan cepat ditutup kembali. Pengurus Mading lainnya mendekati dan menenangkan Dila, meski resikonya mereka terkena sisa emosi Dila yang tidak terkendali.
@@@

Antara Kita

“Sejak kapan lo jadi berantem?”
“Baru kali ini Dik...”
“Hmh sorry.”
“Kenapah?”
“Karena lo harus ada dalam masalah ini.”
“Hhaa ini bukan salah lo kali, dan bukan salah siapa-siapa selain Si Miss Keke itu ishh...”
“Udah udaah... Hmhhh...”
Rena terdiam. Kemudian menoleh dan memandangi wajah Dika. “Dik, gue mau nanya sesuatu. Tolong lo jawab yang jujur yah...”
“Hmmm... lo mau nanya apa?”
“Hmhhh... hhhh sebenernya udah lama gue mau nanya ini ke elo, tapi gue nggak brani Dik. Apa... eloo..., hmmm...”, bibir Rena bergetar, sulit untuk berbicara, namun akhirnya diberanikan, “apa elo sukaa.. sama Didi?”
Dika terdiam, menunduk. Suasana menjadi hening. Waktu jadi terasa begitu lama bagi Rena. Dia ingin tahu, tapi tidak ingin. Dia penasaran, tapi takut mendengar kenyataan yang mungkin saja akan membuatnya serasa ingin lari dari kenyataan. Semakin lama, Rena semakin ingin menutup telinganya. Dia sudah tahu apa yang akan dikatakan oleh Dika, tapi dia tidak ingin tahu dulu. Dia tidak ingin mengiyakan apa yang ada di pikirannya, dia ingin mendengar kepastian dari Dika. Tapi dia tidak siap, hanya ingin tahu. Tidak, dia benar-benar tidak siap. Rena tidak ingin harus berlari, tidak seharusnya Rena jatuh ke bukit karang. Dia tidak ingin tahu tapi perlu untuk tahu.
“Iyah.”
Satu kata itu, satu kata yang begitu singkat tapi sangat jelas. Waktu yang tadinya begitu lama, kini seakan terhenti. Tatapan Rena kosong pada Dika, dan tiba-tiba air matanya keluar dan mengalir di pipinya. Tubuhnya tiba-tiba lunglai. Semua tulang-tulangnya seperti berubah menjadi tulang rawan. Aliran darahnya terasa begitu jelas bersama detak jantungnya yang semakin pelan. Remuk.
Tidak begitu lama, Dika mengangkat kepalanya. Menoleh dan mendapati Rena sudah bagai cuci muka dengan air mata. Dika langsung memeluk Rena, dan Rena mulai terisak. Terisak semakin jelas bersama tubuhnya yang bergetar.
Tidak ada kata-kata lagi, keduanya berdiam dalam pelukan, disaksikan langit malam yang hampa tanpa tampaknya bulan dan bintang. Dinginnya malam tidak terasa lagi, mereka telah dihangatkan oleh elegi. Tak lepas pula air mata itu dari Dika, meski dirinya berusaha kuat.
@@@
Rena duduk terdiam. Begitupun dengan orang yang kini duduk di hadapannya, Dinda. Rena tampak begitu pucat, tatapannya kosong, lingkar gelap dan lengkung jelas di bawah mata, beberapa garis berbekas di pipinya, itu efek bantal yang menemaninya di hari-hari terakhir ini.
“Rena...”
Rena mengangkat kepalanya, merespon Dinda.
“Lo baik-baik aja kan?”
“....”
“Rena..., ada apa? Apa yang udah terjadi sama lo? Apa yang udah buat lo jadi kayak gini? Lo sakit apa Ren?”
“....”, Rena menggeleng pelan.
“Hmhhh Ren, lo nggak biasanya kayak gini. Gue tau pasti ada sesuatu yang berat banget bagi lo sekarang. Sampe-sampe udah dua hari lo nggak masuk sekolah. Lo kenapa Ren? Apa yang mau lo ceritain ke gue?”, ucap Dinda dengan tenang, dirinya dapat merasakan begitu duka perasaan Rena saat ini.
“Gue titip kebahagiaan seseorang buat lo Dii...”
“Ah? Maksud lo apa Ren?”
“Dika...”
“....”
“Dia udah milih elo...”
Dinda hanya diam menelan ludah perlahan.
“Slamet yah Dii... Gue mohon sama elo untuk ngebahagiain dia, jaga hatinya... Gue tau lo juga sayang sama dia, dan gue nggak mau jadi penghalang buat kebahagiaan kalian...”
“Ren, lo nggak perlu ngelakuin ini semua. Dika juga sayang sama elo, gue bisa liat itu. Lo juga udah terlebih dahulu sama dia, kalian cuma sempat terpisah dan sekarang saatnya untuk kalian nyatu lagi...”
“Lo salah Dii, emang perpisahan waktu itu udah jadi tanda kalo gue sama Dika emang udah harus pisah. Gue aja yang ngelawan takdir dan datang ke sini... Kalo aja gue nggak dateng, kebahagiaan kalian nggak bakal tertunda. Dan gue udah nggak mau lagi ngelakuin kesalahan yang sama, gue nggak mau nyakitin orang yang gue sayang... Tolong Dii...”
Dinda terdiam sejenak. “Gue nggak tau harus bilang apa Ren...”
Dika merenggangkan tubuh Rena dari pelukannya, kemudian menghapus air mata di pipi Rena. Meski air matanya ikut menetes.
“Ren..., ini udah jadi cerita buat kita. Saat ini emang aku akuin, aku suka sama Didi. Cuma dia yang bisa buat aku ngerelain kepergian kamu waktu itu. Dan saat ini, aku harap kamu bisa ikhlas. Apapun yang terjadi, aku tetap sayang sama kamu... Kamu itu tetep cinta pertama aku, orang pertama yang udah ngisi hati aku. Kamu tetep cewek terbaik. Biarpun nanti kamu liat aku sama Didi, kita tetep bisa sama-sama. Aku tetep bakal ngejagain kamu, nemenin kamu, selayaknya adik aku... Maafin aku karena aku udah nyakitin hati kamu lagi. Tapi Ren, kamu harus yakin satu hal, aku masih ada buat kamu dan aku mau liat kebahagiaan kamu dengan orang-orang yang kamu sayang, termasuk kalau suatu saat nanti kamu nemuin seseorang yang juga bisa jadi sandaran kamu... Rena, hidup ini belum berakhir. Masih ada banyak cerita dan teka-teki Tuhan yang belum kita jalani. Semua ini proses, untuk kebahagiaan kita semua di akhir...”
Air mata Rena mengalir semakin deras. Tak mampu terhapus oleh tangan Dika. Getaran tubuhnya semakin kuat. Dika menenangkan diri, juga memegang tangan Rena.
“Ren..., kamu jangan sedih... Aku mohon, kamu jangan nangis, kamu harus ikhlas. Kamu harus jadi cewek yang tegar. Meskipun sikap kamu bisa nipu banyak orang, tapi bukan aku. Aku selalu tau apa yang ada dalam hati kamu Ren... Aku mohon dengan sangat sama kamu, ikhlas sama ini semua Ren... Aku janji sama kamu, aku bakalan tetep di deket kamu, sebagai kakak kamu... Kamu harus bisa jadi lebih dewasa... Kita nggak boleh kalah sama masalah... Harus tetap semangat,  selalu senyum... Aku yakin pasti bisa...”
Dika memegangi wajah Rena yang basah, kemudian perlahan menyentuh kening Rena dengan bibirnya. Pelan dan lama. Bibir Dika terasa bergetar. Nafasnya begitu terasa, membuat Rena semakin tenggelam dengan perasaannya, namun kecupan itu bisa merasa tenang perlahan-lahan.
Rena memeluk tubuh Dika. Menyandarkan kepalanya di dada orang yang dikasihinya itu. Membiarkan dirinya hanyut bersama penenangan Dika. Menutup matanya yang sudah lelah.
Rena teringat dengan kejadian malam itu bersama Dika, air matanya kembali mengalir, namun dengan cepat dihapusnya.
“Ren... Lo jangan nangis... Gue emang belum bisa ngomong apa-apa...”
“Nggak kok Dii, nggak pa-pa... Gue juga nggak bisa maksa kan... Gue cuma bisa berharap lo bisa ngejaga hatinya Dika.”
“Iyah Ren, lo juga...”
Rena tersenyum. Begitupun dengan Dinda. Mereka kemudian berpelukan hangat. Suasana cafe yang tenang membuat perasaan keduanya jadi lebih baik.
@@@
Dinda mengganti-ganti channel televisi, tidak jelas ingin menonton siaran apa. Malam sudah semakin larut, namun dirinya belum juga bisa tidur. Pikirannya selalu teringat pada pembicaraannya tadi sore bersama Rena.
“Belum tidur?”
Dinda menoleh, ternyata Nanda. “Belum ngantuk. Lo?”
“Gue denger suara tivi, jadi gue bangun. Nggak bisa tidur yah? Ada apa?”, tanya Nanda yang langsung duduk di samping Dinda.
“Sejak kapan lo peduli sama gue?”
“Ihh ditanya baik-baik juga...”
“Hmhh brisik lo...”
“Emang lo kenapa? Apa susahnya ngobrol sama gue? Jangan sensi mulu...”
“Hmhhh tauk.”
“Dika?”
Dinda terdiam. Kemudian menoleh pada Nanda.
“Hmhhh..., pasti ada hubungannya sama cewek yang jalan sama dia waktu itu, siapa lagi namanya?”
“Rena.”
“Yap, Rena. Dia itu sahabatnya Dika kan?”
“Iyah. Ah udah ah ngomong sama lo panjang, lo kan nggak tau apa-apa...”
“Seenggaknya gue tau kalo Rena itu punya rasa ke Dika, dan gue rasa Dika juga yaaaah hmmmm kayaknya sih juga punya rasa sama Rena...”
“Kok lo tau?”
“Tatapan and also sikap. Bener kan? Lo cemburu?”
“Bukkaaan... Iiih sok tau! Hhhh...”
Akhirnya Dinda mau menceriterakan semua yang kini mengganggu pikirannya pada Nanda. Nanda begitu menyimak ceritera adiknya itu dari kata per kata. Pembicaraan yang secara tidak langsung mampu mendekatkan sepasang saudara itu dalam larutnya malam.
“Hmmm ribet juga Dii... Tapi menurut gue yah, saat ini kalian semua butuh waktu untuk tenang dulu. Lo nggak usah ambil keputusan dulu.”
“Terus gimana? Apa gue diem aja gitu kayak nggak terjadi apa-apa?”
“Bukan gitu juga. Lo deketin diri sama Rena, seru-seruan sama dia, sama  Dika juga. Ini buat ngobatin sakitnya Rena, tapi juga dia bisa liat kebahagiaan Dika. Oh iya, sebelumnya lo mesti yakinin dia kalo lo mau dia bersikap kayak biasa aja, nggak usah canggung apa-apa...”
“Hmhhh semoga Rena bisa ngerti, semoga kita semua bisa ngejalanin ini... Hufthhh gue capek banget Nan...”
“Iyah iyah, gue ngerti... Udah yaaah, yang jelas lo coba aja dulu kayak gitu, oh iya jangan lupa diomongin sama Dika, okeh?!”, ujar Nanda sambil mengacak-acaki rambut Dinda.
“Hhee siap boss! Thank you yak!” Dinda langsung berdiri dan berjalan menuju kamarnya dengan langkah semangat.
“Yeee giliran udah seneng, main tinggal aja...”
“Hhee gue ngantuk bro... Hoaahm...”
“Asal lo aja deh...”. Nanda hanya geleng-geleng kepala lalu mengambil remote TV dan mengganti channel.
Dinda menghentikan langkahnya, menoleh pada Nanda. Malam ini bukan kali pertama dia menyadari kebijakan kakaknya itu. Meskipun dirinya belum bisa bersikap baik, namun sebenarnya hatinya sangat ingin bersikap baik. Dirinya benar-benar telah salah menilai Nanda selama ini, dan sarannya barusan telah membuat Dinda semakin yakin.

Saat ini memang belum saatnya mengambil keputusan. Meski memang Rena sudah memohon, namun dirinya masih begitu rapuh. Belum ada kepastian bahwa dirinya mampu untuk ikhlas dengan keadaan saat ini. Belum ada bukti bahwa dirinya mampu menjalani kenyataan ini dengan lebih baik.
Bagaikan tongkat, begitu kokoh oleh kasat mata. Tapi siapa yang tahu kalau pembuluh kayunya sudah dimakan rayap. Siapa yang tahu kalau begitu tongkat itu jatuh, malah hancur berkeping-keping. Karena itu bukan tongkat, itu tidak lebih dari kayu kering yang sudah dimakan rayap.
@@@
Bahasa Hati
Di saat ku pergi, kau juga pergi.
Beradaptasi dengan kenyataan.
Sepahit buah mengkudu, sepekat getahnya, dan sekasar permukaannya.
Kisah kita telah berakhir?
Memang sudah kuakui sejak dulu.
Namun apa inikah yang benar-benar akhir?

Aku memang pernah pergi,
Namun aku tidak pernah benar-benar meninggalkanmu.
Aku ada di belakangmu, melihatmu dari sisi yang tak kau sadari.
Kau memang pernah pergi,
Namun kuyakin tak benar-benar meninggalkanku.
Entah darimana keyakinan itu.
Hanya saja aku benar-benar yakin.

Jika memang inilah akhirnya,
Aku mengalah, namun bukan benar-benar mengalah.
Aku hanya menyayangimu.
Yang kutahu tuntutan sayang adalah keikhlasan.
Mungkin sudah berkali-kali kukatakan hal itu.
Aku pun tak begitu yakin akan sanggup.
Namun aku yakin akan berusaha sanggup.
Kembali aku juga bukan meninggalkanmu,
Justru aku merasuk kepadamu.
Bukan sebagai pasanganmu, namun sebagai jiwamu.
Akira Renata Sinaga


Tahukah kau?
Bagaimana aku terjatuh saat kau tak lagi bisa kusentuh?
Bagaimana aku rapuh saat kau mengatakan kata pisah?
Pelukan terakhir yang tak ingin kulepas.
Kecupan terakhir yang kehangatannya terasa mengalir di darahku.
Dan saat kau melambaikan tangan, senyumku menyertaimu.
Senyum harapan agar kau selalu baik disana.
Hingga suatu saat kau datang kembali dan berjanji untuk tidak pergi.
Hariku berjalan, namun aku mati.
Rasanya seperti tidak ada darah.
Sakit namun tidak terasa sakit.
Aku tidak lagi menangis.
Mungkin aku sudah mati rasa.
Hingga saat-saat itu datang.
Entah sejak kapan awal mulanya.
Pertama kali aku melihatnya.
Dingin! Dika langsung membuka matanya. Kaget setengah mati dengan air yang tiba-tiba tersiram deras tepat di wajahnya.
“Heh! Bangun gak lo banguuun!”
“Apaan sih lo?!”
“Ini lapangan buat latihan! Bukan buat tidur!”
“Ya tapi nggak gitu juga cara banguninnya...”
“Ihh lo aja yang nggak nyadar, gue udah bangunin baek-baek tapi emang tidur lo kayak mayat, ya udah...”

Sejak itu ku benar-benar membencinya.
Namun karena itu pula aku memerhatikannya.
Gerak-geriknya, dan tanpa sadar aku telah berubah mengaguminya.

Kini kau kembali.
Awalnya kupikir aku akan melompat girang.
Namun saat melihatmu, ------- datar -------
Memang aku bahagia, memang aku tersenyum.
Memang masih terasa hangat.
Hanya saja tidak seperti yang kuduga.
Aku sudah terlanjur tercuri olehnya.
Nandika Pratama

Aku bukan penulis.
Aku tidak pandai merangkai kata.
Namun kali ini aku benar-benar ingin menulis.
Menuliskan apa yang kurasakan saat ini.
Apa ini duka? Luka? Sedih? Kecewa? Atau apa?
Aku tidak mengerti.
Kadang aku merasa ini lebay.
Tidak seharusnya aku ada dalam kondisi seperti ini.
Terlalu rumit!
Kadang aku serasa ingin menyerah.
Namun ternyata tidak semudah itu.
Aku tidak bisa hanya duduk diam.

Aku tidak tahu harus bertindak apa, dan bagaimana.
Satu yang kusyukuri.
Kisah ini menyadarkanku pada satu hal.
Cinta.
Entah apa yang telah terjadi antara aku dan dirinya.
Aku sama sekali tidak tahu.
Awalnya kupikir rasaku tidak mungkin akan sejauh ini.
Bahkan aku sendiri sangat tidak menyangka.
Ini diluar logikaku.
Kupikir ini hanya first love, dan akan jadi sekedar first love.
Aku sudah salah besar.
Rasaku sudah bercabang, berakar, menjadi pohon yang kokoh.
Setidaknya aku bersyukur dengan hal ini,
Tanpa kisah ini mungkin aku takkan pernah menyadarinya.
Betapa aku takut kehilangan,
Betapa aku ingin mempertahankan.
Meski mungkin akan mengorbankan seseorang yang masih putih.
Cinta itu ternyata membuat kita ingin ego.

Tapi sampai kapan?
Sampai kapan kisah kita harus berjalan seperti ini?
Layaknya aku di persimpangan.
Antara mempertahankan cinta dan egoku,
Menuntut kebahagiaan?
Atau merelakan takdir yang mengambil keputusan.
Menunggu sesuatu yang belum jelas arahnya.
Adinda Putri
                                                                          @@@ 




Cookies
..dert..dert..
Handphone Dika bergetar.
..dert..dert..
Handphone Rena bergetar di waktu yang sama. Ternyata ada pesan dari orang yang sama-Dinda.
        
        Ke rumah gue yuk.
        Gue tunggu yah.
        Didi :)
 
                                                                                  @@@
“Yeeee akhirnya kalian dateng juga... Tau nggak kenapa gue aja ke sini?”, ujar Dinda dengan semangat.
“....”, Dika dan Rena hanya menggeleng pelan.
“Iiiihh lesu banget sih lo pada! Gue mau ngajakin kalian bikin kue bareng gue. Mau? Mau dooong, mau yaah, mau laaah hehe... Ya udah yuk.”
Dika dan Rena saling berpandangan, kemudian menoleh kembali pada Dinda. Tangan mereka sudah ditarik oleh Dinda menuju dapur rumah.
Bahan-bahan kue sudah tertata rapi di atas meja. Beberapa buku resep juga tidak absen. Dengan semangatnya, Dinda langsung membuka-buka buku resep dan menemukan halaman yang dicarinya.
“Tadaaa...! Gue mau buat cookies, kayaknya sih gampang trus enak lagi. Gimana?”
“Ah? Hmmm terserah lo aja deh Dii...”, jawab Dika.
“Kalo lo Ren?”
“Iya, gue juga terserah aja...”
“Okkey! Ya udah yuuk... Dika, tolong ambilin mangkuk yang itu yak...”, ujar Dinda bersemangat sambil menyalakan mixer.
Dika membawakan mangkuk yang diminta oleh Dinda, “Nih Dii...”, kemudian membaca resep Cookies yang akan mereka buat.
“Kok pada diem aja siih? Ren, lo tolong bantuin gue tuangin tepungnya yah abis ini...”
Dinda mencampur telur, margarin, dan butter dengan mixer. Namun Rena dan Dika masih seperti patung. Tidak lama kemudian, Dika tersenyum. Sepertinya dia sudah mengerti dengan tujuan Dinda.
“Eh tuang sini aja biar gue yang nyampurin tepung...”, ujar Dika sambil menyodorkan mangkuk pada Dinda.
Dinda memandang Dika, tersenyum, begitupun sebaliknya. Dinda kemudian melakukan yang disuruh oleh Dika.
“Eh Ren sini, jangan diem ajaa...”, ujar Dika sambil menarik Rena mendekat padanya.
“Gue mesti ngapain...”, Rena masih lesu dan bingung harus berbuat apa.
“Udah Ren, bantuin aja si Dika...”, jawab Dinda sambil tersenyum dan menuangkan adonan.
Ternyata tidak butuh waktu yang terlalu lama untuk mengubah suasana menjadi hangat. Mereka bertiga sudah sama-sama sibuk sambil bercanda.
“Eeehhh tangan gue lengkeeet!”, ujar Dika sambil mengangkat tangannya yang dipenuhi adonan.
“Ahhahahahahh...!”, Dinda dan Rena hanya menertawai Dika sambil menghindar.
“Eh yang bener dong ini gimana?”
“Hahahah tambah tepung kali...”, saran Rena.
Dika pun langsung menaburkan tepung ke mangkuk adonannya, Dinda langsung menyenggol tangan Dika dengan sengaja hingga tepung di tangan Dika bertebaran di udara.
“Ohok ohokk... Didi!!”
Dinda dan Rena langsung berlari menghindar dari Dika sambil tertawa puas. Dika langsung mengejar keduanya dengan memanjangkan tangannya yang penuh adonan mengarah pada mereka. Akhirnya yang menjadi korban selanjutnya adalah Rena. Wajahnya dipenuhi adonan dari jari-jari Dika. Rena balik mengejar hingga Dinda ikut merasakan yang sama.
“Heh heh..., udah kuenya ga jadi-jadi hahaha...”, ujar Dinda sambil berlari kembali ke adonan.
Mereka pun melanjutkan pengerjaan adonannya, hingga menjadi adonan yang siap dibentuk. Kali ini mereka malah berdebat dalam membentuk adonan. Hingga adonan yang dibentuk menjadi 3 macam.
“Liat niiih, punya gue tuh lebih keren... Lucu gitu bentuk eskpresi-ekspresi orang, blweeekk...!”, ujar Dinda dengan meledek.
“Iiihh punya gue lebih bagus. Bentuknya jelas, bintang. Secara tuh yah bintang kan cantik, kalo diliat aja bisa bikin hati kita tenang. Jadi kalo makan Cookies gue, kali-kali aja yang tadinya badmood bisa jadi goodmood heheh...”, terang Rena memuji Cookies-nya.
“Heh lo pada tuh ribet yah, punya gue dong, simple.”
“Halaaah, simple sih simple, bulat gitu hahahaha...”
“Yeh biarin... Kayak hidup gitu. Kita mesti yakin kalo hidup ini simple. Kalo mau manis yah tambahin gula dengan pikiran-pikiran positif dan belajar jadi orang bijaksana, kalo bosan yah tambahin kacang dikit biar ada gregetnya. Dan kalo mau mulus-mulus aja yaaah kadarnya dikasi standar aja, nggak usah cari masalah atau cari sensasi...”
Dinda dan Rena terdiam. Perkataan Dika barusan benar-benar bijak. Harusnya mereka juga bisa hidup seperti Cookies. Harusnya mereka bisa membuat hidup selayaknya membuat Cookies. Jalan hidup mereka ada di tangan mereka masing-masing. Seperti proses dan hasilnya, sangat berpengaruh dari bagaimana mereka memutuskan dan bertanggung jawab pada keputusan itu.
Hidup ini semestinya bagaikan potongan Cookies. Renyah, manis, dan jadi teman yang baik saat senggang. Mengapa kita tidak menjadi seseorang yang selalu serenyah Cookies dengan bersikap ramah pada kehidupan, manis dengan selalu berpikiran positif dan bijaksana, serta menjadi seseorang yang senantiasa ikhlas menebar kebahagiaan pada orang-orang di sekitar kita?

Rena tampak sibuk menyusun Cookies di stoples. Dika terdiam memandangi Dinda yang sedang memilih DVD film yang akan mereka tonton bersama. Dika melangkah, mendekati Dinda.
“Dii...”
“Hmm?”. Dinda menoleh pada Dika.
“Thanks yah...”
“Untuk?”
“Untuk semuanya...”
Dinda tersenyum, “Gue juga makasih...”
“Untuk?”
“Untuk semuanya... Makasih banget yah Dik...”
Dika turut tersenyum. Kemudian memilih DVD yang sudah bergeletakan di karpet. “Kita nonton ini aja...”
@@@

Bestfriend
“Haaaaaaah??!” Tari dan Dina memasang tampang super polos begitu mendengarkan penjelasan Dinda.
“Yeeeyy nggak usah sampe masang muka bego gitu kalii!”, ujar Dinda sambil mencubiti pipi kedua sahabatnya.
“Dii, lo kok nggak pernah cerita apa-apa? Kita tuh kesannya kayak ketinggalan banget gituh...”, protes Tari.
“Bukannya gitu... Kemaren-kemaren gue emang nggak sempat aja nyeritain ke kalian. Lagian ini prosesnya cepet banget...”
“OMG ! So, what’s your decision?”
“Yaaah yang kayak gue bilang tadi...”
“Hubungan lo sama Dika? Trus Nanda? Trus Rena? Aaaah gue pusing...”, Dina bertanya bertubi-tubi dengan tampang kebingungan
“Dika, hubungan gue sama diaa baik-baik aja. Gue udah nggak mikir bakal pacaran sama dia atau enggak. Bagi gue status itu nggak penting, gue banyak blajar dari Nanda. Sekarang gue juga udah ngakuin Nanda, dia orang yang hebat. Gue nggak nyangka dia ternyata kayak gitu. Kalo Renaa..., dia baik, orang yang sangat tulus... Gue juga nggak nyangka di balik sikapnya yang kayak gitu, dia punya rasa yang dalem banget sama Dika... Hhhh..., pokoknya ini semua udah jadi pelajaran yang hebat banget buat gue...”, terang Dinda dengan senyum tulusnya sambil membayangkan ketiga sosok yang dibicarakannya.
“Oooouhh gue juga nggak nyangkaa... Rena, cewek yang sempet nggak gue suka ternyata kayak gitu... Dan Nanda yang coooool banget itu ternyata kayak gitu...”, ucap Tari dengan pelan dan tenang.
“Hhhhh... Gue bener-bener ada dalam segmen ini kan Dii? Gue nggak nyangka kalo sahabat gue punya kisah hidup kayak gini...”, tambah Dina.
“Ishhh daritadi prasaan ngomongnya nggak nyangka atau kayak gini kayak gitu. Udah aahhh bubar bubaaarr...!”, ujar Dinda yang merasa situasi mulai berlebihan.
“Iiiihh Didi...”
“Udah yaaah, yang penting sekarang ceritanya udah kelar. Semua udah selesai. Inilah akhir ceritanya okeeh...”
“Tapi Dii, bagi gue masih ngegantung...”
“Gantung apa? Jemuran?”
“Iiihh gue serius Dii... Masa hubungan lo sama Dika gini aja? Nggak ada yang berubah gitu, kurang seruuu!”
“Appa siiihh... Emang harus yah? Yah kalo emang ini yang terbaik?”
“Aaah tapi kan Rena juga udah ngeikhlasin hubungan lo sama Dika... Dia sendiri kan yang sampe bela-belain ngajak ketemuan di Cafe buat ngebicarain itu...”, ujar Tari yang merasa tidak puas.
“Hhh iyah gue tauu... Tapi menurut gue ini tuh masih terlalu cepat buat ngambil keputusan. Slow...”
“Tapi Dika juga udah nyata-nyata milih elo kaan...”
“Iyah Non, tapiii... hhhh susah yah...”. Dinda menghela nafas panjang, raut wajahnya menjadi cemberut. Dia sendiri juga bingung, namun dia yakin dengan apa yang dikatakannya.
“Udah Rii... Didi emang bener... Nggak harus kan semuanya berakhir dengan kata pacaran? Ini semua tergantung dari merekanya... Kalo Dika mau yaah entar juga nembak...”, Dina menetralkan.
“I know that. Tapi sampe kapan Adinda Putri harus berhubungan tanpa status dengan Nandika Pratama? Yang gue tau nih, perasaan tuh nggak pernah salah. Kalo emang Rena yakin sama keputusannya, udah nggak seharusnya ada penghalang untuk nyatuin Didi sama Dika. Mau sampe kapan gitu? Secara ujung-ujungnya juga mereka emang buat disatuin kan? Apa yang salah dengan kepastian status?”
“Tarii...”
“Dinaa...”
“Hhhh udah udaahh... Pasti semuanya bakal ada waktunya kok... Nggak usah dipikirin dehh...”
“Mck...”
Tari masih tidak puas. Dinda dan Dina saling berpandangan. Mereka hanya berdiam hingga bel masuk mengisyaratkan perpisahan mereka pagi itu.
@@@
Suasana kelas XI IPA 1 begitu tenang. Seisinya serius pada satu titik yaitu materi Biologi yang dibahas oleh Pak Fahrian. Diam-diam Dina terus memperhatikan laki-laki duduk tidak jauh di depannya–Dika. Dia masih teringat pada pembicaraan tadi pagi bersama Dinda dan Tari. Baginya, kisah yang menimpa sahabatnya itu adalah kisah yang sulit dipercaya untuk ada dalam kehidupan anak kelas 2 SMA.
“Din, lo kenapa sih dari tadi gue liat ngelirik Dika mulu...”, tegur Mitha–teman sebangku Dina.
“Ah? Hmm nggak pa-pa kok...”, jawab Dina sedikit terkejut.
“Oohh... Eh Dika sama Didi udah jadian apa belom sih? Terus Rena gimana?”, kembali Mitha bertanya, kini dengan lebih penasaran.
“Mereka nggak pacaran”, jawab Dina singkat.
“Kalo Rena?”
“Kalo Rena hmm..., gue nggak tau gimana ngejelesinnya... Yang jelas dia itu cuma kayak sodaraan gitu sama Dika...”
“Sodara? Mereka keluarga?”
“Bukaan, mereka deket, jadinya nganggep kayak sodara gituu...”
“Ooohh kalo gitu kenapa sih Didi nggak pacaran aja sama Dika? Mereka udah cocok banget...”
“Nadia Deyna Soraya! Miftah Az Zahrah!”
Dina dan Mitha seraya langsung menghadap ke depan. Pak Fahrian hanya geleng-geleng kepala melihat kedua muridnya itu. Perhatian murid yang lainnya langsung mengarah pada mereka berdua, termasuk Dika.
@@@
Bel pergantian jam pelajaran sudah berbunyi. Pak Fahrian bergegas keluar dari ruangan. Dina dan Mitha pun langsung menurunkan kaki dan duduk di bangku paling depan. Setidaknya itu tempat paling dekat untuk beristirahat. Ini pertama kalinya mereka dihukum berdiri dan mengangkat satu kaki di depan kelas. Untungnya bukan murid pertama di XI IPA 1.
“Tumben lo berisik di kelas...”, ujar Dika begitu Dina duduk di depannya.
“Ah? Mungkin lebih tepatnya baru kedapetan hehe...”
“Oohaha...”
“Hmm Dik...”
“Yah?”, Dika menoleh pada Dina yang sudah memandangnya.
@@@
Dinda dan Tari sudah duduk manis di bangku kantin. Pandangan menoleh ke sekeliling mencari wujud seseorang, siapa lagi kalau bukan Dina. Tari mengaduk minumannya, mengecek handphone-nya.
“Udah gue SMSin tapi nggak dibales...”
“Ooohh ya udah mungkin lagi sibuk...”
“IPA 1 gitu loh, maklum hahaha...”
“Ahaha gue nggak nyangka yah, kita bisa berteman sama cewek sepintar Dina hahah...”
“Hahah tau. Inget nggak waktu pertama masuk SMA?”
“Inget, dan Dina mau duduk di sebelah gue aja pake minta izin bilangnya ‘hmmm maaf, aku boleh nggak duduk di sini?’ hahahah polos bangeeet...”, ujar Dinda yang sempat memeragakan cara bicara Dina.
“Hahah terus kalo kita brisik dia suka bilang ‘huuuustt..., hargain guru di depan...”, tambah Tari.
“Ahahahah tapi lama-lama dia jadi agak cerewet, tapi cerewetnya garing atau jadi oon hahaha...”
“Hahaha terus lo suka marahin dia!”
“Haha iya... Hhhh Dina itu terlalu baik...”
“Sangat. Dia sabar banget sampe bisa bertemen sama kita hahah...”
“Hmm iyah... Eh tapi tumben dia nggak ada kabar. Biasanya SMS kalo lagi sibuk. Nggak mungkin juga nggak punya pulsa, secara pulsa belom abis aja dia udah ngisi lagi...”
“Humn samperin aja yuk. Ya udah habisin makan lo...”
@@@
Dinda dan Tari berjalan santai menuju kelas XI IPA 1. Sesekali mereka melihat ke sekitar, mungkin saja bisa mendapati sosok Dina. Tapi ternyata tidak. Beberapa pasang mata memandangi mereka. Dinda hanya cuek, tidak dengan Tari.
“Lo nyadar nggak kalo diliatin?”
“Biasa ajah...”
“Tapi Dii, kita tuh bener-bener diliatin... Emang ada yang salah yah? Coba liat gue, rambut gue berantakan? Atau ada sambel di gigi gue?”, tanya Tari dengan berusaha mendapatkan pandangan mata Dinda.
“Aduh Rii, lo tuh baik-baik aja. Cantik kok.”
Tari diam. Namun matanya melirik-lirik pada siswa-siswi lain yang mereka lewati. Langkah kaki terhenti saat Tari dan Dinda berdiri tepat di depan pintu kelas XI IPA 1.
“Apaan nih? Kita nggak salah ruang kan?”, tanya Tari heran dan langsung menoleh ke kiri dan kanan. Tidak ada siapa-siapa lagi di dekat mereka, dan memang benar ruang di depan mereka berdiri adalah ruang kelas XI IPA 1.
Dinda terdiam dan tampangnya berubah jadi bingung, sama seperti Tari. Mereka heran dengan kondisi pintu yang sudah dihias Bunga Anggrek. Tapi mereka yakin tidak salah ruang. Dinda memberanikan diri untuk membuka pintu. Dinda dan Tari memasuki kelas, ternyata tidak ada siapa-siapa. Malah Bunga Anggrek kembali menjadi pemandangan dengan berjejer di lantai.
“Ada apa sih Di?”, tanya Tari bingung.
“Gue juga nggak tau... Bingung gue. Balik yuk!”
Dinda langsung berbalik badan menuju pintu kelas dan diikuti oleh Tari.
“Didi...”, panggil Tari.
“Kenapa?”
“Hmmm... Lo suka suka Anggrek kan?”
“Iya, emang napa? Hmh sebenernya gue suka di sini. Tapi aneh aja...”
Tari mulai mengerti maksud dari situasi ini. Bunga Anggrek adalah bunga kesukaan Dinda. Namun dia tidak berani mengatakan yang dipikirannya pada Dinda.
“Hhhh balik yuk ahh... Firasat gue nggak enak”, ajak Dinda sambil menarik tangan Tari keluar dari ruang kelas.
“Nanana nananana, nanana nananana, nanana nananana, nanana nananana...
Kuawali hariku dengan mendoakanmu agar kau slalu sehat dan bahagia di sana, sebelum kau melupakanku lebih jauh, sebelum kau meninggalkanku lebih jauh.
Ku tak pernah berharap kau kan merindukan keberadaanku yang menyedihkan ini. Ku hanya ingin bilang kau melihatku kapanpun, dimanapun, hatiku kan berkata seperti ini,
Pria inilah yang jatuh hati padamu, pria inilah yang kan slalu memujamu. Oha? Yeah.. Oha? Yeah... Begitu para repper coba menghiburku...
Nanana nananana, nanana nananana, nanana nananana, nanana nananana...
Akulah orang yang selalu menaruh bunga dan menuliskan cinta di atas meja kerjamu. Akulah orang yang kan slalu mengawasimu. Menikmati indahmu dari sisi gelapku. Dan biarkan aku jadi pemujamu jangan pernah hiraukan perasaan hatiku. Tenanglah tenang pujaan hatiku sayang, aku takkan sampai hati bila menyentuhmu.
Mungkin kau takkan pernah tau betapa mudahnya kau untuk dikagumi. Mungkin kau takkan pernah sadar betapa mudahnya kau untuk dicintai...
Akulah orang yang kan selalu memujamu... Akulah orang yang akan selalu mengintaimu... Akulah orang yang akan selalu memujamu... Akulah orang yang akan selalu mengintaimu...
Mungkin kau takkan pernah tau betapa mudahnya kau untuk dikagumi. Mungkin kau takkan pernah sadar betapa mudahnya kau untuk dicintai...
Karena hanya dengan perasaan rinduku yang dalam padamu, kupertahankan hidup. Maka hanya dengan jejak-jejak hatimu, ada arti kutelusuri hidup ini. Selamanya hanya kubisa memujamu, selamanya hanya kubisa merindukanmu, huuuuhhh... huuuuhhh... haaaahhh...”
Dika menaruh menurunkan gitarnya, tersenyum memandang pada Dinda. “Hmm udah lama banget lagu ini gue nyanyiin buat lo, tapi nggak pernah berani di depan lo. Dan saat ini, gue ngerasa kalo lagu ini udah nggak pantes buat lo Dii...”
“Hah? Maksud looo?”, tanya Tari yang sedari tadi berdiri di belakang Dinda. Awalnya dia ternganga dan kagum, namun tampangnya langsung berubah.
Dika tersenyum, “iyah... Karena gue nggak mau selamanya hanya sekedar jadi pemuja rahasia. Gue mau, elo, Adinda Putri, alias Didi, mau untuk jadi..., huuufhhh..., jadi cewek gue...”
Suasana langsung hening. Dinda dan Tari terdiam di tempat, tidak bergerak. Namun Tari sadar lebih dulu dan langsung memegang tangan Dinda.
“Didii...”, panggil Tari dengan berbisik.
“Dii, lo pernah bilang kalo lo mau jadi seperti Anggrek. Sederhana, apa adanya, dan punya kesan menenangkan. Meskipun orang menilai lo gimana, tapi gue bisa liat Anggrek di diri lo Dii... Gue harap lo bisa nerima gue jadi tempat lo bersandar dan hidup sama gue...”
“Ahh? Pacaran maksud lo?”, Dinda akhirnya membuka mulut. Dia gugup. Meski ini bukan pertama kali Dika menyatakan perasaannya, Dinda benar-benar gugup.
“I.., iyaa...”, jawab Dika sambil tersenyum dan takut.
“Hhhh...”
“Didi, lo kenapa? Jawab aja Dii, ayoo...”, desak Tari dengan suara yang dipelankan.
“Hhhhh guee..., hmmm..., gue mau pipis Dik...”
“Ah? Oh ya udah lo ke toilet aja. Lo juga nggak mesti jawab sekarang kok...”, ucap Dika yang masih memasang senyum termanisnya.
“Hokeh...”
Dinda langsung berlari dari hadapan Dika, Tari langsung panik, mengejar dan menarik tangan Dinda.
“Didi kenapa lo nggak bilang iya ajaaa?”
“Ah aduh gue nggak bisa ngomong depan diaa...!”
“Ya udah sekarang aja ngomongnya!”
“Hah?” Dinda cemas, bingung, namun menghentikan langkahnya kemudian menoleh pada Dika, “Dika, okeh!”
“Iya oke...”
“Aduh Dika, maksud Didi oke dia mau jadi cewek lo!”
“Haah?”. Sekarang Dika malah ikut bingung.
“Gue mau jadi cewek lo Dik, tapi abis gue pipis yah. Daaahh...”. Dinda kembali berlari menuju toilet. Tari mengekor di belakangnya sambil tersenyum.
Dika ternganga, dan langsung tersenyum lega. “Thank you Diii!!”
Dika tidak kuasa lagi menahan kebahagiaannya, dia melompat-lompat kegirangan. Di saat itu pula riuh suara dari siswa-siswi lainnya datang mengerumuni Dika. Mereka turut bahagia dan memberi selamat pada Dika. Dika terus tersenyum, bahkan tertawa kegirangan. Dia tidak percaya dengan yang barusan didengarnya. Kejadian tadi bagaikan mimpi. Namun memang itulah yang terjadi.
“Dikaaa...”
Seseorang memanggil Dika dari balik kerumunan, Dika mengenal suara itu, Rena. Dika langsung berhenti tersenyum, dia sedikit gugup. Meski hatinya sudah mantap memilih Dinda, namun bagaimanapun juga dia masih ada rasa canggung pada Rena atas kejadian ini. Rena kemudian muncul di hadapannya dengan senyum yang merekah.
“Slamet yaaaah...”
Rena langsung memeluk Dika. Sekali lagi Dika dibuat kaget. Namun ini benar-benar nyata. Dika tidak kuasa menahan senyum bahagianya dan membalas pelukan Rena.
“Makasih banget Ren...”
Tepuk tangan menjadi keributan, Dina langsung menghampiri Dika dengan senyum merekah, “Lo hebat Dik!”.
@@@

Mama?
“Eh lo tau nggak gimana ekspresi Didi tadi? Ahahahahah lucu banget! Coba aja ada nyamuk ato lalat masuk ke mulutnya hahahah...”
“Eh sialan! Kalo ada di posisi gue, lo juga pasti bakalan kayak gitu kali...”, timpal Dinda. “Hmm tapi kayaknya gue tau ini kerjaan siapa...”, Dinda langsung tersenyum menatap Dina, “lo sengaja nggak nemuin kita supaya bisa mancing kita ke kelas lo kan?”
“Ah? Hhee iya sih, tapi ini rencana Dika kookk... Bener deh...”
Dinda, Tari, dan Dina berjalan memasuki rumah dengan santai dan seru membicarakan kejadian hebat tadi. Bi Darsih langsung berjalan cepat menghampiri mereka.
“Non, ada tamu...”
Dinda langsung menoleh ke sofa ruang tamu. Setelah jas santai berwarna cokelat dengan bagian kera yang berbulu halus, rambut tertata rapi, dan dandanan yang senada. Begitulah penampilan seorang wanita yang kini berdiri di depan matanya. Jelas dia mengenal wanita itu.
Dinda terdiam. Raut wajahnya datar. Wanita itu berjalan mendekati Dinda dan tersenyum hangat. Namun Dinda tidak bereaksi. Tari dan Dina saling berpandangan, bingung.
“Apa kabar sayang?”, sapa wanita itu.
Dinda hanya diam, kemudian membuang muka. Sikapnya itu membuat Tari dan Dina semakin bingung.
“Kita masuk aja yuk...”
“Didi...”
“Kalian masih mau disini? Gue mau ke kamar...”
Dinda langsung melangkah, meninggalkan Dina, Tari, dan wanita itu. Tiba-tiba dari luar Nanda datang.
“Mamah?”
Tari dan Dina menoleh.
“Mama kok bisa ada disini?” Nanda langsung mendekati wanita itu dan memeluknya. Wanita itu balas memeluk Nanda dan tersenyum.
Kini Tari dan Dina mengerti. Wanita itu adalah Lastri, ibu kandung Nanda dan Dinda. Mereka langsung pergi, menuju kamar Dinda.

“Didiii... Mau sampe kapan?”
“Apanya?”
“Mau sampe kapan lo nggak maafin nyokap lo?”
“Hhhh gue nggak tau. Gue ngerasa aneh aja kalo ngeliat dia...”
“Tapi Dii, biar bagaimanapun dia nyokap lo...”
“Gue tauu... Tapi gue emang belum siap... Dan gue nggak tau akan sampe kapan kayak gini... Plis lo semua jangan maksa gue...”
“Didii... Hidup kita bergantung besar dari keputusan kita. Kalo lo mau hidup lo baik, lo juga mesti ambil keputusan yang baik. Begitu juga sebaliknya. Kita punya peluang untuk ngatur jalan hidup kita sendiri Dii... Jangan biarin lo diperbudak sama dunia. Gue tau kalo pada akhirnya lo juga nuntut kebahagiaan sama keluarga lo kan? Termasuk sama nyokap lo... Jadi kalo lo mau kebahagiaan itu, lo juga mesti ambil keputusan yang bisa nyatuin lo sama keluarga... Kenapa harus ditunda? Sampai kapan? Nanti, nanti, dan nanti? Terus nanti lo masih bakalan bilang nggak siap? Didi, hidup ini sederhana... Asal lo mau ngemuka mata dan belajar... Apa harus lo ngalamin kejadian-kejadian yang buat elo yaaah serasa jadi tokoh novel? Nggak Dii... Elo yang mesti bersikap. Nggak selamanya nasib lo bakal happy ending kalo lo gini-gini aja...”. Kembali omongan bijak keluar dari mulut Dina. Suasana kamar Dinda jadi hening. Bahkan Tari ikut memaknai kalimat-kalimat Dina barusan.
Dinda terdiam. Dia mengerti maksud Dina, nuraninya membenarkan. Omongan Dina memang masuk akal. Tiba-tiba Dinda sendiri juga heran mengapa dia segitu tidak bisa menerima ibunya.
“Hhhhh... So?”
“Maksud lo? Yah temuin nyokap lo laaah...”
Dinda menarik nafas, kemudian menghembuskannya pelan-pelan. Berdiri, sedikit merapikan dirinya, menoleh dan tersenyum pada Dina dan Tari, dia sudah siap.
Dinda menuruni anak tangga dengan tenang. Suara ibunya dan Nanda bisa didengarnya. Dia masih belum terlambat. Ini benar-benar saat yang tepat.
Dinda pun muncul di antara keluarganya dengan langkah pelan. Nanda dan Lastri menoleh pada Dinda. Nanda terdiam, namun Lastri langsung berdiri dan tersenyum menyambut putrinya itu.
Dinda berdiri di hadapan ibunya, menunduk. Dirinya terlalu gugup untuk bisa menatap ibunya. Nanda memandanginya, mengerti apa yang akan dilakukan adiknya itu. Namun dia tidak menyangka, dan tidak ingin melewati tiap detiknya.
“Maah...”
Singkat dan datar. Nanda serasa tidak mendengar apa-apa. Tapi memang Dinda sudah bersuara. Ingin rasanya memperlambat suara Dinda, namun ini bukan video yang bisa diatur-atur.
“Mamaa...”
Lagi-lagi. Itu benar-benar nyata. Lastri dan Nanda terdiam dengan pikiran yang sama. Dinda mengangkat wajahnya pelan-pelan, memandangi ibunya. Lastri sudah tidak kuasa menahan desakan air matanya. Lastri langsung memeluk Dinda. Keduanya larut dalam perasaan masing-masing. Nanda masih terdiam kaku menyaksikan kejadian ini.
Di sisi lain, Dina dan Tari tampak berdiri dan bergandengan, sudah terlihat persis seperti penonton serial drama Asia. Bahkan yang ini lebih nyata karena dialami sahabat mereka sendiri.

Hidup ini harusnya sesederhana Cookies. Nikmati Cookiesmu :)
END.